
Ferry yang keluar dari kantor kepolisian langsung pergi menuju cafe di mana semua sahabatnya berkumpul. Semua sahabat nya sudah tahu apa yang menimpa Yani dan mereka sangat iba mendengarnya.
Mereka tidak tahu jika selama ini ada seseorang yang sudah mendoktrin Yani sedemikan rupa, hingga berhasil membuat Yani berperilaku menyimpang dan juga kejam seperti itu.
Semuanya termasuk Vano tengah menghibur Ferry sekarang di cafe biasa mereka berkumpul. Mereka tahu sekarang yang di butuhkan Ferry adalah semangat dan juga kepedulian dari para sahabatnya.
"Apa yang akan lo lakukan setelah ini setelah mengetahui semuanya Fer?" tanya Arlan
"Gue nggak tahu, Wanita brengsek itu tidak ada rasa menyesal sama sekali, setelah polisi menggerebek dan menangkapnya. Bahkan ia berani menantang gue dan merasa tidak takut ancaman gue yang akan menjebloskan dia ke dalam penjara bahkan gue juga ancam hukuman seumur hidup pun dia tidak takut" ucap Ferry
"Sungguh tidak tahu malu, apa tidak ada cara lain untuk membalas perilaku jahatnya itu? Sedangkan dia sendiri tidak takut di penjara" ucap Jhody marah juga kesal mendengarnya.
"Apa tidak ada titik lemah sama sekali?" tanya Vano kemudian
"Ada, itu adalah putrinya yang kini bersama dengan ibu dari wanita brengsek itu" ucap Ferry
"Wanita itu punya anak? Lalu di mana anaknya sekarang?" tanya Bram
"Yang gue tahu Narti memiliki seorang putri dari luar nikah bersama laki-laki yang ia cintai bernama Nanda. Sayangnya pria itu sudah menikah dan tinggal di luar negeri. Meskipun begitu, Narti sangat menyayangi Nanda dan meminta ibunya untuk membawa cucunya serta saat pergi ke pulau K, yang merupakan kampung halaman ibunya sedangkan dirinya menjadi pengasuh Yani saat itu" ucap Ferry
"Apa yang bakal lo lakukan dengan Si Nanda itu?" tanya Bram
"Jujur gue belum tahu, gue bingung harus apa. Gue nggak mau merusak gadis lain demi rencana balas dendam gue, gue nggak mau menjadi orang brengsek yang sama dengan Narti si jal*ng brengsek itu" ucap Ferry mengusap wajahnya dan menghela nafas.
"Benar juga" sahut yang lain mangangguk setuju.
"Maka dari itu gue nggak tahu harus berbuat apa. Kalau masalah hukuman Narti, gue bisa pastikan dia mendapatkan hukuman setimpal dan memenjarakan dia seumur hidup" ucap Ferry.
"Lebih baik lo temui Xena lagi, Fer" saran Vano
"Hmm?" yang lain menoleh ke arah Vano.
"Dia sangat pintar jika soal balas dendam dan selalu tepat sasaran. Tidak ada salahnya menanyakan saran yang bagus padanya, apa saja yang harus di lakukan dia pasti bisa berpikir cepat" ucap Vano
"Maksud lo Xena yang kita kenal, Van?" tanya yang lain bersamaan.
"Hmm, dia Xena yang kita semua kenal. Jangankan kalian, gue juga merasa dia sangat pintar menyembunyikan bakat nya yang sangat mengerikan itu. Dia seperti tahu segalanya dan bergerak sangat cepat juga tepat, untuk semua masalah yang terjadi di sekitarnya" ucap Vano serius.
Ia sendiri baru menyadari jika Xena adalah wanita se-istimewa itu.
"Vano benar, gue
nggak punya cara lain selain meminta bantuannya lagi untuk memberikan solusi yang bagus" ucap Ferry.
"Lagi?" beo yang lain
"Ya, Xena yang sudah membantu gue mengungkap apa yang sebenarnya terjadi pada Yani, dia memberikan semua data yang gue perlukan yang bahkan orang lain tidak bisa melakukannya" ucap Ferry.
"Wooow luar biasa" ucap Arlan terkejut dan kagum secara bersamaan.
"Gue tidak percaya Xena sehebat itu, padahal dia terlihat sangat imut dan menggemaskan" ucap Jhody
Meskipun yang lain tidak percaya apa yang mereka dengar saat ini, tapi mereka percaya dengan ucapan sahabatnya. Jadi mereka harus percaya dengan itu.
Mereka kemudian makan bersama setelah pesanan mereka datang, setidaknya makan dulu sebelum berpikir yang lebih keras. Karena berpikir juga butuh asupan dan tenaga. Pikiran Ferry juga sudah sedikit plong setelah menceritakan semuanya pada sahabatnya.
"Belum ada kemajuan, dia masih koma. Mama dan papa gantian menjaga di sana" ucap Ferry
"Semoga Yani di cepat sadar dan segera bertobat. Agar hidupnya menjadi lebih baik, meskipun seumur hidup ia akan tinggal di penjara" ucap Bram dan di Amini oleh semuanya.
"Sepertinya kita harus makan banyak hari ini, karena akan di traktir oleh Vano" ucap Ferry
"Di traktir? Ada acara apaan emang? Apa Vano ulang tahun, eh... tapi bukannya ulang tahun Vano masih dua bulan depan?" tanya Jhody.
"Bukan ulang tahun, tapi pajak jadian" ucap Ferry.
"Eh? Vano udah punya pacar?" beo Arlan dan Jhody kompak.
Bram hanya terdiam, ia sudah memiliki firasat kalau sahabatnya itu kemungkinan memiliki hubungan dengan Arsy. Beberapa hari ini Bram juga sebisa mungkin melupakan perasaannya pada Arsy.
Di bandingkan rasa cintanya pada perempuan, ia lebih memilih ikatan persahabatannya dengan Vano atau Sahabatnya yang lain. Baginya wanita bisa di cari, tapi persahabatan tidak bisa, kecuali keadaannya dia sudah menikah dan istrinya juga Sahabatnya memiliki hubungan. Itu lain lagi ceritanya.
"Ya, Vano sudah memiliki pacar" ucap Ferry
"Siapa?" tanya mereka dengan penasaran
"Coba tebak!" ucap Ferry
"Xena? Eh tapi kan Xena sudah punya tunangan. Siapa ya?" ucap Arlan.
"Arsy!" ucap Bram
"Arsy? cewek tomboy itu?" tanya Jhody terkejut
"Nggak mungkin lah woy, kalian tahu sendiri kriteria cewek idaman Vano. Cantik, feminim, berambut panjang, dewasa. Kalau Arsy cocoknya sama aku, kalau gue nggak masalah sama cewe tomboy. Toh dia cantik dan menggemaskan. Boleh juga" ucap Arlan tersenyum membayangkan sosok Arsy yang cantik meskipun tomboy.
"Lo berani mengambil pacarku Lan? Mau gue jadiin perkedel lo?" ucap Vano menatap dingin ke Sahabatnya itu.
"Eh?" ucap Arlan langsung membekap mulutnya.
"Lo seriusan sama Arsy Van?" tanya Jhody terkejut.
"Hmm" gumam Vano mengangguk
"Waahhh, luar biasa. Udah ganti kriteria lo sekarang?" ucap Jhody lagi.
"Cinta datang dengan sendirinya" ucap Vano mengangkat bahunya, tidak peduli sahabatnya mengejeknya.
"Kalau begitu gue nggak akan sungkan makan banyak hari inj" ucap Bram.
"Pesan saja yang banyak! Gue nggak akan bangkrut juga bayarin makan kalian, duit gue masih segunung" ucap Vano terkekeh.
"Iya deh percaya tuan CEO yang terhormat" ucap Jhody, senuanya pun tertawa termasuk Ferry.
Ia bersyukur di saat ia terpuruk masih ada para sahabatnya yang selalu berada di sampingnya. Mendukungnya untuk kembali bangkit.
...••••••...