
Pengasuh Yani bernama Narti, dia menjadi pengasuh Yani sejak Yani berusia 1 Minggu. Hal itu di karenakan kondisi Melati setelah melahirkan sempat koma dan keadaannya kritis.
Sedangkan Lina tidak bisa mengasuh ponakan kecilnya karena saat itu Ferry juga masih sangat kecil dan ia tidak sanggup mengasuh dua anak sekaligus.
Melihat keadaan istrinya, Teguh memutuskan untuk mencari pengasuh untuk putri satu-satunya itu dan mempekerjakan Narti yang kebetulan mencari pekerjaan.
Narti yang Teguh kenal adalah tetangga Melati saat di kampung halamannya di kota T.
Yang tidak orang tahu, Narti dan Melati sebenarnya merupakan saudara satu ayah. Ibu Narti tidak sengaja masuk ke hubungan orang tua Melati dan hamil karena suatu kesalahan.
Ayah Melati melakukan itu saat sedang mabuk dan berakhir bersetubuh dengan ibu Narti.
Ayah Melati tidak ingin anak itu lahir karena kesalahannya dulu, namun Ibu Narti tidak ingin menggugurkan kandungannya. Ia tetap mempertahankan anaknya meskipun ia harus menjadi orang tua tunggal dan menerima banyak hujatan.
Ia juga tidak pernah menganggu hubungan orang tua Melati setelah itu. Karena ia juga wanita dan tidak ingin wanita lainnya terluka karenanya.
Namun saat Narti dewasa ia mengetahui jika ayah Melati juga ayahnya, jadi ia merasa sakit hati karena dirinya merasa di buang oleh ayah kandungnya sendiri, sedangkan Melati hidup bahagia di limpahi kasih sayang dari kedua orang tuanya secara lengkap.
Saat Narti tahu Melati akan menikah. Ia merasa iri Melati memiliki kehidupan yang sempurna dan suami yang tampan dan mapan.
Ia juga berniat untuk menggoda Teguh saat ia menjadi pengasuh, tapi sayangnya teguh adalah orang yang sangat sibuk jadi ia tidak memiliki kesempatan. Jadi ia melampiaskannya ke Yani.
Sejak Yani usia 9 tahun, ia menjejali Yani dengan pengaruh buruk. Dan puncaknya saat Yani berusia 10 tahun, Narti menjual Yani pada seorang yang kebetulan seorang pedofil. Dari situ awal mula Yani mengetahui dunia Se*s.
....
Di kediaman duka semua kerabat kecuali Yani, datang untuk mengucapkan bela sungkawa. Termasuk keluarga Dirgantara.
Vano melangkah mendekati sahabatnya Ferry yang terduduk dengan mata sembab karena terlalu lama menangis.
"Fer, aku turut berduka cita" ucap Vano.
Ferry mendongak menatap Vano, ia langsung memeluk sahabatnya itu dan menangis lagi. Meskipun hubungan persahabatan mereka sempat rengang, namun Ferry tidak membenci Vano karena kasus Yani. Ia sadar jika Yani yang salah dalam hal ini dan ia tidak bisa membela Yani untuk hal yang salah apalagi menyalahkan keluarga Vano.
"Makasih Van, terimakasih juga sudah datang" ucap Ferry tulus.
Meskipun keluarga Dirgantara yang melaporkan Yani, keluarga Halim tetap mengucapkan terimakasih karena keluarga Dirgantara sudah mau datang melayat.
"Jangan bersedih, ini sudah takdir keduanya. Jangan meratapi, biarkan mereka tenang di alam sana. Kita hanya bisa mendoakan saja" ucap Vano.
"Hmm" Ferry mengangguk
Sahabat Ferry semuanya datang, baik itu Bram, Arlan dan Jhody. Mereka bergantian mengucapkan bela sungkawa.
"Arsy, kamu kesini juga?" tanya Bram tersenyum saat melihat Arsy. Arsy hanya membalas dengan menganggukkan kepalanya dan tersenyum juga.
Meliha itu, hati Vano terbakar cemburu. Ia merasa tidak suka Arsy senyum ke pria lain, meskipun itu Sahabatnya sendiri.
"Arsy ke sini bareng aku" ucap Vano menyela obrolan mereka.
"Arsy lagi main ke Olive?" tanya Bram.
Ia mengira begitu karena ia tahu Olive dan Arsy bersahabat, bisa jadi Arsy datang bareng Olive.
"Nggak, kebetulan aku sedang jalan dengannya sebelum dapat kabar" ucap Vano
Mendengar itu Bram terdiam sejenak.
Dia mengerti, bahwa saat ini sahabatnya juga sedang mengejar Arsy. Jadi ia mengeraskan hati untuk berhenti menyukai Arsy.
Ya, Bram memang sudah mulai menyukai Arsy tapi ia menyerah saat tahu gadis yang ia suka dekat dengan sahabatnya.
Kedua jenazah sudah di kebumikan dan para pelayat satu persatu sudah mulai pulang.
....
Di sebuah mansion mewah, Zico tengah berteriak memarahi anak buahnya, setelah menampar mereka sebelumnya.
"Apa kalian semua tidak becus??? Hanya meretas CCTV di sebuah restoran saja kalian tidak bisa!!!" teriak Zico marah.
"Maafkan saya Tuan muda, tapi memang sistem keamanan di sana sangat kuat dan tidak bisa di tembus sama sekali" ucap anak buah Zico memberanikan diri.
"Omong kosong macam apa itu! Kalian bilang kalau kalian hacker terbaik, tapi mana buktinya? Bahkan kalian berempat, masa iya untuk menembus pertahanan di restoran saja kalian tidak bisa" ucap Zico semakin marah.
Ia tidak habis pikir, anak buah terbaiknya tidak bisa sedikit pun meretas CCTV di sana.
"Bagaimana kalau kita minta baik-baik pada pihak Resto? Siapa tahu mereka tidak keberatan memberikan salinan Video yang kita butuhkan, tuan muda" ucap anak buah Zico lagi.
"Kalau bisa, aku juga tidak akan menyuruh kalian melacaknya, dasar bodoh!" teriak Zico kesal.
Sebelumnya Zico sendiri sudah meminta secara baik-baik pada pihak Restoran, bahkan ia juga sudah bertemu dan bicara dengan Manager Restoran, yakni Citra. Namun pihak Restoran tidak mengizinkan orang luar memeriksa CCTV mereka.
Tentu saja hal itu mereka lakukan demi kenyamanan semua tamu, dan alasan sebenarnya karena resepsionis sudah menceritakan perihal kejadian Zico dengan Xena di depan.
Tentu saja Citra cepat tanggap dan ia tentu saja mengerti jika Zico tengah mencari tahu informasi tentang bosnya itu. Dan Citra tidak akan memberi tahunya, terlebih ia tahu betapa cemburu dan marahnya Ray jika ia tahu hal itu.
"Coba lagi! Aku tunggu sampai besok. Aku tidak peduli apa yang kalian lakukan! Aku ingin rekaman CCTV dan cari informasi tentang wanita itu!. Kalau tidak, aku akan menghukum berat kalian semua" ucap Zico lagi.
....
Sedangkan orang yang di cari-cari informasinya oleh Zico saat ini. Tengah berada di sebuah pacuan kuda yang merupakan salah satu tempat yang di miliki oleh keluarga Octavio. Ray mengajak kekasihnya itu berlatih menunggangi kuda.
Xena merasa tertantang dengan senang hati mengiyakan. Ia saat ini tengah berlatih menunggangi kuda. Mereka mengendari kuda berdua, bagaimana pun Xena baru pertama kali.
"Bagaimana sayang?" tanya Ray.
"Ini sangat menyenangkan" ucap Xena tersenyum cerah.
Ia benar-benar menikmati serasa menjadi Koboy Wati sementara. Meskipun ia baru kali ini menunggang kuda, di tambah suasana sore hari yang menyejukkan di daerah pinggiran selatan ibukota.
Ray sangat senang melihat kekasihnya itu sangat bahagia. Xena sudah mulai menunggangi kuda sendirian dan Ray menggunakan kuda lain.
Keduanya kemudian mengitari pacuan kuda selama beberapa putaran dengan tempo yang pelan.
"Kamu belajar sangat cepat sayang" ucap Ray memuji Xena.
"Mungkin aku memang berbakat" ucap Xena terkekeh
"Ya, kamu memang gadis paling berbakat yang pernah aku kenal" ucap Ray.
...••••••...
Maaf upload telat dan satu bab, author lagi nggak enak badan karena kehujanan dan kecapean🙏 di usahakan besok atau lusa update 3 bab ya😉 Do'akan author cepet sehat🙏