
Xena mengantarkan Olive sampai di mansion keluarga Dirgantara. Xena tidak mampir bukan karena Vano, tapi karena ia harus ke restoran satunya untuk mengecek semuanya.
Olive merebahkan dirinya di ranjang empuk miliknya. Ia mengingat-ingat kata-kata Xena tentang dirinya yang akan bertunangan awal bulan depan yang berarti sekitar 2-3 Minggu-an lagi.
Ia tidak bisa membayangkan betapa hancurnya hati Vano saat mendengar kabar itu. Olive menghela nafas sejenak sebelum akhirnya ia tertidur dengan pulas.
Terdengar ketukan pintu dan suara Wenda yang membangunkannya untuk bersiap makan malam.
"Liv, bangun sayang, udah malam. Ayo bangun terus makan malam bareng" ucap Wenda.
"Hmmm... Aku sudah bangun mah, aku mandi dulu" ucap Olive dari dalam kamar sedikit berteriak dengan suara serak khas bangun tidur..
Olive langsung mengambil tongkatnya dan berjalan pelan dan hati-hati ke kamar mandi. Jahitannya sudah di lepas jadi ia bisa mandi seperti biasa di bawah guyuran standing shower.
Ia dengan rutin memakaikan obat di luka jahitannya, ia juga mengoleskan obat tradisional berupa minyak kusus dan ia pijat sendiri di area tertentu agar kakinya lemas dan tidak kaku.
Setelah selesai mandi, mengobati kakinya dan juga berganti pakaian. Olive siap untuk keluar dan makan malam.
Saat ia keluar dari kamarnya, ia melihat kakaknya sudah berada di meja makan bersama kedua orang tuanya.
Terlihat masakan mamahnya ynga menggugah selera tertata rapih di atas meja.
"Mau makan sama apa sayang?" tanya Wenda pada putrinya yang baru bergabung.
"Dia datang belakangan, tapi di tawarin duluan" ucap Vano.
"Iri? Bilang bos!" ucap Olive terkekeh.
"Ya kan harusnya ngantri" ucap Vano
"Kan mamah yang nawarin, bukan aku yang minta. Sirik aja ih" ucap Olive menjulurkan lidahnya mengejek kakaknya.
Orang tuanya hanya menggeleng pelan melihat tingkah kedua anaknya itu kalau berada di satu tempat, pasti akan selalu ribut seperti Tom & Jerry.
"Kak, ada yang mau aku omongin, ke taman belakang ya" ucap Olive setelah selesai makan.
Vano hanya mengangguk dan mengikuti adiknya berjalan ke arah belakang rumahnya.
"Ada apa Liv? Apa kakimu sudah mendingan? Apa masih terasa sakit?" tanya Vano khawatir.
"Aku nggak apa-apa kak, Aku sudah mulai terbiasa. Lagian aku juga therapy rutin. Dan bulan depan aku udah bisa jalan tanoa tongkat meskipun harus hati-hati" ucap Olive
"Bagus kalau begitu, kalau ada apa-apa bilang ke kakak" ucap Vano dengan sayang dan tersenyum lembut.
"Hmm, makasih kak" ucap Olive
"Terus kamu mau bilang apa tadi?" tanya Vano
"Aku mau ngomong hal penting, tapi aku harap setelah ini kakak harus benar-benar belajar untuk move on" ucap Olive
Mendengar itu kening Vano mengerut, ia bisa menebak jika Yang akan di bicarakan adiknya itu pastinya tentang Xena. Vano terlihat sangat tidak nyaman saat memikirkan kabar buruk yang akan di katakan Olive padanya.
"Tidak usah bilang kalau itu hanya kabar yang menyakitkan Liv. Kakak nggak mau dengar" tanya Vano menundukkan kepalanya dan menggelengkan kepalanya.
"Tapi Kak, kakak harus tahu. Kakak harus bisa melewati semuanya, aku ingin kakak juga bahagia dan menjalani hidup seperti biasanya dan jatuh cinta lagi dengan wanita yang tepat" ucap Olive dengan bijak.
"Aku nggak bisa Liv, rasanya..... Terlalu berat" ucap Vano
"Aku tahu, tapi kakak harus kuat. Hidup tak harus terus-terusan jalan di tempat. Saat tempat itu sudah tidak bisa menampung kita, kita harus pergi mencari tempat lain yang memang di takdirkan hanya untuk diri kita" ucap Olive
"Xena akan bertunangan dengan Ray awal bulan depan" ucap Olive
Vano langsung membuka matanya lebar, tubuhnya menegak dan menatap adiknya. Ia tidak percaya apa yang dia dengar barusan seperti sambaran petir di telinganya.
"Kau bohong!" ucap Vano menatap tajam ke arah adiknya.
"Aku nggak bohong kak, Xena yang mengatakannya sendiri padaku. Aku harap kakak menerima semuanya, Xena bukan takdir kakak, dia bukan jodoh kakak" ucap Olive.
"Haaahhhhh....." Vano menghela nafasnya berat dan menitikkan air matanya, ia menangis.
Hatinya merasa tercabik, sangat sakit rasanya. Ingin rasanya ia berteriak kencang agar rasa sakit di dadanya berkurang.
"Kak..." ucap lirih Olive.
Ia merasa sangat kasihan pada kakaknya, ia baru menyadari jika kakaknya benar-benar mencintai sahabatnya. Sayangnya Cinta Vano datangnya terlambat, dan cinta yang dia tuju sudah pergi menjauh karena sudah terlalu lama menunggu tanpa kepastian.
"Liv, rasanya sakit sekali" ucap Vano menangis hingga susah mengeluarkan suaranya.
Olive juga menangis melihat kakaknya, ia ikut merasakan sakit seperti Vano. Tapi ia juga mengerti rasa sakit yang dulu di rasakan Xena saat menanti cinta kakaknya, ia tidak bisa menyalahkan sahabatnya.
Karma memang cepat sekali datangnya dan tepat sasaran.
"Menangislah kak, setelah itu coba untuk ikhlaskan. Di luar sana ada jodoh terbaik yang di persiapkan Tuhan untuk kakak" ucap Olive.
Setelah setengah jam menangis, tangis Vano melemah, Olive masih senantiasa menemani Vano di sana.
"Liv, kakak boleh minta tolong?" ucap Vano lirih
"Hmm, katakan saja" ucap Olive mengelus punggung kakaknya.
Vano menghela nafas, ia masih sesenggukan. Olive berinisiatif mengambil minum dan memberikannya pada Vano. Vano meminumnya hingga tandas dan ia menghela nafas lagi agar ia tenang sebelum bicara.
"Bisakah kamu bilang pada Xena, kakak ingin bertemu" ucap Vano
"Untuk apa lagi kak?" tanya Olive
"Aku ingin memastikan sesuatu" ucap Vano
"Memastikan apa?" tanya Olive mengerutkan keningnya.
"Jujur saat kakak mendengar alasan ia menyerah mengejar kakak karena dia sudah lelah menunggu balasan cinta kakak. Kakak tidak percaya, tidak semudah itu orang bisa melupakan rasa cintanya pada seseorang. Apalagi orang itu adalah orang yang sangat ia cintai sebelumnya" ucap Vano menerawang kenangan saat Xena mengejarnya tanpa malu-malu.
Xena mencintainya sejak kecil dan tiba-tiba dalam satu waktu ia menyerah begitu saja, padahal dua Minggu sebelum ia pulang. Olive menceritakan betapa rindunya Xena pada dirinya, dan mengatakan jika ia hanya ingin menikah dengan Vano suatu hari di masa depan.
Bagaimana mungkin secepat itu perasaan Xena berubah?
"Bagaimana kalau Xena menolak bertemu?" tanya Olive
"Bilang padanya, kakak hanya ingin mendengarkan alasan sebenarnya. Karena jujur saja, masih ada perasaan mengganjal di hati kakak. Setelah itu, jika memang Xena sudah tidak mencintai kakak lagi, kakak akan mencoba mengikhlaskan semuanya, meskipun sulit" ucap Vano mengambil keputusan
"Baiklah, Aku akan mengatakannya pada Xena. Asal kakak janji akan mengakhiri semua kegalauan kakak dan move on, jika Xena sudah tidak lagi mencintai kakak" ucap Olive.
"Ya, kakak janji" ucap Vano.
...••••••...