
Berita tentang kecelakaan yang menimpa seorang wanita di jalan X beredar dengan cepat, di ketahui jika itu adalah Yani.
Yani di larikan ke rumah sakit yang sama dengan Olive di rawat, oleh orang yang tidak sengaja menemukannya tergeletak di tengah jalan dalam kondisi memprihatinkan. Dan langsung menghubungi ambulan untuk membawa Yani.
Olive juga terkejut saat kakaknya meneleponnya dan memberi tahu jika Yani menjadi korban tabrak lari dan berada di rumah sakit yang sama dengan dirinya.
Meskipun Olive penasaran bagaimana keadaan Yani, dia tidak berpikir untuk melihatnya. Karena ia sama sekali tidak peduli dengan lampir itu, ia hanya penasaran tentang kondisinya.
Wenda yang mendengar jika teman anaknya mengalami kecelakaan juga terkejut. Wenda bilang jika ia ingin melihat keadaannya dan meninggalkan Olive sebentar untuk melihatnya.
Bagaimana pun Yani teman anaknya dan dia pernah bertemu beberapa kali dengan Yani. Jadi setidaknya ia melihat keadaan Yani sebagai seorang kenalan.
Begitu di ruangan tidak ada siapa-siapa kecuali dirinya, Karena kakak dan ayahnya juga belum datang. Olive menelepon Xena setelah itu.
"Xe aku dengar si Lampir kecelakaan, apa kamu tahu?" ucap Olive dengan pelan dan hati-hati begitu telepon itu di angkat.
Meskipun di ruangan tidak ada orang lain selain dirinya. Tapi ia tidak ingin ada orang lain mencuri dengar tanpa sepengetahuannya, karena hal yang ia tanyakan sangat sensitif.
"Hmm" ucap Xena
"Kamu tahu sesuatu? Apa kamu yang melakukannya? Jangan salah paham, aku hanya bertanya, oke" tanya Olive
"Ya, aku yang melakukannya" jawab Xena tanpa ragu.
Xena kini sedang berada di pangkuan si bucin yang tidak ingin jauh-jauh darinya.
"Apakah aman? Aku nggak ingin kamu kenapa-kenapa karena membalasnya untukku" ucap Olive.
Bukannya menyalahkan Xena, ia justru sedikit khawatir hal itu meninggalkan bukti dan berakibat buruk untuk Xena. Ia akan merasa bersalah jika hal itu sampai terjadi.
"Tenang saja, semuanya aman" ucap Xena yakin.
"Bagus kalau begitu, lega sekali mendengarnya. Besok lusa kamu jadi ke sini kan?" ucap Olive lega mendengarnya.
Ia menanyakan hal itu pada Xena karena Kamis besok ada jadwal kontrol dirinya dengan Dokter Ratna.
"Tentu, aku akan menemanimu, jangan khawatir" ucap Xena
"Aku tutup dulu teleponnya, ada orang" ucap Olive dan langsung mematikan teleponnya saat mendengar langkah mendekat.
Olive berpura-pura membuka aplikasi online shop dengan tenang tanpa membuat orang lain curiga. Tak lama kemudian Danu dan Vano masuk. Melihat Wenda tidak ada, Danu menanyakan keberadaan istrinya.
Setelah tahu Wenda melihat keadaan Yani, Danu menyusul istrinya ke sana. Sedangkan Vano tetap di sana menemani adik perempuannya itu.
"Dek, apa ini ada hubungannya dengan Xena?" tanya Vano.
"Kenapa kakak tanya begitu?" tanya balik Olive menatap kakaknya.
"Karena kemarin kamu mengatakan jika Xena akan membalasnya untukmu" ucap Vano mengingat ucapan adiknya itu.
"Apa kakak pikir Xena bisa melakukan itu? Apa kakak tidak mengenal Xena seperti apa? Xena memang ingin membalasnya tapi bukan dengan cara seperti itu. Xena mengatakan padaku jika ia ingin membuat Yani jera dengan mengupload ke sosial media tentang kehidupan se*s bebasnya, bukan mencelakai Yani" ucap Olive marah.
Ia menutupi apa yang di perbuat sahabatnya, meskipun itu dari kakaknya sendiri. Apalagi Xena melakukan hal ini demi dirinya, jadi ia akan menyimpannya untuk dirinya sendiri.
"Liv, bukan maksud kakak..." ucap Vano
"Untung kakak bukan lagi orang yang sukai Xena, kalau tidak Xena pasti akan merasakan sakit hati yang lebih dalam lagi saat tahu kakak menuduhnya seperti tadi. Bahkan mengatakannya tanpa memikirnya terlebih dulu" ucap Olive menusuk tepat di hati Vano.
Dan sekarang ia tanpa sadar melakukan hal yang sama lagi. Ia merasa menyesal saat ini dia menyakiti Xena lagi jika Xena tahu apa yang ia ucapkan barusan. Pasti Xena akan semakin membenci dirinya.
"Kakak minta maaf dek, bukan begitu maksud Kakak. Kakak hanya bertanya bukan menuduh" ucap Vano
"Sama aja. Coba kakak pikir, bagaimana jika kakak bertanya seperti tadi di depan Xena? Kakak memang tanya, tapi ucapan kakak seperti sudah menjudge Xena tanpa di sadari" ucap Olive kesal.
"Maaf dek, kakak menyesal. Tidak seharusnya kakak menanyakan hal sensitif seperti tadi dan membuat orang yang mendengarnya salah paham" ucap Vano.
"Atau jangan-jangan kakak masih peduli dengan lampir itu ya?" tanya Olive mencibir.
"Nggak Liv, kakak sudah tidak peduli pada orang yang sudah menyakiti keluarga kakak, adik kesayangan kakak. Sampai membuat kamu hampir meregang nyawa, kakak tidak akan memaafkannya" ucap Vano
"Hmm... Lalu bagaimana keadaan si Lampir?" tanya Olive
"Kakak nggak tahu, Ferry menelepon, ia memberi tahu kakak katanya Yani kecelakaan dan menjadi korban tabrak lari. Kakak nggak bertanya lebih jauh, karena kakak tidak tertarik untuk tahu kondisinya atau apapun tentang dia" ucap Vano
Olive hanya mengangguk paham, bagaimanapun kakaknya sudah memutuskan untuk menjauh dari Yani dan Olive sangat setuju dengan keputusan kakaknya itu.
Tak berselang lama, kedua orang tua Olive dan Vano datang. mereka menceritakan jika kondisi Yani sangat parah dan mereka sangat kasihan padanya.
Mereka mengatakan saat ini Yani sedang menjalani operasi untuk mengamputasi kedua kakinya, karena tulang kaki Yani remuk. Jika tidak segera di amputasi, itu akan membusuk dan berpengaruh pada bagian tubuh yang lain.
Vano dan Olive terkejut mendengarnya, mereka berdua tidak menyangka jika karma itu cepat sekali datangnya dan juga berkali lipat balasannya.
....
Di tempat lain, Xena tengah bersandar di pelukan Ray yang memangkunya. Keduanya menikmati kebersamaan mereka, karena besok Ray akan kembali ke kota D dan kota lainnya untuk melanjutkan promosi filmnya dan akan kembali Minggu depan.
Xena sudah mengetahui apa yang terjadi pada Yani, karena Ray sudah menceritakan padanya. Mendengar itu Xena sangat senang, ia tidak memiliki sedikit simpati pun terhadap Yani.
Yani memang pantas mendapatkan balasan dari perbuatannya pada Olive.
"Siapa yang kamu suruh untuk melakukan itu?" tanya Xena
"Tiger dan anak buahnya" ucap Ray sambil menyuapi kekasihnya Apel yang sudah ia kupas dan potong sebelumnya.
"Orang itu cukup bisa di andalkan" ucap Xena merujuk kepada Tiger.
"Ya, di balik kelakuannya yang sangat menyebalkan dan susah di atur. Dia selalu melakukan tugasnya dengan baik dan serapih mungkin" ucap Ray.
"Ya, aku cukup mengakuinya" ucap Xena mengangguk.
"Sepertinya dia hanya takut padamu yang, saat aku mengatakan namamu tubuhnya langsung bergetar ketakutan" ucap Ray terkekeh.
"Kenapa dia takut padaku? Aku manusia bukan hantu. Aku juga nggak gigit orang" ucap Xena mengendikkan bahunya.
"Soalnya kamu ganas, dan aku suka itu. Kamu selalu luar biasa di mataku" ucap Ray
Ia menyuapi Xena lagi, namun kali ini bukan apel yang ia suapi, tapi bibirnya sendiri
Xena terkejut saat Ray menciumnya, namun ia segera menikmatinya. Ray dengan lembut mencium bibir Xena yang membuatnya candu itu dengan penuh perasaan.
•••••