
Hubungan Xena dan Aiden semakin dekat saja. Kebersamaan mereka membuat Xena merasakan sesuatu dalam hatinya. Apalagi sikap baik Aiden dan wajahnya yang terlihat semakin tampan dan menawan, membuat Xena perlahan mulai jatuh cinta kepadanya.
Siang itu Aiden dan Xena kembali memasuki area hutan, atau lebih tepatnya masuk ke tempat indah yang mereka temukan dibawah danau. Seperti biasanya, untuk sampai ke tempat itu mereka harus menyelami danau terlebih dahulu.
Saat mereka sampai di pinggir danau, Xena dibuat tertegun dengan keindahan yang lihat di depan matanya. Air danau itu berwarna biru bening, berkilau indah seperti kristal. Selain indah, air danau itu juga terasa begitu sejuk. Xena menyentuh permukaan air dengan sebelah tangannya, membuatnya terdiam beberapa saat sampai suara Aiden terdengar." Xena!!. Panggilnya seraya menepuk pelan bahu Xena.
Mereka berdua kembali menyelami danau itu, dan kali ini Xena bisa melihat dengan jelas rantai besar yang pernah dia lihat sebelumnya. Jika sebelumnya dia hanya melihat rantai besar dari dua sisi danau, maka kali ini dia melihat rantai itu dari empat sisi danau seperti membentuk tanda silang. Samar-samar, Xena melihat bentuk atau wujud, entah itu benda atau sesuatu yang dia sendiri tidak tahu apa. Xena berpikir mungkin rantai itu memang sengaja dipakai untuk mengikat sesuatu yang dilihatnya.
Menyadari Xena tidak ada disampingnya, Aiden menoleh ke belakang. Dia berenang menghampiri dan menarik tangan Xena kembali menuju pintu.
Singkat cerita keduanya sudah berada di tempat indah itu, dan saat ini mereka menuju lorong panjang yang berada dibalik bongkahan batu besar. Lorong dengan lebar kurang lebih satu meter itu begitu gelap, dingin dan juga sesak.
"Tempat ini sangat lembab dan sangat pengap. Aku yakin sekali, ini pasti jalan rahasia yang tidak pernah lagi digunakan." Ujar Xena sambil terus melangkah. Sedangkan Aiden berdiri ditempatnya, meraba-raba dinding lorong itu. Ada ukiran di dinding itu yang menarik perhatiannya. Walau dia tidak bisa melihatnya dengan jelas, tapi Aiden yakin ukiran yang saat ini disentuhnya itu sama dengan ukiran yang ada di dinding kerajaanya.
"Aiden!! Panggil Xena seraya membalikan badannya. Tapi Aiden tidak menyahuti.
"Aiden!! Dimana kamu?." Panggil Xena seraya berjalan menuju pintu batu, berniat keluar dari lorong itu. Namun tiba-tiba tangannya ditarik seseorang dari dalam dinding itu, membuatnya tersentak kaget.
"Siapa kau?." Hardiknya seraya berusaha melepaskan tangannya.
"Tenang Xena. Ini aku, Aiden!!
"Aiden?."
"Ya, ini aku!!
"Kau!! Apa kau sengaja ingin mengerjaiku?."
"Tidak Xena. Kamu jangan salah paham."
Aiden menjelaskan kalau dirinya tak sengaja menekan dinding lorong yang ternyata dinding itu adalah sebuah pintu rahasia. Ada lorong lain dibalik pintu tersebut.
Karena penasaran, mereka berdua berjalan menyusuri lorong itu. Sepertinya aku pernah melewati jalan ini. Kata keduanya dalam hati masing-masing. Semakin jauh melangkah, keduanya semakin yakin kalau mereka memang pernah melewati jalan itu.
Tak lama kemudian, mereka menemukan sebuah celah kecil yang ternyata adalah pintu keluar dari jalan itu, dan pintu itu menuju ke arah bunker, namun dari arah berbeda, atau arah belakang bungker. Xena terdiam sesaat, karena tiba-tiba dia ingat kejadian itu. Kejadian dimana ayahnya tewas ditangan musuh kerajaan Zephyra saat melindungi sang pangeran kerajaan. Ya benar, dia ingat semuanya. Tempat ini adalah tempat dimana ayahnya terbunuh, saat mereka melarikan diri dari istana beberapa tahun yang lalu.
Xena terpaku disana. Air matanya menetes tanpa dia bisa menahannya. Bayangan ayahnya terbaring bersimbah darah saat meregang nyawa, masih terekam jelas dalam ingatan Xena. Rasa sakit, marah dan benci kembali dia rasakan saat itu.
Sementara Aiden yang saat ini juga sedang mengingat sesuatu tentang tempat itu, menatap Xena lalu mendekatinya
" Ada apa Xena?. Kamu baik-baik saja kan?." Tanya Aiden seraya memegang kedua bahu.
"Kau yakin?." Tanya Aiden memastikan. Xena mengangguk.
"Aku......aku hanya teringat mendiang ayahku. Aku sangat merindukannya. Apa kau tahu, ayahku meninggal di tempat ini." Jawab Xena seraya mengusap air matanya, membuat Aiden sedikit tersentak.
"Benarkah?."Tanya Aiden.
"Iya...benar. Mereka membunuh ayahku di tempat ini. Dan semua itu karena....." Xena menggantung kalimatnya.
"Karena?." Tanya Aiden.
Xena menghela nafas. " Sudahlah....lupakan saja." Ucap Xena.
Xena lalu melangkahkan kaki menuju tebing yang ada beberapa meter didepannya. Dia ingat kakek Abraham pernah mengatakan kalau ada pintu masuk lain menuju bungker, dan Xena rasa, pintu itu ada di dekat tebing. Saat dirinya mendekati tebing itu, dia melihat batu bertanda ukiran khusus yang hanya dia, dan keluarganya yang tahu, karena tanda itu dibuat khusus oleh ayahnya sendiri mendiang Hector Coraddo. Tanda itu adalah tanda yang sama yang Aiden lihat tadi di dalam dinding lorong.
Aiden menatap Xena, saat Xena meletakan tangannya di batu itu. Dan tak lama kemudian batu itu bergeser seperti sebuah pintu. Aiden tertegun melihatnya. Dia semakin yakin kalau Xena dan keluarganya memang bukan orang sembarangan. Mereka pasti ada hubungannya dengan kerajaan Zephyra. Aiden sangat yakin akan hal itu.
Xena mengajak Aiden masuk, dan Aiden pun menurutinya. Pintu itu ternyata memang menuju bungker. Aiden terus memikirkan tentang Xena dan semua kejadian yang pernah dia lihat selama mengenalnya, juga tempat tadi, tempat yang menurut Xena adalah tempat dimana ayahnya meninggal.
Aiden lantas menghubungkan semua itu dengan kejadian yang baru saja dia ingat. Aiden ingat kalau dirinya memang pernah melewati lorong tadi bersama seorang jenderal kerajaan dan juga keluarga jenderal tersebut, saat ada musuh yang ingin menghabisi nyawanya. Dan dia baru menyadarinya, lorong yang dia lewati tadi adalah lorong yang dia lewati saat melarikan diri dari istana. Itu artinya lorong tersebut adalah jalan rahasia menuju istananya. Kalau tadi Aiden tidak menyentuh ukiran di dinding lorong, mungkin saat ini dia dan Xena sudah menuju ke istana.
Lorong tadi adalah jalan rahasia menuju istana. Ya Tuhan kenapa aku baru menyadarinya?. Dan apa jangan-jangan Xena .... Gumam Aiden dalam hati, saat dia pikir mungkin saja Xena adalah anak dari jenderal yang telah menyelamatkanya. Setelah Aiden mencoba mengingat-ngingat kejadian itu, samar-samar dia ingat kalau waktu itu selain dirinya, jenderal Coraddo, istrinya ada dua orang gadis kecil yang ikut berlari bersama mereka. Apa mungkin mereka Xena dan Audrey?. Tanyanya dalam hati.
Aiden memutar memori dikepalanya, menghubungkan semua kejadian yang selama ini dia lewati bersama Xena. Bungker ini, cangkir emas berlambang kerajaannya, ilmu beladiri dan memanah yang dikuasai Xena, jalan rahasia, ukiran di dinding lorong dan di pintu tebing tadi, juga cerita Xena tentang ayahnya yang meninggal di tempat itu, membuat keyakinan Aiden semakin kuat. Xena memang anak jenderal Corado yang mati karena menyelamatkannya beberapa tahun yang lalu.
Dan apa mungkin alasan Xena sangat membenciku dan kerajaan, itu karena kematian ayahnya?. Ya Tuhan!!.Apa mungkin Xena membenciku karena menganggap aku adalah orang yang menyebabkan ayahnya meninggal?. Tanya Aiden dalam hati. Langkahnya tiba-tiba terhenti, tapi tatapannya terkunci pada Xena yang berjalan di depannya.
Merasa diperhatikan, Xena membalikkan badannya. "Ada apa?. Kenapa berhenti dan menatapku seperti itu?." Tanya Xena.
"Aku hanya penasaran dengan ceritamu tadi. Aku juga heran kenapa kamu bisa tahu tempat ini. Maksudku jalan menuju tempat ini." Sahut Aiden.
"Bukankah tadi aku sudah mengatakannya. Di tempat itulah ayahku meninggal. Lagi pula aku memang sering datang kemari, jadi tentu saja aku tahu. Tapi aku benar-benar tidak tahu kalau ternyata ada jalan rahasia dibawah danau yang menuju ke tempat ini." Jawab Xena.
"Apa aku boleh tahu kenapa mereka membunuh ayahmu?." Tanya Aiden, membuat Xena refleks menatapnya.
.
.
Bersambung🍁🍁🍁