Xena

Xena
91. Shopping.



Agra tidak lama di sana, ia pamit setelah beberapa mengobrol dengan Xena dan Ray. Ia juga mengharapkan kehadiran Ray Dan Xena di pernikahannya di kota B.


Xena tidak bisa janji untuk datang karena Ray sangat sibuk. Tapi ia akan usahakan datang meskipun hanya sendiri.


Ray kini tengah memeluk Xena di sofa tamu setelah mereka di tinggal berdua dalam ruangan. Xena hanya pasrah jika pacarnya itu selalu menempel padanya saat bertemu.


"Ini bunga untukku Ray? Ini isinya apa?" tanya Xena saat melihat Ray memberikan semua itu padanya.


"Kalau bukan buat kamu emang buat siapa lagi? Buka aja kalau kamu penasaran" ucap Ray


Xena membuka box di dalam paperbag yang di berikan Ray. Itu adalah sebuah kalung yang sangat indah, saat Xena hendak menolaknya. Ray memaksa untuk menerimanya, dia mengatakan jika semua yang ia miliki adalah milik Xena juga.


"Sayang, nanti malam aku ingin ngajak kamu ke mansion" ucap Ray


"Mansion?" tanya Xena terkejut


"Ya, mansion keluarga Octavio. Kakek ingin bertemu denganmu" ucap Ray


"Baiklah" ucap Xena, ia tidak enak jika menolak. Bagaimana pun ini undangan pertama kakek Reksa untuk datang ke kediaman Octavio.


"Benarkah?" ucap Ray senang saat Xena setuju.


"Iya, kalau begitu aku ingin belanja buat nanti malam. Apa kamu ikut?" ucap Xena


"Tentu, aku akan ikut kemanapun kamu pergi" ucap Ray antusias.


Xena tersenyum hangat, ia senang bisa jalan berdua dengan Ray seperti pasangan pada umumnya. Untungnya penggemar Ray bukan Fans fanatik yang suka melarang idola mereka berkencan. Justru mereka mendukung hubungan keduanya, jadi mereka tidak takut tampil bersama di depan umum seperti orang biasa pada umumnya.


"Ya sudah awas dulu, aku mau siap-siap" ucap Xena


"Oke" ucap Ray dengan patuh menunggu Xena bersiap untuk pergi.


....


Di sebuah cafe


Olive, Vano dan Arsy duduk bersama. Saat tahu Arsy tertarik dengan kakaknya, Olive setuju dan membantu keduanya untuk dekat. Meskipun agak susah meluluhkan Vano yang hatinya kini terpaut cinta dan rasa bersalah pada Xena. Tapi Olive tetap mencobanya, dan berharap Vano mau membuka hatinya untuk orang lain.


Vano di sini menghela nafas diam-diam, ia pikir yang makan bersama dia adalah adiknya dan Xena, tapi ternyata sahabatnya yang lain.


Saat Olive mengajaknya makan bersama di cafe, Vano menolak. Tapi setelah tahu Olive makan bersama sahabatnya, dia merengek ikut. Tapi ia kecewa saat tahu sahabat yang di maksud bukanlah Xena tapi Arsy.


"Kak kenalin ini sahabat Olive, namanya Arsy. Arsy ini kakakku, kak Vano" ucap Olive


"Hai kak, salam kenal, aku Arsy sahabat Olive" ucap Arsy mengulurkan tangannya.


"Ya, salam kenal" ucap Vano tidak menanggapi uluran tangan Arsy.


Arsy menarik kembali tangannya, ia tidak marah atau tersinggung hanya karena itu. Karena ia tahu jika kakak dari sahabatnya itu mencintai sahabatnya yang lain, yang juga pacar dari sepupunya.


"Kak, Arsy ini jago banget taekwondo loh, dulu sebelum aku kecelakaan. Arsy yang ajarin aku dan Xena beladiri. Dia juga mewakili kampus ikut kompetisi dan mendapatkan tempat pertama nasional tingkat putri" ucap Olive mengelu-elukan Arsy yang bagus-bagus.


Namun tanggapan Vano hanya 'Ooh' saja.


Sedikit kesal karena tingkah kakaknya, Olive mencubit pinggang kakaknya itu gemas.


"Awwwsss, sakit dek!" ucap Vano mengelus pinggangnya yang terasa panas.


"Yang sopan dong kak, dia itu sahabat aku. Masa bersikap kakak dingin gitu, aku nggak enak" ucap Olive berbisik


"Emang kakak harus apa? Teriak-teriak?" ucap Vano


"Kak, ih..." ucap Olive tidak tahu harus berbuat apalagi.


Arsy hanya tersenyum kecut, sepertinya cinta pertamanya akan gagal. Padahal ia baru kali ini tertarik pada laki-laki, tapi sudah patah sebelum bertumbuh. Tapi ia tidak marah atau menyesal.


Ia memang menyukai Vano dari pandangan pertama, tapi ia tipe wanita yang memiliki harga diri tinggi. Dia tidak akan merendahkan dirinya hanya untuk seorang laki-laki.


"Ar, maafin kakakku ya" ucap Olive tidak enak pada Arsy.


Olive dan Vano terkejut mendengar ucapan Arsy. Arsy memang blak-blakan, di banding berpura-pura tidak apa-apa, ia lebih suka mengeluarkan semua isi di kepalanya, baik orang yang mendengarnya suka atau tidak.


"Sepertinya aku harus pergi, ada latihan untuk turnamen" ucap Arsy


"Kok cepet banget?" ucap Olive kecewa.


"Ya, aku harus berlatih keras agar gelarku tidak berpindah tangan. Jangan lupa dukung aku nanti, dukungan kamu dan Xena berarti buat aku" ucap Arsy tersenyum ke arah Olive.


Ia sama sekali tidak melirik Vano, lagian mereka adalah dua orang asing seperti yang ia katakan tadi.


"Kalau gitu kita keluar bareng, lagian kita sudah selesai kok makannya" ucap Olive


Arsy tidak bersikeras, setelah mereka membayar makanan mereka. Ketiganya keluar dari Cafe.


Arsy langsung ke arah parkiran motor gedenya, ia melambaikan tangan ke Olive.


"Liv, aku duluan" ucap Arsy yang sudah memakai helmnya dan membunyikan klakson.


Vano terkejut jika cewek cantik dan tomboy itu mengendarai moge dengan sangat lihai. Bahkan ia tidak pamit padanya, padahal di awal ia menyapanya dengan baik dan lembut.


"Giliran orang nya pergi aja di pandangin sampe nggak Kelihatan" ucap Olive mencebikan bibirnya.


"Ngomong apa sih?" ucap Vano


"Ngomong ayam" ucap Olive kesal dia lalu diam tidak berbicara lagi.


Vano hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah adiknya itu. Lalu menjalankan mobilnya menuju rumah mereka.


....


Ray dan Xena saat ini sudah berada di mall, mereka berjalan sambil bergandengan tangan. Meskipun ia memakai masker, beberapa ada yang mengenali keduanya dan mengambil foto.


Keduanya masuk ke dalam toko baju, Xena memilih beberapa dan mencobanya. Saat Xena meminta pendapat Ray, ia selalu mengatakan


'Sayang kamu cantik dengan itu'


'Cantik'


'Apapun yang kamu kenakan cantik'


Hal itu membuat Xena kesal, karena Ray selalu memberikan pendapat yang sama.


"Yang bener dong Ray, jadi pilih yang mana?" ucap Xena


"Bagus semua yang, beli aja semuanya" ucap Ray


"Ih, aku tuh nanya pendapat. Kalau beli semua aku nggak akan nanya kamu, masa aku pake lima-limanya sekalian. Aku nggak jadi beli kalau gitu" ucap Xena kesal.


"Eh jangan sayang, masa nggak beli. Aku minta maaf, jangan marah ya. Tapi serius semuanya bagus di pake kamu. Ya udah gini deh, kamu pilih yang biru aja buat nanti malam" ucap Ray


"Jadi yang biru nih?" ucap Xena melirik ke arah Ray


"Iya sayang" ucap Ray tersenyum manis sambil memeluk pinggang Xena.


"Ray ini tempat umum" ucap Xena malu


"Cuma pegang doang yang" ucap Ray


Xena menghela nafas, dan memberikan dress warna biru pada pramuniaga.


"Mbak aku ambil yang biru" ucap Xena


Pramuniaga hanya mengangguk dan membungkus pakaian yang di inginkan Xena. Ray yang membayarnya karena dia memaksa. Xena menunggu sambil duduk sementara Ray yang membayar di kasir


Xena terkejut saat Ray kembali dengan beberapa kantong belanjaan. Dari lima pakaian yang di coba Xena, lima lima nya dia beli. Xena hanya menepuk jidadnya melihat itu. Dasar Bucin!


...•••••...