Xena

Xena
154.



Xena sudah kembali ke mansion, kondisinya saat ini sudah baik-baik saja. Meskipun begitu Dokter menyarankan dirinya tetap berkonsultasi dengan psikolog, agar trauma yang ia alami di sembuhkan sepenuhnya.


Namun Xena menolak saran dari dokter itu, ia merasa traumanya kembali hanya karena kebetulan saja. Dan ia merasa tidak ada masalah dengan itu, ia juga tetap menolaknya meskipun suaminya ikut memintanya untuk bertemu Dokter Ratna untuk berkonsultasi.


Karena Ray terus memintanya untuk melakukan konsultasi dengan psikolog, Xena masih kekeh menolak. Namun ia berjanji akan melakukannya, seandainya traumanya kembali datang. Dan akhirnya Ray menyerah dan mengikuti kemauan istri tercinta nya itu.


"Mas kapan mulai kerja di kantor?" tanya Xena.


Dirinya saat ini tengah bersandar di dada Ray dan di peluk suaminya itu dari belakang. Keduanya tengah bersantai setengah merebahkan diri di atas tempat tidur dengan keadaan tubuh yang polos. Tentu mereka baru selesai melakukan kegiatan olahraga yang menguras tenaga dan membuat lutut menjadi lemas.


"Lusa sayang, makanya kamu harus sehat. Kalau kamu sakit, bagaimana mas bisa tenang ninggalin kamu buat pergi kerja ke kantor?" ucap Ray


"Aku udah sehat mas, kalau aku masih sakit. Tidak mungkin juga kamu langsung menggarapku sampa pinggangku sakit, karena di bolak balik dengan semangatnya entah berapa kali" ucap Xena mengerucutkan bibirnya.


"Ha-ha, maafkan mas sayang. Abis mas nggak tahan, kamu sih godain mas terus minta di cu*bu" ucap Ray terkekeh.


"Ish, itu mah dasarnya mas aja yang pikirannya udah mesum" ucap Xena.


"Mesum-mesum gini juga bisa buat kamu terus teriak puas dan keenakan sayang" ucap Ray, kini mulai menyusuri kembali leher sang istri dari belakang.


"Uuugghh, jangan memancing lagi mas. Lututku sudah lemas, kalau aku ambruk sakit lagi bagaimana?" ucap Xena menahan de*ahan nya.


"Mas cuma mau tambahin tanda di sini aja kok" jawab Ray


"Udah dong mas, nanti aku susah nutupin nya. Mas udah kaya buat stampel betamart, sampe penuh" ucap Xena


"Iya-iya sayang, maafin mas ya. Mmmm... Sayang boleh mas tanya sesuatu?" tanya Ray, Xena hanya mengangguk memperbolehkan .


"Sebenarnya siapa yang mendekatimu, sampai-sampai kamu berhati-hati dan meminta kami untuk tidak gegabah bertindak?" tanya Ray.


"Haaahh... Namanya Zico, dia CEO Shine Corporation, salah satu perusahaan besar yang merupakan kompetitor Octavio Group" ucap Xena jujur.


"Kamu kenal dia?" tanya Ray yang terkejut saat tahu siapa orang yang mengejar istrinya.


"Nggak, cuma aku beberapa kali ketemu dia aja, cuma karena risih aku retas data pribadinya untuk jaga-jaga" ucap Xena


"Apa dia tampan?" tanya Ray


Meskipun ia sudah tahu bagaimana rupa Zico. Tetap saja ia harus tahu pendapat istrinya. Ray merasa sedikit kesal karena semakin kesini, saingan cintanya semakin berat.


Kini Ray tahu alasan mengapa Xena melarang ia dan Vano mengambil keputusan secara gegabah. Karena memang Zico memiliki kekuasaan yang hampir sama besarnya dengan Ray.


Meskipun Octavio Group lebih besar di banding Shine Corporation, namun itu tetap saja tidak bisa di pandang remeh. Apalagi saat ini Ray belum resmi mengambil alih perusahaan dan belum memiliki hak mutlak mengatur semuanya.


"Dia tampan, tentu saja. Tapi sayangnya di mataku tidak ada pria setampan dirimu, ya kecuali papaku yang bisa bersaing dengan kamu mas. Selain papa, mas Ray di mataku jauh lebih segalanya, lebih tampan, lebih baik, lebih setia, lebih tulus, lebih kaya dan lebih Hot" ucap Xena mengerlingkan matanya di ujung kata, membuat Ray kau tidak mau mengulum senyum.


"Jujur saja aku benci sekaligus kasihan padanya. Aku benci karena dia terus menggangguku, apalagi mengingat sifatnya yang playboy dan seorang pemain wanita. Tapi aku juga kasihan karena sepertinya ia juga tidak bahagia di hidupnya, karena selalu di bayangi rasa benci terhadap ibu kandungnya sendiri" ucap Xena.


Xena kemudian menceritakan semua yang ia tahu tentang Zico pada suaminya itu. Ray memeluk tubuh Xena dengan erat dan mengecup nya singkat setelah mendengar itu.


"Dia memang memiliki kisah yang patut untuk di Kasihani, tapi tetap saja aku tidak akan membiarkan dia mendekati dan menyentuh kamu" ucap Ray.


"Tentu kamu harus ganas, apalagi kalau ganasnya di ranjang. Mas sangat suka itu" ucap Ray tertawa keras karena berhasil membuat istrinya tersipu malu.


....


Di kampus, hari ini Arsy masuk kuliah meskipun hanya ada satu kelas. Sedangkan Olive kebetulan tidak memiliki kelas hari ini dan tengah menikmati kencan bersama Tiger.


Meskipun begitu, kencannya saat ini sedikit berbeda dari biasanya. Karena dirinya menemani sang kekasih untuk memantau pergerakan anak buah Dicky, meskipun dari jauh.


Setelah jam kelas selesai, Arsy tidak langsung keluar dari kelas dan masih mengobrol dengan teman sekelasnya yang masih berada di sana. Arsy baru keluar saat Vano mengabari dirinya jika ia sudah ada di depan.


"Pulang sekarang hmm?" tanya Vano menggandeng tangan kekasihnya itu, ia tidak menggubris menjadi sorotan anak-anak di kampus.


"Hmm, nggak apa-apa kan kita malam mingguannya di rumah aja?" ucap Arsy menatap Vano


"Nggak apa-apa, lagian om dan Tante sedang ada Dinas di LN sampai pekan depan kan?" ucap Vano


"Kok kakak tahu?" ucap Arsy


"Apa yang nggak aku tahu tentang kamu sayang" ucap Vano mencium tangan sang kekasih hingga membuat Arsy salah tingkah. Terlebih masih banyak mahasiswa yang belum pulang yang melihat ke arah keduanya.


"Kak jangan gitu ih, malu banyak orang" ucap Arsy


"Malu kenapa? Kakak cuma cium tangan doang, belum cium bibir kamu" ucap Vano


"Kakak mesum" ucap Arsy mencebikkan bibirnya dan memukul lengan kekasihnya itu.


"Halalin aja yuk Yang, aku pengen mesum in kamu tiap saat" ucap Vano membuat Arsy ngeblushing.


"Aku masih kuliah kak, aku mau lulus kuliah dulu" ucap Arsy.


Meskipun ia, Olive dan Xena satu angkatan, namun Xena lulus satu tahun lebih dulu, karena langsung mengajukan judul skripsi. Jadi masih harus menunggu satu tahun lebih untuk lulus kemudian menikah.


"Aku akan menunggumu, tenang aja" ucap Vano, membuat Arsy tersenyum dan mengucapkan terima kasih dengan tulus.


"Kak, kenapa kakak kelihatan santai? Kemungkinan masih ada bahaya di depan? Eh lihat kak! di belakang kita sepertinya ada mobil yang ngikutin kita deh" ucap Arsy terkejut saat melihat arah belakang.


"Tenang aja sayang, kamu yakin saja sama rencana nya Xena. Kita tidak akan kenapa-kenapa. Kita cukup menghindari saja dengan tenang, urusan lainnya biar anak buah calon adik ipar yang terpaksa aku restui, yang urus semuanya" ucap Vano.


"Nggak boleh ngomong gitu, Tiger itu baik aslinya loh. Lagian dia bener-bener serius sama Olive, jangan gitu ah" ucap Arsy.


"Iya-iya sayang iya, maaf aku salah ngomong" ucap Vano mengalah.


Saat di tikungan Vano menyeringai saat mobil yang mengikutinya dari belakang terhalang oleh mobil anak buah Tiger, lalu setelahnya Vano menghentikan mobilnya di sebuah gedung kosong. Di sana ia berganti mobil dan mobil miliknya di gunakan anak buah Tiger yang lain.


Tentu saja setelah itu keduanya lolos dengan aman. Kini tinggal giliran Anak buah Tiger yang bertindak.


...•••••••...