Xena

Xena
151. Trauma kembali



Di perjalanan pulang hanya ada kesunyian di dalam mobil, Ray diam saja sejak mereka keluar dari restoran.


Xena tentu tahu jika suaminya saat ini tengah marah karena dirinya tidak memberi tahu nya jika ada laki-laki lain yang tengah mengejarnya saat ini. Meskipun sebelumnya ia sudah pernah mengatakannya, namun Xena tidak memberi tahu jika itu adalah orang yang sama.


Sesampainya di mansion, Ray langsung keluar dari mobil dan masuk ke dalam mansion tanpa membuka pintu mobil untuk Xena seperti biasanya.


Xena menghela nafas melihat itu, ia kemudian menyusul suaminya yang masuk ke mansion lebih dulu. Ia tidak mendapati Ray di kamar, namun ia mendengar suara gemericik di kamar mandi.


Mengetahui itu, Xena memutuskan untuk menunggu Ray keluar. Ia tidak ingin suasana canggung seperti ini berlangsung lebih lama, jadi ia memutuskan untuk menjelaskannya pada Ray agar tidak ada salah paham. Mengingat betapa posesif dan cemburunya Ray.


Sembari menunggu Ray mandi, Xena mengambil pakaian santai untuk di gunakan suaminya itu. Itu adalah rutinitas yang biasa dia lakukan semenjak ia menjadi seorang istri Ray.


Tak lama Ray keluar dari kamar mandi menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya, membiarkan dada bidangnya dan perut eight pack miliknya terekspos.


Xena menelan Saliva nya susah payah, keindahan di depannya sungguh membuatnya ingin menghamburkan diri ke pelukan sang suami, meraba dada dan perut nya yang keras itu.


"Mas, ini pakaiannya" ucap Xena lembut dengan senyum di wajahnya. Namun senyumnya mendadak luntur saat pakaian yang ia siapka di tolak begitu saja.


"Tidak perlu!" ucap Ray yang langsung masuk ke walk in closed untuk memilih pakaiannya sendiri. Ia mengambil pakaian casual dan masuk ke dalam kamar kembali setelah memakainya.


"Mas, bisa bicara sebentar? Aku mau jelasin semuanya sama kamu, tolong jangan marah hmm..." ucap Xena saat melihat suaminya.


Ray tidak menjawab ucapan Xena, ia yang sudah berpakaian terkesan rapih, lalu mengambil ponsel, dompet dan kunci mobil Ia keluar dari kamar.


Ray hendak menenangkan diri karena tidak ingin bertengkar dengan sang istri, namun ia tidak tahu hal itu justru membuat Xena merasa sedih karena di abaikan oleh suami.


Xena merasa sakit melihat tingkah tidak biasa suaminya, ia tahu dirinya salah karena tidak mengatakan tentang Zico yang terus menerus mendekatinya.


Namun tetap saja Xena merasa sakit, entah mengapa traumanya dulu yang sering di diamkan, di abaikan dan di sakiti oleh Vano kembali. Bayangan masa lalu tiba-tiba saja kembali membayangi.


Xena meremas dadanya yang terasa sakit, kepalanya juga terasa sakit saat melihat suaminya keluar dari kamar.


"Akh..." Xena merasa dadanya sesak, ia memukul dadanya beberapa kali karena kesulitan bernafas, bahkan air matanya keluar begitu saja.


Tiba-tiba saja pandangannya mengabur dan ia jatuh pingsan tidak sadarkan diri.


....


Di dalam mobil Ray menghela nafasnya ia tidak langsung menjalankan mobilnya. Sejak mengetahui ada laki-laki yang terus mengejar sang istri ia tentu saja marah.


Ingin sekali ia menghajar laki-laki itu dan mengatakan pada seluruh dunia jika Xena sudah sepenuhnya menjadi miliknya. Dan tidak mengizinkan atau membiarkan pria lain mendekati miliknya


Namun karena pernikahan mereka masih di sembunyikan membuat Ray menahan semua itu dan lagi saat tahu Xena tidak mengatakan apa-apa kecuali saat ia di dekati oleh pria yang waktu itu di tempat parkir.


Membuat Ray merasa seperti tidak di anggap dan tidak di butuhkan oleh Xena. Ia berpikir jika ia tidak memaksa ikut berkumpul, ia tidak akan pernah tahu apa yang terjadi tentang yang terjadi di kantin.


"Hallo Tiger, apa kamu sudah menemukan siapa orangnya?" tanya Ray dengan menahan emosinya.


"Maaf bos, sepertinya orang itu merupakan orang besar. Akses informasi semuanya di tutup, apalagi bos tidak tahu siapa nama dan fotonya. Aku sudah memeriksa CCTV kampus semuanya mati, aku juga sudah bertanya ke Olive. Tapi dia lupa nama orang itu dan hanya ingat wajahnya saja" ucap Tiger di ujung telepon


"Si*l!!!" umpat Ray keras.


"Bos, kenapa tidak bertanya langsung ke nyonya bos? Bukankah bos bilang bos mendengar nya saat nyonya bos mengatakan rencana orang itu pada Arsy? Sudah pasti nyonya bos tahu semuanya. Apa nyonya bos tidak ingin menjelaskan nya?" ucap Tiger


"Dia ingin menjelaskannya tapi aku butuh menenangkan diri dulu, aku tidak ingin bertengkar dan mengatakan kata-kata kasar. Pikiranku tengah semrawut, apalagi mendengar rencana orang itu pada Arsy masih membuatku marah saat ini" ucap Ray


"Nyonya bos di mana sekarang? Apa bos meninggalkan nyonya bos? Kenapa bos nggak dengerin dulu penjelasan Nyonya bos?" tanya Tiger gemas dengan bos sekaligus sahabatnya itu.


"Astaga bos, bos nggak mau kalian bertengkar. Tapi apa yang bos lakuin pasti menyakiti hati nyonya bos dan membuat masalah makin besar. Masalah itu di hadapi, bicarakan dengan baik, bukan di hindari bos. Ingat pasal pertama bos, wanita selalu benar" ucap Tiger memberikan nasehat bijak nya.


"Aku hanya butuh waktu Tiger aku merasa saat ini tidak di butuhkan oleh istriku sendiri. Dia tidak mengatakan apapun tentang orang itu, kecuali tentang yang terjadi di parkiran itu. Kalau aku tidak ikut berkumpul, mungkin Xena tidak akan berniat memberi tahuku" ucap Ray


"Jangan ambil kesimpulan terlalu dini bos, mungkin saja nyonya bos belum sempat mengatakannya, lagian kejadiannya baru siang tadi kan? Sudah lebih baik bos bicarakan baik-baik, jangan sampai membuat nyonya bos sedih dengan tindakan mu seperti ini. Bos mau nyonya bos benar-benar pergi, saat tahu anda bersikap kekanakan hanya karena masalah sepele?" ucap Tiger


"Jangan menakuti ku Tiger" ucap Ray tiba-tiba takut saat mendengar kata di tinggalkan


"Aku tidak menakuti, tapi kemungkinan bisa saja terjadi. Selesaikan dengan baik, masalah orang itu biar aku cari tahu lagi. Aku mau telepon Arsy dulu, barang kali ia tahu sesuatu" ucap Tiger


"Hmm..." ucap Ray mematikan teleponnya.


Ia menghela nafas kemudian kembali keluar dari mobilnya dan masuk ke dalam mansion.


Namun betapa terkejutnya saat ia masuk ke kamar menemukan istrinya tergeletak di bawah tempat tidur tidak sadarkan diri.


"Sayang...!!!!" teriak Ray


Ia langsung menghampiri Xena dan menepuk lembut pipi sang istri yang tidak sadarkan diri, terlihat wajah pucat sang istri membuat Ray semakin panik di buatnya.


Karena teriakan Ray membuat beberapa ART datang, Ray pun meminta tolong untuk memanggilkan supir dan segera membawa mereka ke rumah sakit.


"Sayang kamu kenapa? Bangun sayang... Maafkan aku meninggalkan kamu tadi, tolong jangan buat aku takut, bangun sayang..." ucap Ray memeluk sang istri yang sudah sangat pucat itu.


"Jo, kemudikan lebih cepat!" ucap Ray


"Baik tuan" ucap Parjo, yang sebisa mungkin fokus berkendara. Padahal saat ini ia sudah ngebut, namun ia harus lebih ngebut lagi karena tuannya sangat panik.


Sesampainya di rumah sakit Ray terus mondar mandir menunggu dokter yang masih memeriksa sang istri. Ray bahkan lupa mengabarkan pada keluarga jika Xena masuk rumah sakit.


"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Ray


"Istri bapak sudah lebih baik, untung pasien cepat di bawa ke sini. Tapi mohon maaf, apa istri bapak sebelumnya memiliki trauma?" tanya Dokter


"Trauma dok?" tanya balik Ray terkejut mendengar ucapan dokter.


"Ya, yang di alami pasien sepertinya trauma nya kambuh, hingga membuatnya syok dan tidak sadarkan diri. Mungkin istri anda baru saja mengalami satu hal yang membuat trauma nya itu kembali.


Sebaiknya nanti bisa konsultasi kan ke dokter Ratna, beliau psikolog terbaik di rumah sakit ini. Untuk sementara istri anda harus di rawat satu atau dua hari untuk observasi lebih lanjut" ucap Dokter.


"Tolong lakukan yang terbaik dan siapkan ruang rawat VIP Dok" ucap Ray


"Tentu, saya akan siapkan. Bapak bisa urus administrasi nya lebih dulu, permisi pak" ucap Dokter.


Ray yang masih syok langsung mengurus administrasi, setelahnya ia menghampiri sang istri yang kini sudah di pindahkan ke ruang rawat inap.


Ray menggenggam tangan Xena yang kini terbaring di brankar rumah sakit, Ray terus mengucapkan kata maaf dan merasa bersalah karena mengabaikan juga meninggalkannya.


Ray mengingat cerita Xena yang pernah mengalami reinkarnasi dalam hidupnya, dan di kehidupan nya dulu ia pernah mengalami kegagalan rumah tangga, di abaikan, di sakiti dan juga di khianati hingga berakhir kematian.


Mengingat ia mengabaikan Xena dan meninggalkannya membuat Ray menyalahkan dirinya sendiri. Tidak sepatutnya ia meninggalkan Xena dan mengabaikannya saat istrinya itu berniat menjelaskan padanya.


...••••••...