
Xena ingin pergi dari bungker itu, karena Aiden akan tidur dalam waktu lama, tapi dia tidak tega meninggalkannya sendirian. Akhirnya dia diam sambil sesekali menolehkan pandangannya pada Aiden yang sedang berbaring. Semakin dia melihatnya, semakin dia menyadari kalau ternyata Aiden itu sangat tampan.
Wajah yang sempurna, dengan rahang tegas, hidung mancung, bibir merah dan dagunya yang lancip membuat Aiden terlihat begitu tampan. Kumis, jambang dan janggut yang tumbuh di wajahnya tidak sedikitpun mengurangi ketampanannya.
Astaga apa yang aku pikirkan?. Kenapa juga aku harus menatapnya?. gumam Xena dalam hati lalu dia beranjak dari sana, menuju ruangan rahasia di bungker itu.
Ruangan itu adalah tempat menyimpan semua barang-barang berharga milik ayahnya, Hector, juga barang berharga lainnya, milik kakek Abraham dan paman Yacob. Ada banyak senjata, baju perang, perisai dan beberapa batang emas juga perhiasan milik almarhum ibunya yang tersimpan disana. Xena mengambil satu kalung milik almarhum ibunya, lalu iseng memakainya.
Dia tersenyum melihat pantulan dirinya dicermin kecil yang ada di dinding bungker. "Cantik sekali." Gumam Xena seraya memegang kalung itu.
"Xena!! Xena!! Panggil seseorang, membuat dia tersentak.
"Aiden?.Kenapa dia sudah bangun?." Gumamnya, lalu segera keluar dari ruangan itu, karena takut Aiden menemukannya.
"Kenapa kau sudah bangun?." Tanya Xena, saat dia kembali ke ruangan dimana Aiden berada.
"Aku tadi mimpi buruk." Jawab Aiden.
"Sebaiknya kau tidur saja. Agar kondisi kamu benar-benar pulih." Titah Xena.
"Aku sudah tidak apa-apa. Aku sudah pulih." Sahut Aiden.
"Apa kau yakin?." Tanya Xena memastikan.
"Iya. Kau lihat sendiri kan aku sudah sangat sehat." Jawab Aiden.
"Kalau gitu, kita pulang sekarang." Ajak Xena.
Aiden diam, karena menyesal mengatakan kalau dirinya sudah sehat. Dia masih ingin bersama Xena di bungker itu.
"Kenapa diam?. Apa kau tidak mau pulang sekarang?." Tanya Xena, membuat Aiden terkejut karena Aiden merasa Xena tahu apa yang sedang dipikirkannya.
"Memang lebih baik kita tidak kembali sekarang. Kondisi kamu belum benar-benar pulih. Istirahat saja disini." Ujar Xena membuat Aiden senang.
"Sekarang berbaring dan istirahatlah lagi." Titah Xena, dan Aiden menurutinya. Dalam hati dia merasa sangat senang luar biasa karena bisa berduaan lagi dengan Xena. Apalagi sekarang sikap Xena sangat berbeda, tidak ketus seperti sebelumnya.
ππππ
Di istana.
Raja memerintahkan semua pengawal untuk mencari dan menangkap ular yang telah menggigit putranya. Semua pengawal mulai sibuk melakukan pencarian ular itu di dalam dan di luar istana, hingga akhirnya para pengawal itu berhasil menangkap beberapa ular dan membunuhnya, karena ular-ular tersebut dianggap membahayakan.
..
Putri Elora datang mengunjungi istana khusus, yang ditempati pangeran Alaric. Dia ingin melihatnya, karena sangat mencemaskan keadaan sang pangeran.
"Aku baik-baik saja. Kau tidak perlu mencemaskanku." Ujar pangeran Alaric.
"Sebenarnya apa yang terjadi?. Apa benar ada ular yang menggigitmu?." Tanya putri Elora.
"Benar." Jawab pangeran.
"Kenapa itu bisa terjadi?." Tanya Putri Elora lagi.
"Aku ingin menyelamatkan seseorang, dan akhirnya ular itu menggigitku." Jawab Alaric.
"Seseorang?. Siapa?. Apa aku boleh tahu?." Tanya Elora lagi.
"Maaf!! Aku tidak bisa mengatakannya kepadamu." Jawab pangeran Alaric.
"Apa dia seseorang yang penting?." Tanya putri Elora penasaran.
"Ohh." Sahut Elora. "Syukurlah kalau kau sudah tidak apa-apa. Kalau begitu aku pamit." Imbuhnya lalu meninggalkan istana pangeran.
Hatinya menjadi tidak tenang setelah dia tahu kalau pangeran Alaric ternyata telah memiliki seseorang yang spesial dihatinya. Padahal Elora menyangka pangeran Alaric menyukainya, tapi ternyata dia salah.
...
Siang itu Conrad dan beberapa orang pengawal juga jendral besar lainnya atas perintah raja, kembali ke desa untuk menangkap Dimitri dan anak buahnya. Mereka berangkat saat fajar menyingsing dan tiba di desa itu saat matahari sudah meninggi.
Dimitri sangat terkejut saat petugas kerajaan menangkap dan membawanya dengan paksa. Hal yang sama juga terjadi saat petugas kerajaan menangkap anak buahnya. Keterkejutan bukan hanya milik Dimitri dan anak buahnya, tapi juga pangeran Alaric yang saat itu masih ada disana.
Dia tak menyangka Conrad akan datang secepat itu, dan hampir saja dia melihatnya. Untung saja pangeran Alaric segera bersembunyi, kalau tidak mungkin Conrad akan melihatnya.
Alaric tidak tahu, kalau tadi Conrad sempat melihatnya. Tapi dia berpikir mana mungkin pangeran Alaric ada disini, karena dia ada di istana dan dia sedang terluka. Lalu siapa laki-laki yang aku lihat tadi?. Apa dia anak buah Dimitri yang lain?. Tapi anak buah Dimitri sudah ditangkap semua. Aku harus menemukannya. Kata Conrad dalam hati.
"Aku melihat satu orang laki-laki yang masih bersembunyi disini. Pengawal!! Cari dan temukan dia!!.
"Baik jendral." Sahut para pengawal, lalu mulai mencari orang yang dimaksud Conrad.
Alaric tersentak mendengar perintah Conrad. Rupanya paman Conrad melihatku. Hahh....kau memang hebat paman. Tapi maaf kau tidak akan bisa menemukanku dengan mudah. Gumam Alaric dalam hati. Dia lalu memanggil Gwendolyn dan meminta bantuannya lagi agar Conrad dan para pengawal itu tidak bisa menemukannya.
Tak lama kemudian, pangeran Alaric berubah menjadi kepulan asap seperti waktu itu dan dia terbang keluar dari sana, alhasil baik Conrad maupun anak buahnya tidak bisa menemukan Alaric, walau mereka sudah menggeledah tempat itu.
"Apa kalian menemukannya?." Tanya Conrad.
"Maaf jenderal!! Kami tidak menemukan apapun selain ini." Jawab pengawal seraya memberikan barang yang dia temukan.
Itu adalah barang-barang dan pakaian pangeran Alaric yang dia gunakan selama penyamarannya.
Conrad semakin yakin kalau lelaki yang dia lihat tadi benar-benar pangerannya. Tapi bagaimana mungkin.
Apa mungkin, diam-diam dia pergi sendiri ke desa ini?. Tanya Conrad dalam hati.
Conrad yang pintar dan penasaran, tidak menyerah begitu saja. Dia ingin membuktikan kecurigaanya. Dia berlari mengikuti kepulan asap yang keluar dari langit-langit tempat itu, karena menurutnya itu adalah hal yang aneh. Tidak ada api menyala disana, lalu darimana asal asap itu. Dan ya, dia melihatnya. Dari kejauhan Conrad melihat kepulan asap itu berubah menjadi sosok laki-laki yang dia yakini itu adalah pangerannya. Mana mungkin?. Gumamnya dalam hati.
Conrad berpikir keras apa mungkin pangerannya itu bisa berubah menjadi asap?.Lalu dia teringat sesuatu. Dia ingat penyihir itu, Gwendolyn. Dia ingat penyihir itu pernah berkata kalau dia akan datang jika Alaric memanggilnya, dan mungkin saja tadi Alaric memanggilnya, pikir Conrad.
Untuk lebih meyakinkannya, Conrad pergi menuju rumah Xena. Sesampainya dirumah itu dia bertemu Xena dan langsung menanyakan apa yang ingin dia ketahui.
"Siapa kau kenapa kau menanyakan Aiden kepadaku?." Xena menjawab pertanyaan Conrad dengan pertanyaanya. Wajahnya terlihat masam dan nada bicaranya juga sangat ketus, pasalnya Xena tahu Conrad adalah seorang Zephyrus.
"Namaku Conrad. Aku..."
"Aku tahu, kamu tentara Zephyrus." Ketus Xena.
"Kau belum menjawab pertanyaanku nona. Apa kau melihat Aiden?." Tanya Conrad lagi.
"Aku tidak melihatnya. Kau cari saja ditempatnya." Jawab Xena.
"Maksudku apa selama ini Aiden sering datang kesini?." Tanya Conrad lagi.
"Kenapa kau bertanya seperti itu?. Apa urusanmu?." Jawab sekaligus tanya Xena, membuat Conrad sangat kesal, tapi dia menahan dirinya.
"Ada apa Xena?. Siapa yang datang?. Kenapa kau berteriak-teriak?." Tanya Audrey yang tiba-tiba keluar dari dalam rumah, setelah mendengar suara Xena. Dia tertegun, saat melihat seorang laki-laki berbadan tegap lengkap dengan pakaian kebesarannya berdiri didepan rumahnya. Senyum Audrey mengembang karena dia tahu laki-laki itu adalah seorang jenderal dari kerajaan.
Senyumnya semakin lebar saat dia tahu kedatangan laki-laki itu adalah untuk menanyakan keberadaan Aiden. Audrey yakin, laki-laki ini adalah teman yang dimaksud Aiden yang akan membantunya masuk ke dalam istana.
..
Bersambungπππ