Xena

Xena
76. Keinginan Olive



Saat ini Xena sedang menemani Olive, sembari menunggu kedua orang tua Olive datang. Sedangkan Vano buru-buru berangkat ke kantor karena meeting dan dia hampir terlambat.


Sebenarnya ia ingin menanyakan tentang kebenaran tentang Yani yang sudah mencelakai adiknya. Namun sepertinya waktunya nggak pas buat di bahas sekarang.


Setelah di ruangan itu hanya mereka berdua, Xena memutuskan untuk berbicara jujur tentang trauma yang di alami Olive yang sudah ia tahu.


"Liv, sebenarnya aku tahu trauma yang kamu alami tidak seringan itu. Aku juga tahu kamu rutin datang ke psikiater" ucap Xena yang sukses membuat bola mata Olive membulat terkejut.


Namun hanya sebentar, ia kemudian tersenyum dan menundukkan kepalanya.


"Ah, jadi kamu sudah tahu ya" ucap Olive setelahnya


"Liv, jika sedang bersamaku. Jangan ada yang yang di tutupi atau pura-pura, aku tahu kamu tidak sekuat itu. Dan kamu harus ingat, ada aku yang berdiri di samping kamu untuk membantu menopang dan mendukung kamu agar kamu bisa seperti dulu lagi" ucap Xena


"Terimakasih Xe" ucap Olive dengan raut wajah yang sedih kemudian terisak.


Xena memeluk sahabatnya itu, ia tahu rasanya menyembunyikan rasa sakit sendirian itu seperti apa. Sama seperti dulu ia memendam rasa sakit di perlakukan dingin dan di abaikan oleh Vano.


"Kita hadapi bersama, Oke. Aku akan menemani kamu sampai trauma kamu sembuh. Aku tahu psikiater yang bagus, aku yakin dengan perawatannya kamu bisa cepat sembuh. Kamu mau kan melakukan perawatan, nanti aku temani kamu" ucap Xena


Olive mengangguk, ia percaya Xena akan melakukan semua yang terbaik untuk dirinya.


"Setelah pulang dari rumah sakit, aku akan buat janji dengan psikiater itu" ucap Xena


"Makasih Xe, kamu memang sahabatku yang paling terbaik. Jika nggak ada kamu, entah apa yang harus aku lakukan" ucap Olive tulus.


"Itulah gunanya sahabat. Aku percaya jika posisi ini tertukar, kamu juga akan melakukan hal yang sama" ucap Xena tersenyum


"Hmm, itu pasti. Terus bagaimana dengan si Lampir itu?" tanya Olive kemudian.


"Itu terserah kamu, karena kamu korbannya di sini. Jadi kamu yang nentuin, mau bales kaya gimana" ucap Xena


"Apa kamu punya bukti si Lampir yang nabrak aku?" tanya Olive.


"Ya, aku punya bukti lengkap jika dia dalang yang menabrak kamu. Dengan bukti itu kita bisa menyeret dia ke penjara. Bukan hanya itu, aku juga punya bukti jika dia suka berganti pasangan se*s dan seorang pencandu narkoba kelas berat" ucap Xena


"Si Lampir pake narkoboy?" tanya Olive terkejut dan Xena hanya menjawab dengan anggukan.


"Astaga Tuhan, tuh anak udah nggak bisa di selametin lagi. Paraaahhh" ucap Olive


Xena setuju dengan ucapan Olive, Yani memang sudah tidak bisa di selamatkan lagi. Apalagi tindakan kriminal yang ia perbuat sudah melampaui batas.


Jika Yani di laporkan ke polisi dan keluarganya tidak ikut campur untuk membebaskannya. Yani bisa di kenakan hukuman penjara paling sebentar 20 tahun penjara. Namun bukankah itu terlalu mudah untuk Yani?


Xena ingin mata di balas mata, darah di balas darah. Karena ia sudah mencelakai Olive dan membuat kakinya patah. Setidaknya Xena ingin Yani merasakan hal yang sama, kalau bisa lebih dari yang di derita Olive.


"Bagaimana, apa yang kamu sudah memikirkan sesuatu?" tanya Xena


"Jadi?" tanya Xena memancing Olive untuk mengutarakan keinginannya.


"Setidaknya dia merasakan rasa sakit sama seperti yang aku rasakan. Bagaimana rasanya di tabrak, Dan menrasakan rasa sakit di kakiku seperti apa saat kakinya patah" ucap Olive terlihat jelas jika ia sangat menggebu saat mengatakan itu.


Melihat itu Xena hanya tersenyum, ternyata pemikirannya dengan Olive sama.


"Aku akan memikirkan cara agar dia merasakan itu semua" ucap Xena


"Ehh? Apa? Seriusan Xe?" ucap Olive terkejut


"Kapan aku bohong? Aku juga sudah gemas ingin membalas apa yang sudah ia perbuat padamu, sebelum ia mendekam di penjara puluhan tahun" ucap Xena menyeringai


"Oh Tuhan, aku tadi cuma salah ngomong, kenapa Xena malah menganggapnya serius. Tapi Kenapa aku merinding ya lihat senyum Xena" gumam Olive dalam hati.


....


Ray menghela nafas lega saat ia baru saja menyelesaikan acara jumpa fans dan promosi filmnya selama satu jam di sana. Ia duduk menyandar di jok mobil. Baru sebentar saja dia sudah merindukan kekasih tercintanya.


Membayangkan senyuman Xena saja membuat Ray ingin segera pulang rasanya. Namun jadwal promosi tidak bisa tadi tinggal. Ia harus berkeliling kota selama beberapa hari untuk promosi Film bersama dengan kru yang lain.


Ray lalu menekan nomor kekasihnya itu, ia ingin mendapatkan vitamin dengan mendengar suara orang tercintanya itu. Namun teleponnya tidak kunjung di angkat setelah beberapa kali ia telepon. Hal itu membuat Ray menjadi uring-uringan di dalam mobil.


Galang dan Reno hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah artisnya itu. Orang bucin mah gitu, padahal baru pagi tadi mereka berpisah, rasanya sudah seperti berpisah berbulan-bulan saja.


"Aarrgghh, kenapa nggak di angkat sih? Xena nggak kenapa-kenapa kan? Atau jangan-jangan dia di culik bajingan cab*l itu. Sayang, ayo dong angkat teleponnya, aku khawatir nih" gumam Ray frustasi.


Galang yang melihatnya hanya menahan tawa, ia baru tahu orang sedingin Ray bisa bertingkah seperti itu. Ya meskipun Ray bertingkah seperti itu cuma sama Xena doang. Tapi ini benar-benar moment langka.


"Kak, kita balik ke ibukota aja ya. Kayanya Xena beneran di culik dej" ucap Ray heboh sendiri.


"Astaga Ray, ini kita baru mau berangkat ke kota D. Waktunya mepet dari jadwal promosi. Lagian mana ada Xena di culik, kan anak buah kamu dan Gilbert ikutin Xena diam-diam. Kalau ada apa-apa kan mereka bisa lapor kamu dulu" ucap Reno


"Lah iya jugabya, tapi kenapa Xena nggak angkat telepon aku?" ucap Ray kembali murung.


"Ya bisa aja dia lagi tidur, mandi, makan atau lagi sibuk ngurus sahabatnya yang sakit atau restoran" ucap Reno Gemas.


"Bener juga, tumben kakak pinter. Akhirnya, bekerja juga itu otak" ucap Ray


"Sabar-sabar, anak orang Ren. Sabaaarrr... Jangan sampe lu sm*ck down atau soedibg anak orang, yang ada abis lu di tangan kakeknya. Ya Tuhan, Punya artis gini amat ye, sekalinya diem kaya kulkas dan irit banget kalau ngomong. Sekalinya ngomong makjleb, nylekit" ucap Reno sambil ngelus dada.


Sedangkan Galang yang mendengar percakapan keduanya hanya tertawa, jarang-jarang ia mendapat hiburan gratis.


...•••••...