
Xena sudah bangun sejak subuh tadi, ia hanya tidur empat jam, tapi itu sudah cukup untuknya. Ia langsung bergegas mandi dan bersiap pergi ke restoran.
XR Restaurant buka jam tujuh pagi, namun karyawan akan datang jam 6 pagi untuk membersihkan dan juga menata restoran. Agar terlihat bersih dan menarik
Xena sudah sampai di restorannya sejak pukul 6 kurang 10, ia tetap berada di dalam mobilnya. Ia mengawasi setiap karyawan yang datang. Lalu ia melihat seorang gadis muda berusia 23 tahun yang bekerja sebagai pelayan, namanya Eti.
Eti adalah karyawan yang di suap oleh pihak Hotel Amartha untuk menyabotase Restoran miliknya.
Xena mengawasi Eti, dengan cara halus tanpa menimbulkan kecurigaan target dan karyawan lainnya. Xena mendapati Eti yang berada di loket karyawan, diam-diam mengantongi botol kaca kecil berwarna coklat dan plastik berisi kecoak mati di kantung celananya.
....
Pukul 7 pagi pelanggan sudah ramai datang untuk menikmati sarapan nikmat di XR Restaurant. Eti terlihat seperti karyawan pada umumnya, ia mencatat pesanan customer dan menyerahkan catatan itu ke bagian dapur.
Tak lama kemudian ia kembali ke bagian dapur untuk mengambil pesanan customer. Tapi ia tidak berjalan ke arah pelanggan, namun ia berbelok sedikit di sudut lorong antara dapur dan gudang penyimpanan stok makanan.
Ia terlihat menoleh ke kanan dan ke kiri memastikan sesuatu, setelah ia merasa cukup aman. Ia mengambil plastik berisi kecoak mati itu dan mencampurnya di dalam makanan. ia juga mencampur bubuk dari dalam botol kecil ke dalam minuman yang ada di nampan.
Saat ia hendak membawa makanannya, ia terkejut saat berbalik mendapati Xena dan juga Citra berdiri di sana bersama dengan seorang security.
Tubuh Eti terlihat bergetar namun ia berusaha untuk bersikap tenang. Karena ia mengira Citra hanya sedang mengontrol keadaan resto seperti biasanya.
"Bos, Bu manager" sapanya dengan gugup.
"Sedang apa kamu di sini?" tanya Citra menelisik raut wajah Eti yang gugup.
"Ah, tadi kaki saya di gigit semut, jadi datang ke sini untuk menaruh makanan sebentar dan mengambil semut yang menggangguku bekerja" ucapnya
"Ah begitu?" ucap Citra seolah percaya.
"Iya Bu manager" ucap Eti tersenyum dan menghela nafas lega saat ia pikir orang di depannya percaya dengan alasannya.
Namun tiba-tiba ia terkejut saat Citra menyuruh security untuk menangkapnya.
"Tangkap dia pak!" ucap Citra pada security.
"Bu, ada apa ini? Apa salah saya? Kenapa ibu meminta security menangkapku?" tanya Eti berteriak dan memberontak.
Hal itu membuat karyawan yang tak jauh dari sana mendengar teriakan itu, mereka mendekat dan melihat apa yang terjadi. Mereka melihat Eti di tangkap security lalu menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi.
"Salah kamu apa?" ucap Citra dengan marah.
Dengan kondisi Eti yang di tangkap dan kedua tangannya di tahan security. Citra menggeledah kantong celana milik Eti yang membuat Eti keringat dingin. Ia menyadari jika aksinya sudah ketahuan.
"Lalu kamu bisa jelaskan apa maksudmu dengan ini hah???" teriak Citra. memperlihatkan bungkusan berisi kecoak dan juga botol kecil.
"It...itu... itu saya menangkap kecoak untuk saya buang dan botol itu obat saya bu" ucap Eti masih berusaha mengelak.
"Oh benarkah? Lalu kenapa ada kecoak di makanan untuk pelanggan?" tanya Citra menunjuk makanan di samping Eti.
"S-sa-saya ti-tidak tahu bu" ucap Eti dengan gemetar.
Eti langsung duduk berlutut dan memohon maaf, karena ia tidak ingin meminum obat yang ternyata racun itu. Meskipun racun itu dosisnya rendah, tetap saja namanya racun berbahaya.
"Maafkan saya nona, Bu manager. Sa-saya mengaku salah" ucap Eti menangis.
"Oh jadi kamu mengaku sekarang? Kalau begitu kamu katakan siapa yang menyuruhmu menyabotase makanan di resto?" tanya Citra dengan marah.
Eti hanya diam tidak berani menjawab. Semua orang yang mendengar terkejut, mereka tidak menyangka jika Eti berani berbuat hal jahat di tempat kerjanya sendiri.
Jika restoran di tutup, mereka juga akan kehilangan pekerjaan. Mereka menatap Eti dengan rasa benci yang kuat.
"Sudahlah, bawa dia ke kantor polisi!" ucap Xena
"Ti-tidak, saya mohon jangan bawa saya ke polisi, jangan penjarakan saya!" ucap Eti memohon.
"Kamu tidak memiliki pilihan, itu akibat dari tindakan yang kamu lakukan" ucap Xena.
"Nona tolong maafkan aku, aku hanya di suruh oleh pemilik Hotel Amartha, untuk menyabotase Restoran. Saya membutuhkan uang untuk memeriksakan ibu saya yang sedang sakit, jadi saya terpaksa menerima uang darinya" ucap Eti dengan menangis.
"Jangan kira aku bodoh, hingga tidak menggali informasi tentang kamu. Aku tahu kamu tidak memiliki orang tua, kamu tinggal bersama dengan keluarga satu-satunya yaitu kakekmu sekarang!" ucap Xena bagaikan petir yang menyambar di telinga Eti karena kebohongannya terbongkar.
"Anda tidak bisa melaporkanku, anda tidak memiliki bukti dan juga ada pihak hotel Amartha yang melindungiku, kamu tidak bisa memenjarakan aku!" ucap Eti tidak terima.
"Oh seperti itu kah? Sayangnya kami memiliki bukti dan juga orang yang telah melindungimu bahkan tidak bisa melindungi dirinya sendiri. Baca ini!!" Xena melempar koran harian pagi ini.
Di sana tertulis jika pengusaha dan pemilik Hotel Amartha di tangkap polisi karena kasus penipuan, pencucian uang dan melakukan trik kotor dan hotelnya saat ini sudah bangkrut dan di akuisisi oleh pengusaha misterius.
"Ti-tidak mungkin!" ucap Eti tidak percaya dengan yang ia lihat.
"Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Bawa dia ke kantor polisi terdekat. Biarkan dia menerima hukuman sesuai dengan apa yang sudah ia perbuat" ucap Xena
"Tidak! Jangan tangkap aku, aku minta maaf nona, nonaaaa" teriak Eti.
Ia di giring ke kantor polisi melalui pintu belakang resto karena tidak ingin mengganggu kenyamanan pelanggan. Makanan yang sudah di sabotase juga sudah di buang dan juga di ganti yang baru.
Xena menghela nafas lega saat penyakit di restoran miliknya sudah ia basmi. Setidaknya Eti akan mendekam di penjara minimal 2 tahun penjara.
"Nona, maafkan kelalaian saya" ucap Citra merasa bersalah karena pekerjaannya kurang kompeten dan kecolongan.
Kalau Bosnya tidak bergerak cepat, mungkin Restoran mereka akan di tutup bahkan di tuntut. Dirinya dan Xena bisa berakhir di penjara karena telah lalai dan pelanggan bisa menuntutnya.
"Ini bukan salah kamu, jadi kau tidak usah menyalahkan diri sendiri. Kamu hanya perlu bekerja lebih teliti lagi. Jika ada sesuatu di restoran segera hubungi aku, aku tidak akan membiarkan orang lain menghancurkan apa yang aku punya" ucap Xena.
"Baik nona, saya akan bekerja lebih baik lagi" ucap Citra. ia berjanji tidak akan mengecewakan bosnya lagi di masa depan. Jika tidak, ia tidak tahu apa yang harus ia katakan pada ayahnya dan juga keluarga Octavio.
Setelah masalah di restoran selesai, Xena sarapan di ruangan pribadinya karena dia belum sempat sarapan. Setelah itu ia berangkat ke airport untuk menjemput kekasihnya.
...•••••••...