Xena

Xena
XENA @ BAB 7



"Anda tidak apa-apa pangeran?." Tanya Conrad cemas.


"Aku baik-baik saja, paman tidak perlu mengkhawatirkanku. Yang harus paman khawatirkan para pengawal kita. Sepertinya mereka terluka cukup parah, karena ksatria itu sudah menghajar mereka tanpa ampun."Jawab Alaric


"Sekarang apa rencana pangeran?." Tanya Conrad.


"Rencanaku masih sama paman. Aku ingin tahu siapa sebenarnya ksatria itu. Paman lihat sendiri bagaimana dia melawan


empat pengawal kita sekaligus?." Tanya Alaric.


"Hamba melihatnya pangeran. Dari caranya memainkan pedang, hamba yakin dia sepertinya memang sudah sangat ahli. Dan ksatria itu jelas-jelas bukan nona Audrey." Ujar Conrad


"Paman benar. Memang bukan dia. Aku ternyata tidak sepintar paman dan ksatria itu. Tapi satu hal yang sangat aku yakini, dia memang seorang perempuan." Ujar Alaric, lalu mereka pergi dari tempat itu.


...


Audrey melangkahkan kakinya dengan tergesa menuju rumahnya. Selain takut dengan para perampok tadi, Audrey juga takut ketahuan pergi tanpa ijin. Untungnya kakek dan yang lainya belum kembali dari ladang saat itu. Audrey masuk dan mengunci dirinya dalam kamar. Dia menghela nafas lega walau rasa takut dan khawatir jelas masih terlihat di wajah cantiknya.


Audrey sangat bersyukur karena ada seorang ksatria yang datang menyelamatkanya tadi. Kalau tidak, dia tidak tahu akan bagaimana nasibnya. Selain itu Audrey juga mengkhawatirkan Aiden (Alaric) yang dia pikir masih tergeletak di jalan tengah hutan itu. Audrey berharap dia baik-baik saja, walau dalam hatinya Audrey sedikit mengumpat karena ternyata laki-laki yang terlihat gagah itu tidak bisa melakukan apa-apa saat ada bahaya yang mengancam mereka. Itulah yang dia fikirkan saat ini.


Setelah merasa sedikit tenang Audrey pergi ke dapur untuk memasak, karena mungkin sebentar lagi kakek dan neneknya kembali dari ladang. Baru saja dia hendak menyalakan tungku api, suara seseorang yang memanggilnya membuat Audrey sangat terkejut.


"XENAAAA....kamu!! Pekiknya terkejut, sambil memegang dadanya.


"Kenapa kakak terkejut begitu?. Apa kakak pikir aku ini hantu?.." Tanya Xena.


"Kenapa tiba-tiba kamu ada disini?. Kamu sudah sangat mengagetkanku Xena." Sahut Audrey.


"Dari tadi aku ada disini. Kakak saja yang tidak melihatku." Balas Xena.


"Jangan bohong!! Dari tadi aku sendirian dirumah. Kamu masuk darimana?. Semua pintu sudah aku kunci." Ujar Audrey.


"Aku.... aku punya kunci cadangan." Jawab Xena sedikit gelagapan.


"Benarkah?. Sejak kapan?. Kenapa aku tidak tahu." Selidik Audrey.


"Sejak lama. Kakek yang memberikannya padaku." Jawab Xena.


"Ohh. Lalu kenapa sudah kamu pulang?." Tanya Audrey.


"Aku cuma ingin mengambil air. Bekal air kami habis." Jawab Xena, lalu menuangkan air ke dalam botol minuman. "Tadi kakak pergi kemana?." Tanya Xena membuat Audrey terkejut.


"Aku tidak kemana-mana. Dari tadi aku di rumah jawabnya berbohong.


"Adukan saja kalau kamu berani." Tantang Audrey. " Aku ini kakakmu. Aku lebih tua dan lebih dewasa dari kamu. Kamu tidak perlu tahu darimana atau kemana aku pergi. Mengerti!! Ujar Audrey. Xena tidak menyahuti perkataan kakaknya itu.


"Lain kali jangan pergi tanpa ijin, apalagi dengan orang yang baru kakak kenal." Kata Xena lalu melangkahkan kakinya menuju pintu.


Audrey tersentak mendengar ucapan Xena, dan menoleh ke arahnya. Kenapa dia berkata seperti itu?. Apa jangan-jangan dia tahu, aku pergi bersama Aiden?. Gumamnya dalam hati. "Xena!! Tunggu." Panggil Audrey, membuat langkah Xena terhenti.


"Apa yang kamu katakan tadi?. Siapa yang pergi?. Dari tadi aku dirumah saja, tidak kemana-mana?." Ucap Audrey. Xena tersenyum miring mendengar ucapan kakaknya itu. Ingin rasanya dia mengatakan semuanya, tapi dia tidak melakukannya dan memilih pergi.


"Hey!! tunggu Xena!! Aku belum selesai bicara." Ujar Audrey, tapi Xena tidak menghiraukanya. "Dasar aneh." Audrey menggerutu.


Setelah Xena pergi, Audrey kembali bertanya dalam hati, kenapa Xena bisa tahu kalau dirinya pergi dari rumah. Selain itu, dia juga takut Xena akan mengadu pada kakek dan neneknya. Tidak...dia tidak akan berani melakukanya, aku yakin. Kata Audrey dalam hati.


Audrey tidak tahu kalau Xena adalah orang yang telah menolongnya. Saat dia sedang berada diladang, strobby (burung peliharaanya) memberi isyarat pada Xena. Xena segera pergi setelah pamit pada kakek dan neneknya. Dia mengikuti kemana burungnya terbang, dan ternyata dia membawanya ke tempat dimana Audrey dan Aiden diserang kawanan perampok pura-pura itu. Tapi tentu saja Xena tidak tahu, kalau semua itu hanyalah skenario yang dibuat oleh Aiden atau pangeran Alaric untuk memancing ksatria yang telah menyelamatkan dirinya agar keluar dari persembunyiannya.


....


Dua hari kemudian, pangeran Alaric kembali ke rumah Audrey untuk meminta maaf dan menanyakan keadaanya, walau sebenarnya dia juga tahu Audrey baik-baik saja. Sesampainya dirumah itu, Alaric tidak bertemu dengan Audrey, karena tidak ada siapapun dirumah itu. Menurut tetangganya, semua penghuni rumah sedang berada di ladang.


Pangeran Alaric lalu pergi darisana, melangkahkan kakinya menuju arah hutan, hutan yang sama, dimana dirinya bertemu dengan ksatria misterius itu. Saat ini dia berdiri di pinggir sungai kecil yang menjadi pembatas antara desa dan hutan lebat yang terlihat menyeramkan walau disiang hari. Dia mengurungkan niatnya untuk masuk kesana, karena saat ini dia hanya sendirian, dan tidak membawa senjata apapun.


Dia kembali melangkahkan kakinya ke atas bukit kecil, dan duduk disana memandang alam pedesaan yang indah. Darisana dia bisa melihat ladang para penduduk yang dilewati sungai kecil yang airnya mengalir begitu jernih. Juga para petani yang sedang bekerja diladang mereka, termasuk kebun bunga milik kakek Abraham.


Hati dan kakinya tergerak untuk melangkah menuju ladang mereka. Hari itu lebih banyak orang berada di ladang, karena sebagian besar dari mereka sedang memanen kentang juga tanaman lainya. Dari kejauhan terlihat sesosok gadis yang sedang sibuk memasukan kentang-kentang itu ke dalam keranjang kayu. Pangeran Alaric sangat yakin gadis itu adalah yang dicarinya dari tadi. Dia melangkahkan kakinya lebih cepat, lalu memanggilnya. "Audrey." Panggil Alaric. Tapi dia tidak menjawab apalagi menoleh padanya.


Pangeran Alaric mengulangi panggilannya. "Audrey." Tetap saja dia tidak menyahuti panggilannya. Mungkin Audrey marah, pikirnya. Pangeran Alaric nekat mendekati dan menepuk pundaknya, seraya memanggil namanya kembali. "Audrey." Gadis itu sedikit tersentak saat merasakan ada tangan seseorang dibahunya. Dia lalu menoleh ke arah pemilik tangan tersebut. Pangeran dan sang gadis sama-sama tersentak, namun dengan cepat sang gadis menepis tangan pangeran Alaric lalu dia berdiri. "Siapa kamu?. Berani sekali kamu menyentuhku?." Hardiknya marah, menatap tajam dan tidak suka pada laki-laki dihadapannya itu.


Sebaliknya lelaki itu tertegun, menatapnya dengan penuh kekaguman. Gadis dihadapannya ini begitu cantik, bahkan jauh lebih cantik dari Audrey atau putri kerajaan tercantik yang pernah dia temui. Wajahnya, matanya, hidungnya, bibirnya, rambutnya, semuanya begitu indah dilihat. Pangeran Alaric seolah tersihir oleh pesona dan kecantikan gadis itu.


"Hey!! Kamu tidak tuli kan?. Hey!!! Ucap gadis itu sedikit berteriak.


"Eh...maafkan aku!! Aku...." Sahut Alaric


"Siapa kamu?. Dan mau apa kamu datang kemari?. Aku tidak mengenalmu?." Tanya gadis itu.


.


.


Bersambung🍁🍁🍁