Xena

Xena
114. Orang aneh



Xena sudah sampai di Airport lebih awal yakni jam 9 pagi. Jika tidak ada delay, setengah jam lagi persawat Ray landing di ibukota.


Sambil menunggu Ray datang, Xena pergi menuju ke sebuah cafe di dalam airport. Ia memesan kopi Vietnam Drip. Sambil Ia menikmati kopi itu, Xena melihat-lihat berita yang tengah update di media sosial.


Ia membaca tentang berita kecelakaan beruntun, pihak agensi Ray juga sudah mengkonfirmasi berita itu. Mereka mengatakan jika artisnya selamat dan karena kondisi tulang lengan atas Ray tergeser, syuting terpaksa di undur sampai Ray sembuh.


Banyak yang berkomentar ikut bersedih atas kejadian yang menimpa artis idolanya.


Asik mensrol berita dan gosip di media, Xena tidak sadar ada yang duduk di depannya. Begitu ia mendengar suara dehaman Xena sedikit terkejut dan mengerutkan keningnya saat melihat pria yang tidak di kenal duduk di depannya.


"Hai, sendirian saja? Aku duduk di sini ya, Boleh kita kenalan?" ucap pria yang tampan dengan wajah blasteran western itu dengan senyum lesung pipinya yang manis.


Xena mengabaikan ucapan pria itu, ia melihat di ponselnya sudah jam 09.20 yang berarti sebentar lagi Ray sampai. Xena memutuskan untuk beranjak dari sana.


Melihat Xena yang berdiri dan hendak beranjak, pria itu memegang tangannya. Namun Xena bergerak cepat dengan menghindar.


"Pegang sedikit saja, aku pastikan tanganmu terlepas dari tempatnya" ucap Xena datar dan dingin lalu beranjak dari sana.


Dia tidak repot-repot meladeni pria modelan seperti itu, pria yang sok caper di depannya tidak mempan. Sedangkan pria itu duduk termangu di sana masih menatap kepergian Xena.


"Uuhh.. Galak sekali, tapi sangat menarik dan menggemaskan! Bahkan dengan penampilan ku yang tampan seperti ini, sama sekali tidak membuatnya tertarik. Sungguh menarik, aku menandaimu kucing kecil!" gumam pria itu tersenyum menatap punggung Xena yang sudah pergi menjauh.


Xena tidak tahu apa yang di pikirkan pria itu, ia juga tidak peduli apapun yang orang itu pikirkan. Ia kini sudah berdiri di depan pintu keluar kedatangan Domestik. Sepuluh menit kemudian, pemberitahuan jika pesawat sudah melakukan pendaratan dengan sempurna. Tak lama Ray terlihat datang bersama Galang dan juga Reno, mereka bertiga menggunakan masker.


Tidak ada fans yang datang ke sana karena tidak ada yang tahu jika Ray pulang ke ibukota hari ini.


Xena langsung mengenali ketiganya, jadi ia berjalan mendekat. Ray langsung memeluk Xena dengan tangan kanannya, karena tangan kirinya masih terasa nyilu untuk di bawa bergerak.


"Sayang..." ucap Ray dengan manjanya.


"Sayang.... Ck, ketemu pawangnya aja manja gitu, astaga Ray. Inget umur!" ucap Reno meledek artisnya itu.


Ray hanya diam dan melotot ke arah Reno, bukannya takut Reno malah tergelak melihatnya. Galang dan Xena hanya menggeleng pelan dan tersenyum melihat keduanya.


"Ayo kita pulang sekarang" ucap Xena.


Xena berinisiatif menggandeng tangan kanan Ray, membuat si empunya senyum senang di balik maskernya itu.


Mereka pun berjalan menuju lobby airport, Xena meminta mereka menunggu sebentar, karena ia akan mengambil mobilnya di tempat parkir.


"Ayo masuk!" ucap Xena


Karena Xena yang menyetir, Ray duduk di depan dan yang lain duduk di belakang.


"Ini mobil yang baru kamu beli yang?" tanya Ray.


"Hmm..." jawab. Xena mengangguk


"Sangat kecil" ucap Ray.


"Namanya juga Mini Ray, kalau mau yang gede beli bus aja sekalian" ucap Reno.


"Kakak ini ikut nyambung aja" ucap Ray kesal.


"Lah yang aku omongin bener kok" ucap Reno


Ray diem karena malas meladeni Reno, sedangkan Xena juga diam karena fokus menyetir.


Xena menurunkan Galang dan Reno terlebih dulu di depan rumah mereka. Setelahnya tersisa Xena dan Ray di mobil menuju apartemen.


Setelah beberapa menit keduanya sudah sampai di apartemen milik Ray. Xena memiliki akses dan juga kunci apartemen, karena Ray yang memberikan itu padanya.


Ray menyatukan Dahi mereka setelah mereka melepas ciuman panjang itu. Ia menyalurkan rasa rindunya yang membuncah semenjak mereka berjauhan.


"Aku merindukanmu...." ucap Ray


"Aku juga..." ucap Xena


"Apa ini sakit?" tanya Xena lagi menyentuh pinggiran luka gores di pipi Ray.


"Sudah nggak" ucap Ray tersenyum manis.


Astaga, senyuman itu sangat namus dan Ray terlihat sangat tampan, hingga membuat Xena meleleh di buatnya. Melihat wajah Xena memerah Ray terkekeh gemas.


Cup!


Ia mendaratkan kecupan di pipi Xena yang memerah itu.


"Ayo duduk dulu!" ucap Xena salah tingkah membuat Ray gemas sendiri di buatnya.


Apartemen Ray sangat rapih dan wangi, meskipun sudah di tinggal Ray ke luar kota. Ada anak buah Tiger yang membersihkannya setiap hari. Bahkan bahan makanan di kulkas sudah di Refill setiap hari dan selalu dalam kondisi Fresh.


"Aku masak dulu ya sebentar lagi waktunya makan siang" ucap Xena


"Hmm, kalau gitu aku ke kamar ya sayang, kepalaku sedikit pusing" ucap Ray


"Ya sudah istirahat dulu. Kamu pasti capek di jalan" ucap Xena


Xena berkutat di dapur, ia memasak untuk makan siang mereka. Saat melihat banyak sekali bahan makanan yang ada di dalam kulkas, tak perlu menunggu lama Xena langsung memasaknya.


Setelah satu jam, wangi makanan menguar. Hanya dari baunya saja sudah menggoda nafsu makan untuk naik dan membuat perut semua orang keroncongan.


....


Xena masuk ke dalam kamar yang wangi maskulin khas wangi Ray. Ia melihat kekasihnya tertidur, ia terlihat seperti pria tampan yang polos.


Ray sudah melepas kemejanya dan juga celana panjangnya, ia hanya menggunakan singlet dan juga celana pendek selutut.


Melihat banyak luka selain di pipi, ternyata tangan dan kakinya juga terdapat luka gores dan lebam. Hati Xena terasa sakit di buatnya.


Meskipun Ray mengatakan itu tidak sakit, tapi Ray mengatakan itu pasti karena tidak ingin ia sedih dan khawatir. Bagaimanapun itu luka yang cukup dalam.


Xena mengelus goresan itu dengan sedih dan menitikkan air mata saat melihat ada balutan juga di antara lengan atas dan bahu. Karena Ray hanya memakai singlet sekarang, jadi balutan perban itu terlihat.


"Aku tidak apa-apa, jangan nangis sayang" ucap Ray dengan suara serak yang menandakan ia baru bangun.


"Kamu sudah bangun?" ucap Xena menghapus air matanya.


"Kenapa menangis hmm? ini hanya luka ringan. Luka ini nggak seberapa di banding penumpang di mobil lainnya, aku tidak apa-apa jadi jangan nangis hmm" ucap Ray tersenyum dan mengecup kedua mata Xena yang menangis.


"Apa yang di bilang Dokter?" tanya Xena


"Dokter bilang aku akan pulih setelah sebulan, hanya saja aku harus bed rest dan tidak bisa mengangkat beban berat karena takut akan memperburuk. Tenang saja, aku tidak akan apa-apa, nanti besok aku cek up juga di antar kamu kan? Jadi aku tidak mungkin bohong padamu" ucap Ray tersenyum menenangkan kekasihnya.


"Benarkah? Lalu luka ini dan ini" ucap Xena menunjuk ke luka goresan dan luka lebam lainnya.


"Nggak apa-apa sayang, aku pria kuat kok. Ya sedikit sakit itu wajar, kan namanya juga kecelakaan" ucap Ray


"Syukurlah kalau benar tidak apa-apa, kalau gitu ayo makan dulu. Nanti setelah makan lalu minum obat habis itu bisa istirahat lagi" ucap Xena, Ray mengangguk. Keduanya lalu berjalan keluar menuju meja makan.


...••••••...