Xena

Xena
74. Cerita Olive



Hallo guys, sedikit info nih.


Hari ini Author promosi novel baru yang saja di rilis berjudul "The Greatest Female Soul" Yeeeyyyyyy🥳🥳🥳🥳🥳


Novel The Greatest Female Soul Bercerita tentang seorang gadis desa yang mewarisi jiwa dan juga memori dari orang hebat di jaman kekaisaran Bintang.


Untuk cerita lebih jelasnya bisa tengok di novelnya ya, semoga kalian suka ♥️🥰😘


Jangan lupa baca, klik favorit, like, komen dan vote juga ya😉🥰


...•••••...


Mendengar ucapan Xena jelas saja Olive terkejut, kalau ternyata kecelakaan yang ia alami, ada kaitannya dengan Yani.


"Beneran si Lampir yang nabrak gue? Si*lan tuh orang, ngajak gelut rupanya" ucap Olive terkejut dan marah.


"Iya deh yang udah ahli taekwondo, ngajaknya langsung gelut" ucap Xena dengan di iringi kekehan.


"Gue serius Xe" ucap Olive kesal


"Aku juga serius tuh, lagian nih ya. Kalaupun beneran gelut, aku pasti rekam semuanya terus upload deh sekalian biar viral" ucap Xena


"Ngajak ribut itu namanya Lo Xe" ucap Olive dengan bibir maju ke depan.


"He-he, bercanda Olive sayong! Lagian sejak kapan panggil Lo gue, sama aku??" ucap Xena gemas


"Tapi yang aku omongin serius Liv, emang beneran Yani yang nabrak kamu kok" ucap Xena berubah jadi serius


"Abisnya dengerin kak Vano sama temen curutnya kadang-kadang ngomong lo gue, jadi ikutan deh he-he-he. Tapi bay the way dari mana kamu tahu kalau Yani yang nabrak gu...eh aku?" tanya Olive meralat ucapannya.


"Kan aku udah bilang, kalau aku udah cari tahu kejadian yang menimpa kamu. Aku pikir aneh aja dengan kecelakaan kamu, jadi aku menyelidiki semuanya dan tahu jika pelakunya adalah Yani" ucap Xena, Olive hanya mengangguk sekaligus geram saat mendengarnya.


"Aku juga menemukan sesuatu tentang kamu dan Yani. Jadi bisakah kamu ceritakan padaku nona muda Dirgantara?" tanya Xena dengan menatap Olive.


"Ce-cerita apa?" tanya Olive tertegun di tatap seperti itu oleh Xena.


"Nggak mungkin kan kalau Xena tahu masa lalu gue sama Si Lampir itu saat SMP?" ucap Olive dalam hati.


"Yaps, aku tahu itu" ucap Xena seakan tahu yang di pikiran Olive


"**What beneran Xena tahu sesuatu? Apa Xena bisa baca pikiran gue?" ucap Olive dalam hati dengan terkejut**


"Ya, aku bisa. Jadi cepetan cerita Olive!" ucap Xena penasaran dengan cerita Olive, dari sisi Olive sendiri. Bukan dari data yang ia baca.


"Waaahh Lu cenayang Xe?" ucap Olive terkejut saat Xena seakan bisa baca apa yang ia pikirkan.


"Ya, aku bisa baca pikiran kamu" ucap Xena memutar matanya jengah.


"Ya nggak lah oneng! Mana bisa aku baca pikiran orang ngadi-ngadi aja. Jadi mau cerita apa nggak nih?" ucap Xena


"Ya-ya, aku cerita, ye alah sabar bu" ucap Olive


"Jadi aku tuh sama si lampir dulu......" ucap Olive menceritakan semuanya.


Ia menceritakan dari awal ia bertemu dengan Yani di SMP lamanya dia. Bahkan ia sempat dekat dengan Yani sekitar kurang lebih 3 bulan, sebelum akhirnya ia menjauh karena melihat perilaku yang menyimpang dari Yani.


Olive menceritakan semua pengalamannya saat melihat Yani berhubungan badan di gudang sekolah dan tempat lain, yang tidak sengaja ia lihat.


Ia juga cerita kalau ia sempat naksir cowo, ya puppy love gitu saat SMP. Tapi ternyata ia kecewa saat tahu cowok itu juga bermain dengan Yani.


Dia sudah lama menyembunyikan hal ini dari semua orang, termasuk Kakak dan orang tuanya, tapi sekarang Olive berani bicara saat Xena menanyakannya.


Karena tidak mungkin Xena menanyakan hal itu padanya, jika Xena tidak mengetahui sesuatu. Olive juga cerita kalau alasan dia sampai sekarang belum pernah berpacaran, karena hal itu. Ia jadi takut untuk menjalin hubungan dengan lawan jenis.


Ia trauma dengan hal yang berbau hubungan intim. Tubuhnya merespon jijik, itu karena dia yang saat itu di bawah umur menyaksikan seseorang melakukan itu dengan beberapa orang sekaligus di depan matanya.


"Jadi itu cerita aku mengenal Lampir dulu, sebeoum aku pindah ke SMP yang sama dengan kamu. Dan suatu hari saat aku sedang makan di cafe malam itu, aku nggak sengaja lihat kak Vano dan temen-temennya nongkrong di sana. Aku kaget saat ada si Lampir di sana bersama mereka. Saat ia ke toilet, aku bergegas lebih dulu masuk ke toilet dan diam di balik bilik kamar mandi. Aku denger dia menginginkan kak Vano, terlebih ia penasaran ingin mencicipi barang milik kak Vano" ucap Olive terlihat jijik dan menahan amarahnya sambil bercerita.


"Si Lampir itu sakit Xe, dia wanita gila!! Dia maniak ****!! Aku jijik walaupun hanya melihat wajahnya. Dia bahkan tidak segan-segan buat main kekerasan saat dia sedang melakukan berhubungan dengan para pria itu. Dia punya kelainan yang aneh, terobsesi dengan tubuh pria terutama barang pribadinya. Meskipun aku nggak tahu dia punya penyakit atau nggak, tapi yang jelas aku nggak mau kak Vano jadi salah satu korban obsesinya itu" ucap Olive yang kini tubuhnya sudah bergetar.


"Pernah ada yang mengatakan kalau aku berlebihan membenci Yani tanpa alasan, tapi mereka tidak tahu apa-apa, Xe. Kalaupun aku cerita tidak mungkin ada yang percaya. Aku sayang sama kakakku satu-satunya. Apa aku salah menjauhkan kak Vano dari wanita seperti itu, Xe?" ucap Olive yang kini sudah menangis saking ia tidak sanggup menanggung beban di hatinya.


"Aku jijik Xe, Aku tidak bisa melupakan itu. Aku juga merasa jijik dengan mataku sendiri" ucap Olive.


Xena memeluk sahabat baiknya itu, ia membiarkan Olive menangis. Sejujurnya ia tahu saat mencari tahu tentang Olive malam tadi.


Ia mengetahui sahabatnya itu selama sebulan sekali mendatangi psikiater. Xena menyalahkan dirinya sendiri karena tidak tahu jika sahabatnya itu menderita trauma hebat selama ini. Bahkan di kehidupan sebelumnya, Olive meninggal karena di per**sa secara beramai-ramai sebelum di bunuh.


Xena tidak bisa membayangkan saat itu, Olive yang memiliki trauma hebat tentang hubungan badan. Justru di per**sa ramai-ramai sebelum ia menghembuskan nafas terakhirnya karena di bunuh.


Xena menagan air matanya agar tidak tumpah saat itu juga, ia harus kuat agar bisa menenangkan sahabatnya itu.


"Menangislah, luapkan semuanya biar kamu lega. Kedepannya kita hadapi ini bareng-bareng, Oke. Percaya padaku, aku akan membuat Lampir itu menerima akibat dari perbuatannya yang sudah berani mencelakai kamu" ucap Xena menenangkan Olive.


Olive membalas memeluk Xena dengan sebelah tangannya, entah mengapa ia merasa lega dan nyaman saat ia menceritakan hal itu pada Xena. Ia sangat mempercayai sahabatnya itu.


Setelah Olive tenang, Xena kemudian melepaskan pelukannya. Dengan lembut Xena menghapus air mata Olive dengan tisu yang ada di atas meja.


"Mau sampai kapan diam dan menguping? Tidak mau keluar?" ucap Xena dengan keras.


Membuat Olive dan juga orang yang sejak tadi mendengar obrolan antara Xena dan Olive terkejut.


...•••••...