Xena

Xena
XENA @BAB 36



Dibantu beberapa pelayan dari dapur istana, Xena membawa semua hidangan untuk makan malam sang pangeran ke ruang makan pribadinya. Ini memang salah satu cara pangeran Alaric agar dia bisa dekat dengan Xena yang sudah sangat dia rindukan.


Pangeran Alaric duduk di meja makan mewahnya seorang diri, menunggu kedatangan wanita cantik yang sangat dicintainya, dan Conrad berdiri di belakangnya. Pintu ruang makan terbuka, bersamaan dengan munculnya beberapa orang pelayan yang membawa hidangan makan malam.


Senyum pangeran Alaric mengembang saat melihat sosok Xena yang masuk pada barisan terakhir, sambil membawa keranjang buah berukuran sedang. Pelayan sudah menata semua makanan di atas meja, begitupun dengan Xena. Dia meletakkan keranjang buah yang dia bawa tadi. Seperti biasanya seorang petugas khusus, mencicipi semua makanan itu untuk memastikan kalau makanan tersebut tidak berbahaya untuk sang pangeran.


"Kalian boleh pergi, kecuali kamu." Ujar Alaric seraya menatap Xena. Para pelayan keluar, tapi tidak dengan Xena. "Kau juga boleh keluar paman!! Titahnya lagi.


"Baik pangeran." Sahut Conrad, lalu keluar dari sana, walau dalam hatinya dia sangat mengkhawatirkan pangeran Alaric, karena takut Xena berbuat macam-macam pada pangerannya.


Xena, aku sangat bahagia bisa bertemu denganmu, walau kau tidak mengenaliku. Aku sangat merindukanmu Xena. Batin Alaric.


Kenapa dia tidak memakan makanan itu dan malah menatapku?. Apa yang sedang dia pikirkan?. Cepatlah kau makan dan biarkan aku pergi. Batin Xena.


"Jadi kau yang bernama Xena, tukang masak yang selalu dibicarakan ibuku dan orang-orang di istana ini?." Tanya Alaric pura-pura.


"Iya pangeran." Jawab Xena.


Pangeran Alaric masih menatap Xena, membuat Xena merasa risih dan tidak suka, tapi jantungnya berdetak kencang tak karuan. Ini memang sangat aneh baginya, karena saat dia tidak merasa tegang, atau takut.


Ini aku Xena. Apa kau benar-benar tidak mengenaliku?. Batin Aiden.


"Kenapa anda tidak makan pangeran?." Tanya Xena memberanikan dirinya, karena tidak mau Alaric terus menatapnya.


"Kalau begitu temani aku makan. Aku tidak mau makan sendirian." Sahut Alaric, membuat Xena tersentak. Bukan karena ajakan pangeran, tapi suaranya. Suara pangeran yang menurut Xena sangat mirip dengan suara Aiden. Tidak....ini pasti karena aku sangat merindukannya. Batin Xena.


"Kenapa kau diam?. Apa kau tidak mau menemaniku makan?." Tanya Alaric.


"Maaf pangeran!! Hamba tidak mungkin menemani anda makan. Anda adalah seorang pangeran, sedangkan hamba hanya seorang tukang masak. Jadi tidak pantas rasanya, kalau hamba menemani anda makan." Jawab Xena.


"Hanya aku yang berhak menentukan pantas atau tidaknya seseorang menemaniku, dan menurutku kau sangat pantas. Sekarang, ayo temani aku makan." Balas Alaric dengan senyumnya.


Xena tentu saja tidak mau menemani pangeran Alaric menikmati makan malamnya. Tapi apa dia punya kekuatan untuk menolak perintah seorang pangeran?. Mungkin di istana ini Xena tidak punya kekuatan, tapi dia mempunyai keberanian untuk menolak perintah Alaric. Bukan Xena namanya jika dia harus menuruti kata-kata orang yang dia benci. Xena tetap menolak ajakan atau perintah Alaric. Dia tidak peduli seandainya pangeran Alaric tersinggung atau marah sekalipun.


"Katakan padaku, kenapa kau tidak mau menemani aku?. Bukankah kau seharusnya senang karena aku mengajakmu?. Kau tahu, tidak semua pelayan mempunyai kesempatan untuk bisa menemaniku." Ujar Alaric.


Hehh....sombong sekali dia. Aku tahu kau memang sangat tampan. Tapi maaf, aku tidak tertarik kepadamu. Kau adalah penyebab aku kehilangan ayahku. Kata Xena dalam hati. Wajah dan matanya berubah merah, mengingat hal itu.


"Apa kau tetap tidak mau menemaniku, nona Xena?." Tanya Alaric.


Belum sempat Xena menjawab, tiba-tiba pintu ruang makan terbuka, Pangeran Alaric dan Xena menoleh ke arah pintu. Rupanya ratu yang datang. Xena langsung menunduk, memberi hormat, begitupun pangeran Alaric.


"Ibunda ratu, kenapa datang tiba-tiba?." Tanya Alaric.


"Maafkan jika kehadiranku mengejutkanmu. Aku sengaja datang karena ingin menemanimu makan." Jawab ratu sambil tersenyum hangat. Dia menatap makanan yang tersaji di atas meja, lalu menoleh ke arah Xena.


"Apa saja yang kau masak untuk makan malam anakku Xena?." Tanya ratu.


"Saya memasak ikan dover sole panggang, sapi panggang, iga domba dengan cassoulet kacang, tumis bayam dan zukini. Dan untuk hidangan utama, saya membuat steak daging rusa."Jawab Xena.


"Steak daging rusa?. Hemm.....aku belum pernah mencobanya. Kenapa kau membuat steak dari daging rusa?" Tanya Ratu.


"Karena saya tahu dari tukang masak senior, kalau pangeran sangat menyukai daging rusa." Jawab Xena.


"Iya yang mulia. Silahkan yang mulia mencicipinya."


"Tentu."


Ratu dan pangeran pun menyantap makan malam tersebut berdua. Xena masih berdiri disana menjadi penonton setia kedua orang yang sedang menikmati makan malamnya itu.


Untung saja aku tidak jadi menaruh racun itu. Kalau tidak, bisa-bisa ratu akan ikut menjadi korban. Kata Xena dalam hati.


Ratu dan pangeran sudah selesai menyantap makanan itu. Xena memohon ijin untuk keluar dari sana, dan ratu mengijinkan. Pangeran Alaric berdecak kesal dalam hati, karena rencananya untuk bisa berduaan bersama Xena harus gagal karena kehadiran ratu.


"Ibu, aku mau Xena menjadi pelayan pribadiku." Ujar Alaric tiba-tiba.


"Apa maksudmu?."


"Apa ibu tidak mengerti apa maksudku?. Aku mau Xena menjadi pelayan pribadiku. Aku mau dia hanya memasak untukku, juga melayani semua kebutuhanku."


"Bukankah sudah banyak pelayan disini?."


"Iya tapi aku tetap mau Xena menjadi pelayan pribadiku. Tugasnya hanya melayani semua keperluanku, juga memasak, jika aku menginginkannya."


"Tapi dia baru saja menggantikan Charlota. Kalau dia jadi pelayan pribadimu, lalu siapa yang akan menggantikannya di dapur istana?."


"Biarkan saja Kalla yang memikirkannya. Yang jelas, mulai besok Xena harus menjadi pelayan pribadiku." Tegas Alaric.


"Baiklah, aku akan membicarakannya dengan Kalla dan Hannah." Pungkas ratu lalu keluar meninggalkan istana pangeran.


๐Ÿ”…๐Ÿ”…๐Ÿ”…๐Ÿ”…๐Ÿ”…


Malam ini Xena tidak bisa tidur, karena teringat pada Aiden. Dia sangat merindukan kehadirannya saat ini. Aiden, sejak kau pergi, kenapa kau tidak pernah mengirim surat padaku?. Apa kau sangat sibuk, sampai tak punya waktu untuk menulis surat?. Gumam Xena dalam hati, lalu memejamkan mata mencoba untuk tidur. Namun tiba-tiba saja bayangan pangeran Alaric muncul, dan mata Xena kembali terbuka.


"Kenapa wajah lelaki itu harus muncul?. Padahal aku tidak sedang memikirkannya. Yang aku pikirkan sekarang adalah Aiden, bukan pangeran sombong itu." Gerutu Xena.



**Di Tempat lain**


"Ada apa yang mulia?. Kenapa anda datang malam-malam seperti ini?. Apa ada masalah?." Tanya Kalla yang terkejut dengan kedatangan ratu ke kamarnya.


"Ada yang ingin aku biacarakan denganmu. Ini tentang Xena." Sahut ratu.


"Ada apa dengan Xena?. Apa dia melakukan kesalahan?." Tanya Kalla.


"Tidak Kalla, Xena tidak melakukan kesalahan apapun. Aku hanya ingin tahu tentang dia. Pangeran ingin menjadikan Xena sebagai pelayan pribadinya. Aku hanya ingin tahu apa menurutmu Xena pantas dan bisa dipercaya untuk berada di posisi itu?. Aku yakin kau pasti tahu tentang dia. Kau pasti tahu asal-usul Xena ataupun pelayan muda lainnya."


*Apa aku katakan saja pada ratu, siapa Xena sebenarnya*?. Gumam Kalla dalam hati.


.



. Bersambungโ˜˜๏ธโ˜˜๏ธโ˜˜๏ธ