Xena

Xena
90. Yani mengamuk



Di rumah sakit, perlahan namun pasti mata Yani mengerjab dan terbuka. Melihat Yani yang sudah sadar, Ferry dan orang tua Yani segera memanggil dokter dengan menekan tombol di samping ranjang.


"Ughhh....." Yani melenguh memegangi kepalanya, ia merasakan sakit di kepalanya yang di lilit perban.


"Sayang kamu sudah sadar" ucap Melati


"Di ma-na a-ku?" ucap Yani terbata, sembari matanya melihat ke sekeliling.


"Kamu di rumah sakit, apa ada yang sakit? Apa kepala kamu sakit sayang?" tanya Melati dengan lembut pada putrinya


"A-ku Ha-us" ucap Yani yang merasa tenggorokannya kering.


Dengan sigap Ferry mengambil air minum dan memberikannya pada Yani. Ia juga membantu Yani untuk minum.


Yani meringis pelan merasakan seluruh tubuhnya sakit, ia mengingat jika ia di tabrak oleh mobil lalu tidak sadarkan diri. Ia ingin duduk, namun ia merasakan mati rasa di kedua kakinya.


Ia mengerutkan kening saat ia mencoba menggerakkan kakinya, namun ia tidak bisa merasakannya sama sekali.


"Kakiku ke-napa nggak bi-sa di gerakin?" tanya Yani sudah mulai tenang setelah minum dan tidak terlalu terbata bata.


Ferry dan kedua orang tua Yani terdiam, mereka saling melempar pandangan masing-masing. Mereka tidak tahu harus memulainya dari mana untuk menjelaskan pada Yani.


"Kenapa kalian diam?" tanya Yani tidak sabar.


"Sayang, kamu harus sabar. Kamu akan baik-baik saja, kamu masih memiliki mama, papa dan juga Ferry di samping kamu. Kamu harus kuat" ucap Melati mencoba menguatkan putrinya lebih dulu.


"Apa maksudnya? Ka-takan yang jelas! Ada apa dengan kakiku?" tanya Yani dengan keras dan tidak sabar.


"Kenapa kalian Diam? Jawab!!!" teriak Yani saat melihat semuanya terdiam.


Yani mencoba untuk duduk meski susah payah, ia meraba kakinya. Ia mengerutkan keningnya, tiba-tiba ia panik saat ia saat memegang bagian kakinya. Dengan cepat ia membuka selimut yang menutupi tubuhnya.


Ia tidak melihat kedua kakinya di sana, dia hanya melihat kedua kakinya, setengah paha yang di balut berban.


"Tidak! Tidak mungkin! Ini pasti mimpi!" ucap Yani menggelengkan kepalanya, dan menampar pipinya agar ia sadar.


"Sayang, yang sabar. Kamu harus ikhlaskan semua yang terjadi. Kamu harus kuat" ucap Melai menangis.


"Tidaaakkk!!!! Ini tidak mungkin!!! Kemana kakiku? Kenapa kalian memotong kakiku???? Tidaaaakkkk!!! Kembalikan kakiku!! Bangsaaaattttt kembalikan!!!! Aaaaarrrggghhhh!!!! Kembalikan kakiku!!!" teriak Yani.


Ia memberontak saat mamanya memeluk, ia menghancurkan semua yang ada di dekatnya. Ia mengamuk, ia tidak bisa menerima keadaannya saat ini.


Ferry bergegas keluar memanggil dokter yang belum juga datang. Beberapa saat kemudian Dokter masuk dan memberikan obat penenang, hingga perlahan Yani mulai tenang dan terlelap.


"Pah, anak kita pah" ucap Melati menangis di pelukan suaminya.


"Mama yang sabar, mama harus kuat demi Yani" ucap Teguh yang sama hancurnya sama seperti istrinya saat melihat putri semata wayang mereka menjadi seperti saat ini.


Sedangkan Ferry hanya menatap kasihan pada sepupunya itu, ia tidak tahu bagaimana harus menghibur Yani.


.....


Beberapa hari kemudian, Ray sudah selesai melakukan promosi Film barunya. Ia bergegas kembali bersama Reno dan juga Galang menuju ke ibukota. Ray sudah tidak sabar menemui kekasih hatinya.


Reno dan Galang hanya menggelengkan kepala mereka melihat Ray yang sangat bucin pada Xena. Dan terlihat sangat semangat untuk pulang.


Setelah melakukan perjalanan selama 4 jam, ketiganya sampai di ibukota.


Mengetahui Xena ada di restoran cabang, Ray langsung bergegas menuju ke sana dengan membawa seikat bunga mawar dan satu kantong paperbag berisi oleh-oleh dari berbagai kota.


Orang-orang yang melihat Ray datang sangat terkejut, saat mereka tahu jika Ray ingin menemui pemilik restoran. Mereka semua akhirnya tahu jika pemilik restoran adalah Xena, kekasih Ray.


"Sayang aku pulang!!!, aku merindukan...." ucap Ray langsung membuka pintu.


"Beraninya kau memeluk pacarku!" ucap Ray marah.


"Aaakkhhh" teriak laki-laki itu.


"Hei Ray, hentikan!" ucap Xena menahan tubuh Ray


"Tuan muda hentikan!" teriak Citra yang juga ikut menghalangi.


"Hei kenapa kau memukulnya?" ucap Xena pada kekasihnya.


"Ada laki-laki lain yang memeluk mu, apa aku tidak boleh mwnghajarnya?" ucap Ray dengan tatapan sedih dan kecewa pada kekasihnya itu. Hatinya sakit .


"Pacarmu galak ternyata Xe" ucap pria itu


"Si*lan kamu, kemari kau!!" ucap Ray marah.


"Cukup! Dia itu Agra, kakak sepupuku, Ray!" ucap Xena


"Sepupu?" beo Ray, Xena mengangguk.


"Nona Xena benar tuan muda. Tuan Agra adalah sepupu nona Xena, ia datang karena ingin mengantarkan undangan pernikahannya Minggu depan. Dan dia memeluk nona Xena karena ia merasa senang jika nona Xena sudah memiliki kekasih dan mendoakan agar kalian cepat menyusul mereka. Tapi tiba-tiba tuan muda muncul" jelas Citra yang ada di sini.


"Eh..." Ucap Ray tidak tahu harus berkata apa saat tahu ceritanya, Ray menggaruk kepalanya dan tersenyum canggung.


"Maafkan aku, aku tidak tahu kalau kamu adalah sepupu Xena" ucap Ray kemudian dengan tulus.


"Ya tidak apa-apa, tapi pukulanmu sangat keras bro. Ah ah sakit" ucap Agra meringis


Ray yang melihat itu sangat bersalah, karena tidak bertanya lebih dulu dan langsung memukulnya.


"Sayang maafkan aku, aku tadi..." ucap Ray menatap ke arah Xena.


"Ya, aku tahu, kamu pasti cemburu. Tidak apa-apa, tapi lain kali jangan begitu" ucap Xena mengerti kenapa Ray melakukannya.


Ray mengangguk dan memeluk Xena dengan erat, ia mengabaikan jika di ruangan itu tidak hanya mereka berdua.


"Ekhmm....." Agra berdehem


"Kotak obat mana Xe?" tanya Agra kemudian.


"Astaga maaf lupa, Citra tolong ambilkan kotak obat di ruangan sebelah" ucap Xena kemudian


"Baik nona" ucap Citra langsung keluar.


"Pacarnya dateng aja lupa segalanya, dasar" ucap Agra.


"Maklum bang, bayi besar baru pulang setelah seminggu berkeliling, jadi kangen berat dia. Emosinya meledak-ledak, apalagi lihat kita pelukan. Sudah gitu kalian belum saling kenal karena Abang tinggal di kota B. Makanya salah paham, maafin Ray ya bang" ucap Xena


"Nggak apa-apa, Xe. Aku ngerti, tapi sebagai gantinya kasih hadiah pernikahan yang banyak ya, ha-ha-ha, aahh aaws sakit" ucap Agra memegangi bibirnya yang luka.


Citra datang membawa kotak obat, Xena menerimanya dan ingin mengobati Agra. Namun Ray menghalanginya.


"Biar aku yang obati, aku juga bertanggung jawab karena aku yang memukulnya" ucap Ray


Xena menghela nafas mengalah menyerahkan kotak obat itu. Ia tahu jika bukan cuma merasa bersalah, tapi Ray cemburu ia mengobati yang lain.


"Dasar posesif" gumam Xena dalam hati terkekeh.


...•••••...