
Xena menghentakan kakinya kesal saat ia tidak sengaja bertemu lagi dengan pria seperti Zico. Dari sifat saja, Xena sudah bisa memastikan jika Zico satu tipe dengan Tiger.
Sebenarnya yang pikirkan Xena ada benarnya, memang Zico adalah seorang player. Ia suka mempermainkan wanita karena ia sangat tidak suka dengan wanita, terutama yang bertingkah genit, manja dan juga matre di depannya.
Itu karena ia sendiri dari kecil di tinggal oleh ibunya, ayahnya di campakan dan ibunya lebih memilih lari bersama pacarnya yang kaya. Karena itu ia terobsesi kerja, ia kini sukses membangun kembali bisnis keluarga ayahnya sampai menjadi sangat besar.
Bahkan ibunya sampai detik ini memohon untuk kembali bersama dengan ayahnya. Namun ayahnya sudah tidak ingin menikah lagi, apalagi kembali dengan wanita yang sudah membuat ia menutup hatinya untuk perempuan.
Karena hal itu pula Zico sangat membenci sosok perempuan, dan ia selalu mempermainkan makhluk bernama perempuan itu.
Namun pertemuannya dengan Xena yang bisa membuatnya tertarik, Xena beda dari yang lain. Dia sama sekali tidak tertarik dengan ketampanannya ataupun kekayaannya. Xena bahkan terang-terangan menghindar dan tidak ingin dirinya mendekat, bukankah Xena tipe wanita yang istimewa? Begitu pikirnya
"Sayang, kamu kenapa hmm? Kenapa datang-datang manyun gitu" ucap Ray
Ia menarik Xena hingga calon istrinya itu duduk di pangkuannya dan mendaratkan kecupan di pipinya.
"Nggak apa-apa, cuma kesel doang. Tadi ketemu orang gila" ucap Xena menghela nafas.
"Orang gila nya cowo?" tanya Ray penasaran
"Hmm" ucap Xena mengangguk.
"Berani sekali orang gila godain calon istriku, mau aku buat dia di seret ke rumah sakit jiwa yang? Si*lan bahkan orang gila aja kesengsem sama kamu, apalagi orang normal. Aku sleding juga itu orang gila!!!" ucap Ray marah
"Ha-ha-ha...." Xena tertawa, seketika moodnya kembali bagus lagi, setelah melihat kecemburuan Ray, dasar memang si bucin satu itu sudah tidak ada obat.
"Kenapa kamu ketawa hmm" ucap Ray menggelitiki Xena.
"Ha-ha ampun Ray, hentikan" ucap Xena tertawa terbahak.
Suara tawa keduanya tidak terdengar sampai keluar, bagaimanapun di sana kedap suara.
"Nggak sebelum kamu bilang kenapa kamu ketawa" ucap Ray tidak ingin berhenti.
"Ha-ha, ya masa kamu cemburu sama orang gila" ucap Xena
"Ya kan orang gilanya cowo, berani banget dia ganggu calon istri Ray!" ucap Ray
"Udah ah, masa bahas orang gila sih" ucap Xena capek ketawa.
Keduanya kemudian mengobrol sebentar, tapi memang si Ray tidak bisa sedetik aja berjauhan dengan Xena. Ia terus-terusan mendusel, gemas.
"Kenapa kamu gemesin banget sih yang" ucap Ray mendusel pipi Xena dengan pipinya.
"Kita nikah aja yuk! Aku takut nggak kuat lihat kamu menggemaskan kaya gini, takut aku terkam" ucap Ray
"Maunya kamu itu mah, nanti nunggu aku selesai kuliah baru nikah" ucap Xena
"Yah, masih lama yang" ucap Ray cemberut
"Jadi nggak mau nunggu nih?" ucap Xena pura-pura marah.
"Aku akan menunggu sampai kapanpun yang, tapi aku cuma mau kita sah aja. Jadi mau ngapa-ngapain juga kan enak, aku juga nggak khawatir kamu di ambil orang lain" ucap Ray
Xena diam, ia memikirkan soal ucapan kekasihnya barusan. Xena tahu kalau Ray sangat mencintainya dan juga serius dengannya. Ia juga tidak ingin mengecewakan Ray karena itu.
"Aku akan mempercepat kuliahku, aku akan fokus dengan pengajuan skripsi setelah aku menyelesaikan magangku" ucap Xena.
Mendengar itu Ray tentu saja senang, bukankah itu berarti ia tidak perlu menunggu satu setengah tahun atau dua tahunan lagi untuk menikahi Xena. Tapi hanya perlu kurang dari satu tahun saja ia menikah, jelas Ray sangat senang mendengarnya.
"Sayang, kamu paling mengerti aku. Aku sangat mencintaimu, katakan padaku kalau kau butuh sesuatu hmm, aku akan melakukan apapun itu" ucap Ray
"Aku telepon Citra dulu, biar makanannya segera di siapkan" ucap Xena, Ray hanya mengangguk saja dengan patuh.
.....
Di penjara ibukota
Kedua orang tua Yani datang mengunjungi anaknya. Mereka melihat Yani semakin kurus, setelah di vonis penjara seumur hidup. Yani selalu mengamuk di dalam sel dan ia juga tidak ingin makan. Ia sangat keras kepala, membuat semua orang di lapas tidak ada yang menyukainya.
Di tambah penyakit Yani semakin menjadi, ia kadang merasakan sakit di bagian kewanitaannya dan juga kepalanya yang seperti mau pecah, itu terasa sangat menyiksanya. Namun orang-orang di sana tidak ada yang peduli pada kondisinya.
"Yani, bagaimana kabar kamu nak. Mamah buatkan makanan kesukaan kamu, sup ayam bening. Kamu makan ya" ucap Melati dengan menahan air matanya agar tidak jatuh melihat kondisi anaknya.
Namun sayangnya Yani hanya diam saja tidak merespon, ia memandang kosong ke arah lain, bukan ke arah orang tuanya.
"Pah, hiks" melati menangis melihat keadaan anaknya.
Meskipun anaknya bersalah karena melakukan tindakan kriminal dan tidak pernah menyukainya, sebagai seorang ibu yang mengandung dan melahirkannya. Melati tetap menyayangi Yani dan mencintai buah hati satu-satunya itu.
Bahkan kini kesehatan melati juga terpengaruh karenanya. Penyakitnya belum sembuh sepenuhnya, jadi banyaknya pikiran memicu sel kanker tumbuh dengan cepat, tubuhnya kurus, lebih kurus di bandingkan dengan Putri nya itu.
"Mama yang sabar, kita pasti bisa melewati ini semua" ucap Teguh, menguatkan istrinya. Ia juga sedih melihat keadaan anaknya dan juga kondisi sang istri yang mulai memburuk.
"Sayang ayo makan, mama suapin ya!" ucap Melati dengan lembut.
Yani kini menoleh ke arah Melati, matanya menatap dengan tajam. Ia merasa marah karena kedua orang tuanya tidak bisa membuatnya keluar dari penjara yang seperti neraka itu.
"Aku tidak mau! Bawa kembali makanan itu, aku tidak butuh kalian. Kalian bahkan tidak bisa mengeluarkan aku dari sini!" ucap Yani ketus.
"Yani, jangan seperti ini nak. Kamu sangat kurus sekarang, mama juga sudah menghubungi dokter terbaik untuk datang ke sini memeriksa keadaanmu. Ayo makan nak, ini supnya masih panas, mama tiupin ya biar nggak panas" ucap Melati tetap sabar menghadapi putrinya itu.
"Aku bilang tidak mau, ya tidak mau!!! Kamu budeg ya!" teriak Yani menampar makanan itu hingga sup itu jatuh menyiram tubuh Melati.
"Akkhh panas!!!" teriak Melati kepanasan, karena sup itu memang masih sangat panas.
"Mama..." teriak Teguh terkejut melihat istrinya tersiram sup panas.
Polisi di sana juga terkejut dan segera membawa kain dan air dingin untuk meredakan panas di badan melati..
PLAK!!!!
Tamparan keras mendarat di pipi Yani, hingga sudut bibirnya berdarah.
"Yani, kamu keterlaluan!!! Bukannya bersyukur mama kamu masih peduli, tapi kamu malah memperlakukannya seperti ini. Bahkan mama kamu sedang dalam kondisi tidak baik, tapi dia selalu memikirkan kamu setiap menitnya. Ia bahkan tidak peduli kondisi tubuhnya, ia selalu memikirkan kamu!!!" Teriak Teguh
"Dasar anak tidak tahu diri!!! Saya sangat menyesal membiarkan kamu lahir di dunia ini!! Harusnya kamu belajar dari kesalahan yang kamu perbuat bukan malah makin jadi. Dasar anak durhaka!!" teriak Teguh lagi, ia sangat marah tidak bisa bersabar lagi.
"Tuan, nyonya sepertinya pingsan" ucap polisi wanita.
"Apa???" ucap Teguh terkejut.
"Mah, bangun mah...." ucap teguh panik.
Ia dengan sigap langsung membawa istrinya keluar dan segera menuju ke rumah sakit. Sedangkan Yani kembali di bawa ke sel oleh petugas polisi wanita itu.
"Punya tangan kan, putar roda kamu sendiri Malas saya dorong kamu ke sel! Dasar orang tidak tahu di untung, anak durhaka! Kalau saya jadi orang tua kamu, saya sudah melenyapkan kamu dari pada menjadi aib dan benalu. Dasar iblis! sama orang tua saja begitu, kamu lebih buruk dari iblis itu sendiri" ucap polisi itu yang juga marah drngan perilaku Yani.
Yani terdiam sejenak sebelum memutar roda untuk kembali ke sel, ada sedikit penyesalan ia telah memperlakukan kedua orang tuanya seperti tadi. Ia juga baru menyadari jika mama-nya terlihat sangat kurus, namun nasi sudah menjadi bubur.
...••••••...