Xena

Xena
XENA @BAB 39



"Apa kau bilang paman?. Mereka tinggal dirumah yang sama?. Maksudnya mereka tinggal satu rumah?." Tanya Pangeran Alaric, pura-pura.


"Iya pangeran. Mereka berdua tinggal satu rumah, dan mereka ini bersaudara." Jawab Conrad.


Mata Audrey terpejam seketika, karena merasa sangat malu karena dirinya ketahuan berbohong dihadapan pangeran. Kepalanya semakin menunduk dalam, sedangkan Xena hanya bisa mencuri pandang, menolehkan pandangannya pada kakaknya itu. Dia tidak berkata apapun saat itu.


"Darimana paman tahu?." Tanya Alaric lagi.


"Hamba tahu, karena hamba sendiri yang membawa mereka ke istana ini." Jawab Conrad.


"Oh begitu.!! Sahut Alaric sambil melangkahkan kakinya mendekati kakak beradik itu. "Jadi kalian bersaudara?." Tanya Alaric pura-pura.


Xena dan Audrey masih menunduk, sambil memutarkan bola mata mereka karena tidak tahu harus menjawab apa. Audrey malu dan takut karena terlanjur mengatakan kalau di tidak mengenal Xena.


"Kenapa kalian diam?. Jawab aku, apa benar, kalian bersaudara?." Tanya Alaric lagi.


"Benar yang mulia." Jawab Xena.


"Ohh....lalu mengapa tadi dia mengatakan, kalau dia tidak mengenalmu?." Tanya Alaric lagi.


Mana aku tahu. Lagipula kenapa kau harus tahu. Kau ini seorang pangeran, apa pentingnya bagimu, kami bersaudara atau tidak. Gerutu Xena dalam hati.


"Apa jangan-jangan kalian ini mata-mata?." Goda Alaric.


"Tidak yang mulia!! Hamba...emm maksud hamba, kami, bukan mata-mata." Sahut Audrey, menyangkal tuduhan Alaric.


"Lalu apa maksud kamu mengatakan padaku, kalau kamu tidak mengenal dia?. Apa kau mau membohongiku?." Tanya pangeran Alaric lagi.


"Maafkan hamba yang mulia!! Hamba tidak bermaksud membohongi anda yang mulia. Hamba hanya....."


"Sudahlah aku tidak ingin mendengar penjelasanmu. Baguslah kalau kalian bersaudara, jadi kau dan saudaramu sama-sama bekerja di istanaku sekarang." Ujar Alaric.


Kening Audrey sedikit mengerut, mendengar ucapan pangeran Alaric. Apa maksudnya Xena juga bekerja di istana ini?. Tanyanya dalam hati.


"Kau boleh pergi sekarang!!. Titah Alaric.


"Baik yang mulia." Sahut Audrey dan Xena bersamaan, lalu memundurkan badan dan berbalik hendak meninggalkan ruangan itu.


"Aku meminta dia pergi, bukan kau." Ujar Alaric, membuat langkah Xena dan Audrey terhenti. Raut wajah Xena terlihat mulai kesal, sedangkan Audrey nampak bingung karena tidak mengerti situasinya. Sampai terdengar ucapan Alaric selanjutnya. "Audrey kau boleh pergi, dan Xena, kau tetap disini."


Mau tidak mau Audrey pergi dari sana dengan rasa heran dan penasaran kenapa pangeran meminta adiknya tetap disana. Pasalnya sampai saat ini, Audrey masih belum mengetahui kalau Xena sudah menjadi pelayan pribadi pangeran.


Audrey melakukan pekerjaannya seperti biasa. Matanya terus menatap ke arah pintu ruangan dimana Xena dan pangeran berada.


Tak lama kemudian, pintu itu terbuka tapi bukan Xena yang keluar, melainkan jenderal Conrad. Audrey segera memalingkan muka berpura-pura tidak melihat ke arah Conrad. Hatinya masih terus bertanya-tanya kenapa Xena tidak juga keluar dari ruangan itu.


Ada apa sebenarnya?. Kenapa Xena belum juga keluar dari ruangan itu?. Apa mungkin Xena melakukan kesalahan, dan saat ini pangeran Alaric sedang menghukumnya?. Tapi kesalahan apa yang dia perbuat, sampai pangeran Alaric harus menahan Xena seperti ini?. Kalau benar sekarang Xena bekerja di istana pangeran, mungkin saja kan dia melakukan kesalahan karena pasti dia belum mengetahui peraturan-peraturan yang ada disini. Xena pasti ceroboh. Iya, benar. Xena memang ceroboh, dan mungkin saja karena itu pangeran Alaric menghukumnya. Batin Audrey menduga-duga.


Pintu kembali terbuka, dan kali ini pangeran keluar diikuti Xena dibelakangnya. Pangeran mengumpulkan semua pelayan yang ada di istananya, untuk memberitahukan atau mengumumkan pada mereka semua, kalau Xena sekarang bekerja di istananya sebagai pelayan pribadi pangeran. Sontak saja pengumuman itu membuat Audrey sangat terkejut.


Apa?. Mana mungkin Xena bisa menjadi pelayan pribadi pangeran, bagaimana bisa?. Batin Audrey.


Pangeran berlalu darisana setelah sebelumnya meminta Xena memasak untuk makan siangnya. Sepeninggal pangeran, para pelayan saling berbisik membicarakan dan memuji Xena yang diangkat menjadi pelayan pribadi pangeran, dan itu membuat Audrey semakin panas dan tidak suka. Selama ini Audrey sangat menginginkan posisi itu, dan kini tiba-tiba Xena, adiknya sendiri datang menghancurkan impian besarnya itu.


Tidak!! Aku akan tetap berusaha mewujudkan impianku selama ini. Tak ada seorangpun yang bisa menghancurkan impianku, sekalipun itu kau Xena. Batin Audrey.


🌻🌻🌻


Xena memasak sambil terus menggerutu memaki pangeran Alaric yang menurutnya sangat menyebalkan dan seenaknya. Xena bertanya dalam hati, dari sekian banyak pelayan muda yang ada di istana, jenapa harus dirinya yang dipilih pangeran untuk menjadi pelayan pribadinya.


"Ahh sudahlah.....tidak ada gunanya memikirkan hal itu. Dia bilang dia memilihku karena dia menyukaiku. Hahh yang benar saja. Kau tidak tahu saja kalau aku sangat membencimu pangeran."


"Kau membencinya?. Apa benar kau membencinya Xena?."


"Tentu saja aku membencinya!! Dia yang menyebabkan ayahku meninggal." Dialog Xena dalam hati.


Diakui atau tidak, Xena merasa ada yang aneh dengan perasaannya saat dia berhadapan langsung dengan pangeran Alaric. Walau menyebalkan, tapi Xena merasa kebenciannya pada sang pangeran tidak sedalam seperti saat dia belum pernah bertemu dengannya langsung seperti sekarang.


Kenapa aku tidak langsung membunuhnya saja?. Bukankah selama ini aku menginginkan kematiannya?. Apa mungkin hatiku sudah mulai menerima kematian ayah?. Apa aku sudah memaafkannya?.


Tidak....aku tidak mungkin memaafkannya semudah itu. Aku bukan tidak ingin membunuhnya, tapi aku menunggu saat yang tepat, karena aku tidak boleh gegabah. Nyawaku bisa jadi taruhannya. Xena kembali berdialog dalam hatinya.


"Apa maksud kamu Xena?." Suara Audrey yang tiba-tiba masuk ke dapur istana membuat Xena tersentak.


"Kakak!! Kenapa kau kesini?." Tanya Xena.


"Jawab aku Xena, apa maksud kamu sebenarnya?. Kenapa kau bisa menjadi pelayan pribadi pangeran?." Tanya Audrey penasaran.


"Aku juga tidak tahu kak." Jawab Xena.


"Jangan bohong kamu." Sergah Audrey.


"Aku tidak bohong. Aku memang tidak tahu dan aku juga tidak mau." Jelas Xena.


"Hehh....kalau kamu memang tidak mau, kenapa kau tidak menolaknya?."


"Aku sudah menolaknya, tapi kau tahu sendiri kan kak, bagaimana menyebalkannya peraturan di istana ini?. Kita, semua pelayan dan bawahan tidak diperbolehkan menolak keputusan raja, ratu atau pangeran. Bahkan kita ini seolah kehilangan hak untuk sekedar mengajukan keberatan."


"Jangan banyak alasan kamu." Tuduh Audrey.


"Terserah kakak mau percaya atau tidak."


"Kau yang bilang sendiri kalau kau sangat membenci pangeran dan apapun yang menyangkut kerajaan ini. Lalu kenapa tiba-tiba kau datang dan menjadi pelayan di istana ini?. Bahkan kau menjadi pelayan pribadi orang yang sangat kau benci. Apa maksudnya semua ini? Katakan padaku Xena!!


"Aku sudah jelaskan kalau aku datang kesini karena kakak. Aku sama sekali tidak tertarik jadi pelayan di istana ini apalagi menjadi pelayan pribadi pangeran. Tapi mereka sendiri yang memintaku, dan aku sudah menolaknya. Bahkan aku sudah meminta pangeran agar dia menunjuk pelayan lain untuk menggantikan posisiku, tapi dia malah mengamcamku." Jelas Xena.


"Oh ya!! Kau pikir aku percaya?. Memangnya siapa dirimu Xena?. sampai pangeran tidak mau menggantikanmu dengan pelayan lain?. Aku yakin kau memang sudah merencanakan semua ini kan?. Kau tidak mau melihat aku bahagia kan?. Kau tidak mau melihatku berhasil mendapatkan impianku kan? Jawab!! Tuduh Audrey.


"Apa yang kau bicarakan?" Sergah Xena tak terima tuduhan Audrey. "Kenapa kakak tega menuduhku seperti itu?. Aku ini adik kandungmu sendiri, mana mungkin aku tidak mau melihat kakakku sendiri bahagia. Aku sudah katakan kalau aku datang kesini karena ingin menjaga kakak." Ujar Xena


"Melindungi? Melindungi dari apa?. Kau bisa apa?. Apa yang bisa kau lakukan untuk melindungiku?. Kau adikku, dan aku kakakmu. Aku lebih tua darimu, jadi aku bisa menjaga diriku sendiri. Aku tidak butuh dilindungi, apalagi oleh bocah seperti kamu." Ucap Audrey meremehkan.


"Aku memang tidak bisa apa-apa." Sahut Xena.


"Syukurlah kalau kau sadar. Sebagai kakakmu, aku minta sekarang juga kau pergi dari istana ini. Kembali saja ke rumah kakek, karena aku tidak suka melihatmu ada di istana ini. Tempatmu bukan disini, kau lebih cocok berada di ladang membantu kakek dan nenek." Sarkas Audrey


"Kakak!! Sahut Xena sedikit teriak, wajahnya berubah merah saat itu, karena merasa kesal dan juga sakit hati mendengar semua ucapan kakaknya.


.


.


Bersambung🌻🌻🌻