
Perlahan namun pasti seseorang melangkah keluar dari persembunyiannya dan masuk ke ruangan rawat inap Olive. Orang itu tidak lain adalah Vano.
Xena menyadari kehadiran Vano saat ia mengatakan jika pelaku tabrak lari Olive adalah Yani. Saat tahu jika orang yang menguping adalah Vano, Xena tidak ada niat untuk menyembunyikan apapun. Jadi ia membiarkan Vano mendengarkan semuanya.
Toh, ia memang ada keinginan untuk mengatakan pada Vano tentang kecelakaan yang di alami Olive.
"Kakak!" ucap Olive terkejut saat melihat kakaknya yang ternyata menguping pembicaraannya dengan Xena.
GREP!!!
Vano langsung melangkah menghampiri ranjang Olive dan memeluk adiknya itu dengan erat. Sedangkan Xena sudah menjauh dan hanya memperhatikan keduanya dengan menjaga jarak.
"Kakak...." ucap Olive
"Kenapa kamu tidak pernah menceritakannya pada kakak?" tanya Vano.
"Apa kakak percaya jika aku mengatakannya?" ucap Olive pelan.
Vano melepaskan pelukannya, ia kemudian menjitak pelan kepala Olive yang tidak terluka.
"Ahhh, sakit kak" ucap Olive meskipun sebenarnya tidak sakit sama sekali karena Vano menjitaknya dengan pelan.
"Kenapa kakak tidak percaya dengan adik kakak sendiri. Tentu saja kakak percaya kalau kamu mengatakannya" ucap Vano kemudian
"Tapi kan kakak dulu suka marahin aku kalau aku berantem dengan Lampir itu" ucap Olive cemberut
Mengingat itu Vano merasa bersalah, ia ingat jika dirinya kadang memarahi Olive karena ucapan Olive terlalu kasar jika sedang berbicara dengan Yani.
Bahkan jarang mempertemukan Olive dengan Yani, karena ujung-ujungnya pasti bertengkar.
"Maafin kakak dek, kakak nggak tahu jika kamu hanya ingin melindungi kakak" ucap Vano menyesal.
"Sekarang kakak sudah tahu semuanya kan? Ya meskipun kakak itu nyebelin tapi aku tetep sayang kok sama kakak, makanya aku sebisa mungkin jauhin kakak dari Mak lampir itu" ucap Olive tersenyum hingga menunjukan giginya.
Xena hanya menatap Olive yang sedang tersenyum dengan tatapan sedih. Ia tahu jika Olive sangat pandai menutupi kesedihan dirinya.
Meskipun Vano dengar jika Olive mengalami trauma karena itu, tapi ia tidak tahu jika trauma yang di alami Olive cukup parah. Hanya Xena yang tahu hal itu, jadi Xena hanya diam tidak berkomentar.
Ia tahu jika Olive pastinya tidak ingin jika keluarganya tahu apa yang ia derita beberapa tahun ini. Jadi Xena memutuskan akan membicarakannya secara pribadi dengan Olive dan akan menemani Olive rutin kontrol nantinya.
Ia percaya jika trauma Olive akan sembuh, terlebih Xena janji akan melindungi Olive dari Yani. Xena akan menjebloskan Yani ke dalam penjara, dan itu membutuhkan Ray atau Vano agar rencananya berjalan dengan lancar.
Bagaimana pun, Yani adalah anak dari salah satu konglomerat yang setara dengan keluarga Dirgantara. Jadi kemungkinan besar ia bisa lolos, karena kekuatan uang sangat berkuasa.
Xena harus memutar otak untuk itu semua, bagaimana caranya agar Yani bisa mendekam di penjara. Tanpa ada yang bisa membebaskannya, dan itu sangat mungkin dengan bantuan keluarga Octavio.
....
Di kediaman Halim
Yani turun dari mobilnya dan melangkah masuk ke dalam rumah. Ia berjalan ke arah tangga mengabaikan orang tua dan juga Ferry ada di ruang tamu.
Melihat Yani sudah pulang, Melati ibu dari Yani memanggilnya.
"Eh ada orang toh, kirain cuma bayangan aja?" ucap Yani mencibir.
"Yani!!!" Teriak Teguh ayah Yani.
"Berisik ah, kalau mau teriak-teriakan di hutan sana!" ucap Yani ngeloyor pergi, namun bentakan dari Teguh menghentikan langkahnya.
"Dasar anak tidak tahu adab. Begitu cara kamu bicara dengan orang tua hah? Orang tua pulang bukannya Salim, duduk dan menanyakan kabar, malah bersikap kasar seperti itu" ucap Teguh dengan emosi.
"Oh, emang gue peduli? Lagian wajar jika gue nggak tahu adab, orang tua macam kalian. Memang pernah ajarin gue biar beradab, hah?" ucap Yani dengan emosi juga
"Berani kamu berbicara seperti itu!!!" ucap Teguh hendak melayangkan tamparan ke wajah Yani, namun dengan sigap Melati menahannya.
"Jangan pah" ucap Melati.
"Anak macam gini harus di beri pelajaran, mah. Biar dia tahu jika yang di ucapkannya itu tidak baik, tidak sopan! Jangan terlalu memanjakan dia mah" ucap Teguh marah
"Kenapa nggak jadi? Mau namparkan? Sini! Nih pipi gue" ucap Yani malah mengejek dan menunjuk ke pipinya.
"Lihat sendiri anak itu mah!!" ucap Teguh marah besar.
"Udah ngedramanya? Gue capek, mau tidur!" ucap Yani dan pergi naik ke kamarnya.
"Yani mau kemana kamu? Papah belum selesai bicara!!!" teriak Teguh melihat anaknya melenggang pergi masuk ke kamarnya, tanpa mempedulikan orang tuanya.
"Sudah pah, sudah, nanti darah tinggi papah kambuh lagi. Biar nanti mamah yang bicara sama Yani" ucap Melati mengelus punggung suaminya.
"Anak itu astaga. Kenapa Yani semakin liar dan tidak terkendali mah" ucap Teguh menghela nafas dan mengusap wajahnya kasar melihat tingkah putrinya.
"Ini salah mamah Pah, andai saja mamah lebih banyak di rumah. Yani tidak akan seperti ini" ucap Melati menangis.
"Jangan menyalahkan diri sendiri mah. Ini juga bukan mau mamah" ucap Teguh menenangkan sang istri
"Maaf Om, Tante. Ferry rasa Yani itu hanya kurang kasih sayang. Mungkin dengan menyempatkan waktu dan bicara dengan tenang, Yani akan mengerti" ucap Ferry
"Hah, sebisa mungkin Om memberikan kasih sayang untuk Yani Fer, meskipun sangat sedikit waktu bahkan jarang. Kami selalu menyempatkan itu karena kami peduli padanya.
Melati harus rutin kontrol kesehatan di luar negeri, setelah ia sakit kanker yang di ketahui setelah melahirkan Yani. Om juga harus bekerja untuk kehidupan Yani lebih baik dan juga biaya berobat Tante kamu. Om dan Tante menyempatkan pulang dan menemani Yani meskipun hanya sebulan sekali.
Om sudah menjelaskan hal itu padanya, namun ia bertingkah seolah kami benar-benar tidak peduli padanya. Justru dia sendiri yang menjauh dari kami, bukannya menyemangati kami dan mendoakan kesembuhan ibunya. Dia malah bersikap seperti itu saat kami pulang" ucap Teguh
Ferry yang mendengar itu hanya menghela nafas tidak tahu harus berkata apa lagi. Sepupunya itu memang keras kepala dan tidak ingin mengerti kesusahan orang tuanya.
Ia juga tahu dari mamahnya jika tantenya itu memiliki kanker rahim yang ketahuan setelah hamil Yani. Namun Melati bertekad untuk tetap melahirkan anaknya.
Setelah melahirkan, Melati koma selama dua tahun. Setelah sadar, kondisinya lemah karena kemoterapi dan harus menjalani perawatan di luar negeri. Meskipun rahimnya sudah di angkat, namun sel kanker sudah menyebar.
Setelah perawatan bertahun-tahun, Melati bangkit dari keterpurukannya. Ia kembali sehat saat Yani berusia 13 tahun saat itu. Namun hanya dua tahun saja, Melati kembali sakit dan sampai sekarang sering bolak-balik luar negeri untuk berobat.
...••••••...