
"Apa paman yakin?." Tanya Alaric dengan mata berbinar.
"Hamba yakin pangeran. Walau hamba belum bisa membuktikannya langsung, tapi dari apa yang hamba dengar dan lihat, sepertinya nona Xena memang ksatria itu."
"Apa paman mengatakan semua ini agar aku kembali ke istana?."
"Tidak pangeran. Selama ini hamba selalu mengawasi gerak-gerik nona Xena seperti perintah anda. Malam itu hamba melihat dia keluar membawa kudanya, dan masuk ke area hutan. Saat sampai dihutan itu, hamba melihat keanehan terjadi."
"Keanehan apa itu paman?."
"Kuda hitam yang ditunggangi nona Xena berubah menjadi kuda putih yang kelihatannya sangat tangguh."
"Benarkah itu paman?."
"Benar pangeran. Nona Xena dan kuda itu berjalan menuju sebuah danau, dan hamba terus mengikutinya. Namun tiba-tiba seseorang menghalangi dan mulai menyerang. Hamba lalu memilih pergi dari sana. Orang itu mengejar dan bertanya siapa hamba. Dan dari suaranya, hamba yakin itu suara pamannya nona Xena." Jelas Conrad.
"Maksud paman, orang itu paman Yacob?."
"Iya pangeran, sepertinya itu memang dia."
Alaric nampak sangat serius mendengarkan apa yang dikatakan Conrad. Setelah mendengar cerita Conrad, Alaric benar-benar yakin Xena memang ksatria itu. Senyumnya mengembang karena senang.
"Lalu apa paman sudah tahu kenapa Xena sangat membenciku?." Tanya Alaric
"Kalau itu hamba belum bisa mengetahuinya." Jawab Conrad.
...
Setelah mendengar informasi dari Conrad, pangeran Alaric ingin memastikan sendiri semuanya. Tanpa sepengetahuan Conrad, dia meminta bantuan penyihir Gwendolyn untuk membantunya masuk ke dalam rumah Xena.
Setelah berjanji akan membayarnya dengan sangat mahal, penyihir itu bersedia melakukan apa yang diinginkan sang pangeran. Dia membacakan mantra dan meminta Alaric mengikutinya membaca mantra tersebut. Beberapa saat kemudian, pangeran dan si penyihir itu berubah menjadi kepulan asap dan terbang menuju rumah Xena.
Asap itu masuk kedalam rumah dan dalam sekejap mata mereka berubah kembali ke wujud aslinya.
Alaric tersentak saat melihat nenek Gloria dan kakek Abraham ada diruangan yang sama dimana dirinya dan si penyihir berdiri.
"Jangan takut anak muda. Mereka tidak akan melihat kita." Kata si penyihir.
"Benarkah?." Tanya Alaric memastikan.
"Kalau kau tak percaya kau boleh mencobanya. Sekarang mendekatlah pada mereka, dan lihat saja apa mereka bisa melihatmu?." Ujar si penyihir.
Alaric melangkah mendekati nenek Gloria dan kakek Abraham, dan benar saja mereka tidak melihat atau mendengar suaranya, sekalipun Alaric berteriak sekuat tenaga memanggil nama mereka.
Pangeran Alaric menoleh ke arah Gwendolyn yang sedang tertawa. "Kau lihat sendiri kan anak muda." Ujar Gwendolyn
Alaric tersenyum seraya berjalan ke arahnya. "Ternyata kau memang sangat hebat. Aku sangat kagum dengan kehebatanmu." Seru Alaric memuji si penyihir.
Suara langkah kaki seseorang membuat sang pangeran dan si penyihir menoleh kearahnya. Ternyata Xena lah yang datang menghampiri kakek dan neneknya. Dia berjalan melewati pangeran Alaric yang tertegun melihat Xena yang terlihat sangat cantik malam itu.
"Kakek dan nenek kenapa belum tidur?." Tanyanya.
"Sebentar lagi kami akan tidur. Kamu sendiri kenapa belum tidur?." Jawab sekaligus tanya kakek Abraham.
Xena tidak menjawab pertanyaan kakeknya, karena merasakan sesuatu yang aneh didekatnya. Iya benar, saat ini dia merasa seolah ada seseorang tengah berdiri didekatnya. Xena memutar kepalanya ke sebelah kiri, karena merasa ada seseorang disana, tapi tidak. Tidak ada siapapun disana selain mereka bertiga.
Xena tidak tahu kalau saat ini pangeran Alaric memang tengah beridiri di dekatnya dengan jarak yang sangat dekat. Dia mencium aroma harum dari rambut Xena, membuat Xena merasakan hembusan nafasnya, tapi Xena kira mungkin itu hanyalah angin.
"Xena!!. Seru kakek Abraham seraya mengguncang pelan lengan cucunya itu.
"Ehh..iya kek, maaf!!
"Ada apa?. Kamu melamun?." Tanya kakek Abraham.
"Tidak kek." Jawab Xena cepat.
"Kakek bertanya kenapa kamu belum tidur?."
"Ohh iya itu kek, aku mau ke bungker sebentar." Jawab Xena.
"Malam-malam begini?."
"Iya."
"Kenapa tidak besok saja?."
"Tiba-tiba saja aku teringat ayah. Jadi aku ingin kesana sekarang. Karena kalau aku berada disana, rasanya aku sedang bersama ayah." Ujar Xena.
"Pergilah kalau begitu." Kata kakek Abraham.
Xena senang karena kakek dan neneknya mengijinkannya pergi.
"Hati-hati." Ucap nenek Gloria.
"Iya nek." Balas Xena seraya berjalan mendekati perapian. Dia menoleh ke arah dimana dirinya berdiri tadi, karena dalam hati Xena merasa seperti ada seseorang disana.
Mungkin itu cuma perasaanku saja. Gumamnya dalam hati, lalu masuk ke dalam perapian itu dengan membungkukkan badan karena tinggi perapian itu mungkin hanya satu meter.
Pangeran Alaric yang melihat semua itu sangat terkejut. Dia berjalan dengan tergesa mendekati perapian itu, lalu masuk kesana, diikuti Gwendolyn.
"Kau mau kemana anak muda?." Tanya Gwendolyn.
"Aku akan mengikuti gadis itu, dan kau harus ikut denganku." Titah Alaric.
"Tapi ..."
"Kau jangan khawatir, aku akan membayarmu lebih." Ujar Alaric.
"Bukan itu maksudku. Kau boleh mengikuti gadis tadi, tapi kau tidak boleh mengintipnya saat dia mandi atau membuka bajunya. Karena kalau itu kau lakukan, dia akan langsung melihatmu." Jelas Gwendolyn.
"Tenang saja. Aku tidak mungkin melakukannya. Aku hanya ingin tahu kemana gadis itu pergi." Ujar Alaric.
Alaric sangat terkejut saat melihat ada sebuah pintu dibalik perapian itu. Dia membuka pintu ity dan ternyata ada sebuah lorong panjang yang berada dibawah tanah. Dia berjalan cepat menelusuri lorong itu, sampai akhirnya dia sampai pada ujung lorong yang memiliki dua arah berbeda. Alaric memutuskan berjalan kearah sebelah kanan. Dan ternyata jalan itu menuju ke luar desa. Alaric yakin Xena tidak mungkin kesana. Dia lalu memutar arah, dan menelusuri arah satunya, dan diujung sana dia melihat sebuah pintu besi. Alaric yakin itu adalah pintu masuk ke bungker yang dimaksud Xena, dan dia benar, ini memang sebuah bungker.
Alaric melangkahkan kakinya lagi menyusuri bungker itu, mencari keberadaan Xena. Rasanya dia sangat tidak asing dengan bungker itu. Dia merasa pernah datang kesini sebelumya. Ruangan demi ruangan yang ada didalam bungker itu telah dia masuki tapi dia tidak menemukan Xena. Selain tidak menemukan Xena pangeran Alaric juga tidak bisa menemukan pintu lain untuk keluar dari bungker itu. Dia ingin bertanya pada Gwendolyn, tapi rupanya Gwendolyn sudah pergi.
Pangeran Alaric yang penasaran terus saja mencari dimana pintu keluar, sampai tangannya tak sengaja menyentuh sebuah lambang kerajaan, yang sangat mirip dengan lambang kerajaannya. Lambang itu menempel di dinding bungker tersebut. Tiba-tiba dinding itu bergeser seperti sebuah pintu yang membuatnya bisa melihat ruangan lain disana. Pangeran Alaric dibuat terkejut sekaligus takjub karena dia sama sekali tidak menyangka dinding tadi ternyata adalah sebuah pintu.
Pangeran Alaric segera masuk keruangan itu, berjalan mencari keberadaan Xena. Semakin dia menyusuri ruangan itu, dia merasa semakin yakin kalau dirinya pernah datang kesini.
Ya Tuhan ini memang bungker itu. Kata Alaric dalam hati. Dan dia benar, ini adalah bungker itu, bungker yang sama saat dirinya diselamatkan ksatria itu. Dia tersenyum senang saat itu. Xena ternyata benar-benar ksatria yang telah menyelamatkan nyawanya.
Pintu di perapian di rumah kakek Abraham ternyata adalah jalan menuju ke bungker itu dan juga jalan keluar menuju luar desa. Pantas saja waktu itu Xena membawa roti tepung yabg masih hangat seperti baru saja dibuat, rupanya memang Xena membawa roti itu dari rumah melalui jalan rahasia. Pangeran Alaric semakin yakin, kalau Xena dan keluarganya memang bukan orang sembarangan, dan dia harus mengungkap siapa mereka sebenarnya juga alasan kenapa Xena sangat membencinya.