
"Sudah cukup!! Apa kakak sadar dengan apa yang kakak katakan tadi?." Tanya Xena.
"Tentu saja aku sadar." Jawab Audrey.
"Baiklah, kalau itu yang kakak inginkan, aku akan pergi dari istana ini tapi dengan dua syarat." Ujar Xena
"Apa syaratnya?." Tanya Audrey.
"Aku akan pergi jika kakak juga ikut pergi bersamaku." Kata Xena
"Apa kau sudah gila?." Aku tidak akan pergi sebelum aku berhasil mewujudkan mimpiku." Jawab Audrey.
"Baiklah, kalau kakak tidak mau, kakak harus mengatakan sendiri pada pangeran Alaric kalau aku harus keluar dan pergi dari istana ini." Kata Xena.
"Kau benar-benar sudah gila Xena. Kenapa kau saja yang mengatakannya?."
"Aku sudah bilang kalau aku sudah mengatakannya kan, tapi pangeran tidak peduli dan tidak mau mendengarkanku."
"Kalau begitu kau pergi saja diam-diam."
"Apa kakak pikir itu akan berhasil?. Apa kakak tidak bisa melihat ketatnya penjagaan di istana ini?. Dan seandainya aku bisa kabur dari sini, apa kakak bisa menjamin mereka tidak akan mencariku?." Tanya Xena.
"Kau yang mengatakan sendiri kalau kau sangat membenci pangeran atau apapun yang berhubungan dengan kerajaan. Lalu sekarang kenapa kau tidak mau pergi dari sini?. Sebenarnya apa yang kau rencanakan Xena?."
"Sudahlah jangan terlalu memikirkanku. Kakak jangan khawatir aku tidak akan menghalangi impian kakak, selama kakak tidak membocorkan identitas keluarga kita. Sekarang sebaiknya kakak bawa saja makanan itu, karena pangeran pasti sudah menunggu. Semua makanan itu sudah diperiksa oleh petugas dapur istana. Jadi kakak bisa langsung membawanya. "Ujar Xena, menyadarkan Audrey kalau dia datang ke dapur istana memang diminta pangeran untuk menyusul Xena.
Audrey dan beberapa pelayan dari dapur istana membawa makanan yang dimasak Xena khusus untuk pangeran Alaric. Sedangkan Xena sendiri masih duduk di bangku yang ada di dapur istana, memikirkan ucapan Audrey yang membuatnya sakit hati.
Tak terasa air mata Xena pun menetes. Dia menekuk kedua kakinya, dan menundukkan kepala, saat rasa sakit itu semakin terasa mengiris hatinya, karena kata-kata yang diucapkan Audrey baru saja terngiang-ngiang ditelinganya. Entah kenapa Xena merasa kakaknya itu tidak peduli dan tidak menyayanginya, padahal dia adalah satu-satunya saudara yang Xena miliki. Setelah kematian orangtuanya, seharusnya persaudaraan antara Xena dan Audrey semakin erat.
Sebagai kakak, Xena mengharapkan Audrey menjadi sosok pengganti ibunya, atau paling tidak dia bisa menjadi tempatnya mengadu dan berkeluh kesah. Tapi yang terjadi justru sebaliknya, sejak kecil Audrey memang seperti menjaga jarak dengan Xena, dan kini bahkan dia seolah tak peduli padanya.
Xena tersentak dan refleks mengangkat kepalanya, saat merasakan belaian lembut tangan seseorang di punggungnya. Xena mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru dapur, karena tidak ada siapapun disana kecuali beberapa pengawal dan pelayan yang sibuk dengan tugasnya masing-masing, dan mereka berada cukup jauh dari tempat Xena berada.
Apa mungkin itu ayah?. Gumam Xena dalam hati.
Xena tidak tahu kalau ada pangeran Alaric disana, menemaninya sejak ia memasak hanya saja Xena tidak bisa melihatnya, karena pangeran Alaric kembali menggunakan kekuatan mantera yang diberikan oleh Gwendolyn, agar dirinya tidak bisa terlihat oleh siapapun.
Kenapa Audrey berani dan tega sekali mengusir adiknya sendiri?. Seharusnya dia senang karena ada saudaranya yang sama-sama tinggal di istana ini. Dan impian apa yang dimaksud Audrey tadi?. Apa dia juga ingin membunuhku?. Gumam Alaric dalam hati.
Xena tidak tahu kalau pangeran Alaric mendengar semua percakapan dirinya dan Audrey, dan saat ini Alaric sangat mengerti perasaan Xena. Ingin sekali rasanya dia memeluk Xena, tapi dia tidak melakukannya, karena takut kekuatan mantera itu akan menghilang, dan Xena bisa melihat dirinya.
....
Semua makanan sudah tersaji di meja yang ada diruang makan pribadi pangeran Alaric, tapi pangeran Alaric sendiri tidak ada di sana.
Kemana dia?. Batin Audrey.
Sedetik kemudian sang pangeran sudah duduk dikursinya, membuat semua yang ada disana terkejut, dengan kedatangannya yang tiba-tiba.
Pangeran Alaric menatap semua makanan itu, lalu menatap Audrey dan para pelayan lain.
"Makan siang anda sudah siap pangeran. Silahkan dinikmati." Ucap petugas yang sudah biasa mengawasi makanan pangeran.
"Dimana Xena?. Kenapa dia tidak ada disini?." Kenapa dia harus menanyakan Xena?. Batin Audrey yang tidak suka mendengar pertanyaan pangeran Alaric.
"Panggil dia kemari. Aku tidak akan makan, sebelum dia ada diruangan ini." Ujar sang pangeran.
"Baik pangeran." Sahut seorang pelayan.
"Kau yang harus memanggilnya." Titah Alaric pada Audrey.
"B-ba-ba-baik pangeran." Sahut Audrey, lalu melangkahkan kakinya menuju dapur istana.
Kenapa pangeran Alaric menginginkan Xena yang menjadi pelayan pribadinya?. Kenapa bukan aku?. Ini semua gara-gara kehadiran kamu Xena. Kalau saja kamu tidak datang ke istana ini, aku sangat yakin pangeran akan memilih aku untuk menjadi pelayan pribadinya. Audrey menggerutu dalam hati.
...
"Pangeran memanggilmu." Ucap Audrey pada Xena setibanya di dapur istana.
"Ada apa?. Kenapa dia harus memanggilku?." Tanya Xena pura-pura.
"Aku tidak tahu. Sekarang sebaiknya kau cepat temui dia, jangan membuatku terkesan tidak menjalankan perintah pangeran dengan benar." Ujar Audrey.
"Tidak. Aku tidak mau. Kakak saja yang temui dia."
"Kau jangan menyusahkanku Xena. Atau kau memang sengaja ingin membuat aku terkesan tidak bekerja dengan baik dihadapan pangeran?. Sekarang ayo!! Ikut aku." Kata Audrey seraya menarik tangan Xena, dan menuntunnya ke ruang makan pribadi pangeran.
Senyum pangeran mengembang saat melihat Xena ada diruang makan itu. Dia langsung meminta Xena duduk di kursi yang ada didekatnya. " Duduklah!! Titah sang pangeran, Xena pun kaget, tak menyangka pangeran akan memintanya duduk didekatnya, padahal para pelayan muda yang tadi membawa makan siang pangeran masih ada di sana, termasuk juga Audrey.
Xena menoleh ke arah Audrey, juga pada semua orang yang ada di sana. Xena bisa melihat ekspresi tidak suka di wajah Audrey.
"Duduk kataku." Suara Alaric terdengar menggema ditelinga.
"Saya akan mengambilkan makanan untuk anda." Ucap Xena.
"Apa kau tidak dengar?. Aku memintamu duduk, bukan mengambilkan makananku?." Tanya Alaric seraya menatap Xena. Xena yang tampak kaget dan enggan untuk menuruti perintah pangeran, masih berdiri ditempatnya, menatap kearah pangeran.
"Apa kau tidak dengar?. Aku memintamu duduk, bukan memintamu menatapku seperti itu?." Ujar Alaric
"Maafkan hamba pangeran!! Tapi mana mungkin hamba berani duduk bersama anda." Sahut Xena.
Alaric menarik sudut bibirnya. "Tidak ada yang tidak mungkin bagiku. Apa kau lupa kalau kau adalah pelayan pribadiku Xena?. Jadi lakukan saja apa yang aku perintahkan. Duduk dan makanlah bersamaku." Titah Alaric, membuat semua yang ada diruangan itu tersentak kaget, terutama Audrey. Dia semakin tidak suka dengan kehadiran adiknya itu.
"Tentu saja hamba tidak lupa pangeran. Hamba tahu hamba adalah pelayan pribadi anda. Tugas hamba melayani semua kebutuhan anda, bukan makan bersama anda. Kalau anda menginginkan seseorang untuk menemani, anda bisa meminta orang atau pelayan lain. "Sahut Xena, membuat para pelayan kembali terkejut, mendengar jawaban Xena yang dinilai berani membantah perintah pangerannya. Mereka sangat yakin pangeran akan marah atau mungkin menghukum Xena setelah ini. Xena sendiri terlihat tidak peduli apa pangeran akan marah atau tidak kepadanya.
Tak berbeda dengan para pelayan, pangeran Alaric sendiri tampaknya terkejut mendengar jawaban Xena yang berani itu, tapi dia sama sekali tidak marah atau tersinggung, karena dia sudah mengenal bagaimana watak dan karakter pelayan pribadi cantiknya itu. Dalam hatinya Alaric malah memuji keberanian Xena.
"Baiklah, kalau begitu kau pilihkan satu orang pelayan yang menurutmu pantas untuk menemaniku disini." Ujar Alaric. Semua diam. Tapi mereka tidak bisa menyembunyikan ekspresi keterkejutan diwajah mereka, setelah mendengar apa yang dikatakan pangeran Alaric.
"Kenapa diam?. Ayo katakan siapa yang menurutmu pantas duduk menemaniku?." Tanya Alaric.
"Pelayan muda Audrey." Jawab Xena tanpa ragu, membuat Audrey tersentak dan refleks menatap ke arah Xena.
.
.
.Bersambung❤️