Xena

Xena
XENA @ BAB 9



Sejak kejadian itu, pangeran Alaric memikirkan cara untuk mengembalikan bunga-bunga yang dia petik kembali seperti semula, walau dia juga menyadari itu adalah sesuatu yang mustahil, tapi dia harus melakukanya, karena janji Xena yang akan bersedia menjadi kekasihnya. Ini adalah kesempatan yang tidak boleh disia-siakan. Bagaimana pun caranya, dia harus bisa melakukanya, harus.


Selain wajah Xena yang cantik, pesona juga sosoknya yang menarik, membuat pangeran Alaric terpikat. Selain itu, pangeran Alaric juga ingin membuktikan kalau Xena adalah ksatria yang sudah menolongnya, walau sebenarnya dia sudah benar-benar yakin.


Pangeran Alaric meminta bantuan pada jenderal Conrad untuk mencari seorang penyihir terbaik yang bisa melakukan apa yang dikatakan Xena. Pangeran Alaric tidak mau tahu, jenderal Conrad harus menemukan penyihir itu secepatnya.


Mau tidak mau, Conrad harus mencari penyihir yang bisa melakukan apa yang diminta sang pangeran. Dia mengerahkan anak buahnya untuk mencari informasi tentang keberadaan penyihir sakti yang dia dengar dari seseorang yang dia kenal.


Setelah pencarian selama satu minggu, Conrad dan pasukannya akhirnya menemukan seorang penyihir yang sangat sakti, yang bisa melakukan apapun. Gwendolyn, adalah nama dari penyihir itu. Conrad lalu membawanya bertemu pangeran Alaric.


Pangeran Alaric menatap wanita tua yang setengah wajahnya tertutupi rambut, memakai pakaian serba hitam dan membawa tongkat berkepala naga. Di lihat dari penampilanya wanita ini memang sudah seperti penyihir, tapi dalam hati pangeran Alaric tidak benar-benar yakin kalau penyihir itu bisa melakukan apa yang dia pinta.


"Jadi kau yang ingin bertemu denganku anak muda. Katakan kenapa kau memanggilku?. Apa yang harus aku lakukan untukmu?." Ujar penyihir itu.


Tanpa basa-basi pangeran Alaric mengatakan apa yang dia inginkan pada penyihir itu.


"Apa cuma itu yang kau inginkan anak muda?." Tanya si penyihir.


"Ya...cuma itu. Bagaimana?. Apa kau bisa melakukanya?." Jawab sekaligus tanya Pangeran Alaric.


"Hahahahaaa......kau bertanya padaku anak muda?. Hahaahaaaa." Tawa si penyihir itu terdengar menggema di telinga pangeran Alaric.


"Kenapa kau tertawa penyihir?. Kau berani mentertawakan pa...."


"Cukup paman!! Ucap Alaric memotong perkataan Conrad. "Jadi bagaimana?. Apa kau sanggup melakukannya." Tanya pangeran Alaric pada penyihir itu.


"Apa kau tidak tahu kehebatanku anak muda?. Aku adalah Gwendolyn, penyihir terhebat diseluruh negeri timur. Jangankan menumbuhkan bunga, bahkan dalam sekejap mata aku bisa menyihirmu menjadi keledai" Jawab si penyihir menyombongkan dirinya.


"Kalau begitu buktikan ucapanmu sekarang juga." Ujar pangeran Alaric, lalu dia membawa penyihir itu menuju rumah kakek Abraham pada tengah malam.


Pangeran Alaric, Conrad dan penyihir itu berdiri di luar pagar halaman rumah. Tak lama kemudian, penyihir itu mulai membacakan mantera, lalu mengarahkan tongkatnya ke arah halaman rumah kakek Abraham, dimana bunga-bunga mawar itu tumbuh.


Gwendolyn, si penyihir mengarahkan tongkatnya ke arah pohon bunga mawar saat cahaya biru yang berasal dari mata naga di tongkat si penyihir menyala. Dan sedetik kemudian kelopak bunga mawar tumbuh dan mekar. Bunga mawar Xena telah kembali ke tangkainya, bahkan jauh lebih banyak dari sebelumnya. Dalam sekejap mata, halaman rumah kakek Abraham berubah menjadi taman bunga yang sangat indah.


Pangeran Alaric dan Conrad dibuat takjub oleh apa yang dilihatnya. Dia sangat senang, dan memuji kehebatan penyihir itu.


"Bagaimana anak muda?. Apa kau masih meragukan kehebatanku?." Tanya si penyihir.


"Aku sangat memuji kehebatanmu wahai penyihir. Ini....terimalah." Kata Alaric, seraya memberikan beberapa batang emas pada sang penyihir, sebagai imbalan. Gwendolyn sangat senang dan mengucapkan terima kasih.


"Jika suatu saat kau butuh bantuanku, sebut saja namaku tujuh kali tanpa bernafas. Aku pasti akan datang." Bisiknya ditelinga Alaric. Setelah tugasnya selesai, penyihir itupun kembali ke daerah asalnya.


Senyum pangeran Alaric mengembang sempurna karena sangat senang saat ini. Dia tidak sabar menunggu pagi tiba, karena ingin menunjukan pada Xena kalau dirinya sudah berhasil membuat bunga-bunga itu kembali seperti semula.


....


🌄🌄🌄


Xena yang baru selesai mencuci pakaian, berniat akan menyiram bunga dan tanaman lainya seperti yang selalu dilakukanya setiap pagi dan sore hari.


Saat membuka pintu, Xena tertegun, melihat bunga mawarnya telah kembali seperti semula. Dia merasa bahagia sekaligus heran melihat bunga mawar cantik kesukaanya itu tumbuh dan mekar dengan sangat indah. Xena berjalan cepat mendekati bunga-bunga itu."Bungaku." Gumamnya senang. Halaman depan rumah kakek Abraham seolah berubah menjadi taman bunga mawar yang indah dan beraneka warna.


Ditengah rasa bahagia yang dirasakanya, tiba-tiba Xena teringat pada Aiden. Mungkinkah semua ini perbuatannya?. Tapi bagaimana mungkin. Mana mungkin dia bisa melakukan semua ini. Kata Xena dalam hatinya.


Xena masih menatap bunga-bunga itu, hingga tak sengaja matanya menangkap sosok laki-laki yang berdiri diluar pagar. Xena tersentak, saat dirinya sadar kalau laki-laki itu adalah Aiden yang juga sedang menatap ke arahnya.


Mereka saling bersitatap beberapa detik, Lalu Aiden tersenyum pada Xena. Senyum yang seolah mengatakan kalau dirinya telah melakukan apa yang diminta Xena beberapa waktu lalu. Xena pun mengerti arti senyuman itu. Senyum kemenangan yang ditujukan Aiden padanya menjawab semua tanya yang baru saja dia ucapkan dalam hati.


Ternyata Aiden benar-benar memenuhi janjinya, walau Xena tidak tahu bagaimana dia melakukannya. Xena ingin menanyakannya, tapi menurutnya itu tidak penting, karena ada hal lain yang harus ia pikirkan, yaitu janjinya pada Aiden. Walau saat itu Xena tidak sungguh-sungguh, karena dia pikir apa yang dia minta pada Aiden adalah hal yang mustahil. Sekarang tidak ada pilihan lain. Mau tidak mau, Xena harus mempertanggungjawabkan janjinya pada Aiden. Dia harus jadi kekasihnya.


🌻🌻🌻❤️


"Jadi bagaimana?. Apa kamu sudah siap jadi kekasihku?." Tanya Aiden dengan senyum dibibirnya. Dia berjalan mendekati Xena. "Aku harap kamu tidak lupa dengan kata-katamu sendiri." Imbuh Aiden.


"Siapa yang lupa?. Aku bukan tipe orang yang suka melanggar janji, sekalipun aku tidak akan senang melakukanya." Jawab Xena.


"Baguslah. Jadi mulai sekarang kita resmi menjadi sepasang kekasih. Iya kan?." Kata Aiden senang.


"Tidak semudah itu." Sahut Xena.


"Bukankah kamu mengatakan kalau kamu tidak suka melanggar janji?. Aku sudah melakukan apa yang kamu minta, sekarang giliranku menagih janji yang kamu ucapkan padaku."


"Sebelum aku melakukannya, katakan padaku bagaimana kamu bisa melakukanya?."


"Aku rasa aku tidak perlu mengatakanya. Yang penting aku sudah memenuhi keinginanmu. Dan sekarang, giliranmu. Nona Xena, suka tidak suka mulai detik ini kau adalah kekasihku." Ujar Alaric dengan senyum menyeringai.


"Baiklah. Tapi kamu jangan senang dulu, karena ini tidak akan berlangsung lama." Balas Xena


"Benarkah?. Kenapa begitu?."Tanya Alaric


"Hubungan kita hanya sementara, selama kamu berada di desa ini. Begitu kamu meninggalkan desa ini, saat itu juga hubungan kita berakhir. Faham?." Tegas Xena.


"Kalau begitu aku tidak akan pernah meninggalkan desa ini." Balas Alaric


"Hehh.....kita lihat saja." Sahut Xena jengah. Pangeran Alaric hanya mengulas senyum, seraya menatap mata indah Xena.


.


.


.


Bersambung❤️