
Setelah selesai melakukan fitting baju pengantin, Ray mengajak Xena ke toko perhiasan. Ray sudah menggunakan masker begitupun dengan Xena, hingga tidak ada orang yang sadar jika ia adalah Ray yang terkenal itu.
"Ray, ini kan tempat perhiasan mahal" ucap Xena.
"Memang kenapa? Buat kamu yang berharga dan tak ternilai, harus aku berikan hal yang sama pula terbaiknya" ucap Ray tersenyum di balik maskernya itu.
"Bukannya kita sudah punya cincin tunangan?" ucap Xena.
"Itu kan tunangan sayang, kalau yang ini cincin pernikahan. Jelas beda. Sudah ayo masuk" ucap Ray denganlembut.
Xena hanya menghela nafas, percuma juga ia menolak karena Ray akan memaksanya. Lagi pula Xena dalam hati bahagia, karena Ray memperlakukannya dengan sangat baik dan istimewa.
Tangan Ray mengenggam erat jemari Xena dan menariknya dengan lembut masuk ke dalam toko perhiasan itu.
"Selamat datang Di toko kami, ada yang bisa saya bantu tuan dan nona" sambut hangat karyawan toko perhiasan itu.
"Bisa tunjukan sepasang cincin pernikahan yang terbaik di toko ini?" tanya Ray
"Baik, sebelah sini tuan, nona" ucap karyawan itu sangat antusias menyambut pelanggannya.
Ray dan Xena berjalan mengikuti karyawan toko itu dan berhenti di sebuah etalase yang menampilkan beberapa cincin pernikahan dan cincin pertunangan. Ada juga buku yang berisi contoh cincin yang bisa di pesan, atau pembeli bisa request sendiri model seperti apa yang mereka inginkan.
Ada juga buku khusus untuk cincin yang bernilai fantastis dan hanya di buat untuk satu pasangan.
"Dari semua koleksi terbaik kami, tiga cincin ini yang tersedia. Semuanya di buat khusus dan hanya satu-satunya juga bisa di ukir nama pasangan. Semua bahan yang di gunakan adalah berlian kualitas terbaik minimal 5 karat dan juga mas putih 24 karat. Atau anda juga bisa memesan cincin yang berbeda sesuai yang anda inginkan" ucap karyawan itu. Menunjukan tiga gambar cincin nikah koleksi terbaik mereka, berikut deskripsi tentang bahan dan juga harganya.
"Sayang kamu pilih yang mana?" tanya Ray.
"Yang tengah itu aja, cantik" ucap Xena yang menyukai desain cincin yang berada di tengah.
"Bisa tolong perlihatkan cincin ini mbak?" tanya Ray
"Tentu, tunggu sebentar saya ambil dulu" ucap Karyawan itu mengambil cincin itu dari dalam.
Setelah beberapa saat karyawan kembali dan membawa sebuah cincin yang berada di dalam kotak etalase kaca kecil. Lalu mengeluarkan sepasang cincin itu.
Ray dan Xena mencoba cincin itu, mungkin jodoh. Kedua cincin itu sangat pas di jari manis keduanya.
"Wah sangat pas, seperti sudah di takdirkan" ucap Karyawan itu.
"Ya, kalau begitu kita ambil ini" ucap Ray.
Mendengar ucapan Ray, karyawan tersebut tercengang.
"Tuan, cincin ini seharga lima puluh tujuh...." ucap karyawan itu
"Saya tahu, tolong bungkus dan gesek kartunya. Ah tolong ukur nama Xena dan Raymond di cincinnya" ucap Ray memotong ucapan Karyawan yang masih terkejut itu.
Ini bukan 57 juta, tapi 57 milyar untuk sepasang cincin. Namun pelanggan di depannya tidak masalh dengan itu dan tetap ingin membelinya, tentu saja ia terkejut.
"Ah, ba-baik" ucap Karyawan itu langsung mengambil mesin EDC dan menggesek kartu itu dan memasukan nominal itu.
Ting! suara merdu terdengar dari mesin gesek itu, membuat jantung karyawan itu berdegub dengan kencang.
"Tu-tuan ini kartu dan struk pembelian anda, tolong tunggu sebentar, saya akan mengukurnya dulu dan mengemas cincinnya dulu" ucap Karyawan itu langsung bergegas masuk, untuk memanggil manager dan memberi tahu jika ia berhasil menjual barang yang paling mahal di sana. Juga mengukir cincin itu sesuai dengan pesanan pelanggan besar nya itu.
Tak lama Karyawan kembali dengan paparbag kecil di tangannya dan juga seorang wanita paruh baya dengan kaca mata bertengger di hidungnya.
"Nyonya ini tuan yang membeli cincinnya" ucap Karyawan itu menunjuk ke arah Kai.
"Halo tuan, terimakasih sudah berbelanja di Toko kami. Perkenalkan saya Rosalina manager di toko ini, karena anda sudah berbelanja lebih dari 50 milyar. Kami memberikan voucher belanja senilai seratus juta dan juga kartu member platinum. Mohon di terima" ucap Rosalina.
"Ah baik, terimakasih" ucap Ray mengambil kartu, paperbag dan juga voucher belanja itu.
.....
Setelah fitting dan membeli cincin pernikahan. Ray mengantar Xena pulang ke rumahnya. Sejujurnya ia tidak ingin berpisah meskipun hanya sebentar dengan calon istrinya itu.
Hanya saja ia tidak ingin egois dan membiarkan Xena untuk pulang ke rumah dan istirahat. Bagaimana pun besok adalah hari sakral mereka berdua, jadi sudah pasti tubuh mereka harus dalam keadaan fit.
"Kamu mau mampir Ray?" tanya Xena.
"Nggak sayang, aku langsung balik aja. Aku harus mengecek tempat pernikahan kita besok lalu pulang. Kamu istirahatlah, jangan begadang oke" ucap Ray
"Hmm, kamu hati-hati di jalan" ucap Xena tersenyum manis.
....
Keesokan harinya
Ballroom Yaksha Hotel, sudah di sulap dengan berbagai ornamen mewah, karena hari ini acara pernikahan cucu keluarga Octavio, orang paling kaya di negara ini akan berlangsung.
Meskipun hanya mengundang sanak saudara dan kerabat, namun Ray ingin pernikahan dirinya dan Xena tidak terkesan biasa-biasa saja. Jadi ia benar-benar memperhatikan tempat moment dirinya akan mengikat janji sehidup semati dengan sang pujaan hati.
Di dalam kamar hotel, Ray yang sudah memakai tuxedo hitam itu merasa gugup dan jalan bolak-balik. Tiger dan Galang yang melihat sahabat sekaligus bosnya itu hanya terkekeh saja.
"Hei, bos jangan bolak-balik kaya setrikaan gitu, pusing aku lihatnya" ucap Tiger.
"Mulutmu itu!" ucap kesal Ray sembari memukul lengan Tiger
"Aaadddaawww, sakit bos... Waaahhh KDPS!!!" ucap Tiger
"Apaan tuh KDPS?" tanya Galang.
"Kekerasan Dalam Per Sahabatan" ucap Tiger membuat Galang mau tidak mau tertawa saat mendengarnya.
"Ray kamu gugup?" tanya Galang
"Hmm..." Ray hanya berdeham
"Wajar sih gugup, tapi tenang aja Ray. Tarik nafas terus hembuskan. Semua akan berjalan lancar dan sebentar lagi mimpimu menjadi nyata dengan menikahi wanita yang kamu cintai" ucap Galang.
Ray mengikuti petunjuk asistennya itu. Galang juga memberikan air mineral kemasan agar Ray tenang. Dan benar saja Ray sudah tenang sekarang.
....
Di kamar lain, Xena sudah siap dengan gaun pengantin juga make-up yang sudah di aplikasikan oleh MUA. Sejak subuh tadi ia sudah sampai di hotel miliknya itu dan langsung di make over.
Di sampingnya Olive dan Arsy melongo menatap Xena yang terlihat sangat cantik seperti Barbie hidup.
"Gilaaaaaa Lo cantik banget Xe" ucap Olive antusias.
"Bener, kamu udah kaya Barbie hidup aja Xe" tambah Arsy.
Xena yang di puji oleh kedua sahabatnya hanya terdiam dan tersenyum malu. Ia sendiri juga terkejut saat melihat cermin, ia sangat pangling dengan wajahnya sendiri yang terlihat sangat cantik di pantulan cermin di depannya itu.
"Kau gugup Xe?" tanya Olive
"Ya iyalah Oneng, pasti gugup orang bentar lagi mau jadi nyonya muda Octavio" sahut Arsy.
"Kalau kamu gugup nggak Ar? Kan kamu bentar lagi juga jadi nyonya Dirgantara" ucap Olive
"Uhuuukkkk Uhuuukkk...." Arsy tersedak salivanya sendiri.
"Aduh kakak ipar kenapa?" ucap Olive menggoda Arsy, membuat Xena terkekeh melihat tingkah kedua sahabatnya itu.
"Diam Oliveira Aku dan kak Vano belum kepikiran untuk menikah, kak Vano aja belum lamar, lagian aku masih harus kelarin dulu kuliahku" ucap Arsy
"Waaahhhh nanti aku lapor ke kak Vano kalau kamu minta di lamar " ucap Olive
"Oliiiveee...." pekik Arsy kesal karena di goda terus-terusan oleh sahabatnya itu.
Tok! Tok! Tok!
Pintu kamar Xena di ketuk, setelah di buka oleh Olive. Indra terlihat tampan dengan balutan tuxedo berwarna hitam dengan kemeja putih di dalamnya, jangan lupakan dasi kupu-kupu menghiasi kerahnya.
"Putri papa cantik sekali, sebentar lagi kamu akan menjadi tanggung jawab Ray. Papa kehilangan putri kecil papa, kamu cepat sekali tumbuh dewasa nak" ucap Indra tersenyum, ia merasa senang dan juga sedih di saat bersamaan.
"Aku tetap putri kecil papa" ucap Xena sudah mulai berkaca-kaca.
"Tentu, sudah jangan menangis, nanti oapa ikutan nangis kan nggak keren. Terus juga sayang make-up kamu, udah cantik nyaingin bidadari nanti jadi rusak" ucap Indra
Xena hanya mengangguk dan mendongakkan kepalanya agar air matanya tidak menetes. Olive dengan sigap memberikan tisu agar menyeka air mata di mata cantiknya itu.
"Ayo kita keluar, pasti Ray sudah gugup dan tidak sabar bertemu denganmu" ucap Indra
"Hmm..." Xena mengangguk dan mulai menggandeng tangan sang papa.
...•••••••...