
"Katakan padaku, kenapa kau menangis?. Apa kau tidak betah bekerja disini?." Tanya Kalla.
"Tidak nyonya. Saya betah dan senang bisa bekerja disini." Jawab Xena berbohong. Sebenarnya dia ingin pergi dari istana itu dan kembali ke desa. Apalagi sekarang Aiden tidak ada di istana. Kakaknya Audrey juga tidak peduli padanya, jadi tidak ada alasan bagi Xena untuk tetap tinggal disana. Xena sempat berpikir akan melarikan diri dari istana itu, tapi dia tidak melakukannya, karena resikonya sangat besar. Kalaupun dia berhasil kabur, Xena pikir bisa saja jenderal Conrad dan anak buahnya membawanya lagi ke istana.
"Lalu kenapa kamu menangis?."Tanya Kalla lagi seraya menoleh ke arah Xena. "Katakan saja Xena, tidak usah sungkan padaku."
"Tidak nyonya saya tidak apa-apa. Saya hanya merindukan kakek dan nenek saya."Jawab Xena.
"Apa kau yakin karena itu?." Tanya Kalla.
"Iya nyonya, saya memang sedang merindukan kakek dan nenek saya. Biasanya saya menikmati roti tepung ini bersama mereka." Jawab Xena.
"Oh begitu. Lalu orang tuamu.?." Tanya Kalla."Orang tua saya sudah lama meninggal." Jawab Xena.
"Maafkan aku." Ucap Kalla.
"tidak apa-apa nyonya."
"Kau tahu Xena, roti tepung ini juga mengingatkanku pada seseorang." Ujar kalla.
"Oh ya!! Siapa?."
"teman baikku, dulu dia bekerja di sini denganku." Jelas Kalla.
"Lalu sekarang?." Tanya Xena.
"Sekarang dia sudah tidak ada, dia sudah meninggalkan dunia ini."
"Maafkan saya nyonya." Ucap Xena
"Tidak apa. Kau tahu, dulu dia juga suka membuatkan aku roti tepung seperti ini. Dan rasa roti tepung buatan kamu ini sama dengan roti buatan temanku itu." Ujar Kalla.
"Mungkin itu cuma perasaan anda saja nyonya." Sahut Xena.
"Mungkin saja." Balas Kalla. "Kalau aku boleh tahu, kenapa kau bisa mengenal jenderal Conrad?." Tanya Kalla.
"Oh...itu. Waktu itu jenderal Conrad datang ke desa saya saat menangkap tuan Dimitri. Kebetulan rumah saya tidak jauh darisana. Saya lalu meminta tuan Conrad membawa saya karena saya ingin bekerja di istana." Bohong Xena.
"Ohh...lalu apa Audrey juga berasal dari desa yang sama denganmu?." Tanya Kalla lagi, membuat Xena bingung, jawaban apa yang harus dia berikan pada Kalla.
"Iya nyonya kami memang satu desa." Jawab Xena akhirnya.
Mereka berdua masih mengobrol sambil menikmati roti tepung itu, hingga tak terasa waktu sudah hampir menjelang tengah malam.
"Sebaiknya sekarang kau pergi tidur, besok kau harus bangun pagi kan."
"Iya nyonya." Sahut Xena, lalu melepaskan celemek yang masih menempel dibadannya.
Saat membuka celemek itu, kancing depan baju Xena tak sengaja terbuka dan Xena tidak menyadarinya.
"Kancing bajumu terbuka Xena." Ucap Kalla memberitahu.
Xena segera menunduk dan membenarkan kancing bajunya. Kalla masih disana memperhatikan Xena yang sedang mengancingkan bajunya. Tiba-tiba dia mendekat ke arah Xena, karena ada sesuatu yang mencuri perhatiannya. Kalung yang dipakai Xena, iya dia tertarik melihat kalung itu.
"Kalungmu bagus sekali Xena." Ucap Kalla.
"Terima kasih nyonya." Ucap Xena.
"Apa aku boleh melihatnya?. Sebentar saja." Tanya Kalla.
Xena sebenarnya tidak mau menunjukkan kalung itu, dia takut Kalla ingin merebutnya, tapi dia juga tidak bisa menolaknya.
"Kenapa nyonya ingin melihatnya?." Tanya Xena dengan nada curiga.
"Kau jangan takut, aku hanya ingin melihatnya saja." Jawab Kalla. Dengan terpaksa Xena pun menunjukkanya.
Kalla memegang dan memperhatikan kalung itu dengan seksama, sepertinya dia sedang meyakinkan sesuatu. "Dari mana kau mendapatkan kalung ini?." Tanyanya
"ibumu?." Ucap Kalla dengan wajah terkejut
" Iya nyonya." Sahut Xena
"Xena, apa kau mengenal Adriana?." Tanya Kalla, dan kali ini Xena yang terkejut.
Apa jangan-jangan nyonya Kalla mengenal ibu?. Tanya Xena dalam hati.
"Jawab aku Xena. Apa kau mengenal Adriana?. Apa kau ....... Ya Tuhan." Kalla menutup mulutnya saat dia menyadari sesuatu. Dia baru menyadari, tadi Xena mengatakan kalau kalung itu adalah peninggalan ibunya.
"Xena...apa kau ini putri Adriana?." Tanya Kalla, membuat Xena kembali terkejut mendengar pertanyaan Kalla.
"Saya ......saya." Xena bingung harus menjawab apa.
"Kau putri kandungnya kan?. Matamu sama persis dengan mata Adriana. Iya benar. Ya Tuhan....kenapa aku baru menyadari kalau wajah kalian berdua sangat mirip." Ujar Kalla.
"Nyonya, saya ...."
"Kau tidak perlu ragu untuk mengakuinya Xena. Kau tidak perlu ragu mengakui kalau kau adalah putri Adriana dan jenderal Corrado. Kau tidak perlu takut, Adriana adalah sahabat baikku di istana ini. Dia teman baikku yang aku ceritakan padamu tadi." Jelas Kalla.
"Apa??. Gumam Xena.
"Iya Xena. Aku dan ibumu bersahabat baik sejak kami berdua masuk ke istana ini. Hanya saja dia lebih beruntung dariku karena dinikahi jenderal besar Corrado. Bagaimana kabar kakek dan nenekmu?. Dan kenapa namamu Xena, seingatku putri Adriana bernama Clarisa dan Elvira. Aku yakin namamu bukan Xena Siapa sebenarnya namamu?. Elvira atau Clarisa?."
"Saya Elvira nyonya." Jawab Xena.
"Jangan panggil aku nyonya. Kau putri sahabat baikku, jadi kau juga adalah putriku. Jadi kau Elvira, anak kedua Adriana. Lalu dimana kakakmu Clarisa?." Tanya Kalla.
"Dia ....dia juga ada di istana ini." Jawab Xena.
"Apa?." Seru Kalla kaget.
Xena lalu mengatakan kalau Clarisa atau kakaknya itu adalah Audrey. Kalla sangat terkejut saat itu. Tapi dia memang mengakui sejak awal dia sudah melihat kemiripan Xena dengan Audrey. Hanya saja dia tidak habis pikir, kenapa sifat Audrey sangat berbeda dengan Xena juga almarhum Adriana ibunya
"Raja harus mengetahui hal ini. Aku akan memberitahunya."
"Tidak nyonya Kalla, jangan lakukan itu." Ujar Xena.
"Kenapa?." Tanya Kalla heran.
Xena lalu menceritakan semuanya pada Kalla kalau selama ini kakek dan neneknya sengaja menyembunyikan identitas mereka, karena takut musuh-musuh ayahnya masih mencari dan menginginkan kematian mereka. Kalla mengerti. Dia juga tahu kematian Adriana adalah perbuatan musuh jenderal Hector Corrado.
"Saya mohon nyonya rahasiakan semua ini dari siapapun. Saya harap anda tetap bersikap seperti biasa. Anggap saja saya dan Audrey seperti pelayan lainnya. Dan anda jangan mengatakan apapun pada Audrey. Jangan sampai dia tahu kalau anda mengetahui semua ini."Pinta Xena.
"Baiklah Xena, aku mengerti. Tapi aku minta padamu jangan panggil aku nyonya, kalau kita sedang berdua seperti sekarang."
"Lalu saya harus memanggil anda apa?." Tanya Xena.
"Kau bisa memanggilku ibu, bibi atau apapun itu, yang penting jangan panggil aku nyonya." Jawab Kalla.
"Baiklah Bi." Ucap Xena. Kalla lalu memeluk Xena penuh haru. Dia tidak percaya bisa bertemu dengan anak sahabat baiknya. Mereka berdua lalu keluar dari dapur istana dan kembali ke kamar masing-masing.
...
Xena tidak menyangka kalau ternyata Kalla adalah sahabat baik almarhum ibunya. Dibalik sikapnya yang tegas, ternyata Kalla juga mempunyai sisi lembut sebagaimana seorang ibu yang menyanyangi anaknya. Xena bisa merasakan itu saat Kalla memeluknya tadi.
Tak berbeda dengan Xena, Kalla juga tidak menyangka kalau Xena dan Audrey ternyata adalah anak sahabat baiknya. "Jadi waktu itu Audrey tidak mengada-ngada. Dia mengatakan yang sebenarnya. Pantas saja waktu itu dia bersikeras mengatakan kalau dia adalah anak jenderal Corrado. Kalau Xena tidak ingin identitasnya diketahui, lalu kenapa Audrey malah sengaja mengatakannya?. Dan kenapa Audrey dan Xena tidak mau orang-orang tahu kalau mereka adalah kakak adik?. Memang sedikit aneh." Gumam Kalla."
.
.
Berambung☘️☘️☘️