
"Aku akan mengatakannya. Tapi kamu harus janji akan membantu memasukkan aku ke istana, bagaimana?. Kamu setuju?." Ujar Audrey memberi penawaran.
"Baik!! Aku setuju." Sahut Alaric.
"Ini sebenarnya rahasia keluarga kami, dan aku tidak boleh menceritakannya pada siapapun." Apa kamu bisa menyimpan rahasia ini?. Apa kamu bisa dipercaya?." Tanya Audrey.
"Aku bersumpah demi ibuku, tidak akan mengatakannya pada siapapun." Sahut Alaric.
"Baiklah. Memang benar, adikku itu tidak menyukai kerajaan Zephyra atau apapun yang berhubungan dengan kerajaan, terutama raja dan pangeran. Bisa dikatakan, adikku itu sangat membenci mereka." Jelas Audrey.
"Apa?? Tapi kenapa?. Kenapa dia membenci raja dan pangeran?." Tanya Alaric penasaran.
"Selain karena alasan yang tidak boleh aku katakan padamu, adikku dan semua penduduk disini memang tidak suka pada raja dan peraturannya yang semena-mena." Jawab Audrey
"Semena-mena bagaimana?. Setahuku raja adalah raja yang baik dan bijaksana."Tanya Alaric semakin penasaran.
"Bijaksana?. Mana ada raja bijaksana yang memeras rakyatnya. Kamu tahu, raja-mu itu meminta pajak yang besar pada kami. Aku tidak tahu apa peraturan ini berlaku untuk semua wilayah kekuasaan Zephyra, atau hanya berlaku di desa kami saja." Jelas Audrey.
"Apa?." Gumam Alaric. Audrey menceritakan semuanya pada Alaric, kecuali penyebab Xena membenci pangeran dan raja. Dia juga tidak menceritakan kalau dirinya dan Xena adalah anak dari seorang jenderal besar yang mati karena menyelamatkan pangeran. Kakek Abraham sudah mewanti-wanti agar mereka merahasiakan semua itu, karena dia takut nyawa kedua cucunya terancam.
"Sekarang kamu sudah tahu kan kalau adikku membenci mereka, jadi aku harap kamu bisa secepatnya membantu aku masuk ke istana." Ujar Audrey.
" Tapi kamu belum mengatakan padaku kenapa adikmu itu membenci raja dan pangeran." Kata Alaric.
"Aku sudah mengatakan kalau adikku membenci mereka, tapi maaf aku tidak mengatakan alasanya." Sahut Audrey.
"Kalau kamu mau mengatakannya, aku berjanji, hari ini juga kamu bisa masuk ke istana." Ujar Alaric. Audrey tersentak dan langsung menatap ke arahnya.
"Benarkah?." Tanya Audrey dengan senyum ceria di wajahnya.
"Benar." Jawab Alaric.
Senyum di wajah Audrey memudar. Keningnya perlahan mengerut karena dalam hatinya tiba-tiba merasakan sedikit curiga kepada Alaric. "Kenapa kau begitu ingin tahu alasan adikku membenci mereka?. Apa sebenarnya maksudmu?." Selidiknya curiga.
"Aku tidak bermaksud apa-apa. Aku hanya penasaran saja kenapa adikmu bisa sangat membenci raja, padahal raja adalah orang yang sangat baik dan bijaksana." Ujar Alaric.
Audrey menatap Alaric masih dengan tatapan curiga seperti tadi.
"Hey....kenapa menatapku seperti itu?. Aku bersumpah demi ibuku, aku tidak bermaksud apa-apa. Aku hanya penasaran, itu saja. Kalau kau memang tidak mau mengatakannya, baiklah aku tidak akan memaksamu. Tapi percayalah, aku sama sekali bukan orang jahat." Kata Alaric.
Alaric terus meyakinkan Audrey, hingga akhirnya kecurigaan di hati Audrey pun menghilang begitu saja. Dia percaya laki-laki dihadapannya ini bukanlah orang jahat yang akan menyakiti dirinya dan keluarganya.
"Sebenarnya yang sangat adikku benci adalah pangeran, bukan raja. Karena rasa bencinya yang sangat besar pada pangeran, dia jadi membenci apapun yang berhubungan dengannya dan kerajaan Zephyra. Kamu lihat sendiri kan bagaimana sikap adikku saat dia tahu kau akan menjual bunga-bunga kami ke istana." Ujar Audrey.
Pangeran Alaric tidak menjawab, tapi dalam hati dia mengiyakan ucapan Audrey. Dari awal Alaric bisa merasakannya, kalau Xena memang tidak menyukai kerajaannya. Dia semakin yakin sekarang, Xena dan ksatria misterius itu adalah orang yang sama.
"Ngomong-ngomong apa benar kau dan adikku berpacaran?." Tanya Audrey.
"Iya, aku dan adikmu memang berpacaran. Kenapa? Apa kau keberatan?." Tanya balik Alaric.
Audrey terkekeh. "Kenapa aku harus keberatan?. Aku hanya heran kenapa adikku mau berpacaran dengan orang sepertimu." Jawabnya. Alaric menoleh.
"Maafkan aku!! Aku tidak bermaksud menyinggungmu. Maksudku, aku heran kenapa adikku mau berpacaran dengan orang yang baru dia kenal. Padahal dia itu tipe orang yang sangat tertutup. Berarti kamu adalah pria hebat. Aku harus akui kehebatanmu." Ucap Audrey tidak sungguh-sungguh. Sebenarnya dalam hatinya dia menertawakan Xena karena mau berpacaran dengan laki-laki yang tidak jelas asal-usulnya. Selain itu laki-laki tersebut terlihat tidak menarik dan tidak tampan. Hahh...Xena...Xena kamu memang aneh. Kata Audrey dalam hati.
Setelah mendengar cerita Audrey, pangeran Alaric memerintahkan Conrad untuk menyelidiki masalah pajak dan juga meminta Conrad membantunya mengungkap siapa sebenarnya ksatria misterius itu, juga alasan kenapa Xena sangat membencinya.
"Paman!! Aku mau paman selidiki tentang peraturan yang berlaku di desa ini. Apa benar mereka meminta pajak tiga kali lipat seperti yang dikatakan Audrey." Titah pangeran Alaric.
"Baik pangeran." Sahut Conrad.
"Satu lagi. Aku ingin paman mencari tahu, kenapa gadis bernama Xena itu sangat membenci kerajaan kita, dan juga aku." Ujar Alaric
"Sesuai perintah anda pangeran." Jawab Conrad.
"Oh ya paman, menurut paman apa mungkin gadis bernama Xena itu adalah ksatria yang telah menyelamatkan nyawaku?." Tanya Alaric.
"Maafkan hamba pangeran. Tapi jujur saja saat hamba sendiri belum benar-benar yakin. Tapi satu hal yang hamba yakini, nona Xena sepertinya memanglah bukan gadis biasa. Dia sangat berbeda dengan nona Audrey. Hamba yakin nona Xena memang menguasai ilmu bela diri. Tapi hamba tidak tahu apa dia yang menyelamatkan anda atau bukan." Jawab Conrad.
"Lalu apa yang harus kita lakukan untuk membuktikanya ?. Apa paman punya ide?." Tanya Alaric.
"Mohon beri hamba waktu untuk memikirkanya." Jawab Conrad.
"Tentu saja paman." Balas Alaric.
🍃🍃🍃🍃
Sejak Xena menjadi kekasihnya, setiap hari Alaric datang menemui Xena di ladang maupun dirumahnya. Selain ingin bertemu dengan gadis cantik bermata indah itu, pangeran Alaric juga ingin membuktikan atau mencari bukti yang menunjukan kalau Xena adalah ksatria yang telah menyelamatkannya.
"Kenapa aku harus bertemu lelaki menyebalkan sepertimu?." Kata Xena, saat Alaric tiba-tiba berdiri di dekatnya.
"Aku juga tidak tahu, kenapa aku harus bertemu dengan gadis secantik kamu." Jawab Alaric sambil tersenyum dan hanya dibalas Xena dengan tatapan tajam dari mata indahnya.
Alaric terus mengikuti Xena kemana pun dia pergi, walau Xena selalu mengusirnya. Seperti saat ini, Xena yang baru selesai membantu kakek Abraham, pergi ke sungai untuk mencuci tangan sambil menangkap ikan.
"Aku bilang jangan mengikutiku. Apa kamu tuli?." Sergah Xena.
"Aku tidak mungkin membiarkanmu sendirian. Aku sangat mengkhawatirkanmu." Sahut Alaric.
"Aku sudah terbiasa dan lebih suka sendiri, jadi kau tidak perlu menggangguku."
"Tapi aku kekasihmu. Jadi mulai sekarang kamu harus terbiasa dengan kehadiranku." Pungkas Alaric. Xena tidak lagi membalas perkataan Alaric karena dia merasa sangat malas bicara pada orang keras kepala seperti lelaki dihadapanya ini. Dia memilih membiarkannya dan menganggapnya tidak ada.
Xena mulai menangkap ikan dengan keahlian yang dimilikinya, sedangkan Alaric hanya memperhatikan dan memuji kehebatan Xena yang begitu terampil menangkap ikan-ikan itu dengan tangan kosong.
"Luar biasa!! Kamu bisa menangkap ikan-ikan itu dengan tanganmu. Ilmu apa yang kamu miliki?. Apa kau mau mengajariku?." Tanya Aiden.
"Diamlah. Aku tidak suka dengan orang yang terlalu banyak bicara." Jawab Xena.
Alaric hanya tersenyum dan terus saja menggoda Xena sampai dia merasa kesal pada Alaric. Tak ingin cari masalah, Alaric pun duduk diam di atas batu sambil kembali memperhatikan Xena.
Sesekali Xena menolehkan pandanganya ke belakang atau ke arah dimana Alaric duduk saat ini, hingga tak sengaja pandangan mereka bertemu. Alaric tersenyum, tapi Xena langsung memalingkan muka. Tak lama kemudian, Xena kembali menoleh ke arah Alaric yang masih setia menatapnya sambil tersenyum penuh kekaguman, sedangkan yang ditatap seolah tidak peduli.
Mata indahnya tiba-tiba membulat, seperti orang yang terkejut atau melihat sesuatu yang membuatnya kaget. Dia lalu mengambil parang yang dibawanya dari ladang tadi, dan melemparkannya ke arah pangeran Alaric, membuatnya sangat terkejut.