Xena

Xena
XENA @BAB 21



Aiden mengajak Xena keluar dari sana, tapi Xena menolak karena dia masih sangat betah berada ditempat itu.


"Kakek dan nenekmu pasti cemas Xena. Kita pulang saja dulu, besok kita bisa kesini lagi." Ujar Aiden, dan akhirnya Xena setuju. Mereka lalu keluar melalui pintu besi tadi, dan berenang melewati danau.


...


Setelah Xena tahu ada negeri yang indah dibawah danau itu, hampir setiap hari Xena mengajak Aiden pergi kesana, sampai akhirnya suatu hari Aiden menemukan sesuatu dibalik tanaman hijau yang merambat memenuhi sebuah dinding. Dinding itu seperti bongkahan batu, namun saat dia tidak sengaja memegangnya, batu itu berputar dan bergeser, hingga dia bisa melihat sebuah lorong panjang yang mirip dengan jalan rahasia. Dan dia kira itu memang jalan rahasia yang menuju ke suatu tempat.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Di istana.


Satu minggu sudah Audrey tinggal di istana. Selama satu minggu itu pula, dia merasa diperlakukan tidak adil baik oleh kepala pelayan, maupun pelayan-pelayan seniornya. Dia sering dibuly saat malam hari, atau saat mereka berada diruang atau kamar tidur. Pelayan wanita memang tidur dalam satu kamar atau lebih tepatnya ruangan yang sama. Ada 6 ruangan disana, dan masing-masing ruangan diisi oleh 20 sampai 30 orang pelayan. Sedangkan kepala pelayan tidur dikamar yang berbeda.


Banyak yang tidak menyukai Audrey, karena menurut mereka Audrey adalah gadis yang angkuh, padahal dia datang kesana untuk jadi pelayan seperti mereka. Hanya pelayan bernama Barsha yang baik kepadanya.


Audrey yang tidak tahan dengan sikap mereka, dengan lantang mengatakan pada mereka, kalau dirinya adalah anak dari seorang jenderal besar yang berjasa pada kerajaan Zephyra, dan dia pernah tinggal di istana bersama keluarganya. Mereka yang mendengar itu tertawa meremehkan.


"Hahaha mimpi!! Kau pikir kami percaya dengan cerita bohongmu itu?." Ujar salah satu pelayan senior yang sekamar dengan Audrey.


"Aku tidak bohong, aku memang anak jenderal besar yang sangat berjasa pada kerajaan ini. Waktu kecil dulu, aku dan keluargaku tinggal disini." Imbuhnya.


"Apa buktinya kalau kau memang anak seorang jenderal besar dan pernah tinggal diistana ini?." Tanya salah satu dari mereka.


Audrey terdiam, karena dia memang tidak mempunyai bukti apapun saat ini selain kalung pemberian ayah dan ibunya, dan itu bukanlah sesuatu yang bisa dijadikan bukti. Semua bukti yang bisa dia tunjukan semuanya ada pada kakeknya, dan dia tidak tahu kakeknya menyimpan semua bukti-bukti itu dimana.


"Hahaha....kasihan sekali kamu Audrey!! Semua pelayan disini pasti bermimpi bisa menjadi bagian penting dikerajaan ini, tapi kami tidak menyangka kamu bisa menghayal dan mengarang cerita omong kosong seperti itu." Sarkas pelayan lainnya.


Byuurrrr.... Seseorang menyiramkan segelas air pada wajah Audrey, membuatnya sangat terkejut sekaligus kesal dan sangat marah. "Apa-apaan kau?." Hardiknya marah.


"Aku hanya berusaha membangunkanmu dari mimpimu itu nona Audrey. Sadarlah, Jangan terus berkhayal seperti itu, karena itu tidak baik. Kamu memang cantik, tapi kamu tetaplah seorang pelayan seperti kami." Sarkas pelayan bernama Matilda, lalu dia melangkahkan kakinya menuju tempat tidurnya.


Audrey yang geram dan emosi menyusul dan langsung menarik rambutnya dengan keras, hingga pelayan senior itu meringis kesakitan.


"Awww....pekiknya karena merasa sakit di kepalanya. Dia memegang rambutnya dan meminta Audrey melepaskannya, tapi Audrey tidak menghiraukannya. Audrey menarik rambut pelayan itu dengan kencang, membuatnya semakin meringis kesakitan.


"Lepaskan aku...lepaskan!! Sakit Audrey!! Aww!! Pekik pelayan senior bernama Matilda itu.


Audrey tidak melepaskan tangannya dari rambut pelayan itu, walau dia terus meminta Audrey melepaskannya, dan semua pelayan disana juga tidak ada yang melerai atau memisahkan. Mereka malah sengaja memanas-manasi agar pelayan itu melawan Audrey.


Saat pelayan itu akan membalas, tiba-tiba terdengar suara seseorang "Ada apa ini?. Kenapa kalian ribut-ribut?." Suara itu milik Kalla, kepala pelayan menghentikan perkelahian dua wanita itu.


"Matilda, Audrey !! Apa yang kalian lakukan?." Tanya Kalla dengan nada tinggi.


Matilda berakting di depan Kalla, seolah-olah dia adalah korban yang tidak bersalah. Dia mengatakan kalau Audrey telah menyerang dan menyakitinya. Dan semua ucapannya itu dibenarkan oleh hampir semua yang ada disana.


"Kau!! Sejak kau datang kesini, kau selalu saja membuat masalah." Tukas Kalla.


Audrey tentu saja mengelak dan mengatakan kalau dirinya melakukan semua itu karena Matilda yang memulainya, namun Kalla tidak percaya dan tidak mau mendengarkan penjelasannya. Kalla menatap tajam pada Audrey dan langsung menarik tangan Audrey, membawanya keluar dari sana ke sebuah ruang bawah tanah, tempat untuk menghukum pelayan wanita yang melakukan kesalahan.


"Jangan hukum aku. Aku tidak bersalah. Aku putri seorang jenderal besar dikerajaan ini. Kalau raja tahu, dia pasti akan senang dengan kehadiranku." Rengek Audrey saat Kalla akan memasukkan dirinya ke sebuah ruangan yang dia tahu itu adalah sebuah penjara.


"Diam!!! Dengarkan aku baik-baik gadis sombong. Malam ini kau aku kurung ditempat ini. Jangan harap kamu bisa keluar dari tempat ini, sebelum kamu meminta maaf dan berjanji tidak akan pernah membuat keributan. Dan satu lagi, jangan pernah mengatakan omong kosong itu lagi atau aku akan melaporkanmu pada jenderal Conrad, agar dia membawamu kembali ke tempat asalmu." Ancam Kalla.


"Aku tidak berbohong nyonya Kalla. Aku memang anak seorang jenderal besar yang mati demi menyelamatkan pangeran. Ibuku juga meninggal di istana ini, dan ...."


"Dan...kamu juga mau mati di istana ini?." Ucap Kalla menyela perkataan Audrey.


Audrey tercekat mendengar jawaban Kalla. Karena takut dia tidak berani melanjutkan perkataanya.


Kenapa sulit sekali meyakinkan orang-orang disini kalau aku ini memang anak seorang jenderal besar yang telah menyelamatkan nyawa pangeran. Gumam Audrey dalam hati.


"Dengarkan aku gadis sombong. Tidak akan ada yang percaya padamu. Kamu pikir kami semua disini tidak tahu tentang cerita jenderal besar Corado yang telah menyelamatkan nyawa pangeran?. Hahh.. apa kamu pikir kami percaya kalau kamu itu anaknya?. Tidak...sama sekali tidak. Asal kau tahu, kau bukanlah satu-satunya gadis yang mengaku sebagai anak jenderal Corado. Banyak gadis yang datang ke kerajaan ini dan mengaku sebagai putrinya. Tapi sayang, mereka tidak bisa membuktikannya, sama sepertimu. Dan apa kau mau tahu apa yang terjadi pada gadis-gadis itu sekarang?.


Baiklah, aku akan memberitahumu. Mereka dikurung dipenjara bawah tanah selamanya, karena berusaha menipu kerajaan. Jadi mulai sekarang, sebaiknya hentikan semua omong kosongmu itu, sebelum semua ini sampai ke telinga raja ataupun pangeran. Karena kau tidak akan bisa keluar dari penjara ini, sampai raja mengampunimu. Kamu mengerti?." Ujar Kalla. Audrey diam karena tak percaya mendengar cerita Kalla barusan.


"Kau dengar?." Teriak Kalla membuat Audrey tersentak dan sadar dari lamunannya.


"iii-ii-iiya saya mengerti." Sahut Audrey.


Karena tak ingin membuat masalah, Audrey terpaksa menuruti kemauan Kalla. Dia meminta maaf dan memohon pada Kalla agar tidak mengurungnya disana. Kalla meminta Audrey mengakui kalau dirinya telah berbohong dengan mengaku-ngaku sebagai putri seorang jenderal, dan Audrey terpaksa menurutinya. Karena percuma, dia memang tidak bisa membuktikannya. Dan sejak saat itu, Audrey kembali menjadi bulan-bulanan Matilda dan semua pelayan senior yang tidak menyukainya.


.


Bersambung 🍁🍁🍁