Xena

Xena
118. Bertemu Arsy



Vano baru saja pulang dari meeting, Randi sebagai asistennya mengendarai mobil milik atasannya itu menuju ke Mansion Dirgantara.


Namun saat melewati jalan alternatif karena ingin menghindari macet, mata Vano melihat sesuatu yang membuatnya terkejut. Ia melihat Arsy di sana bersama seorang gadis kecil dan sekelompok laki-laki sekitar 5 orang.


"Ran hentikan mobilnya!" ucap Vano spontan.


Randi yang terkejut mengerem secara mendadak, untung tidak terjadi benturan dengan mobil yang ada di belakang. Namun klakson mobil di belakang sangat nyaring, mengumpat Randi yang rem mendadak.


Vano segera bergegas keluar dari mobil membuat Randi terkejut. Namun ia tidak bisa turun menyusul atasannya itu, karena bunyi klakson yang terus menerus, Randi menjalankan mobilnya mencari lahan luas untuk memarkirkan mobilnya.


Vano terlihat cemas saat melihat Arsy tengah berkelahi dengan lima laki-laki itu. Tak menunggu lama ia segera menolong Arsy dengan memukul salah satu dari pemuda itu.


Arsy yang melihat Vano datang menolongnya terkejut, namun ia memilih fokus untuk melawan orang di depannya lebih dulu. Meskipun sembari melindungi gadis kecil, Arsy masih piawai berkelahi dan berhasil melumpuhkan tiga orang. Sedangkan dua orang lainnya di kalahkan oleh Vano.


Kelima laki-laki itu kabur saat mereka sudah kalah. Vano langsung mendekati Arsy dengan tatapan khawatir.


"Apa kamu tidak apa-apa? Apa ada yang terluka?" tanya Vano menangkup kedua pipi Arsy.


Arsy terlihat tertegun melihat Vano berinisiatif menolong dan juga menanyakan keadaannya.


Melihat Arsy diam membuat Vano merasa lebih khawatir lagi.


"Hei, kenapa kamu diam? Apa ada yang sakit? Katakan padaku, jangan membuatku khawatir!" ucap Vano.


Arsy melihat sorot mata Vano yang mengkhawatirkan dirinya, ia sedikit linglung sebentar, namun ia segera sadar dan mundur selangkah setelahnya.


"Aku tidak apa-apa" jawab Arsy.


"Syukulah, kamu membuatku takut. Kenapa kamu berkelahi dengan banyak orang? Aku tahu kamu pandai berkelahi, tapi bagaimana jika orang-orang itu membawa senjata? Bagaimana kalau kamu terluka? Apa kam..." ucap Vano. Ucapannya berhenti saat gadis kecil itu menarik celana bahannya dan mendongak menatapnya yang sangat tinggi.


"Kakak tampan, jangan memarahi pacarmu. Kakak cantik datang untuk menolongku, aku di bawa orang-orang jahat itu. Maafkan aku membuat kalian bertengkar, jangan putus kalau tidak aku akan merasa sangat bersalah jika kalian putus" ucap gadis kecil yang mungkin berusia 8 tahun-an itu, dengan air mata yang berlinang.


Vano dan Arsy terkejut mendengar ucapan bocah itu, kenapa di usianya yang masih sangat kecil. Ia bisa memikirkan hal tentang pacaran? Apakah anak ini korban sinetron yang sering di tonton oleh orang tuanya?


"Adik kecil kamu salah paham, kami tidak pacaran" ucap Arsy dengan lembut.


"Huaaaaa..... Kalian putus gara-gara aku" tangis gadis itu pecah saat mendengar ucapan Arsy.


"Eh bukan itu maksud kakak" ucap Arsy bingung.


Vano terlihat tersenyum tipis melihat betapa paniknya Arsy saat melihat gadis kecil itu menangis, karena mengira mereka putus karenanya.


Gadis itu tidak berhenti menangis membuat Arsy bingung, tiba-tiba tangan kekar Vano melingkar di pinggangnya dan menariknya untuk mendekat. Arsy sangat terkejut di buatnya, ia ingin melepaskan pelukan itu tapi Vano memeluknya dengan erat.


"Gadis kecil, kami tidak putus. Lihat kami begitu dekat, jadi berhentilah menangis" ucap Vano


Gadis itu berhenti menangis dan melihat ke atas ke arah Vano yang tengah memeluk Arsy. Arsy tersenyum kikuk karena di tatap gadis kecil itu.


"Benarkah?" tanya gadis itu masih terisak


"Tentu kami tidak akan putus, benarkan sayang?" ucap Vano menoleh ke arah Arsy dengan senyum manis di wajahnya.


Arsy terkesima melihat betapa tampannya Vano, dan jarak mereka juga sangat dekat. Arsy mengangguk tanpa sadar, ia kembali terpesona. Ia tersadar saat Vano mengatakan sesuatu pada gadis kecil itu.


"Lily" ucap gadis itu sesenggukan.


"Kenapa orang-orang itu ingin membawamu?" tanya Vano


"Aku nggak tahu, aku di bawa saat sedang bermain. Aku dengar mereka ingin menculikku dan menjualku. Kakak cantik datang dan menolong ku. Aku takut, aku mau pulang" ucap Lily menangis lagi


"Rumahmu di mana? Biar kakak yang mengantar kamu pulang, jangan menangis oke!" ucap Vano.


"Rumahku di mana ya?" ucap Lily berhenti menangis dan ia terlihat bingung


Arsy yang sudah berhasil melepaskan pelukan Vano berjongkok dan menanyakan pada Lily dengan lembut.


"Kamu bermain di mana saat mereka membawamu?" tanya Arsy.


"Saat cari makan di bawah sama encus" ucap Lily


"Kamu ingat tinggal di rumah seperti apa?" tanya Arsy dengan pelan.


"Aku tinggal di rumah yang tinggi banget, ada kolam renang dan patung lumba kembar" ucap Lily menceritakan tempat tinggalnya.


Mendengar ucapan Lily, Arsy dan Vano tahu jika yang di maksud adalah apartemen Dolphin. Itu tidak jauh dari sini hanya sekitar 2 kilometer.


Melihat pakaian Lily, yang termasuk pakaian mahal. Arsy dan Vano tidak ragu jika Lily tinggal di apartemen itu.


"Kalau gitu, kakak antar pulang yuk" ucap Arsy. Gadis itu mengangguk.


"Ar mending kita antar pakai mobil saja, bahaya naik motor, apalagi kamu cuma ada helm satu. Bagaimana kalau kena tilang" ucap Vano.


Arsy menimbang-nimbang ucapan Vano, saat ia ingin mengatakan bagaimana dengan motornya. Tiba-tiba terdengar suara Randi yang memanggil Vano.


"Tuan muda, kenapa anda lari? Apa yang terjadi?" tanya Randi terengah-engah.


"Ah kebetulan ada kamu, Ran. Tolong kamu bawa motor Arsy ke mansion. Biar mobil aku yang bawa, aku harus ke tempat lain dulu" ucap Vano, melempar kunci motor Arsy dan mengambil kunci motornya.


"Kok ke mansion? Eh, eh tunggu..." ucap Arsy yang terkejut karena tangannya di tarik oleh Vano menuju mobil.


Sedangkan Lily hanya diam, ia sekarang ikut tertarik karena tangannya di gandeng Arsy.


Setelah 7 menit kemudian Keduanya pun sampai di apartemen Dolphin, jalanan macet hingga membuat mereka menghabiskan 7 menit hanya untuk sampai ke sana.


"Lily, kamu tinggal di sini?" tanya Arsy.


"Iya Kak, rumahku ada di atas!" ucap Lily dengan wajah berbinar dan mengangguk.


"Kalau gitu ayo kita turun, kita ke penjaga dulu ya, karena kakak tidak punya kartu akses masuk" ucap Vano yang di angguki oleh Lily.


Mereka kemudian menghampiri security yang berjaga di sana. Vano menjelaskan pada security jika ia menemukan Lily. Vano meminta tim keamanan mencari tahu keluarga Lily.


Security mempermainakan mereka duduk dan menunggu di ruang tunggu sampai orang tua Lily datang.


...••••••...