Xena

Xena
160.



Xena masuk ke dalam ruangan kerja sang suami, ia melihat suaminya masih fokus memeriksa dokumen di atas meja kerjanya yang cukup menggunung.


Ray sendiri tahu jika yang masuk adalah sang istri dan tahu pasti istrinya akan marah karena membuat istrinya menjadi sekretaris magang, tanpa pemberitahuan lebih dulu.


"Jangan berpura-pura sibuk, aku tahu mas tahu aku datang" ucap Xena berdiri di samping meja kerja Ray dengan besidekap dada. Sedangkan Galang hanya berdiri di belakang Xena tanpa melakukan apapun.


Ray mendongak dan mengulum senyum melihat wajah istrinya cemberut karena ulahnya. Istrinya terlihat sangat menggemaskan saat ini.


"Sebaiknya anda jaga sikap anda nona, saya itu atasan kamu. Jadi pahami posisimu di sini dan jaga bicara anda!" ucap Ray memainkan peran CEO dan sekretaris.


"Oh maaf atas ucapan saya yang tidak sopan tuan Raymond yang terhormat. Tapi bisakah anda membiarkan saya duduk di depan saja bersama sekretaris cantikmu yang lain?" ucap Xena mengangkat sudut bibirnya.


Ray mengeryitkan keningnya memikirkan apa yang baru saja istrinya itu ucapkan, kemudian memahami jika istrinya tengah cemburu dengan Andhini. Entah mengapa ia merasa senang jika istrinya tengah cemburu dan merajuk dengan caranya sendiri.


Lalu Ray mengkode Galang untuk keluar, Galang hanya menurut dan keluar dari dalam ruangan. Ia tahu jika di kode seperti itu, maka bosnya itu ingin berduaan dengan istri cantiknya. Dan pastinya, Galang tidak mau jadi kambing congek apalagi obat nyamuk di sana.


GREP!!!


Ray langsung menarik Xena dalam pelukannya, membuat si empunya terkejut atas tindakan Ray tersebut.


"Lepas tuan, ini tidak sesuai SOP saya sebagai sekre...." ucap Xena terputus kala bibir lembutnya di serang oleh pria tampan yang tak lain suaminya itu.


"Emmmpphhh...." Xena menepuk dada sang suami karena ia kehabisan nafas.


"Jangan cemburu sayang, mas tidak akan berpaling ke wanita lain yang bahkan tidak ada seujung kuku pun jika di bandingkan dengan kamu, jadi jangan khawatir" ucap Ray mengusap lembut bibir sang istri dan tersenyum lembut.


"Aku nggak khawatir, tapi apa mas nggak ngerasa kalau Sekretaris cantik mas itu sepertinya menyukai mas dan tidak suka dengan keberadaan aku di sini" ucap Xena cemberut dan membelai dada bidang sang suami, yang tertutupi kemeja biru itu dengan membuat pola abstrak dengan jarinya.


Ray menggeram dan memegang jemari tangan nakal Xena dan mengecupnya pelan.


"Mas tidak bodoh sayang, tentu saja mas tahu dia selalu mencari celah untuk berada dekat dengan mas. Tapi mas tidak pernah memberikan celah sedikit pun untuknya. Dan dia tidak memiliki hak untuk tidak menyukaimu bekerja di sini, kamu adalah istriku. Bahkan kamu juga salah satu pemegang saham terbesar perusahaan" ucap Ray


"Sejak kapan aku jadi pemegang saham? Lalu kenapa kamu tidak memecat atau menggantinya dengan orang lain jika sudah tahu, atau kau senang dekat-dekat dengannya ya?" tanya Xena yang terkejut dengan ucapan suaminya itu.


"Sejak kita menikah, setengah dari saham mas itu adalah milikmu dan setengah lagi akan mas akan berikan ke calon anak kita nantinya. Ini sudah sepersetujuan kakek kok, dan kakek juga akan menyerahkan swmua sahamnya kelak ke anak kita.


Jangan berpikir yang tidak-tidak sayang. Masalah pemecatan, mas sudah pernah bilang ke kakek untuk mengganti Sekretaris nya menjadi laki-laki. Tapi kakek menolaknya, karena selama ini kinerjanya di perusahaan sangat bagus. Mas sudah coba cari kelemahannya agar bisa memecat atau menggantinya. Namun mas belum mendapatkan kelemahan nya, bahkan Tiger juga belum menemukan apapun yang aneh selain dia memang menjadi fans mas dulunya" ucap Ray yang sudah menarik sang istri untuk duduk di pangkuannya.


Saham Ray di perusahan ada 30 persen yang di dapat dari orang tuanya dulu, dan sekarang setengahnya atau 15 persen sudah menjadi milik Xena. Sedangkan Kakek Reksa memiliki 40 persen saham yang ada di tangannya. 30 persen saham lain di miliki oleh para investor dan pemilik saham minoritas.


"Aku boleh minta nomer teleponnya mas?" tanya Xena


"Mas nggak punya nomer telepon wanita selain nomor kamu dan Arsy, sayang. Bahkan semua nomor telepon klien juga itu aku serahkan ke Galang untuk mengurusnya jika ada sesuatu" ucap Ray jujur apa adanya.


"Kalau begitu nanti aku minta sama Galang aja" ucap Xena.


"Mau ngapain emangnya?" tanya Ray lagi


"Ha-ha-ha, baiklah lakukan apapun yang kamu mau sayang, aku senang mendengar kamu cemburu" ucap Ray lalu mencium leher jenjang Xena


"Ahh... Jangan mas, ih ini kita di kantor, aahh" ucap Xena


"Nggak ada yang tahu dan denger sayang" ucap Ray terus memeluk dan menciumi leher jenjang sang istri.


"Lepas mas, atau aku mengundurkan diri dari perusahaan saja kalau begitu" ucap Xena.


"Baiklah kamu menang" ucap Ray menghentikan kegiatannya, ia takut sang istri melakukan hal yang di ucapkan nya.


"Aku tahu maksud mas membuat aku menjadi sekretaris, tapi aku mau bekerja dengan normal dan profesional. Aku mau mas juga bekerja dengan profesional selama jam kerja, aku nggak mau ya pekerjaan mas jadi terhambat karena aku ada di sini" ucap Xena


"Iya sayang mas janji, tapi curi-curi kesempatan dikit nggak apa-apa kan?" ucap Ray menaik turunkan kedua alisnya.


"Ya tapi cuma dikit loh ya" ucap Xena.


"Yah, kenapa mas ngomong dikit ya, padahal kan bisa bilang yang banyak sekalian" ucap Ray menepuk dahinya.


"Ha-ha, nggak bisa di revisi loh yah..." ucap Xena tertawa.


Cup! Cup! Cup!


Xena mencium pipi dan bibir sang suami dan tersenyum. Untung lipstik nya waterproof dan transferproff, jadi nggak nempel di wajah dan bibir suaminya yang cipokable .


"Kita profesional jika di kantor, tapi aku akan kasih hadiah menarik di rumah saat pulang" ucap Xena


"Hadiah apa itu?" tanya Ray


"Rahasia, yang pasti membuat kamu senang dan men**sah semalaman" ucap Xena


"Janji hmm..." ucap Ray kembali sumringah


"Janji! Sekarang lepasin pelukannya dulu!" ucap Xena kemudian bangun dari pangkuan Ray setelah pelukan Ray lepas. Ia kemudian membereskan pakaiannya dan juga milik Ray, tak lupa ia membetulkan letak dasi nya juga agar rapih.


"Ekkhhhmmm... Jadi apa pekerjaan yang harus saya lakukan, tuan?" tanya Xena dengan dengan posisi berdiri layaknya Sekretaris profesional.


"Periksa dokumen ini dan pelajari berkas di folder satu dalam PC mu. Setiap ada meeting di luar kamu harus ikut, siapkan bahan meeting dan juga periksa kembali jadwal dan juga reservasi tempat sesuai tempat pertemuan" ucap Ray.


"Baik" ucap Xena mengambil Dokumen yang harus ia pelajari dan kembali ke meja yang sudah di sediakan untuknya di dalam ruangan.


Tentu hal itu tidak sulit untuk Xena yang notabene sangat cerdas dalam belajar. Satu sisi Xena juga mengirim pesan pada Galang agar mengirim nomor telepon Andhini untuk Xena selidiki nantinya.


...•••••••...