
Ray sangat manja saat ada Xena, ia meminta kekasihnya itu menyuapinya makan. Padahal yang sakit itu tangan kirinya bukan tangan kanannya. Tangan kirinya pun bisa bergerak, hanya saja harus hati-hati dan tidak boleh mengangkat beban yang berat.
Xena juga tahu kalau kekasihnya itu menggunakan kesempatan sakitnya dia untuk bermanja-manja an dengannya. Ia tidak masalah dengan itu dan juga dengan senang hati merawat kekasih bucinnya itu.
Karena mereka jarang memiliki Quality Time berdua. Setelah makan mereka pun bersantai,
"Ray, hari ini persidangan perdana Yani" ucap Xena saat keduanya tengah bersantai.
"Yani? Oh yang kamu bilang lampir itu? Tenang saja, dengan bukti yang kita punya dan juga dukungan dari keluarga ku. Tidak ada namanya persidangan perdana. Karena semua bukti sudah valid, pastinya hanya butuh sekali sidang dan segera di jatuhi hukuman" ucap Ray dengan yakin
"Oh ya? Apa bisa begitu?" ucap Xena sembari mengelus sayang kepala Ray.
"Tentu saja, apalagi aku punya koneksi dengan kepala kepolisan dan lagi kita di pihak yang benar. Jadi akan sangat mudah menghukum wanita itu" ucap Ray
"Kalau gitu nanti aku tanya ke Olive bagaimana hasil persidangannya, aku ingin tahu dia di vonis berapa tahun" ucap Xena
Keduanya kemudian melanjutkan bermanja-manja an sambil menonton Drama di TV.
.....
Di tempat lain yakni di depan pengadilan, Keluarga Olive semuanya datang ke sana. Hal sama juga dengan keluarga Yani, Kedua orang tuanya, paman, bibinya dan juga Ferry datang ke sana.
Sahabat Vano juga semuanya datang untuk melihat jalannya pengadilan, berikut Arsy yang juga datang khusus memberi dukungan untuk Olive, hanya Xena yang tidak bisa datang ke sana.
Semuanya memaklumi itu karena mereka tahu Ray mengalami kecelakaan dan Xena tengah merawatnya saat ini.
Saat kedua keluarga bertemu, mereka tidak ada yang bertegur sapa dan langsung masuk. Vano yang melihat Arsy juga hanya sesekali melirik ke arahnya.
Namun saat Vano melihat Bram yang menatap Arsy begitu dalam, entah mengapa ada rasa panas menyelimuti hatinya. Vano menghela nafas, ia sudah memikirkannya sejak kemarin tentang perasaannya.
Ia memang sudah mulai tertarik dengan sahabat adiknya itu, meskipun ia belum yakin apa itu cinta atau bukan. Tapi mengingat ucapan adiknya, ia tidak ingin menyesal untuk yang kedua kalinya.
Hanya saja ia tidak memiliki kesempatan untuk memulai percakapan dengan Arsy. Apalagi Arsy terlihat menjauhinya, itu membuatnya frustasi.
"Mama, papa, tolongin Yani. Yani nggak mau di penjara!!!!" Teriak Yani saat ia melihat kedua orang tuanya.
Orang tua Yani pun menangis melihat keadaan putrinya, namun mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Karena di halangi oleh petugas kepolisian saat ingin mendekat.
Mereka sadar jika putrinya memang bersalah, jika mereka terus bersikeras untuk menyelamatkan putri mereka, itu akan sia-sia saja. Karena semua bukti mengarah pada putrinya.
Mereka pasrah putri mereka menerima hukuman, mereka hanya berharap Yani bisa sadar setelahnya dan hidup lebih baik.
"Saudari Yani, tolong tenang! Kalau tidak, anda sebaiknya kembali ke sel" ucap polisi yang mengawalnya ke persidangan.
"Tidak! Jangan bawa aku ke sana! Aku diam, aku diam!" ucap Yani sudah mulai tenang dan diam.
Mendengar akan kembali ke Sel yang penuh orang-orang yang membuli dirinya, membuat Yani merasa ketakutan. Ia tidak ingin kembali ke sel dan bertemu dengan mereka lagi.
Yani tidak sadar mengapa orang-orang di selnya melakukan itu, itu semua karena ia tidak bisa berhenti berteriak dan membuat mereka terganggu.
Terlebih ucapan sarkas Yani pada mereka membuat harga diri mereka di hina dan di rendahkan, hingga mereka melakukan pembulian di dalam sel yang sudah di setujui oleh polisi penjaga, karena mereka juga merasa terganggu.
Sidang pun di mulai, jaksa penuntut umum membacakan tuntutan kepada tersangka Yani. Selain kasus percobaan pembunuhan, Yani juga di tuntut untuk kasus narkoba dan juga prostitusi yang ia lakukan.
Bukti dan saksi-saksi juga sudah di hadirkan di persidangan. Sedangkan pihak Yani tidak bisa berkutik sama sekali dengan semua bukti yang di keluarkan penggugat sangat lengkap dan valid, dengan telak mengalahkan pihak Yani yang tidak memiliki bukti untuk pembelaan.
"Dengan melihat semua bukti dan juga saksi-saksi yang memberatkan saudari Yani Halim. Kami putuskan Saudari Yani Halim terbukti bersalah melakukan percobaan pembunuhan, Pengguna narkoba dan juga pengedar kelas tinggi, serta melakukan tindakan ilegal prostitusi. Kami memutuskan untuk memvonis saudari Yani di penjara Seumur hidup!" ucap Hakim mengetuk palu.
"Tidak!!! Aku tidak mau!!! Aku tidak mau di penjara!!! mama papa Tolong yani!!!! aaaakkkhhhhh tidaaaakkkk!!!! Lepaskan!!! Aku mau pulang!!!!" teriak Yani memberontak saat ia di vonis penjara seumur hidup.
.....
Drrrtttt!!!
Ponsel Xena bergetar
"Yang, ada telepon dari Olive" teriak Ray
"Angkat aja, aku masih lama!" teriak Xena yang tengah di kamar mandi, karena sedang panggilan alam yang tidak bisa di ganggu gugat.
Ray pun akhirnya mengangkat telepon itu.
"Xenaaaaa!!! Aku seneng banget tahu nggak, si lampir itu di vonis penjara seumur hidup!! Muka tuh lampir saat mendengarnya tidak terima dan berteriak seperti orang gila ha-ha-ha aku senang sekaliiiii" ucap Olive berteriak semangat empat lima saat menceritakannya.
Olive saat ini sedang berada di dalam mobil bersama Vano dan juga Arsy. Saat Olive ingin melanjutkan ucapannya ia tertegun mendengar suara di seberangnya.
"Ekhmm, maaf Liv ini Ray bukan Xena" ucap Ray canggung, dia juga sedikit mengusap telinganya karena berdengung karena suara Olive yang melengking itu.
"Eh, Ray????" gumam Olive terdiam sepersekian detik.
Lalu ia melempar ponsel itu ke belakang tepat ke pangkuan Arsy, lalu menutup wajahnya.
"Aduh Liv, kira-kira dong kalau mau lempar, astaga, untung nggak kena muka" ucap Arsy terkejut, sama dengan Vano yang tengah menyetir juga terkejut melihat tindakan adiknya itu.
Olive hanya diam, ia sangat malu karena tadi langsung tancap gass ngomong sambil teriak panjang kali lebar, tapi ternyata yang jawab bukan Xena. Ia sangat malu sekali, ia ingin sekali bersembunyi di lubang semut..
Arsy yang melihat nama Xena di sana menaruh ponsel Olive di telinganya.
"Hallo Xe..." ucap Arsy.
Ray yang hafal dengan suara adik sepupunya itu langsung menebaknya, jadi ia langsung berbicara.
"Ini aku Ars" ucap Ray
"Loh kok bisa kamu kak, Xenanya mana?" ucap Arsy terkejut juga.
Arsy kemudian terkekeh, ia mengerti sekarang kenapa Olive terlihat syok dan menutupi wajahnya malu.
"Xena lagi di kamar mandi jadi aku yang angkat teleponnya" ucap Ray
"Emang kalian ada di mana kak?" tanya Arsy
"Di apartemen" ucap Ray
"Kalau gitu aku ke sana ya, mau nengokin sekalian" ucap Arsy.
"Ya, kesini aja" ucap Ray cuek.
"Oke, kalau gitu tunggu ya" ucap Arsy.
Setelah menutup telepon, ia mengatakan pada Olive untuk ke apartemen karena Xena ada di sana. Olive yang tidak nyaman di yakini oleh Arsy jadi ia menyerah dan mencoba untuk mengubur rasa malunya. Lagian ia juga ingin menengok keadaan Ray juga.
Vano terlihat canggung, bukan karena ia kan bertemu Ray. Tapi karena Arsy sejak masuk ke mobil menganggapnya tidak ada di sana. Olive juga heran kenapa Arsy mengatakan itu padanya, padahal yang sedang mengemudi adalah kakaknya.
Olive mengerti sesuatu dan hanya menghela nafas. Ia harus memutar otak agar keduanya bisa bicara seperti orang pada umumnya, karena keduanya memiliki gengsi yang sama-sama tinggi. Jadi tidak ada yang ingin mengalah untuk memulai percakapan.
...•••••...