Xena

Xena
134. Menangkap Narti



Xena langsung memutar otaknya saat itu, entah mengapa ia yakin kalau pria itu menunggunya. Meskipun ia percaya data miliknya di simpan dengan rapih, tapi tidak menutup kemungkinan ada celah lain.


Dengan menyelidiki orang terdekatnya misalnya, atau tidak sengaja tahu sesuatu dari internet.


Yang tidak habis pikir oleh Xena, kalau pun ia tahu dari internet, bukankah sudah sangat jelas jika dirinya sudah bertunangan.


Bahkan beritanya sampai heboh saat itu, meskipun yang bicara hanya Ray dan Xena diam saja karena ia memang tidak berniat memamerkan hubungannya untuk konsumsi publik.


Namun karena tuanangannya adalah seorang selebriti, mau tak mau hubungannya pasti terekspos di media.


Xena tidak ingin terjadi keributan yang tidak perlu di kampusnya, mengingat tempramen Ray yang cemburuan dan bucin. Ia tidak mau nama baik Ray rusak karena itu.


Tiba-tiba muncul ide untuknya, ia jadi tidak ada mood untuk kuliah hari ini. Jadi ia memutuskan untuk membuka ponselnya dan menampilkan ekspresi seolah-olah kesal karena sesuatu.


"Kenapa yang?" tanya Ray melihat Xena yang terlihat kesal menatap layar ponselnya.


"Aku baru cek group kelas, ternyata Dosennya lagi ada seminar di kota B. Jadi hari ini di wakili asdos yang akan mengajar" ucap Xena menghela nafas.


Yang ia katakan itu benar, dia tidak berbohong. Karena memang Dosennya tengah seminar dan asdos yang mewakili kelas. Yapi pagi tadi Xena sudahembaca pesan itu.


"Kok bisa lupa yang?" tanya Ray


"Bukan lupa, tapi baru tahu! Kan pas tuh pengumuman keluar, aku lagi asik video call sama calon suami sampe tidur, sampai paginya lagi malahan. Pas pagi lupa juga karena harus dandan cantik karena inget yang nganterin ke kampus itu orang ganteng" ucap Xena


Ray terkekeh mendengar ocehan tunangannya itu, ia menggenggam tangan Xena. Ia merasa bahagia sekali memiliki Xena di sampingnya.


"Lalu sekarang gimana, nggak jadi ngampus?" tanya Ray.


"Sebenernya nggak apa-apa sih ada asdos juga, tapi kayanya aku lebih milih jalan sama kamu deh. udah jarang benget kan kita jalan berdua, pergi kencan gitu" ucap Xena dengan wajah berbinar dan mengedipkan kedua matanya.


"Kamu nakal sekarang, tapi kenapa menggemaskan sekali" ucap Ray mencubit pipi Xena.


"Gimana kalau kita ke taman hiburan, atau kebun binatang" ucap Xena memberikan usul.


"Boleh, jadi kamu pilih mau kemana. Soalnya dua pilihan kamu tidak searah, yang satu di Utara yang satu di selatan" ucap Ray terkekeh.


"Kebun binatang aja kali ya, lihat saudara kembarnya kamu" ucap Xena.


"Saudara kembar?" beo Ray bingung.


"Iya, itu loh yang jadi model obat nyamuk bakar atau model uang kertas 500 an" ucap Xena tertawa.


"Hmm, udah berani ngeledek ya sekarang" ucap Ray menggelitiki Xena.


"Ampun Ray, ini kampus oke! Entar orang di luar salah paham gimana, karena lihat mobil goyang-goyang" ucap Xena


"Nggak apa-apa, biar di tarik ke KUA sekarang juga" ucap Ray


"Maunya. Jadi kita ke kebun binatang Nggak nih?" tanya Xena


"Baiklah, aku akan ikutin semua yang tuan putri mau" ucap Ray melajukan mobilnya menuju ke daerah selatan ibukota.


.....


Di tempat lain, di rumah keluarga Ferry. Ia mama dan papanya tengah membahas perihal Narti, yang sudah membuat hidup Yani hancur sehancur hancurnya.


Lina dan suami jelas sangat marah mendengar berita itu dari putra mereka, mereka memutuskan untuk melaporkan hal itu pada polisi.


Setelah melaporkannya ke polisi, mereka Munggu sekitar seharian sampai mereka terima berita. Kalau Narti sudah berhasil di tangkap oleh polisi. Petugas menangkap Narti saat wanita paruh baya itu tengah bergelut ria dengan pacar berondong nya di dalam kamar.


Lina melihat Narti sekarang menggelengkan kepalanya jijik. Wajah Narti penuh dengan suntikan. Entah itu di hidung, bibir atau dagu. Penuh dengan suntikan.


Bisa tebak jika mungkin mereka ingin mempercantik wajah nya namun dengan cara yang salah.


Setidaknya selain Narti, ada sekitar 4 orang lainnya yang berada di rumah yang di grebek. Mereka tertangkap tengah bertransaksi tubuh.


Melihat seseorang yang kenalnya yakni Lina, Narti terkejut. Ia menunduk.


"Kenapa kau nunduk? Mana keberanianmu menghancurkan hidup keponakanku hah?" ucap Lina marah.


Ferry dan papa-nya berusaha menahan Lina agar tidak mengamuk.


"Oh, jadi anda sudah tahu?" ucap Narti yang awalnya menunduk malah mendongak dan tertawa.


"Sialan, dasar la*ur!" teriak Narti


"Ha-ha-ha, benar aku La*ur, kau mau apa?" ucap Narti berusaha memprovokasi.


"Kurang ajar kamu!!!" teriak Lina yang hampir menyerang Narti yang di tahan anak dan suaminya itu.


Karena emosi Lina yang meledak-ledak, mereka membawa Lina keluar dari sana.


"Sudah mah jangan terpancing emosi, biar nanti Ferry yang urus dan buat dia menderita nanti di penjara" ucap Ferry.


"Kamu harus buat dia sengsara Fer" ucap Lina.


"Iya mah, tenang aja oke. Pah sebaiknya papa bawa mama pulang. Biar aku yang urus di sini" ucap Ferry pada papanya yang mengangguk.


Kedua orang tua Ferry pun pergi dari kantor polisi, sedangkan Ferry tetap berada di sana untuk membuat perhitungan pada Narti.


"Kenapa kau melakukan itu pada Yani?" tanya Ferry, mencoba menahan emosinya.


"Karena dia pantas mendapatkannya" ucap Narti.


"Benarkah? Huh, aku tidak akan sungkan lagi, aku akan membuatmu menderita dan mendekam di penjara seumur hidup!" ucap Ferry marah.


"Aku tidak peduli, yang penting dendamku sudah terbalas Melati dan keluarganya telah hancur berantakan ha-ha-ha" ucap Narti tertawa.


Ferry sebisa mungkin menahan emosinya agar tidak memukul Narti, dia tidak ingin mengotori tangannya menyentuh Narti. ia menghela nafasnya.


"Oh kalau begitu silahkan nikmati hidup anda. Ah saya lupa, saya juga akan membalasnya" ucap Ferry


"Silahkan aku tidak takut" Ucap Narti mencemooh.


"Oke dengan senang hati, tapi aku tidak membalasnya padamu. Tapi pada Nanda, putri semata wayangmu tercinta" ucap Ferry menyunggingkan senyum miringnya.


Mendengar nama putrinya di sebut, Narti terkejut. Ia pikir dirinya bisa menyembunyikan kenyataan jika ia memiliki seorang putri yang sangat ia cintai, dan putri itu saat ini tinggal bersama ibunya atau nenek Nanda di pulau lain.


"Bagaimana kamu tahu?" ucapnya Narti terkejut.


"Aku tahu semuanya, dan kau dengar ja**Ng. apa yang kamu lakukan pada Yani. Putrimu juga akan mengalaminya, camkan itu!" ucap Ferry kemudian keluar dari sana.


"Si*lan!!! Jangan sentuh putriku!!! teriak Narti.


Ia ingin menyusul Ferry namun tubuhnya di tahan oleh dua petugas polisi yang ada di luar.


...•••••...