Xena

Xena
62. Peringatan Olive



Vano menghentikan langkahnya, begitu pula dengan Randi yang berada di belakangnya yang langsung maju memberikan jarak untuk Vano dan Yani hingga ia berada di tengah.


Melihat itu tentu saja Yani marah pada asisten Vano yang menghalanginya untuk dekat dengan Vano. Sedangkan Vano hanya sesekali menatap Yani datar tanpa ekspresi, lalu mengabaikannya.


Sejujurnya saat ini Vano tengah menahan emosi di hatinya, tatkala ia mengingat mimpi terakhir yang ia alami. Di mana saat itu ia mengingat Yani adalah dalang yang telah membunuh adik tersayangnya dan mengkambing hitamkan Xena atas tindakannya kriminalnya itu.


Meskipun itu hanya sebuah mimpi, namun entah mengapa ia merasa hal itu benar-benar terjadi.


Terutama sejak pertemuannya dengan Randi yang tidak masuk akal, karena sebelumnya ia mengenal Randi dalam mimpinya dan Randi juga menjadi asistennya saat itu.


Bukankah ini aneh? Tidak mungkin ada kebetulan yang sama persis, karena bukan hanya wajah Randi yang sama persis, tapi juga nama dan jabatannya, bahkan suaranya pun sama dengan yang ia dengar dari mimpinya.


Jika di ingat-ingat, ia juga mengingat ucapan Xena yang terakhir kali sama dengan ucapan Xena yang ada dalam mimpinya. Yang bersumpah tidak lagi mencintainya dan Xena saat ini tengah menghindarinya.


Maka dari itu, Vano menjadi curiga dengan sikap Yani padanya, yang perlahan-lahan mulai terlihat jika wanita itu sangat terobsesi padanya.


Apa mimpi itu benar? Jika itu adalah kebenaran yang akan terjadi di masa depan, kemungkinan wanita yang ada di hadapannya saat ini bisa saja membunuh adiknya dan mengkambing hitamkan Xena.


"Van, aku ingin berbicara" ucap Yani dengan nada lembut.


"Bicara saja!" ucap Vano datar


"Tapi tidak di sini, bisa kah kita cari tempat lain yang nyaman untuk kita bicara hmm?" ucap Yani tersenyum manis karena Vano masih mau meresponnya meskipun dengan nada datar dan jawaban yang singkat.


"Aku tidak punya waktu" ucap Vano ingin melangkah pergi.


Namun Yani kembali menghalanginya dan berkata lagi dengan terburu-buru, takut Vano pergi sebelum ia bicara.


"Baiklah, baiklah, Tunggu sebentar! Aku akan mengatakannya di sini" ucap Yani menghela nafas mengalah.


"Kenapa kau menjauhiku Van? Bahkan kamu memblokir nomor teleponku? Apa aku melakukan kesalahan yang tidak aku sadari?" tanya Yani.


"Entahlah, tapi aku tidak ingin pertemanan kita di salah artikan, aku tidak ingin orang yang aku cintai terluka karena salah paham" ucap Vano


Mendengar itu Yani mengetatkan rahangnya, ia jelas tahu yang di maksud Vano adalah Xena. Sebenarnya ia tahu jika Vano diam-diam memperhatikan Xena dan mulai tumbuh rasa cinta.


Namun Yani berusaha menutup perasaan Vano dan mengalihkannya dengan hal lain, ia selalu yakin jika Vano adalah miliknya dan orang lain tidak berhak memiliki Vano kecuali dirinya.


"Tapi apa kamu tidak menghargai perasaanku sedikit pun? Kau tahu bukan jika aku menyimpan rasa cinta untukmu? Aku bahkan mengikutimu untuk kuliah di luar negeri agar dekat denganmu" ucap Yani dengan menahan rasa sesak di hatinya tidak rela Vano bersama yang lain.


"Di dunia ini tidak semua hal bisa di dapatkan, termasuk cinta. Dan kau tidak berhak memaksakan perasaan ku yang tidak mencintaimu. Aku juga tidak akan melarang kau mencintai siapapun yang kau inginkan" ucap Vano


"Tapi aku hanya ingin kamu, Van" ucap Yani


"Terserah! Tapi maaf, aku tidak mencintaimu! Aku mencintai wanita lain" ucap Vano datar dan dingin.


Ia kemudian pergi meninggalkan Yani dan terdiam dan menangis di sana.


"Vanoooo!!!!" teriak Yani membuat semua orang menatap nya dengan tatapan kasihan sekaligus menghina. Karena ia rela merendahkan dirinya memohon untuk seorang laki-laki.


Yani terduduk melihat Vano pergi, ia menundukkan kepalanya menangis. Orang-orang yang menonton juga sudah bubar.


Namun saat ini Yani melihat sepasang sepatu wanita berdiri di depannya, ia mendongak melihat siapa yang menghampirinya. Matanya berubah menjadi tajam saat tahu siapa yang menghampirinya.


Melihat sosok wanita yang menatapnya dengan senyum mengejek, Yani menggertakkan giginya dan segera bangun saat itu juga.


"Kamu...." ucap Yani dengan tampang memerah karena marah sambil menunjuk ke arah wajah wanita itu..


"Gimana rasanya di tolak, lampir? Bukankah aku sudah bilang, kalau jangan lagi-lagi kamu mendekati kakakku, hah. Masih banyak cowok di luar sana yang bisa memuaskan obsesi menyimpang mu itu" ucap Olive mencibir.


"Diam kamu! Kamu nggak ada hak mengaturku!!!" teriak Yani dengan emosi di dalam suaranya.


"Jika obsesimu bukan menyangkut Kakakku, aku tidak akan ikut campur. Tapi kau mengusik keluargaku, aku tidak akan tinggal diam. Sahabat lama, ouuuppppsss maksudku mantan sahabat yang BUSUK!!!" ucap Olive menyeringai jijik.


"Ingat kata-kata ku, lampir. Ini adalah peringatan terakhir untukmu, jauhi kakakku! Atau aku akan menyebarkan semua hal tentang kamu, bukan hanya kakakku tapi semua orang akan mengetahuinya. Bagaimana gaya hidup seorang Yani!" ucap Olive lalu berlalu pergi.


"Aarrrgghhh, brengsek!!! Awas kamu Olive!!!" gumam Yani mengepalkan tangannya.


...•••••...


Xena beberapa hari ini sangat sibuk dengan kuliah, latihan taekwondo dan bisnis restoran yang makin hari makin ramai.


Melihat banyak pelanggan yang sangat puas dengan pelayanan dan juga makanan lezat yang di hidangkan di sana, Xena pun mulai memikirkan untuk membuka cabang.


Namun ia harus memikirkan matang-matang, melalui pertimbangan yang kompleks.


Selain lokasi tempat, Pasar marketing juga harus benar-benar di cari tahu. Tidak bisa sembarangan membuka usaha, harus di lihat baik-baik dari segi peluang dan resiko.


"Nona, ini laporan bulan ini dan ini pengajuan pencairan gaji dan intensif karyawan" ucap Citra memberikan map berisi laporan bulanan dan keuangan Restoran.


"Terimakasih, nanti saya periksa dulu" ucap Xena


"Baik kalau begitu saya permisi keluar" ucap Citra kemudian keluar dari ruangan kerja Xena.


Xena dengan teliti dan terperinci mengecek semuanya, karena ia kuliah di fakultas bisnis. Dan di kehidupan sebelumnya ia juga sudah lulus dengan gelar cumlaude, jadi memeriksa berkas seperti ini tentu saja tidak sulit untuknya.


Setelah beberapa saat Xena memanggil Citra kembali ke ruangannya.


"Semuanya tidak ada masalah, ini berkas yang sudah saya tanda tangani. Untuk gaji karyawan usahakan di transfer tepat waktu, sesuai hak mereka" ucap Xena


"Baik, ada lagi nona?" tanya Citra


"Sepertinya Restoran akan membuka cabang lagi di ibukota. Untuk di luar kota, akan aku pikirkan lagi sebelum memutuskannya. Jadi misalkan kamu mempunyai info terkait lokasi dan orang yang kompeten untuk menjadi manager cabang, kamu bisa memberitahukannya padaku" ucap Xena


"Tentu nona, saya akan menghubungi anda jika aku memiliki informasi yang bagus terkait hal itu" ucap Citra yang dia angguki puas oleh Xena.


...•••••...