Xena

Xena
85.



Setelah mengantar Xena, Ray melajukan mobilnya ke sebuah Villa di daerah selatan. Melihat yang mengendarai mobil adalah Ray, penjaga membuka gerbang dan menunduk hormat.


Ray memarkirkan mobilnya sembarang dan melemparkan kuncinya kepada penjaga pintu di sana.


"Dia ada di sini?" tanya Ray


"Ada di dalam Tuan muda" ucap penjaga itu.


Ray langsung masuk, dan melihat pemandangan yang membuatnya jijik. Sepasang pria dan wanita sedang bercumbu di atas sofa, tanpa menyadari kehadirannya.


TAK!!!


Ray melempar kemoceng yang tergeletak di meja bar dan mengenai kepala pria itu.


"Awwwwsss Bangsat, siapa yang berani melempariku?" ucap pria itu berteriak marah.


"Itu aku!" ucap Ray sambil bersidekap.


Mendengar suara itu sontak pria itu menoleh dan terkejut. Ia langsung berdiri dan membenahi pakaiannya yang kusut. Sedangkan wanita yang tadi bercumbu dengannya menatap Ray dengan berbinar.


"Bos!" ucap pria itu dengan canggung.


"Kau sangat berani Tiger?" ucap Ray dingin


"Dan kau, turunkan pandangan matamu, kau tidak layak melihatku" ucap Ray jijik pada wanita itu


"Tuan, anda jangan marah-marah, nggak baik buat kesehatan. Mending kita lakuin hal yang enak saja" ucap wanita berpakaian ketat itu justru menghampiri Ray hendak bergelayut.


PLAK!!!


Sebelum wanita itu menyentuhnya dengan sangat keras Ray menampar wanita itu sampai sudut bibir dan hidungnya berdarah.


"Beraninya kau ingin menyentuhku!!! Tiger kau hanya diam saja? Atau aku tidak keberatan melakukan hal yang sama dengan apa yang di lakukan pacarku padamu. Dan adikmu akan mendapat bagiannya juga. Kau ingin mencobanya?" ucap Ray dengan dingin dan menatap tajam ke arah Tiger.


Mendengar itu Tiger membungkuk mohon maaf dan segera menyeret wanita tadi untuk keluar dan meminta orang di luar untuk mengurusnya.


"Urus wanita ini! Dia berani memandang bos dengan mesum dan ingin menyentuh bos. congkel kedua matanya dan patahkan kedua tangannya. Lalu berikan pada Zayn setelah setengah jam" ucap Tiger


"Baik tuan Tiger" ucap penjaga.


"Tidak tuan, Tidak!!!! Tolong ampuni aku, tuan! Aku tidak akan mengulangi hal itu lagi. Ampuuunn tuan, tolong maaafkan aku!!" teriak wanita itu.


Tiger langsung berbalik dan masuk ke dalam Villa lagi. Ia menghampiri Ray yang tengah duduk di sofa tunggal.


"Bos maafkan saya" ucap Tiger menunduk meminta maaf atas kejadian barusan.


"Kau tidak pernah berubah, apa jadinya kalau aku mengatakan pada pacarku. Kalau kamu masih suka bermain wanita. Kau tahu, pacarku tidak suka dengan orang yang suka mempermainkan wanita. Apalagi kamu pernah menyinggungnya" ucap Ray


Mendengar itu Tiger gemetar. Entah mengapa mendengar pacar bos-nya, ia merasa takut. Apalagi ia merasa jika bos wanita akan melakukan apa yang ia ucapkan. Apa jadinya jika adiknya nanti di Cincang. Oh, Tidak!


Tiger merasa bagian bawahnya ngilu lagi, mengingat itu.


"Tolong maafkan saya bos, saya tidak akan berbuat begitu lagi. Tadi wanita itu yang menggodaku, saya khilaf" ucap Tiger.


"Baiklah, karena aku baik hati dan sedang dalam suasana hati yang baik. Aku akan memaafkan kamu kali ini" ucap Ray


"Terimakasih bos" ucap Tiger lega mendengarnya.


"Tapi aku memiliki tugas untukmu" ucap Ray


"Lagi?? Sepertinya masalah bos tidak ada habis-habisnya setelah aku datang ke sini" ucap Tiger dalam hati.


"Saya siap Bos, kalau boleh tahu tugas tentang apa?" tanya Tiger.


"Cari tahu tentang wanita bernama Yani, Fotonya sudah aku kirim. Suruh anak buah kamu awasi dia, lalu buat ia merasakan rasanya di tabrak mobil. Buat kakinya cacat!" ucap Ray mengeram marah mengingat Yani ingin menyakiti wanitanya.


Xena sudah mengirim foto Yani pada Ray, jadi Ray mengirimnya pada Tiger setelahnya.


"Baik, apa ada tugas lain lagi Bos?" tanya Tiger.


"Sementara itu dulu. Aku tidak ingin semuanya di lakukan serapih mungkin dan tidak meninggalkan bukti apapun apa kau mengerti?" ucap Ray


"Mengerti bos" ucap Tiger


"Bos, apa kau tidak ingin minum dulu?" tanya Tiger.


"Tidak! Besok aku harus bangun pagi dan mengantar Xena ke kampus" ucap Ray lalu melanjutkan langkahnya.


"Ya Tuhan, Ternyata bos sangat bucin pada bos wanita" ucap Tiger.


Ketika mengingat Xena, ia seketika merinding. Tatapan tajam Xena dan juga ancamannya membuat tubuhnya gemetar.


"Apapun yang terjadi, aku tidak boleh memprovokasi bos wanita" gumam Tiger.


.....


Vano terus menatap ke arah adiknya yang sedang memainkan ponselnya. Beberapa saat yang lalu kedua orang tuanya pulang dan giliran ia yang berjaga di rumah sakit.


Sedari tadi ia menahan diri untuk menanyakan tentang Xena. Namun karena ada kedua orang tuanya, ia hanya bisa menahan keingintahuannya.


"Dek, jangan mainan ponsel terus" ucap Vano


"Apaan sih kak, aku lagi belanja online ini" ucap Olive


"Astaga, lagi sakit juga tetep keinget belanja online kamu Liv" ucap Vano menggelengkan kepalanya.


"Biarin ih, dari pada jenuh. Aku juga ingin beli sepatu dan sandal baru" ucap Olive cemberut.


"Ya, ya, terserah kamu deh. Tapi kakak mau tanya sesuatu boleh?" tanya Vano


"Tentang Xena? Ya ampun kak, ayo move on dong. Xena sudah punya Ray, biarkan dia bahagia dengan pilihannya" ucap Olive.


"Kakak nggak bisa lupain dia Liv, kakak cinta Xena. Kakak cemburu melihat dia dengan Ray" ucap Vano mengusap wajahnya


Olive hanya diam, ia ingin meneriaki kakaknya jika itu adalah kesalahannya sendiri. Kenapa tidak bertindak lebih cepat dulu lalu menyesal kemudian. Namun sebenarnya ia juga kasihan dengan kakaknya itu, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa.


"Apa yang harus kakak lakukan Liv? Cinta kakak makin bertumbuh besar, hati kakak nggak rela melihat Xena dengan orang lain" ucap Vano


"Aku nggak tahu harus berkomentar apa Kak" ucap Olive tidak tahu harus berkata apa lagi.


"Hah..." Vano menghela nafas panjang.


"Tadi kalian pergi kemana?" tanya Vano mengalihkan pembicaraannya


Mendengar itu Olive sedikit tegang, ia khawatir jika kakaknya tahu dia pergi ke psikiater.


"Ja-jalan-jalan doang. Ke taman belakang dan muter-muter. Abis aku bosen di kamar terus kak" ucap Olive.


"Apa kakimu masih sakit?" tanya Vano


"Hmm, tapi kata dokter besok aku sudah boleh belajar jalan pakai tongkat" ucap Olive


"Bagus, kamu harus cepet pulih" ucap Vano tulus.


"Makasih kak" ucap Olive tersenyum.


"Kamu tidur gih sudah malam, belanja online nya besok lagi aja" ucap Vano.


"Ya, boleh minta tolong ambilin air kak" ucap Olive.


Vano mengambil air putih dari atas meja. Olive juga mengambil obatnya dan ingin meminum obat itu. Namun di halangi oleh Vano.


"Obat apa itu Liv, perasaan kemarin nggak ada obat kaya gini" ucap Vano


"Oh, ini obat yang di kasih dokter sore tadi kak. Ini buat tulangnya cepat menyatu kak" ucap Olive sedikit gugup


"Yang bener?" tanya Vano curiga.


"Beneran kak. Kakak bisa tanyain ke Xena kalau nggak percaya" ucap Olive lagi.


"Ya sudah kamu minum obatnya, lalu tidur sudah malam" ucap Vano yang di angguki Olive.


...•••••...