Xena

Xena
XENA @BAB 19



Esoknya.


"Aku tidak mau tahu Xena, pokoknya kamu harus membujuk Aiden agar secepatnya membawaku ke istana. Kalau tidak, aku akan mengatakan kepadanya siapa sebenarnya keluarga kita." Ancam Audrey pada Xena.


"Aku tidak akan melakukannya. Apa kakak tidak mengerti juga kalau kakek tidak akan pernah mengijinkan kakak pergi?." Jawab Xena.


"Aku nggak peduli kakek mengijinkan atau tidak, aku akan tetap pergi. Aku tidak mau selamanya hidup didesa terpencil seperti ini. Aku bukan kamu yang mau berpanas-panasan diladang, bermain dihutan dan tinggal dirumah tua ini. Aku ingin hidup lebih layak, tinggal diistana, memakai pakaian bagus, makanan enak dan menikah dengan anak bangsawan." Ujar Audrey.


"Apa kakak sadar dengan yang kakak katakan tadi?."


"Tentu saja aku sadar Xena. Apa kau pikir aku akan sudi selamanya tinggal dirumah ini?. Tidak Xena, aku tidak mau. Dan itu tidak akan pernah terjadi. Aku akan meninggalkan rumah tua ini, dan hidup bahagia di istana."


"Audrey!! Sergah kakek Abraham yang baru saja kembali dari ladang. Dia nampak sangat emosi mendengar ucapan cucunya itu.


"Apa benar yang kamu katakan tadi?." Tanya kakek Abraham. Suaranya bergetar karena emosi. "Jawab Audrey!! Sergahnya emosi.


"Maafkan aku kek!! Tapi itu benar. Aku tidak mau terus tinggal dirumah ini. Mengertilah kek. Aku dan Xena suatu hari pasti akan pergi dari rumah ini, kami akan menikah dan tinggal bersama suami kami. Jadi kami tidak mungkin terus tinggal dirumah ini bersama kakek dan nenek.


"Bukan itu yang kau katakan tadi." Kata kakek Abraham. Audrey diam. "Baiklah Audrey, kalau kau ingin pergi, pergilah kemanapun kamu suka. Aku tidak akan pernah melarang atau menghalangimu lagi. Selama ini aku tidak bermaksud menghalangi keinginanmu, aku dan nenekmu hanya ingin melindungi kamu dan Xena. Tapi kalau kau merasa aku menghalangi kamu, maka pergilah. Lakukan saja apa yang kamu ingin lakukan." Ujar kakek Abraham lalu berlalu dari sana.


"Kau lihat kan kak?. Kakak sudah menyakiti perasaan kakek." Ujar Xena.


"Apa maksudmu Xena?. Siapa yang menyakitinya?. Apa aku salah jika mengatakan keinginanku?. Dan kau dengar sendiri kan tadi, kakek sudah mengijinkanku jadi aku akan pergi."


"Apa kakak tidak mengerti perasaan kakek?. Dia tidak ingin kakak pergi."


"Aku akan tetap pergi Xena. Kamu lihat saja, suatu hari nanti aku pasti aku pasti akan menjadi apa yang aku inginkan. Dan saat hari itu tiba, kalian pasti akan bangga kepadaku." Ujar Audrey lalu pergi ke kamarnya.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Conrad sudah kembali ke istana, dan dia masih memikirkan apa yang sebenarnya terjadi pada pangerannya. Dia melihatnya ada di desa dan Audrey membenarkannya, sekarang dia juga melihat pangeran Alaric ada di istana. Apa yang sebenarnya terjadi?. Kenapa pangeran Alaric bisa jadi dua?. Apa mungkin ini ulah si penyihir itu?. Tanyanya dalam hati. Dan lagi, dia teringat pada Gwendolyn. Conrad menduga kalau ini adalah perbuatan sihir Gwendolyn. Mungkin saja pangeran Alaric memintanya melakukan semua ini. Ya benar, bisa saja dia melakukannya.


Lalu yang manakah pangeran yang asli, dan pangeran palsu perbuatan sihir Gwendolyn, Conrad akan segera mencari tahu kebenarannya. Dalam hati Conrad sangat yakin kalau pangeran Alaric yang palsu, adalah laki-laki yang ada didesa itu, karena dia bisa berubah menjadi asap.


Untuk meyakinkannya, Conrad lalu menemui tabib istana, dan menanyakan tentang kejadian dimana Alaric tiba-tiba pingsan waktu itu, dan menurut diagnosis tabib itu, Alaric digigit ular, padahal waktu itu tidak ada satu ekor ular pun di dalam istana. Tabib itu juga menceritakan keanehan yang dia temukan ditubuh Alaric.


Conrad nampak tak percaya mendengar kalau pangeran yang ada di istana tidak memiliki detak jantung dan juga tidak ada darah yang mengalir ditubuhnya. Tidak hanya saat dia pingsan, bahkan sekarang setiap tabib itu memeriksanya, baik tabib itu maupun tabib lainnya sama-sama menemukan keanehan itu.


Sekarang Conrad yakin, pangeran yang ada di istana adalah pangeran palsu, dan pangeran yang asli masih ada didesa itu. Dia mengerti pangeran melakukan semua ini pasti karena Xena.


Pantas saja akhir-akhir ini, sikapnya sedikit aneh. Ternyata dia hanya jelmaan pangeran. Kata Conrad dalam hatinya.


Dimitri dan anak buahnya akhirnya di pecat dan di adili. Dan kini raja mempercayakan wilayah itu pada Frederick dan anak buahnya. Senyum pangeran Alaric mengembang saat menyaksikan semua itu.


πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ


Kembali ke Desa.


Audrey datang menemui Aiden dan memaksanya untuk segera membawanya ke istana. Aiden menolak, karena dia takut Xena dan keluarganya akan marah kepadanya.


"Kau jangan khawatir. Kakekku sudah mengijinkanku." Ucap Audrey.


"Tentu saja. Kalau kau tak percaya kau boleh tanyakan langsung padanya. Sekarang juga aku tagih janjimu. Tolong secepatnya bawa aku ke istana " Pinta Audrey tidak sabar.


"Baiklah. Aku akan melakukannya, tapi setelah aku bertemu kakek atau adikmu." Sahut Aiden, lalu menemui kakek Abraham, dan ternyata apa yang dikatakan Audrey memang benar, kakek Abraham mengijinkan Audrey pergi ke istana atau kemanapun yang dia inginkan.


...


Dua hari kemudian, Conrad dan beberapa orang pasukan yang pernah menyamar menjadi pengembara datang ke rumah untuk menjemput Audrey dan membawanya ke istana. Audrey sangat senang saat itu. Dia langsung membawa barang-barangnya dan berpamitan pada keluarganya.


"Jaga diri kakak baik-baik." Pesan Xena.


"Kau juga. Jaga diri kamu, dan kakek nenek kita." Balasnya.


"Dan kakak harus ingat!! Jangan ceritakan apapun tentang kita kepada siapapun disana." Ujar Xena saat Audrey pamit kepadanya.


"Kau tenang saja Xena." Sahut Audrey lalu melangkah pergi dari rumah itu.


"Tunggu!! Seru Xena.


"Dimana temanmu Aiden?. Kenapa dia tidak datang bersamamu?." Tanya Xena pada Conrad.


"Dia ada di tempatnya. Kami sudah menemuinya tadi. Permisi nona!! Kami harus segera pergi." Ujar Conrad lalu pergi bersama Audrey.


Conrad sebenarnya tidak bertemu dengan Aiden, karena dia yakin Aiden sengaja menyembunyikan dirinya. Conrad datang ke desa itu menjemput Audrey atas perintah pangeran Alaric yang ada di istana. Dia tidak mengerti ilmu apa yang dimiliki penyihir itu, hingga dia bisa menciptakan manusia jelmaan yang segalanya sama persis dan terhubung dengan manusia aslinya. Yang jelas Conrad sangat mengakui dan memuji kesaktian penyihir itu.


...


Setelah menempuh perjalanan jauh dan melelahkan, Audrey akhirnya sampai di istana. Dia sangat senang saat menginjakkan kakinya disana. Sejauh yang dia ingat, tidak ada perubahan yang menonjol diistana itu. Semuanya masih sama seperti saat terakhir dia tinggal disana.


Conrad membawa Audrey ke istana para wanita. Semua pelayan berbaris dan membungkuk hormat menyambut kedatangan Conrad. Walau ada beberapa pasang mata yang berusaha mencuri pandang ke arah Audrey, yang mereka yakin adalah calon pelayan istana yang akan bekerja seperti mereka.


"Selamat datang di istana wanita, jendral Conrad!! Sapa seorang perempuan yang Audrey kira pimpinan atau kepala pelayan disana. " Apa ada yang bisa saya bantu?." Tanyanya.


"Aku ingin menitipkan dia disini. Kau didik dan ajari dia semuanya. Kau mengerti?." Tanya Conrad.


"Baik jendral." Sahutnya mengangguk faham.


"Bagus." Balas jendral Conrad lalu dia meninggalkan istana wanita.


Kepala pelayan itu membawa Audrey ke sebuah ruangan khusus, dan meminta Audrey menanggalkan semua pakaiannya.


"Apa??. Pekik Audrey kaget, mendengar perintah sang kepala pelayan. Kepala pelayan itu menoleh dan menatap tajam pada Audrey. Sepertinya dia marah mendengar teriakan Audrey barusan.


"Kau!! Beraninya kau meneriakiku. Apa kau tidak tahu siapa aku heh?. Dasar gadis sombong." Ujarnya seraya menampar pipi Audrey, membuat dia tersentak dan langsung memegang pipinya.


.


.


Bersambung☘️☘️