Xena

Xena
117. Siapa kau sebenarnya?



Ray masih kesal dengan apa yang terjadi barusan, Xena yang tahu itu mencoba menenangkannya. Lagian Ray juga sudah memberikan pelajaran untuk kedua orang itu, jadi mereka sudah mendapatkan akibatnya.


Kini Xena melajukan mobilnya menuju butik. Karena Ray masih sakit, Xena berinisiatif mengemudi. Ray awalnya ingin menggunakan supir namun Xena menolak dan memutuskan untuk mengemudi.


Butik yang di maksud adalah butik yang di rekomendasikan oleh Ray. Ray sudah memesan sebuah gaun untuk acara tunangan keduanya, ia juga memesan tuxedo untuk dirinya sendiri.


Rose Butique merupakan butik milik perancang busana yang sangat terkenal di negeri ini. Karyanya menghiasi cat walk di dalam dan di luar negeri. Ray tentu mengenal pria gemulai itu, karena ia masih menjadi brand ambassador di sana sampai dua bulan kedepan.


"Ray, kau sudah datang? Wow apa ini calon tunangan kamu? Sangat cantik" ucap seorang pria yang bernama Chris atau biasa di panggil Madam Si jika di dunia fashion. Ia tersenyum sopan ke arah keduanya.


"Tentu, dia wanita paling cantik di mataku" ucap Ray


"Ya, begitu indahnya orang yang sedang jatuh cinta" ucap madam Si terkekeh.


"Apa gaunnya sudah jadi?" tanya Ray


Ia memeluk pinggang Xena di sisi kanannya. Xena hanya tersenyum dan mengangguk menyapa Madam Si.


"Sudah jadi dong, ayo masukkan" ucap madam Si


Saat Madam Si memperlihatkan sebuah Gaun pertunangan yang masih berada di manekin, gaun itu sederhana namun terlihat sangat elegan. Gaun itu berwarna soft pink, sangat cantik dengan corak yang tidak ramai namun sangat cantik dan anggun.


Xena dan Ray mencoba pakaian mereka masing-masing, itu sangat pas. Xena bahkan heran, mengapa itu sangat pas dengannya? Padahal ia tidak pernah di ukur sebelum.


Lalu ia teringat banyaknya pakaian di apartemen Ray, yang di siapkan untuk dirinya. Jadi ia tidak lagi heran.


Ray juga sangat puas dengan tuxedo yang ia pakai, itu sesuai yang dirinya mau. Meskipun mereka datang bersama, Xena tidak ingin Ray melihat dirinya memakai gaun itu. Ia ingin memberikan kejutan saat di acara pertunangan mereka tiga hari lagi.


.....


Selesai dari sana, Ray mengajak Xena ke sebuah restoran di hotel ternama di ibukota. Ray sudah mempersiapkan makan malam romantis tepat di Rooftop hotel itu.


Xena yang melihat itu semua terkejut dan berkaca-kaca, ia tidak menyangka kekasih bucinnya itu juga sangat romantis. Ia langsung menghamburkan diri ke pelukan Ray.


"Apa kamu suka hmm?" tanya Ray membalas pelukan kekasihnya itu dengan senyum di wajahnya. Tangan kirinya sedikit sakit, namun ia tidak masalah dengan itu.


"Aku menyukainya, terimakasih Ray" ucap Xena mengecup bibir Ray singkat.


"Itu terlalu cepat yang" protes Ray.


"Apanya?" tanya Xena


"Ini..." jawab Ray dengan memajukan bibirnya.


"Ih, bagaimana jika itu di lihat orang?" ucap Xena dengan wajahnya yang memerah malu.


"Tidak ada orang lain selain kita di sini, ayolah beri aku sedikit lebih lama" ucap Ray merengek.


Xena tidak bisa berbuat apa-apa, ia memberanikan diri mencium Ray. Ray tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, ia menahan tengkuk Xena dan memperdalam ciumannya.


"Ish Ray, lipstikku hilang" ucap Xena.


"Tanpa lipstik juga kamu tetap cantik yang" ucap Ray terkekeh, ia mengusap bibir kekasihnya itu dengan ibu jarinya.


keduanya kemudian melanjutkan menikmati dinner romantis mereka, dengan obrolan ringan.


Di sisi lain seorang pria tampan merasa kesal pada dua orang di depannya yang terlihat menunduk takut. Pria tampan itu mengendurkan dasi miliknya, ia masih duduk di sofa single.


"Bagaimana mungkin kalian tidak bisa melacak identitas gadis itu!" ucapnya dengan marah.


"Maafkan kami tuan muda, memang CCTV di airport sedang mengalami kerusakan saat itu, bahkan CCTV di cafe juga tengah rusak. kami tidak bisa melihat gadis yang tuan muda maksud. Jadi kami tidak bisa melacaknya" ucap salah satu dua orang di depan tuan muda itu.


"Bagaimana mungkin CCTV semuanya rusak?" ucap tuan muda itu tidak percaya yang di katakan bawahannya.


"Kami sudah menyelidikinya, tapi tidak di temukan penyebabnya. Mungkin ada eror atau gangguan hingga membuat semua CCTV tidak bisa menyala dalam kurun waktu satu jam" ucap yang lain.


Setelah kedua orang itu pergi, tuan muda itu menghempaskan tubuhnya ke sandaran sofa. Ia memikirkan gadis yang membuatnya tertarik. Sudah beberapa hari ini ia menyuruh anak buahnya melacak identitas dan keberadaannya, tapi semuanya nihil.


Jangankan identitas atau keberadaannya, bahkan petunjuk dari ciri-ciri gadis itu juga hilang sepenuhnya.


"Siapa sebenarnya kamu kucing kecil? Kenapa kamu berani mengusik pikiranku selama beberapa hari ini, kamu juga membuatku sulit tidur" ucap tuan muda itu.


.....


Pagi harinya, Xena mengantarkan Ray kontrol untuk mengecek kondisi Ray. Olive ikut karena dia memiliki jadwal therapy lanjutan dengan Dokter Ratna. Ray juga sengaja membawa Tiger untuk memberikan kesempatan agar bisa dekat dengan Olive.


Tentu saja Tiger sangat senang saat mendengarnya. Demi kebaikan, Ray menceritakan kondisi Olive pasca trauma yang ia alami dan harus melakukan therapy rutin.


Awalnya Tiger sangat terkejut mendengarnya, ia merasa sedih atas apa yang di alami Olive. Dirinya juga takut dengan masa lalunya yang buruk sebagai seorang pemain, akan membuat Olive tidak ingin dekat-dekat dengannya.


Tapi ia tidak oantang menyerah untuk mendapatkan wanita pujaannya itu.


"Aku akan mengantarmu ke dokter" ucap Tiger.


"Tidak perlu, aku bisa melakukannya sendiri" tolak Olive, ia sudah bisa berjalan tanpa menggunakan tongkat sekarang.


"Jangan sungkan, aku tidak berpikir macam-macam. Tenang saja oke, lagian nona bos tidak bisa mengantarmu karena harus menemani bos kontrol, ayo aku temani" ucap Tiger.


Olive mau tidak mau menerima ajakan itu, ia tahu jika Tiger pasti sudah di beri tahu tentang kondisinya. Olive tidak masalah jika Tiger tahu, hanya saja ia tidak ingin orang lain mengasihani dirinya.


"Wah, kamu sudah banyak kemajuan, bahkan kamu sudah punya pacar sekarang" ucap Dokter Ratna meledek Olive.


"Dia hanya kenalan Dok" sanggah Olive.


"Pacaran juga tidak apa-apa" ucap Dokter Ratna terkekeh, lalu tidak berkomentar lagi setelahnya.


Ia jelas tahu jika Tiger menyukai pasiennya, itu sangat terlihat jelas dari matanya. Namun ia tahu batasannya ikut campur dalam urusan percintaan orang lain.


Olive mengikuti Therapy dengan lancar. Konsisi traumanya sudah sembilan puluh persen sembuh. Hanya butuh dua sampai empat therapy lagi, kemungkinan Olive sudah sembuh seratus persen.


Olive juga merasakan pikirannya lebih tenang sekarang. Ia sangat berterima kasih pada Xena, karena dia yang sudah mengenalkannya dengan Dokter yang sangat hebat seperti Dokter Ratna.


Tiger dengan sabar menunggu Olive melakukan therapy itu, ia juga mendengar jika Olive sudah jauh lebih baik terhadap traumanya. Ia ikut senang mendengarnya.


Tak lama kemudian mereka berempat bertemu setelah selesai dengan pemeriksaan itu.


...•••••...