Xena

Xena
XENA @BAB 18



"Jadi kau mencari Aiden?. Apa kau temannya?." Tanya Audrey dengan ramah.


"Iya nona, saya mencari pa....maksud saya Aiden. Dia memang teman saya." Jawab Conrad.


"Ohh. Tapi hari ini kami belum bertemu dengannya. Dia belum datang, mungkin sebentar lagi, kau datangi saja tempatnya menginap. Atau kalau mau, kau boleh menunggunya disini. Setiap hari dia selalu datang kesini, karena dia adalah kekasih adikku." Ujar Audrey menjelaskan, membuat Xena merasa kesal pada kakaknya itu, yang berbicara terlalu baik dan terbuka pada orang yang baru dia jumpai.


"Benarkah yang kau katakan itu nona?. Aiden datang setiap hari?." Tanya Conrad.


"Tentu saja. Sudah ku bilang temanmu itu setiap hari selalu datang ke rumah ini, karena kakek dan nenekku yang memintanya.


Mana mungkin. Gumam Conrad dalam hati


"Kau tahu, temanmu itu hampir saja kehilangan nyawanya karena menyelamatkan adikku." Ujar Audrey, membuat Conrad terkejut


"Kakak!! Sergah Xena.


"Benarkah itu nona?."


"Benar."


"Lalu bagaimana keadaanya sekarang?." Tanya Conrad cemas.


"Dia sudah tidak apa-apa, karena adikku merawatnya dengan penuh cinta." Jawab Audrey dengan senyumnya.


"Kakak!! Hentikan." Sergah Xena lagi.


"Apa yang terjadi padanya?." Conrad bertanya lagi.


"Dia digigit ular?." Jawab Audrey, membuat Conrad sangat terkejut.


"Apaaa?. Digigit ular?." Bagaimana mungkin. Gumam Conrad dalam hati. Dia benar-benar tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Audrey mengatakan kalau Aiden digigit ular, dan hal yang sama juga terjadi pada pangeran Alaric di istana. Tapi yang membuatnya tidak habis pikir adalah perkataan Audrey tentang Aiden yang setiap hari datang ke rumahnya untuk menemui Xena. Sedangkan dia tahu sendiri kalau Aiden atau Alaric sudah kembali ke istana bersamanya. Mana mungkin satu orang yang sama ada di dua tempat yang berbeda dalam waktu bersamaan. Ini sangat sulit dicerna oleh akal sehatnya.


"Sebaiknya kau pergi dari sini. Cari saja Aiden ditempatnya menginap." Ucap Xena mengusir Conrad.


Audrey langsung menarik tangan Xena.." Apa yang kau lakukan Xena?. Jangan seperti itu, tidak sopan. Apa kau lupa kalau kakek dan nenek selalu mengajarkan kita untuk menghormati tamu?." Ujar Audrey membuat Xena semakin kesal.


"Maafkan adikku. Dia memang masih kecil." Kata Audrey. "Apa kau datang ke desa ini karena Aiden yang memintamu untuk segera membawaku ke istana?." Tanya Audrey.


"Maafkan saya nona!! Tapi kedatangan saya kesini bukan untuk itu, tapi urusan lain." Jawab Conrad membuat raut wajah Audrey berubah seketika. "Urusan apa?." Tanyanya.


"Saya datang kesini atas perintah raja. Kerajaan mendapatkan laporan tentang paksaan pemungutan pajak tiga kali lipat yang terjadi didesa ini. Saya dan pengawal lainnya diperintahkan untuk menangkap mereka, karena raja tidak pernah mengeluarkan aturan seperti itu." Jelas Conrad.


"Benarkah itu?." Tanya Xena antusias. Dia tentu saja sangat senang mendengar kabar itu.


"Benar nona."


"Baguslah. Mereka memang pantas dihukum. Seharusnya anda datang dan menangkap mereka dari dulu tuan jenderal, kemana saja kalian selama ini." Ujar Xena. Conrad tidak menjawab dan memilih pergi, tapi Xena menghentikannya.


"Tunggu!! Aku ingin tahu, siapa yang melaporkan mereka?. Apa Aiden?." Tanya Xena.


"Maaf nona, saya tidak bisa memberitahukannya. Karena saya juga tidak tahu. Saya hanya menjalankan perintah." Jawab Conrad lalu pergi dari rumah Xena.


Xena sangat yakin orang yang melaporkan tentang pajak itu memang Aiden. Karena mereka datang sejak Xena menceritakan semuanya pada Aiden, padahal Aiden memang sudah tahu semua itu dari Audrey.


Sejak kejadian dimana Aiden dipatuk ular, sikap Xena pada Aiden berubah seratus delapan puluh derajat. Bisa dikatakan Xena dan Aiden sekarang menjadi teman baik. Setiap hari mereka semakin akrab. Xena menceritakan segalanya, kecuali tentang jati dirinya. Xena juga terang-terangan menunjukan kehebatannya di depan Aiden, membuat Aiden semakin yakin kalau dirinya benar-benar sudah jatuh cinta pada Xena. Aiden bertekad akan mengambil hati Xena dan membuat dia jatuh cinta kepadanya.


...


"Apa?. Dia datang mencariku kesini?." Tanya Aiden pada Xena.


"Iya. Katakan padaku, apa kau yang melaporkan pada kerajaan tentang pemungutan pajak itu?." Tanya Xena.


"Iya, aku memang melakukannya karena aku tidak suka dengan apa yang mereka lakukan. Walau mereka tidak lagi melakukan hal itu, menurutku mereka tetap harus dihukum. Mereka sudah menyalah gunakan kekuasan yang raja berikan."


"Kenapa kau sepertinya sangat membela raja?." Tanya Xena.


"Aku ....aku bukan membela, tapi menurutku raja memang orang yang baik, dan bijaksana. Rasanya sangat tidak adil jika ada orang berbuat semena-mena dan mengatasnamakan raja." Jawab Alaric.


"Kenapa kau sangat yakin kalau rajamu itu baik dan bijksana?. Apa kau mengenalnya secara pribadi?." Tanya Xena lagi.


"Tidak. Aku hanya tahu dan merasakannya saja." Jawab Alaric. "Ngomong-ngomong apa aku boleh tahu alasan kenapa kamu sepertinya tidak menyukai raja?." Tanya Aiden memberanikan dirinya.


Mendengar pertanyaan Aiden, Xena refleks menoleh kearahnya. "Aku tidak membencinya. Hanya saja aku..... Ah sudahlah kau tidak akan mengerti." Jawab Xena sambil beranjak tapi Aiden mencekal tangannya.


"Katakan Xena, dan buat aku mengerti." Ujar Aiden.


"Apa kau punya alasan bagus yang bisa membuat aku yakin dan mau mengatakannya padamu?. Apa kau bisa dipercaya?." Tanya Xena dengan senyum tipis yang terkesan meremehkannya, lalu melepaskan tangannya dari tangan Aiden, tapi Aiden kembali mencekal tangannya.


Xena berbalik dan menatap sedikit tajam pada Aiden.


"Tatap mataku Xena, dan lihat apa aku tidak bisa dipercaya?." Ucap Aiden seraya menatap Aiden dengan tatapan yang berbeda dari biasanya. Xena menatapnya, dan saat itu dia baru menyadarinya. Ada sesuatu yang indah diwajah Aiden, matanya. Mata biru milik Aiden terlihat sangat indah dan berkilau, membuatnya terlihat semakin tampan, dan membuatnya merasakan sesuatu yang aneh dalam hati. Dia suka sekali menatap manik biru itu.


"Apa kau tidak mau percaya kepadaku Xena?." Tanya Aiden dengan nada yang sangat lembut. Xena tidak menjawab. Dia terus saja menatap indahnya manik mata biru milik Aiden, yang seolah telah menghipnotisnya. Aiden semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Xena, dan sepertinya Xena belum menyadari hal itu, membuat senyum Aiden mengembang karena senang.


Sampai akhirnya Xena tersadar saat merasakan hidung Aiden menyentuh hidung mancungnya, dan itu membuat Xena sedikit salah tingkah. Dia berusaha melepaskan tangannya lagi, tapi Aiden menahannya.


"Lepaskan aku! Jangan kurang ajar." Ujar Xena.


"Aku tidak akan melepaskanmu, sebelum kau mengatakannya." Balas Alaric.


"Lepaskan aku, kalau tidak kau akan tahu akibatnya."


"Kau mengancamku?." Tanya Alaric seraya mendekatkan wajahnya lagi, dan itu membuat jantung Xena berdegup kencang tiba-tiba. Xena yang tangguh berubah menjadi sosok lemah saat dia melihat mata indah Aiden dari jarak sedekat ini. Kenapa dia terlihat sangat tampan. Dan matanya....kenapa matanya bisa seindah ini?. Gumam Xena dalam hati.


"Kau masih tidak mau mengatakannya?." Bisik Aiden ditelinga Xena, membuatnya meremang seketika.


"Baiklah aku akan mengatakannya, sekarang lepaskan aku." Ujar Xena


"Jika kau mau, kau bisa dengan mudah melepaskan diri dariku, ....Xena." Balas Aiden membuat Xena tersadar. Bodoh. Umpatnya dalam hati. Yang dikatakan Aiden benar, dengan kekuatan yang dimilikinya, seharusnya Xena bisa saja melepaskan dirinya dari Aiden. Tapi kenapa dia tidak melakukannya. Apa dia menyukainya?. Apa dia menyukai saat Aiden mendekatinya seperti itu?. Tidak...itu tidak benar. Gumamnya dalam hati.


Xena kembali menatap Aiden yang juga menatapnya sambil tersenyum penuh arti. Dia sangat malu tapi anehnya dia juga menyukai senyum Aiden. Ah tidak!! Aku pasti sudah gila. Aku harus pergi. Tapi aku masih ingin bersamanya. Apa??. Xena kau pasti sudah gila. dialognya dalam hati, lalu dia masuk ke dalam rumah, meninggalkan Aiden yang tersenyum senang. Dia sangat yakin Xena mulai jatuh cinta kepadanya. Dia bisa melihat dan merasakannya.


.


.


Bersambung☘️