
Pertemuan dua keluarga berjalan dengan lancar, Keluarga Xena tidak menyangka jika orang besar seperti Reksa Octavio sangat menyambut hangat putri semata wayangnya yang hanya dari kalangan menengah.
Kakek Reksa mengatakan jika selama itu baik untuk keduanya, ia akan mendukung pilihan cucunya. Terlebih ia juga menyukai kepribadian Xena, yang sangat berbeda jauh dari kebanyakan perempuan generasi kedua kalangan atas.
Di matanya Xena merupakan perempuan modern yang berpikiran luas, cerdas, baik dan juga mandiri. Jelas Kakek Reksa tahu jika bisnis yang di kembangkan oleh Xena yang saat ini dia kembangkan sangat sistematis dan berpeluang menjadi besar.
Bisa di hitung sejak awal buka, XR Restaurant sudah menghasilkan laba bersih ratusan juta. Hanya butuh sedikit waktu saja untuk usaha itu berkembang menjadi besar dan mungkin akan buka beberapa cabang. Dari restoran saja itu memiliki omset yang tinggi dan menguntungkan.
Tentu saja Kakek Reksa tidak ingin kehilangan cucu menantu yang sangat potensial untuk cucu laki-laki yang dingin dan kaku itu. Yang terpenting buatnya adalah melihat cucu satu-satunya itu bahagia.
"Ray, matamu itu loh" ucap Kakek Reksa menyenggol lengan cucunya yang terus melihat Xena tanpa berkedip.
"Diam Kek, aku lagi lihat bidadari ku di depan" ucap Ray terus menatap Xena.
Ucapannya membuat Kakek Reksa bengong karena ulah cucunya yang tengah bucin itu. Sedangkan orang tua Xena hanya terkekeh melihatnya, hanya sekali lihat saja mereka tahu, jika Ray benar-benar mencintai anaknya.
Keinginan orang tua Xena juga sama dengan kakek Reksa, ia ingin melihat putri semata wayangnya bahagia.
"Maafkan cucu saya, maklum sedang bucin-bucinnya" ucap Kakek Reksa terkekeh
"Tidak apa-apa tuan, itu wajar jika anak muda sedang jatuh cinta" jawab Indra.
"Bagaimana kalau nanti kita agendakan pertemuan lagi untuk menentukan kapan tanggal yang bagus untuk pertunangan resmi mereka" ucap Kakek Reksa
Orang tua Xena terlihat terkejut, meskipun keduanya tahu perihal pertunangan resmi itu pasti akan di bahas. Tapi mereka tidak tahu jika secepat ini.
"Kami menyerahkan itu semua pada Tuan, Anda bisa memberitahu kami kapan pertemuan nya" ucap Indra.
Kedua keluarga itu mengobrol dengan hangat, sedangkan dua sejoli yang sedang di mabuk asmara itu tengah berjalan bergandengan tangan menuju taman belakang rumah, di samping kolam.
"Kenapa kamu terus menatapku?" tanya Xena
"Kamu sangat cantik, jadi semua atensiku tersedot ke arah kamu" ucap Ray
"Ish, gombal terus. Jangan lihatin terus ih aku malu" ucap Xena dengan wajah memerah.
Ray tertawa kecil dan mencubit gemas pipi kekasihnya. ia kemudian mengambil tangan Xena untuk ia kecup, tatapannya kini ke arah kolam yang ada di depannya.
"Kau dengar apa yang di bicarakan kakek? Apa kau tidak keberatan?" tanya Ray.
Ia menanyakan tentang pertunangan resmi yang di bicarakan kakeknya dan juga kedua orang tua Xena. Xena paham tentang itu.
"Apa kamu keberatan?" tanya Xena balik yang tidak menjawab pertanyaan itu.
"Tentu saja Tidak! Aku justru ingin menikahimu secepatnya, kalau bisa saat ini juga" ucap Ray menoleh ke arah Xena.
"Ish, bercanda terus. Emang orang nikah itu segampang itu?" ucap Xena memukul lengan Ray pelan kesal.
"Aku nggak bercanda sayang, aku sudah yakin dengan pilihanku. Aku justru takut kamu di culik oleh laki-laki lain jika aku meleng sebentar. Kau tahu? Pesona kamu tuh sungguh besar, jadi membuat tatapan semua orang berpusat pada mu. Jujur aku cemburu" ucap Ray menatap Xena dengan tatapan sedih.
"Aku serius sayang" ucap Ray merajuk
"Ya-ya-ya aku percaya. Lagian jika di bandingkan fans kamu, pengagum ku tidak ada apa-apa" ucap Xena.
"Kamu belum jawab loh pertanyaan aku" ucap Ray
"Pertanyaan yang mana?" ucap Xena menggoda kekasihnya.
"Sayang jangan goda aku, jawab atau aku cium kamu nih sekarang!" ucap Ray melipat bibirnya.
"Dasar, Itu mah maunya kamu!" ucap Xena yang membuat tawa Ray pecah. Ia sangat senang sekali membuat kesal kekasihnya itu, yang menurutnya sangat menggemaskan.
"Aku nggak keberatan dengan itu, tapi kita juga butuh waktu untuk saling mengenal lebih dalam. Aku nggak mau salah langkah atau salah pilih" ucap Xena
"Aku juga nggak mau sakit untuk yang kedua kalinya. Cukup sekali di kehidupan yang lalu aku merasakan sakit itu seperti apa" lanjut Xena dalam hati
Ray menatap kekasihnya dalam, ia tahu jika kekasihnya masih memiliki trauma yang tersisa dalam hatinya. Dan itu kewajiban dirinya untuk membuat gadisnya melepaskan beban itu dan selalu bahagia.
Ray merengkuh kekasihnya dalam pelukan. Xena pun hanya diam, ia menghirup wangi tubuh Ray yang sangat maskulin dan menenangkan itu. Dada Ray sangat pelukable, itu membuat Xena sangat nyaman.
"Ayo kita saling mengenal lebih dalam lagi, kamu bisa menanyakan apapun tentangku. Aku akan memberikan jawaban yang tulus dan jujur" ucap Ray mengecup kening Xena.
Xena tersenyum dalam pelukannya dan hanya mengangguk saja tanda setuju.
....
Di kediaman Dirgantara, Vano terus menerus mengotak-atik ponselnya. Ia masih tidak bisa menghubungi Xena, nomornya masih di blokir. Padahal Xena sudah mengatakan jika ia sudah melupakan kejadian itu, tapi kenapa nomornya masih di blok.
Sebenarnya Vano heran pada dirinya sendiri, entah mengapa ia sangat gelisah malam ini. Seperti sesuatu myang merujuk pada hal yang memang miliknya, namun sudah di ambil orang lain, ia merasakan kehilangan yang hampa di hatinya.
Ia menoleh ke arah foto di atas nakas, foto itu adalah foto dirinya dengan Xena yang di ambil saat ulang tahun Xena yang ke 17 tahun.
Senyum Xena di foto itu sangat ia rindukan, sejak ia pulang dari luar negeri ia tidak pernah melihat senyum itu lagi di wajah Xena. Yang ada hanya perasaan dingin dan terkadang terlintas tatapan kebencian yang terasa di sorot matanya.
"Aku harus melakukan apa agar kamu kembali padaku Xe?" ucap Vano lirih sembari mengelus foto Xena di tangannya.
"Kau tahu, semenjak kau mengatakan memaafkan aku dan melupakan kejadian itu. Mimpi tiap malam yang selalu hadir seperti teror itu juga menghilang. Tapi kali ini aku mengingat jika di mimpiku Yani yang menjebakmu dan membunuh Olive" ucap Vano lagi.
"Mimpi itu terlalu nyatpa untuk di sebut bunga tidur, bahkan aku merasa semua itu benar-benar terjadi sebelumnya. Aku tidak mengerti apa yang sudah terjadi, Terlebih Randi juga muncul di dunia nyata dan menjadi asisten ku seperti yang ada di mimpi. Apakah mimpi itu merupakan sebuah pesan akan sesuatu?" gumam Vano menghela nafas.
"Tapi karena mimpi itu aku mulai menyadari jika aku sudah menyakitimu selama beberapa tahun. Menyakitimu dengan ketidakpastian tentang perasaanku. Aku mengantung dan memberikan harapan yang semu padamu. Aku minta maaf, aku sungguh menyesal dan aku benar-benar mencintaimu Xena" ucap Vano.
Ia kemudian tertidur dengan memeluk fotonya dengan Xena. Seperti yang di ucapkan ya, mimpi itu sudah menghilang dan tidak lagi menghantuinya.
...••••...