Xena

Xena
92.



Xena dan Ray kini sedang dalam perjalanan menuju mansion Octavio. Bohong jika Xena tidak gugup saat ini.


Meskipun ia sudah pernah bertemu dengan Kakek Reksa, namun ia baru kali ini menginjakkan kakinya ke rumah orang terkaya di negaranya itu.


"Apa kamu gugup?" tanya Ray


"Hmm, sedikit" ucap Xena


"Jangan gugup sayang, kan kamu udah kenal Kakek. Di masa depan, kita akan sering ke sana nantinya, jadi kamu harus terbiasa" ucap Ray menggenggam jemari tangan kekasihnya.


"Ya" ucap Xena masih sedikit gugup.


Tak lama kemudian, mobil Ray masuk ke halaman mansion besar. Bahkan mansion itu dua kali lebih besar dari kediaman Dirgantara dan 5 kali lebih besar dari rumah orangtuanya.


Keduanya di sambut oleh kakek Reksa, Kepala pelayan Deni dan asisten rumah tangga yang lainnya.


"Oh cucu menantuku sudah datang, ayo-ayo masuk! Jangan sungkan-sungkan, anggap saja rumah sendiri" ucap Kakek Reksa dengan senyum dan semangat.


"Cih sekarang malah lupa sama cucu sendiri" gumam Ray yang dia abaikan.


Namun jauh dalam hatinya ia sangat bahagia karena wanita yang di cintainya di sambut dengan sangat baik oleh keluarganya.


Mereka mengobrol dan juga makan malam bersama dengan penuh suka cita. Hal itu membuat Xena sedikit rileks, mulai terbiasa dan tidak gugup lagi.


"Xena, bilang pada orang tuamu, kakek besok lusa akan datang ke rumah untuk melamarmu" ucap Kakek Reksa.


"Enak aja kakek mau lamar Xena, Xena itu punya Ray Kek. Kakek udah tua masih pengen daun muda juga, malu sama umur.... Aaawwsss sakit kek" ucap Ray mengelus kepalanya yang kena jitakan Kakek Reksa.


"Semprul!! Kamu pikir Kakek masih mau nikah di umur segini? Kakek itu setia sama nenekmu!" ucap Kakek Reksa mengomel.


"Terus, kenapa kakek mau lamar Xena?" ucap Ray


"Kakek lamar Xena buat cucu temen kakek" ucap Kakek Reksa kesal


"Nggak boleh!!!! Xena itu cuma punya Ray" ucap Ray


"Astaga...." ucap Kakek Reksa


Xena hanya terkekeh geli melihat interaksi keduanya.


"Pokoknya nggak boleh, Xena itu hanya akan nikah denganku. Iya kan sayang?" ucap Ray


"Dasar cucu bucin! Kalau Deket sama pawangnya, kenapa dia jadi bego gini" ucap Kakek Reksa.


"Kakek! Aku nggak bego ya" ucap Ray tidak terima.


"Emang kamu pikir kamu pintar gitu? Astaga Ray, Kakek lamar Xena ya jelas buat kamu! Masa buat kakek yang udah tua begini" ucap Kakek Reksa


"Lah kenapa nggak ngomong dari tadi, kan salah paham jadinya. Ha-ha-ha" ucap Ray tertawa.


Ia sebenarnya tahu, tapi ia sangat suka mengerjai kakeknya dan buat kakeknya kesal.


"Kamu mengerjai kakek? Dasar cucu durhaka!" ucap Kakek Reksa.


"Awww, ampun kek.... Sayang tolongin aku, ada banteng tua mau nyeruduk!" ucap Ray bersembunyi di belakang Xena.


"Sini kamu cucu nakal, berani bilang kakek banteng, kalau gitu kamu cucu banteng!" ucap Kakek Reksa.


"Apa? Ganteng? makasih loh kek udah bilang Ray ganteng!" ucap Ray tersenyum lebar


"Banteng, bukan ganteng! Semprul!" ucap Kakek Reksa kesal dan mengejar Ray dengan membawa tongkatnya.


Xena tertawa melihatnya, ia baru kali ini melihat sifat berbeda dari Ray jika berhadapan dengan Kakek Reksa.


Mereka sudah seperti Tom dan Jerry, meskipun begitu mereka saling menyayangi satu sama lain.


"Aduh capek" ucap Kakek Reksa duduk di sofa.


Meskipun kakek Reksa sudah hampir 70 tahun, tapi kondisi tubuhnya sangat sehat karena menjaga pola makan sehat dan olahraga teratur.


"Iya, aduh aku juga cape sayang" ucap Ray yang juga duduk di sofa dan bersandar ke bahu kekasihnya.


"Minta maaf geh, Ray. Nggak baik ngerjain orang tua" bisik Xena


"Hmm" gumam Ray mengangguk


"Maaf ya kek, Ray udah buat kakek kesal. Habis Ray kangen pengen lihat wajah kakek kesal hehe" ucap Ray


"Jangan lagi-lagi Ray, kakek udah tua takut rontok semua ini tulang kalau di ajak lari-larian" ucap kakek Reksa ngos-ngosan.


Kemudian ketiganya mengobrol ringan lagi, Ray kini membantu memijat kakeknya sebagai permintaan maaf dan Kakek Reksa menerimanya dengan senang hati.


....


Arsy masih berlatih taekwondo hingga malam, turnamen tinggal seminggu lagi. Jadi ia banyak berlatih untuk memperkuat diri.


Setelah jam 8 malam, ia menghentikan latihannya. Ia mengganti bajunya dan beranjak pulang.


Pertemuannya dengan Vano siang tadi, sedikitnya membuat Arsy kesal. Namun hanya sebatas itu. Perasaannya belum benar-benar tumbuh, jadi ia tidak merasakan sakit yang dalam.


Ia memutuskan untuk tidak memikirkan soal cinta, ia akan fokus untuk turnamen kejuaraan tingkat nasional yang sudah di depan mata.


Saat ia memacu motonya, ia melihat ada mobil mogok di pinggir jalan. Ada dua pria yang berdiri sambil membuka kap mesin, tapi mereka hanya diam karena tidak mengerti mesin.


Arsy menghentikan motornya di depan mobil, ia membuka helmnya dan menghampiri keduanya.


"Mobilnya kenapa kak?" tanya Arsy.


Dua orang itu menoleh membuat Arsy terkejut, karena salah satunya adalah Vano. Dan yang lainnya adalah Bram, Bram terkesima melihat Arsy.


Ia lalu berdehem dan mengatakan jika mobilnya mogok.


"Ini, mobil ku mogok. Aku dan sahabatku nggak ngerti soal mesin, jadi aku ingin memanggil bengkel langganan untuk mengirim montirnya kesini" ucap Bram.


Vano hanya terdiam melihat ke arah Arsy yang sama sekali bersikap acuh seakan tidak mengenalnya. Bahkan tidak repot-repot menatapnya.


"Boleh aku bantu lihat? Aku ngerti sedikit soal mesin" ucap Arsy


"Wow, tentu, silahkan" ucap Bram menatap Arsy sambil tersenyum dan takjub.


Arsy kemudian mengecek mesin mobil, karena malam jadi ia menggunakan Flash dari ponselnya. Setelah beberapa saat Arsy sudah selesai memperbaiki mesin mobil.


"Coba kakak nyalakan mesinnya" ucap Arsy.


"Oh, oke" ucap Bram yang masuk ke dalam mobil mulai menyalakan mesinnya dan kembali hidup.


Bram turun dari mobil sambil tersenyum, saat mobilnya sudah baik-baik saja.


"Terimakasih banyak, ah iya namaku Bram, dan ini teman saya Vano. Seperti nya kita pernah ketemu ya?" ucap Bram.


"Namaku Arsy. Ya, sepertinya kita ketemu di peresmian XR Restaurant milik Xena" ucap Arsy


"Oh iya benar, apa kamu teman Xena?" tanya Bram


"Ya" ucap Arsy.


"Wah kalau gitu kapan-kapan aku traktir makan sebagai ucapan terimakasih sudah nolongin kita" ucap Bram


"Sepertinya tidak perlu, aku ikhlas nolong kakak. Kalau begitu aku pergi dulu kak, sudah malam. Aku nggak ingin orang rumah khawatir. Permisi" ucap Arsy langsung pergi dengan motornya.


"Waaahhh, keren banget tuh cewek, mana cantik lagi. Ya nggak bro!" ucap Bram.


Namun Vano hanya diam tidak menanggapi, namun matanya menatap ke arah Arsy pergi.


...•••••...