
BRUGH!!!
Arsy melempar tubuh kokoh Zico hingga menabrak kursi dan jatuh tersungkur di lantai. Banyak orang yang menyaksikan itu pun terkejut dengan aksi barbar Arsy.
Namun ia tidak heran, karena mereka pikir Zico berusaha mendekati salah satu dari tiga dara cantik itu, namun di tolak. Beberapa orang kagum dengan keberanian Arsy yang berani melawan seorang Zico, yang di kenal sebagai CEO di salah satu perusahaan ternama di negara ini.
Mereka tidak berpikir Arsy kejam, karena mereka mengenal Arsy. Arsy si gadis tomboy itu, tidak pernah memukul seseorang tanpa alasan, kecuali orang itu mengusiknya terlebih dulu.
"Lemah" ucap Arsy
"Cabut..." ucap Xena langsung pergi dari kantin, di susul Arsy dan Olive di belakangnya.
Zico dengan muka datarnya berdiri dan membersihkan kuah bakso yang menempel di kepalanya hingga menetes ke wajah dan pakaiannya. Ia kemudian menoleh ke arah tiga dara cantik itu pergi, diam-diam tangannya terkepal menahan marah.
Ia tidak terima di perlakukan seperti itu oleh orang lain, meskipun orang itu adalah sahabat dari wanita yang ia cintai. Namun ia juga tidak ingin bertindak gegabah, yang bisa jadi akan membuat Xena semakin menjauh dari dirinya.
Ia harus berpikir jernih, setelahnya Zico pergi dari kantin, sungguh harga dirinya kini tengah di robek oleh tindakan Arsy barusan. Apalagi di kantin begitu banyak orang yang menyaksikan kejadian tadi.
Apa yang akan orang-orang katakan tentangnya nanti, seorang CEO perusahaan besar di kalahkan oleh wanita hingga jatuh di lantai.
"Si*l!!" Pekik Zico setelah masuk ke dalam mobilnya dan memukul stir mobil itu dengan keras..
"Dasar gadis brengsek! Beraninya dia mempermalukan aku di depan banyak orang, terlebih di depan Xena. Kalau bukan karena dia sahabat Xena dan Xena ada di sana, akan ku balas dia meskipun dia adalah seorang perempuan. Si*l!! Sepertinya aku harus memberikan pelajaran padanya" ucap Zico
Ia kemudian merogoh ponselnya dan menelepon asistennya, Dicky.
"Hallo Dicky, kamu kasih pelajaran buat sahabat gadis-ku yang bernama Arsy, berikan dia pelajaran kecil. Jangan sampai membuatnya mati dan jangan tinggalkan jejak yang mengarahkan buktinya padaku, kau paham??" ucap Zico kemudian memutus sambungan teleponnya.
Lalu mengendarai mobil mewahnya itu ke apartemen milik nya, untuk mandi dan mengganti pakaiannya yang basah dan bau kuah bakso. Juga rambutnya yang sangat lengket dan membuatnya tidak nyaman.
Ia akan kembali lagi saat jam pulang kuliah nanti, karena Zico sudah tahu jadwal kelas Xena.
....
Di sisi lain, Xena masih fokus mengikuti kelasnya. Namun ponselnya terus berkedip, ia melihat ada pemberitahuan khusus. Ya, pemberitahuan itu dari nomor yang Xena tahu adalah dari nomor Zico yang ia retas dari data yang di miliki Zico.
Xena mengambil Handsfree bluetooth dan memasangnya di satu telinga miliknya. Ia mendengarkan semua percakapan Zico yang tengah menghubungi Asistennya.
Ia mengerutkan kening dan mengepalkan tangannya saat mendengar Zico berniat memberikan pelajaran pada sahabatnya. Xena mengetatkan rahangnya saat tahu adik iparnya dalam bahaya, meskipun ia tidak tahu rencana apa yang akan di lakukan Dicky setelah ini..
Xena langsung membuka laptop miliknya, tangannya sangat cepat menari di atas keyboard laptop. Ia sama sekali tidak menggubris pelajaran guru dan juga beberapa orang yang memperhatikannya.
Beruntung dirinya duduk di pojok dan jarak dirinya dan temannya cukup jauh.
Dengan cekatan Xena meretas ponsel assisten Zico, tak hanya itu setelah meretas semua alat komunikasinya. Xena juga meretas CCTV di mana Asisten itu berada saat ini.
Setelah mengetahui apa yang akan di lakukan oleh Dicky, asisten Zico. Xena pun berdiri dan izin ke dosen yang tengah mengajar lalu pergi toilet.
Namun langkahnya bukan ke toilet, ia mengarah ke taman belakang yang Xena tahu keadaan di sana sepi.
Tuuuutt.... Dara menekan nomor seseorang.
"Hallo Xe..." ucap seseorang dari sana.
"Kak, ada yang ingin aku sampaikan, kalau kakak sedang berada di dekat orang. Bisakah untuk menjauh sebentar?" ucap Xena pada Vano To the point.
Ya, ia saat ini tengah menelepon Vano, ia memutuskan untuk memberi tahu pacar sahabatnya itu tentang apa yang sedang di rencanakan Dicky.
Vano yang saat itu bingung namun ia tetap mengikuti kata-kata Xena, ia menjauh dari kliennya sebentar. Terdengar suara ia meminta izin pada klien yang sedang di temuinya itu. Vano yakin ada sesuatu yang mendesak yang ingin Xena beritahu padanya.
"Ada apa Xe?" tanya Vano
"Maaf aku menganggu kerjaan kakak" ucap Xena merasa tidak enak
"Tidak apa-apa Xe. Katanya ada sesuatu yang penting yang ingin kamu bilang" ucap Vano
"Kak, bisakah kakak antar jemput Arsy selama seminggu ini?" tanya Xena
"Tentu, memang ada apa? Apa ada hal buruk terjadi?" tanya Vano lagi karena penasaran, karena tidak biasanya Xena meminta hal seperti itu. Sudah jelas ada sesuatu yang terjadi yang melibatkan kekasihnya itu.
"Ya, aku tidak bisa menjelaskannya di sini, bisa kah nanti kakak jemput kami di kampus. Aku akan menjelaskannya saat bertemu" ucap Xena.
"Tentu, jam berapa kalian pulang?" tanya Vano
"Jam tiga sore" ucap Xena.
"Aku akan ke sana sebelum jam tiga, kebetulan aku ada jadwal sampai jam dua" ucap Vano
"Makasih kak" ucap Xena merasa laga
Setelah menelepon Vano, Xena mengetik pesan untuk Arsy dan Olive. Ia mengatakan jika ia akan mengajaknya pulang bersama karena ada sesuatu yang penting yang ingin ia bahas dengan mereka.
Kemudian Xena menelepon suami tercintanya, awalnya ia ingin kirim pesan. Namun ia memutuskan untuk mencoba meneleponnya lebih dulu.
Siapa sangka jika suami bucinnya ternyata langsung menjawab teleponnya hanya dalam beberapa detik saja.
"Hallo mas, apa kamu sedang sibuk?" tanya Xena
"Tidak juga, mas hanya sedang membahas sesuatu dengan kakek. Ada apa hm? Bukannya sekarang kamu masih ada kelas, kok malah telepon?" tanya Kai yang tahu jadwal kelas sang istri.
"Aku izin ke toilet tadi, aku cuma mau minta izin. Pulang kuliah nanti aku, Olive, Arsy dan kak Vano mau ke resto. Ada beberapa hal yang ingin aku bahas sama mereka. Boleh kan mas?" ucap Xena
"Vano ikut?" tanya Ray mengerutkan keningnya.
Meskipun tahu kalau Vano sekarang adalah pacar adik sepupunya, namun tetap saja Ray tidak ingin Xena dekat-dekat dengan laki-laki lain. Apalagi Vano dulu juga menyukai istrinya itu.
"Ya, karena ini menyangkut masalah Arsy. Nggak apa-apa kan mas? Lagian kita ngobrol nggak berdua kok" ucap Xena
"Memang jam berapa ke resto nya sayang?" tanya Ray lagi
"Jam 3 kita sudah jalan dari kampus" jawab Xena.
"Kalau begitu mas ikut. Mas juga akan menjemputmu nanti" ucap Ray.
"Bukannya mas sibuk bahas tentang Perusahaan sama kakek?" tanya Xena
"Tidak juga, sebentar lagi mas juga selesai kok" ucap Ray
"Baiklah kalau begitu, aku tunggu jam 3 di kampus mas" ucap Xena
"Iya sayang, semangat belajarnya. Aku mencintaimu" ucap Ray manis.
"Aku juga mencintaimu mas" jawab Xena dengan senyum tipis di wajahnya, meskipun Ray tidak bisa melihat senyumannya itu.
Setelah memutuskan sambungan telepon, Xena kembali ke kelas untuk melanjutkan kelasnya.
....
Di sisi lain kediaman Octavio
Pluk...
"Aahhh, sakit kek... Kenapa maen pukul aja sih..." pekik Ray mengelus kepala nya yang di pukul dengan penggaris di tangan kakek ya itu.
"Sakit hmm? Dasar cucu nakal, kamu bilang nggak sibuk sama cucu mantu kakek. Padahal pelajaran kamu sudah menggunung segini banyaknya" ucap Kakek Reksa mengoceh gemas melihat tingkah cucu bucinnya itu.
"Panggilan dari istri tercinta nggak boleh di abaikan kek, sesibuk apapun Ray Istri tetap nomor satu. Ray nggak mau lengah walaupun dikit, uang bisa di cari. Tapi istri seperti Xena cuma satu-satunya. Lagian ini berkas Ray udah hafal luar kepala" ucap Ray mengangkat kedua bahunya.
Belum juga mulai bekerja, ia sudah di buat pusing oleh kakeknya karena harus mempelajari begitu banyak hal tentang Perusahaan.
Meskipun terlihat ogah-ogahan, tapi Ray sebenarnya sangat serius jika sudah menyangkut pekerjaan. Ia tidak akan melakukannya setengah-setengah, namun sekarang prioritasnya adalah sang istri.
Jadi sesibuk apapun dirinya, ia tidak akan mengabaikan istrinya yang sangat ia cintai itu.
"Yakin hafal di luar kepala?" ucap Kakek Reksa tidak yakin dengan ucapan cucunya itu.
"Ini mah gampang kek, jangan remehin kemampuanku untuk mengingat dan belajar sesuatu, aku sama seperti ayah yang mudah belajar dan juga lahir dari darah seorang pebisnis" ucap Ray lagi
"Kalau begitu kakek test..." ucap Kakek Reksa.
"Siapa takut? Ayo... Tapi setelah ini Ray pulang lebih awal ya kek, Ray mau jemput Xena.." ucap Ray
"Hmm..." ucap Kakek Reksa mengangguk setuju.
Beliau pun mulai mengetes semua hal yang di pelajari oleh Ray. Tak bisa di pungkiri kakek Reksa di buat takjub dan kagum dengan bakat dan kepiawaian Ray, saat cucunya itu mampu menjawab semua yang ia tanyakan.
Kakek Reksa tidak menyangka jika yang di katakan Ray benar adanya, ternyata bakat mendiang putranya menurun pada cucu satu-satunya itu.
"Luar biasa, sangat bagus Ray. Kenapa dengan bakatmu seperti ini, tidak dari dulu kamu terjun ke dunia bisnis? Itu menyia-nyiakan bakat terbaikmu" Tanya kakek Reksa.
"Ray kan udah bilang dari dulu, kek. Kalau Ray mau hidup bebas dan melakukan apapun yang Ray mau semasa Ray masih muda. Ada waktunya sendiri kapan Ray berhenti dan fokus mengurus bisnis milik kakek ini" ucap Ray.
"Baiklah, kamu sudah bekerja keras. Persiapkan awal pekan nanti kamu akan masuk ke perusahaan" ucap Kakek Reksa.
"Ya aku tahu, kalau begitu Ray jemput Xena dulu kek" ucap Ray melihat jam yang melingkar di tangan kirinya itu.
"Ya, hati-hati. Ajak cucu menantu kakek main ke sini kapan-kapan Ray, kakek juga rindu padanya" ucap Kakek Reksa.
"Jangan rindu sama istriku kek, inget kakek udah tua, udah alot. Istriku nggak akan doyan" ucap Ray udah ngibrit keluar dari mansion sembari tertawa setelah mengerjai Kakek nya itu.
"Dasar cucu sableng, bucin, awas kamu Ray!!!!" teriak Kakek Reksa.
Kakek Reksa kemudian terkekeh dan menggelengkan kepalanya saat cucunya sudah menghilang di balik pintu. Lalu Kakek Reksa mendongak ke atas dan tersenyum di wajah tuanya itu.
"Lihat lah anak kalian, dia sangat nakal sekali. Tapi ia juga sudah dewasa dan menemukan kebahagiaannya dengan wanita yang tepat. Aku harap kalian di sana juga bahagia, aku merindukan kalian dan aku juga merindukanmu istriku" ucap Kakek Reksa, mengingat mendiang anak, menantu dan juga istrinya.
...•••••••...