Xena

Xena
XENA @BAB 26



"Pa...emmh Aiden!! Kau datang?." Seru Conrad.


"Iya jenderal. Aku butuh bantuanmu." Sahut Aiden.


Conrad sangat tidak nyaman dengan situasi ini. Pangeran Alaric menundukan kepala dihadapannya. Ini semua sangat bertentangan dengan adab dan aturan. Oleh sebab itu Conrad langsung membawa Aiden dan Xena dari sana masuk melalui gerbang istana.


Kenangan tentang ayah dan ibunya juga masa kecil Xena seketika terbayang dimatanya, saat Xena melangkahkan kakinya dihalaman istana. Rasa rindu langsung menyelimuti hatinya saat dia teringat ayah dan ibunya. Istana ini benar-benar mengingatkan Xena pada masa-masa itu. Karena bagaimanapun juga dia pernah menjadi bagian dari istana ini, dan dia dilahirkan di istana ini.


"Ampuni hamba pangeran. Hamba tidak bermaksud kurang ajar." Ujar Conrad dengan suara pelan, karena Aiden memberinya kode agar tidak berbicara terlalu keras, karena takut Xena mendengarnya.


Setelah Aiden menyampaikan maksud kedatangan Xena ke istana, Conrad membawanya ke istana wanita, dan memintanya menunggu di sebuah ruangan khusus, sedangkan Aiden menunggu di tempat lain, karena dia tidak mungkin masuk ke istana perempuan. Kalau saja dia tidak sedang menyamar, tentunya dia akan bebas menginjakan kakinya di semua area istana.


...


Semua pelayan wanita menunduk hormat saat Conrad datang ke istana wanita dan langsung menemui Kalla.


"Apa yang bisa saya bantu jenderal Conrad?." Tanya Kalla


"Aku ingin membawa Audrey sebentar." Jawab Conrad.


Kalla ingin sekali bertanya kenapa Conrad ingin membawa Audrey, tapi dia tidak berani mengatakannya. Dan akhirnya, dengan terpaksa Kalla mengijinkan Conrad membawa Audrey.


Kemana jenderal Conrad akan membawa Audrey?.Dan kenapa dia harus membawanya?." Tanya Kalla dalam hatinya.


Kenapa jenderal Conrad membawaku?. Apa jangan-jangan pangeran yang memerintahnya?. Ah iya, pasti pangeran yang memerintahkannya untuk membawaku. Setelah melihat wajahku kemarin, aku yakin pangeran pasti menyukaiku. Gumam Audrey dalam hatinya sambil tersenyum senang.


Namun senyum itupun perlahan memudar setelah dia tahu ternyata Conrad tidak membawanya ke istana pangeran, melainkan ke sebuah ruangan yang entah ruangan apa, dan ada seorang wanita diruangan itu yang sosoknya seperti tidak asing bagi Audrey.


"Xena!! Kau?. Kenapa kau bisa ada disini?." Tanya Audrey.


"Kakak!! Seru Xena, lalu memeluk Audrey. "Apa kabar kak?." Ucap Xena menanyakan kabar kakaknya.


"Kau lihat sendiri kan Xena, aku baik-baik saja. Kenapa kau bisa ada di istana ini?. Oh aku tahu, kau bisa masuk ke istana ini pasti karena bantuan Aiden. Katakan, kenapa kau datang kemari?." Tanya Audrey.


"Aku datang karena aku, kakek, nenek dan paman mencemaskanmu kak. Wajah kakak terlihat pucat dan kakak juga lebih kurus sekarang, apa mereka tidak memberi kakak makan?. Apa mereka memperlakukan kakak dengan buruk?." Tanya Xena dengan nada cemas. " Sebaiknya kakak kembali saja.Tidak usah tinggal disini." Ujar Xena


"Jangan sok tahu dan jangan sembarangan bicara kamu Xena. Tentu saja disini aku bisa makan enak dan tidur dengan nyenyak, kau tidak perlu memcemaskanku. Aku tidak mau dan tidak akan kembali lagi ke rumah kakek, sebelum aku berhasil." Ujar Audrey.


"Berhasil apa maksud kakak?." Tanya Xena.


"Aku akan tinggal di istana ini sampai aku berhasil menikah dengan seorang lelaki keturunan kerajaan atau bangsawan." Jawab Audrey.


"Tapi kak...."


"Sudahlah Xena. Sebaiknya kamu cepat pergi dari sini. Aku tidak akan kembali. Lagipula aku atau siapapun tidak mungkin bisa masuk dan keluar seenaknya dari istana ini. Kau mengerti kan. Sekarang cepatlah pergi. Aku masih banyak pekerjaan."Ujar Audrey mengusir adiknya sendiri.


Xena nampak sangat kecewa dengan sikap kakaknya itu.


"Baiklah kak, aku akan pergi. Jaga diri kakak baik-baik." Ucap Xena lalu melangkah menuju pintu keluar Setelah sampai di ambang pintu, Xena kembali berkata pada Audrey. " Aku tidak tahu kenapa kakak masih tetap mau tinggal disini, padahal aku tahu, mereka memperlakukan kakak dengan buruk. Kalau memang alasan kakak bertahan diistana ini karena ingin menikah dengan lelaki dari kalangan bangsawan, aku harap kakak akan segera mendapatkannya." Ujar Xena


"Tentu saja aku akan mendapatkannya. Kau lihat saja nanti." Sahut Audrey penuh percaya diri. Dengan wajah cantik yang dimilikinya, Audrey sangat yakin bisa menaklukan hati pangeran atau mungkin salah satu anak pejabat penting yang ada di istana. Mengingat di istana itu, tidak ada pelayan wanita yang lebih cantik darinya. Bahkan wajah putri Elora yang digadang-gadang sebagai putri paling cantik diantara putri kerajaan, menurut Audrey tidak jauh lebih cantik darinya.


Audrey bertekad suatu hari nanti dia akan mengatakan dan meyakinkan pangeran atau raja, siapa dirinya sebenarnya.


Audrey yakin jika raja dan pangeran tahu yang sebenarnya, dia akan mempunyai kesempatan untuk mendekati bahkan menikah dengan pangeran.


...


"Bagaimana Xena?. Apa kau bertemu dengan Audrey?." Tanya Aiden saat mereka berjalan keluar dari istana.


"Iya. Aku bertemu dengannya. Aku mengajaknya pulang, tapi dia tidak mau." Jawab Xena.


"Tentu saja dia tidak akan mau. Kau tahu sendiri kan kakakmu itu memang sudah lama ingin tinggal di istana." Kata Aiden.


"Bukankah dia ingin menjadi pelayan istana?." Jawab Aiden.


"Tidak. Bukan itu alasannya."


"Lalu?."


"Kakakku ingin menikah dengan pangeran atau anak bangsawan."


"Uhuuk...uhuukk... Aiden tiba-tiba tersedak. "Apa kau bilang?. Menikah?. Kakakmu ingin menikah dengan pangeran?." Tanya Aiden lalu tertawa.


"Iya. Kenapa kau tertawa?. Apa kau pikir ini lucu?." Tanya balik Xena.


"Tentu saja ini sangat lucu." Jawab Aiden.


"Apanya yang lucu?." Tanya Xena


"Kakakmu itu terlalu berharap." Jawab Aiden.


"Kenapa?. Apa kau pikir kakakku tidak pantas menikah dengan pangeran atau anak bangsawan?. Kenapa memangnya?. Apa karena dia hanya pelayan?. Atau karena dia hanya rakyat biasa?. Aku tahu rakyat jelata seperti kami memang tidak pantas untuk menjadi istri dari seorang pangeran atau bangsawan."


"Tidak Xena bukan itu maksudku. Kau jangan salah paham. Aku mengatakan hal itu karena aku tahu, pangeran tidak mungkin menyukai kakakmu."


"Heh...Kamu tahu darimana?. Apa kau sangat dekat dengan pangeranmu itu, sampai-sampai kau bisa seyakin itu?. Kalau memang kamu dekat dengan pangeran, lalu kenapa para penjaga itu tidak mengenalimu sama sekali?." Ujar Xena.


"Aku memang tidak begitu dekat dengannya. Tapi aku tahu pangeran tidak mungkin menyukai gadis seperti kakakmu." Ujar Aiden.


Xena langsung menoleh, dan menatap Aiden dengan tajam.


"Maaf!! Tapi itu benar. Dia tidak mungkin meyukai kakakmu."


"Kau tahu darimana?." Tanya Xena


"Jenderal Conrad. Dia pernah bercerita padaku, gadis seperti apa yang disukai oleh pangeran." Jawab Aiden berbohong.


"Katakan padaku, gadis seperti apa yang disukai pangeranmu?." Tanya Xena.


"Kenapa kau ingin tahu?. Bukankah kau membencinya Xena?." Jawab Sekaligus tanya Aiden.


Xena diam. Dia juga tidak mengerti, kenapa harus menanyakan hal itu.


"Aku hanya ingin tahu saja. Dan pangeran yang aku maksud bukan pangeran Alaric yang aku benci. Bukankah masih banyak pangeran lain yang ada dikerajaan ini?. Aku harap kakakku bisa bertemu dengan pabgeran impian, seperti apa yang diinginkannya, hingga dia rela datang ke istana, walau disini mungkin dia diperlakukan tidak adil."


"Tidak adil bagaimana maksud kamu?." Tanya Aiden tak mengerti.


"Aku tahu kakakku sering diperlakukan buruk oleh orang-orang disana." Jawab Xena.


"Benarkah?. Kau tahu darimana?." Tanya Aiden lagi.


"Strobi."


"Strobi?. Siapa dia?." Tanya Aiden


"Itu." Jawab Xena seraya menunjukan jarinya ke arah burung yang saat ini hinggap di atas kudanya. Aiden menatap burung itu, dan dia ingat kalau burung itu adalah burung yang sama, yang dulu pernah menunjukan jalan keluar dari hutan padanya, atas perintah Xena.


"Selama ini aku menyuruh Strobi mengawasi kak Audrey. Dari dia lah aku tahu, apa saja yang terjadi padanya selama di istana." Jelas Xena.


.


.


Bersambung☘️☘️☘️