Xena

Xena
60. Menuai apa yang kamu tanam



Tatapan mata Yuri sangat tajam ke arah Xena, Namaun saat ia menoleh ke arah Ray. Ekspresi nya berubah dengan ekspresi memelas dan seperti orang teraniaya.


"Ray, kamu lihat kan wanita yang kamu suka ternyata sangat kasar? Dia sangat tidak pantas untukmu! Aku mohon, tolong aku. Kau tidak ingin kakek marah karena kamu hanya diam saja saat melihat wanita ini menyakitiku, bukan? Aku adalah wanita yang di pilih kakekmu, keluarga kita sangat dekat dan menjodohkan kita untuk menjadi pasangan. Kita adalah pasangan yang sudah di takdirkan, tapi kamu menjauhiku hanya karena kedatangan wanita ini" ucap Yuri memelas dan menekan kata-kata di jodohkan agar Xena sadar dengan posisinya.


Ray diam tidak membalas ucapan itu, ia justru menoleh ke arah Xena. Ia takut Xena salah paham lagi padanya, karena Yuri memang mengenal kakeknya dan awalnya kakeknya dan Yuri berniat menjodohkan mereka.


Namun ia melihat tatapan Xena setenang air saat mendengar ucapan Yuri, seolah tidak pernah mendengar hal seperti itu. Tapi justru Ray lebih khawatir saat Xena sangat tenang dan tanpa ekspresi, karena ia sulit membaca apa yang di pikirkan Xena dari raut wajahnya.


"Xe..." ucap Ray lembut.


"Apa sudah selesai?" ucap Xena kemudian, ia mengabaikan panggilan Ray dan menatap tenang ke arah Yuri.


"Apa maksudmu selesai?" ucap Yuri menatap tajam ke arah Xena.


"Sudah selesai memprovokasi ku dengan bualan tingkat tinggimu itu?" ucap Xena


"Aku tidak membual! Jika kau tidak percaya, kau bisa menanyakan hal itu pada kakek Reksa! Aku adalah calon istri Ray, kenyataannya kamu adalah pelakor yang merusak hubungan kami!" ucap Yuri dengan nada yang tinggi.


"Berhenti mengucapkan omong kosong! Apa kamu sudah gila?! Siapa kamu berani mengatakan aku adalah calon suami kamu, Hah? Bangunlah, karena mimpi indah mu itu sudah berakhir! Karena dalam dunia nyata aku sama sekali tidak pernah dan tidak akan pernah berhubungan denganmu! Jadi jangan coba-coba membual dan menghayal tentang hal yang tidak akan pernah terjadi!" ucap Ray kesal karena ucapan Yuri.


"Jangan buang tenaga untuk hal yang tidak penting, Ray" ucap Xena pada kekasihnya.


Jika saja Kakek Reksa tidak datang dan mengatakan sendiri jika ia memberikan restu untuk hubungannya dengan Ray. Juga jika saja ia tidak pernah meretas data data Yuri dan mengetahui kebenarannya, mungkin ia akan goyah dengan ucapan Yuri yang terlihat meyakinkan itu.


"Apa kamu percaya padaku?" tanya Xena


"Tentu saja! Bukankah kamu bilang jika hubungan itu di landasi kepercayaan? Aku lebih suka menanyakannya langsung padamu jika aku ragu tentang sesuatu. Dan aku juga tidak sebodoh itu, percaya dengan ucapan orang gila" ucap Xena terkekeh


Ray menghela nafas lega dan tersenyum ke arah Xena dan memeluknya posesif.


"Terimakasih sayang" ucap Ray sembari mengecup singkat bibir Xena.


Sontak hal itu membuat Xena tersipu malu, karena kelakuan Ray yang tiba-tiba dan di saksikan oleh banyak orang di ruangan itu.


Yuri bagaimana pun merasa geram dengan adegan mesra di depannya, terlebih pria itu adalah pria idamannya. Ia jelas sangat tidak rela.


"Ekhmmm, Ray bisa lepas dulu! Malu banyak orang" bisik Xena.


Mau tidak mau Ray menurut dan melepaskan pelukannya. Xena kemudian menatap Yuri dengan senyuman mengejek.


"Dasar murahan!! Beraninya kau menyentuh dan mencium tunangan ku!!!" ucap geram Yuri.


"Matamu katarak ya? Atau kau rabun? Ah aku lupa kalau kau itu buta, karena tidak bisa melihat dengan baik kalau Ray sendiri yang memeluk dan menciumku. Bukan aku!" ucap Xena terkekeh.


"Dasar Lacuur murahan!!!" teriak Yuri.


PLAK!!!


Tamparan keras mendarat kembali di wajah Yuri. Kali ini Xena menamparnya lebih keras dari tamparan yang pertama Hingga membuat hidung Yuri mengeluarkan darah.


"Aaaakkkhhh..... Beraninya kau menamparku!!! Kau tidak tahu siapa aku, Hah? Akan ku buat kamu menderita dan kamu sekeluarga akan hancur menjadi gelandangan miskin!!!!" teriak Yuri sangat marah dan menahan sakit di wajahnya.


"Kalian lakukan tugas kalian!" ucap Xena lalu beranjak keluar dari rumah kosong itu di ikuti oleh Ray di belakangnya.


"Baik!" ucap anak buah Ray kompak.


Tak lama terdengar teriakan Yuri dari dalam ruangan. Sedangkan Xena dan Ray tanpa menoleh keluar dari rumah itu menuju mobil dan pergi.


....


Apa yang terjadi dengan Yuri?


Tentu saja Xena mengabulkan rencana Yuri, hanya saja bukan dirinya yang menjadi korbannya, melainkan Yuri. Ia di gilir oleh orang suruhannya sendiri, tentu saja aksi itu di rekam seperti rencana awal Yuri untuk Xena.


Xena tidak akan berbaik hati untuk orang macam Yuri yang ingin melecehkan dan menghancurkan hidupnya dan orang terdekatnya. Hanya orang bodoh yang melepaskan orang yang sudah membuat hidupnya sengsara.


Apa yang kau tabur, itu yang akan kau tuai. Begitu perumpamaan nya.


Pepatah itu sangat cocok untuk di deskripsikan tentang apa yang terjadi pada Yuri.


"Aku tidak akan lemah seperti dulu lagi, terlalu banyak rasa sakit yang aku rasakan di kehidupan dulu. Aku tidak ingin diriku menjadi lemah, karena tidak ingin menjadi beban untuk orang lain. Jadi aku harus menjadi kuat demi diriku sendiri dan untuk orang yang aku sayangi" gumam Xena dalam hati.


....


Di kediaman Dirgantara, Vano terus menatap ponselnya. Di mana berita tentang Xena terus naik sampai trending pertama dan tidak pernah turun. Bahkan foto terbaru keduanya yang tengah berpelukan di restoran pun tersebar dan membuat berita makin heboh.


Tangan Vano mengepal, ia merasa sangat cemburu melihat itu. Dirinya saja belum pernah berpegangan tangan apalagi memeluk Xena. Dia sangat marah dan frustasi di buatnya.


Olive yang melihat kakaknya duduk terdiam dan terpaku memandang ponselnya hanya menghela nafas, ia tahu jika kakanya sudah melihat berita itu.


"Penyesalan memang selalu datang terlambat, jika saja kakak lebih peka terhadap perasaan kakak sendiri. Pasti saat ini kakak yang berada di posisi Ray. Aku pun akan memilih untuk menyerah jika aku di posisi Xena, menunggu seseorang yang tidak pasti selama bertahun-tahun membalas perasaan kita. Apalagi aku tipikal orang yang tidak sabar, pasti aku langsung menyerah setelah satu atau dua tahun berjuang. Aku harap baik kakak atau Xena memiliki kebahagiaan masing-masing di masa depan, meskipun keduanya tidak di takdirkan untuk bersama" gumam Olive sebelum ia meninggalkan kakaknya yang masih termenung sendirian.


"Kakak kamu mana Liv?" tanya Wenda mamah Vano dan Olive, yang tengah duduk di ruang keluarga.


"Lagi galau mah" ucap Olive


"Galau? Galau kenapa?" tanya Wenda mengerutkan kening.


"Xena sudah move on dari kakak, Eh sekarang giliran kakak uring-uringan karena baru sadar kalau ia ternyata memiliki perasaan ke Xena" ucap Olive.


"Astaga ada-ada saja Vano" ucap Wenda menggelengkan kepala.


"Tapi apa benar Xena sudah move on dari Vano? bukankah ia sangat menyukai Vano sejak kecil?" tanya Wenda penasaran


"Ya, Xena mengatakan jika ia sudah menyerah dan tidak lagi menyukai kakak" ucap Olive


Wenda jelas tahu jika anak dari sahabatnya itu sangat menyukai putranya, jadi ia terkejut saat mendengar Xena sudah menyerah, setelah bertahun-tahun mengejar Vano.


Dan sekarang keadaan berbalik, Vano akhirnya sudah sadar jika ia juga mencintai Xena. Namun sayangnya perasaan Xena sudah tidak sama dengan seperti yang dulu.


...•••••...