
Setelah mengetahui siapa Xena sebenarnya, sikap Kalla semakin baik dan peduli pada Xena. Tapi seperti janjinya, Kalla tidak menunjukannya di depan orang lain. Dan sikap baik Kalla itu berlaku hanya pada Xena, karena entah kenapa rasanya sangat sulit bagi Kalla untuk membuang rasa tidak sukanya pada Audrey yang menurutnya sangat angkuh. Apalagi sekarang setelah dia dipindahkan ke istana pangeran, Adeey semakin menunjukkan sikap angkuhnya itu.
***
Siang itu seperti biasanya Xena sedang memasak di dapur istana bersama yang lainnya. Berbeda dari biasanya kali ini Xena tidak hanya memasak untuk para pelayan, tapi dia juga diminta memasak makan siang untuk keluarga kerajaan. Xena tidak bisa menolak karena tukang masak yang bertugas siang itu sedang sakit dan tidak bisa bekerja. Jadi dengan terpaksa Xena menggantikannya.
Semua menu masakan sudah tersaji dan sudah diperiksa oleh petugas yang ada di dapur istana. Para pelayan lalu membawa masakan itu ke ruang makan kerajaan, dan menatanya di meja makan marmer yang tampak sangat kokoh dan mewah itu. Semua makanan sudah diperiksa ulang oleh petugas yang ada di ruang makan. Setelah tugasnya selesai, para pelayan dan petugas keluar dari sana dan menunggu diluar ruangan.
Semua anggota keluarga kerajaan sudah berada disana, termasuk pangeran Vilan dan pangeran Alaric, juga putri Isabella, adik tiri pangeran Alaric yang baru datang dari negeri seberang. Dia adalah anak raja Richard dari istri kedua raja yang meninggal saat melahirkannya. Tapi putri Isabella tidak tahu tentang hal itu, dia menganggap dirinya dan Alaric adalah saudara kandung, karena Alaric pun menganggap Isabella seperti adik kandungnya.
"Aku sangat senang bisa berkumpul dan makan bersama kalian." Ujar putri Isabella.
"Kami semua juga senang bisa berkumpul lagi bersamamu Isabella." Sahut Raja.
"Aku juga senang melihatmu lagi di istana ini Isabel." Timpal pangeran Alaric.
"Tentu saja kakak senang, karena kakak bisa mengangguku lagi kan?." Tanya Isabella.
"Benar sekali. Kau ternyata sangat pintar adikku." Ucap Alaric.
"Sudah!! Kalian jangan bercanda terus. Lebih baik kita makan sekarang. Bukankah kau sudah sangat merindukan masakan khas istana ini putriku?." Tanya Ratu yang menganggap Isabella seperti putrinya sendiri.
"Iya ibu. Aku sangat merindukan rasa masakan di istana ini yang sangat enak." Sahut Isabella.
"Kalau begitu ayo kita makan." Ajak Ratu.
Mereka semua pun mulai memakan masakan yang tersaji. Semua yang ada disana nampak lahap menikmati makanan itu, khusunya putri Isabella. "Kenapa rasa masakan di istana ini semakin enak ibu?. Aku belum pernah memakan makanan seenak ini." Ujarnya.
"Kau suka putriku?." Tanya ratu.
"Iya ibu." Jawab putri.
"Kalau begitu, makanlah yang banyak." Titah ratu.
"Tentu ibu."
Yang dikatakan putri Isabella memang benar. Ratu juga mengakui rasa masakan siang itu sangat berbeda, jauh lebih enak dan membuatnya sangat berselera. Tak hanya dirinya tapi juga raja, dan terutama pangeran Alaric yang siang itu nampak sangat lahap. Ratu tidak pernah melihat putranya makan selahap ini. Aku harus memberi hadiah pada tukang masak hari ini. Gumam ratu dalam hati.
🔅🔅🔅
Setelah makan siang, ratu memanggil Hannah penanggung jawab dapur istana, untuk menghadapnya.
"Hannah!! Panggil ratu
"Hamba yang mulia." Sahut Hannah.
"Aku ingin tahu siapa yang memasak makan siang kami tadi?." Tanya Ratu.
"Maafkan hamba yang mulia. Tapi kenapa yang mulia tiba-tiba menanyakannya?. Apa ada yang salah dengan masakan tadi?." Tanya Hannah takut-takut. Dia mengira mungkin saja ratu tidak menyukai masakan Xena.
"Jawab saja pertanyaanku. Siapa yang memasak makanan kami tadi?." Tanya Ratu lagi.
"Maafkan hamba yang mulia. Yang memasak siang ini seharusnya adalah Charlota. Tapi karena dia sakit, Kalla menyarankan agar Xena yang menggantikannya." Jawab Hannah
"Xena? Siapa dia?. Kenapa aku baru mendengar namanya?." Tanya ratu.
Dan karena tukang masak yang bertugas siang ini sedang sakit, Kalla menyarankan agar Xena yang menggantikannya. Maafkan hamba yang mulia. Seharusnya hamba tidak menuruti saran dari Kalla. Seharusnya hamba meminta tukang masak senior yang lain untuk menggantikan Charlota." Ujar Hannah yang semakin takut kalau ratu akan marah.
"Kau tidak perlu meminta maaf, karena kau mlakukan hal yang benar, dengan menuruti saran dari Kalla. Aku, raja dan anak-anakku sangat menyukai masakannya. Aku sengaja menanyakan ini karena ingin memberinya hadiah. Aku belum pernah melihat pangeran makan dengan lahap seperti tadi." Jelas Ratu.
Mendengar ucapan ratu, Hannah sangat terkejut sekaligus lega. Apa yang dia takutkan ternyata tidak terjadi.
"Benarkah itu yang mulia?. Anda menyukai masakan Xena?." Tanya Hannah memastikan.
"Kau pikir aku main-main dengan ucapanku?. Aku ingin bertemu langsung dengan dia." Ujar ratu lalu memanggil dua orang pengawal dan meminta mereka membawa Xena menghadap ratu.
Kedua pengawal itu langsung menuju dapur istana, menemui Xena dan membawanya.
"Ada apa?. Kenapa ratu ingin aku menghadapnya?." Tanya Xena.
"Kami tidak tahu. Sebaiknya kau ikut saja, agar kau tahu kenapa ratu memanggilmu." Jawab sang pengawal.
Xena melangkahkan kaki mengikuti kedua pengawal itu. Dari kejauhan nampak pangeran Alaric, dan pangeran Vilan diikuti jenderal Conrad dan beberapa orang pengawal berjalan berlawanan arah dengan Xena.
Pangeran Alaric sudah melihat Xena, tapi Xena tidak melihatnya. Sampai akhirnya mereka akan berpapasan. Pengawal yang membawa Xena langsung berhenti dan menunduk hormat saat mereka melihat pangeran Alaric yang hanya berjarak beberapa meter ada di depan mereka.
Melihat pengawal menundukkan kepala, Xena juga langsung menundukkan kepalanya. Dia tidak tahu kalau dirinya akan berpapasan dengan pangeran Alaric, orang yang selama ini dia benci.
Dari tadi pangeran Alaric tidak sedetikpun mengalihkan pandangannya dari Xena. Apalagi saat ini dia sudah semakin dekat dengan Xena, dan akan segera melewatinya. Pangeran memperlambat langkahnya saat dia berdiri tepat di dekat Xena. Dia berhenti sejenak sambil menatapnya, dan itu membuat Xena merasa heran. Kenapa dia berhenti dan menatapku seperti itu?. Apa aku melakukan kesalahan?. Dan kenapa jantungku tiba-tiba berdetak kencang seperti ini?. Apa aku takut kepadanya?. Tidak...akubtidak takut pada siapapun. Gumam Xena dalam hatinya.
"Ada apa?. Kenapa berhenti?." Tanya Pangeran Vilan.
"Tidak....tidak apa-apa." Sahut pangeran Alaric, lalu kembali melangkahkan kakinya. Tak lama kemudian dia menoleh ke arah Xena yang masih menundukkan kepala. Sedetik kemudian, Xena mengangkat kepalanya, dan refleks menoleh ke belakang, atau ke arah pangeran Alaric, hingga pandangan mereka bertemu, tapi Xena langsung memalingkan muka dan menundukkan kepalanya lagi. Tampan sekali dia. Gumamnya, spontan dalam hati. Lalu kembali menoleh ke belakang. Melihat laki-laki yang baru saja berpapasan dengannya, karena Xena langsung teringat pada Aiden. Gestur tubuh dan cara berjalan laki-laki tadi terasa sangat familiar bagi Xena. Siapa sebenarnya dia?. Kenapa melihatnya, aku jadi teringat pada Aiden?. Gumam Xena dalam hati
Mata Xena membulat, saat dia menyadari sesuatu. Ya Tuhan, jangan-jangan dia.
"Pengawal. Siapa laki-laki tadi?." Tanya Xena penasaran.
"Laki-laki mana?."
"Laki-laki yang barusan lewat?."
"Kau bertanya siapa laki-laki tadi?. Hahaa jangan bercanda."
"Aku tidak bercanda, aku memang tidak tahu siapa dia."
"Mana mungkin di istana ini ada orang tidak tahu pada putra mahkota kerajaan."
Apa?? Jadi, dia pangeran Alaric. Orang yang sudah menyebabkan ayah meninggal?. Gumam Xena dalam hati, lalu kembali menoleh ke belakang, menatap pangeran Alaric yang mulai menjauh, namun kemudian dia menolehkan kepalanya ke arah Xena. Menyadari hal itu, Xena langsung memalingkan mukanya dan kembali menunduk.
"Hey!! Kenapa kau masih berdiri disitu?. Cepatlah!! Kalau kau tidak mau ratu memarahi kita." Suara pengawal menyadarkan Xena kakau dirinya sudah tertinggal jauh oleh pengawal itu.
.
.
Bersambung