
Di dalam mobil, Zico yang sudah mandi dan berganti pakaian sudah kembali ke kampus Xena. Ia diam di dalam mobil memperhatikan sebagian mahasiswa yang sudah pulang karena selesai kelas.
Setelah cukup lama, wajah tampannya tersenyum cerah saat melihat Xena keluar bersama kedua sahabatnya.
Dengan cepat ia membuka seat belt dan hendak pintu mobil, namun ia urungkan saat melihat seseorang menghampiri mereka. Zico mengerutkan keningnya karena tidak melihat wajah pria itu.
Beberapa saat kemudian ia melihat pria itu menghampiri ketiganya, ia mengacak gemas rambut Olive dan melingkarkan tangannya di pinggang gadis yang mempermalukannya di kantin siang tadi.
Kini ia tahu jika pria tadi adalah kekasih dari Arsy, yang tak lain adalah Vano. Zico tahu identitas Vano saat ia menyelidiki sahabat dari Xena, kini ia memperhatikan mereka dari jauh. Jantungnya berdetak kencang saat melihat Xena tertawa, di mata Zico Xena terlihat sangat cantik saat tertawa.
"Cantiknya...." ucap Zico terpesona hingga matanya tidak berkedip..
Entah ini adalah cinta atau obsesi semata ia tidak peduli, ia hanya ingin memiliki Xena. Ia sanggup meninggalkan kebiasaan buruknya demi mendapatkan Xena, ia juga rela menghapus kebencian dalam dirinya pada perempuan. Namun itu hanya berlaku untuk Xena, bukan perempuan lain.
"Tebar kemesraan terus, suhu mulai naik pemirsah..." sindir Olive saat ia melihat betapa lengketnya sang kakak pada sahabatnya itu.
Xena terkekeh mendengar ucapan sahabatnya itu, sedangkan Arsy mengulum senyum dengan wajah memerah malu di sindir oleh sahabat dan juga calon adik iparnya itu.
Arsy sama sekali tidak menyangka jika Vano datang menjemputnya, padahal kekasihnya itu tahu dirinya membawa kendaraan sendiri. Namun ia paham saat Xena mengatakan ada sesuatu yang harus ia bahas dengan mereka semua.
"Iri bilang bos! Bukannya kamu deket sama siapa itu si playboy cap tengik? Wah jangan-jangan dia udah bosen ya sama kamu? Jadi di tinggal, PHP in nih ceritanya..." balas Vano
"Enak aja, sekate-kate aja kalau ngomong ya kak. Mana ada aku di tinggalin dia itu bucin dan gencer gitu sama aku, mana ada ninggalin. Terus juga namanya tuh Tiger bukan Playboy cap tengik ih kakak nyebelin" ucap Olive misuh-misuh saat kakak nya meledek dirinya.
"Waaaahhh ngaku juga nih akhirnya, jadi kalian udah jadian Hmm? Bawa playboy cap tengik itu ketemu kakak! Beraninya tuh playboy macarin kamu" ucap Vano berdecak pinggang.
"Eh.... Kita belum jadian kak, mau apain Tiger? Jangan macem-macem ya kak, dia itu bukan Playboy. Ya meskipun dia mantan playboy, tapi dia udah insyaf kok" ucap Olive
"Insyaf apaan, nggak bakal kakak kasih restu sama tuh playboy, dia cuma main-main sama kamu. Kakak mau seleksi semua cowo yang deketin kamu dan si playboy itu nggak layak buat kamu" ucap Vano.
"Dia serius kak sama aku, kenapa kakak jadi tukang ngekang gini, rese... Lagian tahu apa kakak soal Tiger? Dia itu baik dan bener-bener tulus sama aku" ucap Olive cemberut dan kesal karena ucapan kakaknya.
"Kamu itu masih polos Liv, kamu adik kakak satu-satunya yang limited edition. Kakak sayang sama kamu, jadi kakak harus benar-benar seleksi calon kamu. Kakak nggak mau kamu cuman di sakiti dan di jadiin korban dari seorang playboy kelas teri kaya tuh macan.
Jangan kira kakak nggak cari tahu tentang cowo itu, kakak tahu dia itu suka Gonta ganti cewe udah kaya ganti baju
Bilang juga tuh sama dia, jangan terorin kakak terus buat izinin kamu sama dia" ucap Vano.
Benar kalau beberapa hari ini Tiger selalu mendekati Vano, mencoba menarik perhatian Vano agar bersimpati dan merestui dirinya mendekati dan berhubungan dengan adiknya
Meskipun sudah di tolak berkali-kali, ternyata Tiger tidak pantang menyerah dan terus menganggunya.
"Heboh bener..." sebuah suara memecahkan obrolan kedua adik kakak itu, hingga mereka berempat menoleh.
"Mas, kamu sudah datang..." ucap Xena tersenyum melihat Ray sudah berada di depannya.
"Sore sayang..." ucap Ray memeluk dan mencium kening sang istri.
Semuanya tidak tahu, jika yang di lakukan Ray barusan membuat seseorang yang berada di dalam mobil mengetatkan rahangnya, ia memukul stir mobil keras. Ia tidak terima saat melihat adegan romantis wanita yang di cintainya bersama pria lain, meskipun ia tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan di sana.
Terlebih ia tidak senang saat melihat Xena tersenyum lembut pada Ray, padahal jika sedang dengannya Xena sama sekali tidak pernah tersenyum tulus seperti itu. Zico sangat cemburu di buatnya...
"Kak Ray kok di sini?" tanya Arsy
"Jemput istri tercinta dong" ucap Ray kembali mengecup pipi Xena. Untung di sana sudah sepi jadi tidak ada yang mendengar ucapan mereka berlima dan melihat adegan itu kecuali mereka berlima.
"Si*l, jangan tebar kemesraan di depanku. Kalian ini sama sekali tidak menghargai perasaan ku... Kan aku juga mau, huaaaa Tiger ayo kita pacaran aja. Aku juga mau di peluk di cap cip cup... Awwwsss sakit kak" ucap Olive yang keningnya terkena sentilan kakaknya itu.
"Ucapan mu Liv, nggak boleh ya cap cip cup. Kamu masih kecil!" ucap Vano marah
"Hais, terus kenapa kakak seenaknya peluk dan cium Arsy, mana di depanku lagi. Kakak kira aku sama Arsy nggak seumuran? Udah Ar sini sama aku aja, jangan deket-deket sama nih cowok mesum" ucap Olive menarik tangan Arsy menjauh dari kakaknya.
"Kembaliin pacar kakak Liv!" ucap Vano tidak terima kekasihnya di tarik sang adik.
"Mana ada, nggak bakal kakak biarin, Arsy itu milik kakak, titik!" ucap Vano
"Tapi aku yakin Arsy lebih pro ke aku, ya kan Ar" ucap Olive
"Jangan ngomporin yang nggak-nggak sama Arsy Olive!" ucap Vano kesal
"Nggak ngomporin, tapi ini kenyataan" ucap Olive menatap remeh ke arah kakaknya.
"Mau kamu apa sebenernya? Jangan buat kakak marah ya" tanya Vano
"Kasih kesempatan Tiger buat pacaran sama aku" ucap Olive dengan seringai liciknya.
"Nggak!" ucap Vano tegas
"Ya udah Aku pastiin kakak akan kehilangan Arsy saat ini juga" ucap Olive
"Sayang, kamu nggak akan ikutin maunya Olive kan. Kamu sayang dan cinta aku kan?" tanya Vano melirik ke arah kekasihnya itu.
"Aku.... Maaf Van, aku pilih Olive. Aku yakin dia tahu yang terbaik buat aku. Dan lagi kenapa kamu nggak izinin Olive sama Tiger? Meskipun masa lalunya buruk, namun aku tahu dia sangat baik dan juga setia jika menemukan orang yang tepat seperti Olive" ucap Arsy, saat melihat kode tatapan sahabatnya.
Ia mengulum senyum saat melihat kekasihnya misuh-misuh, karena debat dengan adiknya. Tentu ia tahu Olive tidak serius dengan ucapannya, ia tahu bagaimana Olive sangat menginginkan dirinya menjadi kakak iparnya.
Lagian ia tahu jika ini hanya siasat licik Olive agar di restui hubungan nya dengan Tiger oleh kakaknya itu. Jadi tidak ada salahnya ia juga turut membantu calon adik iparnya itu.
Ia juga tidak berbohong soal Tiger, Arsy kenal Tiger sejak lama. Ia juga tahu di balik sifat Tiger yang sulit di atur, namun ia adalah orang yang memegang ucapannya. Dan Arsy tahu betapa cinta dan bucinnya orang kepercayaan kakak sepupunya itu pada Olive.
Vano yang mendengar jawaban kekasihnya tidak bisa tidak terkejut, ia menatap tidak percaya pada Arsy yang lebih memilih adiknya. Tapi juga tidak bisa marah pada Arsy, ia sudah jatuh sejatuh-jatuhnya pada gadis tomboy nan cantik itu.
"Baiklah aku nyerah, bawa tuh si playboy temui kakak. Kakak akan kasih kesempatan dia untuk menunjukan keseriusannya sama kamu" ucap Vano pasrah.
"Yeeeeyy... Makasih kakakku yang tampan aku sayang kakak banyak-banyak, ini Arsy nya aku balikin. Kakak inget jangan di buat lecet ya sahabatku satu ini" ucap Olive menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri saking bahagianya di kasih kesempatan bersama Tiger.
Xena dan Ray hanya terkekeh melihat tingkah absurd kedua kakak beradik itu.
"Sahabatmu memang gitu ya Yang?" tanya Ray terkekeh
"Sudah dari Sononya begitu, jangan keget lihat tingkahnya yang out of the box" ucap Xena menahan tawanya
"Hidup Tiger akan lebih berwarna sepertinya, mereka sangat cocok" ucap Ray
"Aku pikir juga begitu, suamiku ternyata sangat perhatian dengan sekitarnya" ucap Xena
"Ha-ha, bagaimana pun Tiger adalah sahabatku sayang. Tapi tentu aku lebih perhatian pada istriku tercinta, sayang nanti malam tambah satu ronde jadi tiga ya. Mas akan membiarkanmu di atas sekali malam ini" ucap Ray berbisik ke telinga Xena
Wajah Xena terlihat langsung memerah mendengarnya, suami mesumnya itu bisa-bisanya mengatakan hal itu di tempat umum, meskipun mereka berbisik-bisik.
"Mas ih, ini tempat umum" ucap Xena menepuk dada bidang Ray pelan.
"Kalau di tempat sepi berarti boleh?" ucap Ray menaik turunkan kedua alisnya.
"Astaga..." Xena menutup wajahnya karena malu, sedangkan Ray terkekeh sembari menarik Xena dalam pelukannya karena gemas dengan istrinya itu.
"Hais.... Jangan bermesraan woy!!! Ya Elah, nasib-nasib. Belum pacaran aja mataku udah ternodai, kayanya aku harus telepon ayang beb buat kesini deh" gumam Olive melihat kedua pasangan di kanan dan kirinya tengah bermesraan.
Melihat itu, kini ia bertekad untuk berpacaran juga. Sepertinya berpacaran tidak buruk, dia bisa mendapatkan pelukan seperti kedua sahabatnya itu. Membayangkan jika ia berada di pelukan Tiger saja membuatnya malu.
Astaga ia tidak menyangka, setelah sembuh dari traumanya ia mendadak jadi mesum. Ini pasti karena di cekoki adegan mesra kedua sahabat dengan pasangan bucinnya itu.
...••••••...