Xena

Xena
101. Kabar Yani di penjara



Xena tengah duduk di balkon kamarnya sambil menikmati segelas coklat panas. Ray masih sibuk syuting di luar kota, jadi masih belum mengabarinya lagi. Terakhir Ray mengirim kabar sore tadi, ia mengatakan jika ia akan melakukan adegan take lagi.


TING!


Sebuah pesan masuk.


Xena membuka pesan itu yang tidak lain dari sahabatnya, Olive.


💬Xe, kamu lagi sibuk nggak? Aku mau telepon -Olive


Xena tidak membalasnya, ia langsung menekan tanda telepon di sana dan memulai percakapan di telepon setelahnya


"Hallo Xe, gercep amat langsung telepon" ucap Olive terkekeh


"Hallo Liv, ha-ha-ha iya aku lagi santai di rumah. Ada apa? Apa ada barang kamu ketinggalan?" tanya Xena


"Ah tidak, aku tidak meninggalkan barang apapun, aku hanya ingin mengatakan sesuatu" ucap Olive


"Tentang apa?" tanya Xena.


"Aku minta maaf sebelumnya, aku mengatakan pada kak Vano mengenai rencana pertunangan kamu dengan Ray" ucap Olive merasa tidak enak, tapi dia memilih untuk berkata jujur


"Ah itu" ucap Xena, sebenarnya ia sudah menebaknya, jadi ia tidak kaget.


"Apa kamu marah?" tanya Olive dengan nada khawatir jika sahabatnya itu marah padanya.


"Nggak, aku nggak mungkin marah padamu hanya karena hal itu, Liv" ucap Xena


"Syukurkah" ucap Olive lega saat mendengarnya.


"Tapi Xe ada yang ingin aku sampein dari kak Vano" ucap Olive


"Apa?" tanya Xena


"Kak Vano ingin bertemu denganmu. Kamu tahu, dia sangat terpukul saat mendengar kamu akan bertunangan. Aku memang kejam mengatakan itu padanya, tapi aku harus melakukannya agar kak Vano segera bangkit. Bagaimana pun dia kakaku, aku ingin dia move on dan melanjutkan hidupnya seperti dulu" ucap Olive


Mendengar tidak ada jawaban dari Xena, Olive menanyakannya lagi.


"Bagaimana Xe, kamu mau ketemu dengan kak Vano?" tanya Olive


"Memang kenapa kak Vano mau ketemu aku Liv, bukannya hal itu membuat dia semakin sakit saat melihat ku?" tanya Xena menggigit bibirnya.


Sejujurnya ia merasa bersalah membuat Vano sakit hati karenanya, tapi perasaannya pada Vano sudah memudar. Hari Xena sekarang sudah berpindah ke sosok bucin yang menghiasi hidupnya sekarang, yang tak lain adalah Ray.


"Kak Vano hanya bilang jika masih ada yang mengganjal di hatinya saat ini. Dia ingin tahu alasan sebenarnya kamu memutuskan untuk tidak lagi mencintainya secara tiba-tiba. Dia akan mengikhlaskan kamu jika memang kamu tidak lagi mencintainya" ucap Olive


"Haahhh... Baiklah ayo bertemu. Aku ingin meluruskan semuanya agar tidak ada lagi rasa mengganjal di hati kak Vano. Sebaiknya kamu ikut Liv, aku juga akan mengatakannya padamu" ucap Xena memutuskan untuk menceritakan alasan mengapa ia menyerah begitu saja.


"Oke, kapan memangnya? Biar aku beri tahu kak Vano nantinya" ucap Olive


"Besok lusa sore di XR Restaurant pusat ibukota, sekalian makan malam di sana. Aku besok sibuk mengurus tugas kuliah jadi tidak bisa bertemu" ucap Xena


Setelah sambungan telepon mati, Xena menatap ponselnya dan menghela nafas. Untuk mengalihkan suasana yang tiba-tiba terasa berat, Xena mengambil foto dirinya dan mengirimnya ke Ray.


Ia mengirim pesan kalau dia ingin di peluk dan mengirim foto nya yang tengah cemberut.


Setelahnya ia naik ke atas tempat tidur, sejam kemudian saat ia hampir terlelap ponselnya berbunyi. Nama Ray terpampang di sana melakukan panggilan Video.


"Hallo" ucap Xena serak


"Hallo sayang, maaf aku baru selesai kerja. Kamu udah mau tidur" tanya Ray merasa gemas melihat wajah kekasihnya menahan kantuk.


"Hmm, kamu baru selesai?" tanya Xena melihat jam di ponselnya, sudah jam 10 malam.


"Iya sayang aku baru selesai, kamu tidur aja kalau ngantuk tapi jangan di matikan teleponnya" ucap Ray


"Kamu juga istirahat, ini udah malam. Jangan lupa minum Vitamin jangan sampai sakit, Oke" sahut Xena mengingatkan Ray untuk menjaga kesehatan nya.


"Iya sayang, makasih udah ngingetin aku. Aku merindukanmu, kalau dekat aku sudah pasti memelukmu" ucap Ray tersenyum hangat.


Rasa lelah bekerja dari pagi langsung terangkat mendengar perhatian dari kekasih tercintanya. Ia juga merasa rindu ingin memeluk kekasihnya itu.


Ia ingin sekali segera mengakhiri kontraknya dan juga fokus untuk bekerja di perusahaan dan menghabiskan waktu dengan Xena. Namun ia tidak bisa membatalkan kotrak dan hanya sebentar lagi sebelum kontrak nya usai.


"Hmm aku juga merindukanmu, aku tidur duluan" ucap Xena yang sudah tidak kuat menahan kantuknya.


"Iya sayang tapi jangan di matikan ya, biar aku bisa melihat wajahmu" ucap Ray.


Tak lama Xena sudah tidur terlelap dengan nyenyaknya. Ray hanya tersenyum lembut melihat begitu pulasnya Xena tidur.


Ray tidak mengakhiri panggilan teleponnya, sampai ia pulang ke hotel. Ia meletakan ponselnya sebentar di kasur karena ia akan mandi, lalu ia tidur di temani wajah Xena yang juga tertidur dengan kamera menghadap ke wajahnya sampai pagi menjelang.


....


Di tempat lain, tepatnya di penjara khusus wanita. Yani terus menerus berteriak, membuat penghuni lapas lain merasa terganggu dan kesal di buatnya.


Saat ia di tegur oleh penghuni lain, Yani malah membentaknya balik dengan sarkas. Membuat penghuni lain kesal dan langsung menerjangnya, Hingga Yani jatuh tertelungkup dan susah untuk bangun.


Penghuni lain menghujaninya dengan pukulan dan tendangan. Untungnya petugas melihatnya dan mencegahnya, jadi Yani tidak mengalami luka yang parah karenanya, hanya ada sedikit memar di tubuhnya.


"Kenapa kamu terlambat datang! Kalau tidak aku bisa mati di pukuli mereka! Dasar tidak berguna" teriak Yani pada petugas polisi wanita yang berjaga di lapas itu.


"Masih berani berteriak kamu? Kamu pikir kamu siapa? Kamu ini tidak tahu tempat dan tidak tahu tata Krama sama sekali, ini lapas bukan istana di rumahmu yang kamu bebas berteriak kapan saja" ucap petugas merasa kesal karena di teriaki.


"Dasar wanita tidak tahu diri!! Bukannya berterima kasih malah berteriak!! Masih muda udah pembunuh, pecandu, pe**cur, cacat lagi. Tapi masih mengira dirinya penguasa saat ia sudah tidak punya apa-apa lagi untuk di banggakan. Kalau saja bukan karena kamu akan menjalani sidang sebentar lagi, akan aku biarkan penghuni lain menghajarmu sampai kamu tidak bisa bicara seenaknya lagi!!!" ucap petugas wanita itu sarkas.


"Si*lan kau!!! Beraninya kamu mengejekku! Kamu tidak tahu siapa aku? Ak.... hmmmm...hmmmm" ucap Yani yang mulut nya sudah di pasangi lakban dan kedua tangannya di borgol di belakang.


"Nah kaya gini kan enak nih telinga, adem rasanya. Sudah lebih baik kamu tidur. Ini sudah malam" ucap Petugas wanita meninggalkan Yani yang meronta tidak bisa apa-apa.


...••••••...