Xena

Xena
66. Kondisi Olive



Dengan kecepatan tinggi, Ray mengendarai mobilnya menuju ke rumah Xena. butuh 10 menit untuk sampai di sana, sangat cepat jika di banding biasanya. Ray langsung turun dari mobil begitu ia sudah sampai di halaman rumah.


Melihat Ray datang pembantu/ART di rumah Xena menatap Ray dengan sengit, jelas ia sudah membaca berita tentang Ray di internet. Namun ia tetap melakukan pekerjaannya dengan baik dan tidak bisa ikut campur mengenai kehidupan majikannya.


Ia hanya merasa kesal, nona yang mereka sayangi di sakiti oleh laki-laki. Meskipun laki-laki itu adalah kekasihnya dan memiliki status yang lebih tinggi.


"Ada yang bisa saya bantu tuan?" ucap pembantu yang bernama Asih itu dengan sopan meskipun nada bicaranya terdengar menahan amarah.


"Apa Xena sudah pulang?" tanya Ray dengan nada cemas. Dalam hati ia berharap jika kekasihnya itu ada di rumah.


"Maaf, nona belum pulang sejak keluar pagi tadi. Nyonya dan tuan juga masih belum pulang, mungkin masih di tempat kerja" ucap Asih.


"Ah, makasih kalau begitu" ucap Ray, kemudian melangkah kakinya ke mobil lagi dengan kecewa.


Ia percaya dengan ucapan Asih, karena ia juga tidak melihat motor Xena di sana. Ray lalu mengendarai mobilnya menuju Dojo. Sesampainya di sana, ia tidak mendapati motor Xena juga. Namun ia memutuskan untuk masuk dan mencari tahu atau bertanya.


Ia melihat Arsy yang tengah berlatih di sana, jadi ia menghampiri sepupunya itu.


"Ars, apa kamu melihat Xena?" tanya Ray begitu ia mendekati Arsy.


BUAKH!!!


Bukannya menjawab, Arsy justru meluncurkan tendangan nya ke arah Ray. Sontak Ray menghindar, meskipun terlambat. Namun ia masih sempat menangkis tendangan keras Arsy yang mengarah bahunya itu.


"Ars, apa yang kamu lakukan?" ucap Ray kesal dan terkejut atas tindakan Arsy.


"Harusnya aku yang tanya padamu. Apa yang kamu lakuin ke Xena, Hah? Tahu begitu, aku nggak akan bantu kamu! Ngapain cari Xena? Belum puas sakitin dia? Cari aja tuh gebetan baru yang kamu!" ucap Arsy dengan marah, ia tidak memanggil Ray kakak seperti biasanya.


Mendengar itu Ray merasa bersalah, bagaimanapun semua orang pasti salah paham dengan berita yang beredar dan Arsy pasti sudah melihat berita itu.


"Aku minta maaf, tapi itu benar-benar salah paham. Itu tidak seperti yang beredar di berita" ucap Ray


"Salah paham? Oh! Kalau gitu aku akan meminta Xena memeluk cowok lain dan mencium nya lalu bilang padamu kalau itu salah paham. Apa kamu percaya?" ucap Arsy.


Ray terdiam, jika hal yang di ucapkan Arsy terjadi, ia pasti akan merasakan sakit di hati nya saat melihat orang yang ia cintai dengan orang lain.


Mengingat itu ia terduduk, dan menangis. Xena-nya pasti merasakan sakit saat melihat berita itu, ia merasa bersalah karena bertindak ceroboh dan tidak sengaja melukai perasaan kekasihnya.


Melihat Ray terduduk dan menangis, Arsy juga merasa iba. Bagaimanapun Ray adalah sepupunya, ia kemudian menghela nafas dan menekan emosinya saat ia bicara.


"Pulanglah, jika aku tahu Xena ada di mana, aku akan memberikan kabar padamu. Tapi kamu juga harus membereskan kekacauan yang kamu buat. Terlebih berita ini tersebar begitu cepat, kemungkinan orang tua Xena juga tahu dan sangat kecewa padamu" ucap Arsy memberikan nasehat.


Ray mengangguk, karena yang di ucapkan sepupunya itu benar. Selain menjelaskan pada Xena, ia juga harus mengatasi kekacauan berita itu. Terlebih kemungkinan orang tua Xena juga tahu dan kecewa padanya.


Ia tidak akan sanggup untuk kehilangan gadis yang ia cintai. Ray merasa marah dengan orang yang membuat berita itu, ia tidak akan pernah melepaskannya.


"Aku pulang, tapi aku mohon Ars beritahu aku jika kau ada kabar dari Xena. Aku berani bersumpah, jika berita yang beredar tidak benar. Itu semua fitnah untuk menjatuhkan ku" ucap Ray femgan sungguh-sungguh.


Arsy hanya mengangguk pelan, setelahnya Ray pulang dengan perasaan yang lebih kacau lagi.


Sesampainya di rumah sakit, Xena langsung berlari menuju pusat informasi untuk menanyakan apakah ada pasien yang bernama Olivia Dirgantara.


Setelah di beritahu ia bergegas menuju ruang UGD setelah tahu Olive di sana.


"Siang Dok, saya teman dari Olivia. Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Xena dengan khawatir, ia melirik ke arah brankar di mana Olive berbaring dan tubuhnya penuh luka. Ia ingin menangis melihat itu, namun ia coba untuk tahan.


"Selamat siang nona, teman anda mengalami kecelakaan. Untuk detailnya saya kurang tahu, tapi yang saya dengar pasien korban tabrak lari. Saat ini pasien mengalami luka yang cukup parah, dugaan kami kaki sebelah kirinya patah. Tapi untuk tahu lebih jauh, pasien harus melakukan pemeriksaan lebih dalam mengenai apakah ada benturan di kepala atau bagian tubuh lainnya. Juga kami butuh persetujuan wali segera dan mengurus administrasi" ucap Dokter.


"Baik, saya akan menghubungi keluarganya Dok, biar administrasi saya yang urus" ucap Xena


Mendengar penjelasan Dokter Xena terkejut, ternyata keadaan Olive cukup parah. Hatinya gelisah, memikirkan apa yang terjadi pada Olive. Karena jelas ia ingat, di kehidupan dulu Olive tidak pernah mengalami kejadian ini.


Apa alur masa depan berubah? pikirnya.


Tapi mengingat jika ia juga sudah tidak lagi mengejar Vano dan bersama dengan Ray. Jelas masa depan ada perubahan karena tindakannya.


Xena mengambil ponselnya, ia terkejut melihat banyaknya panggilan tidak terjawab dari Ray, Galang juga Arsy.


Ia menghela nafas, keadaan Olive lebih penting dari gosip tentang kekasihnya. Ia bisa mengurus tentang berita itu nanti, karena saat ini Olive membutuhkan tindakan cepat, jadi ia mengabaikan itu dan segera menelepon orang tua Olive.


Namun tidak ada jawaban setelah berkali-kali, Xena kemudian melihat kontak Vano. Ia baru ingat jika ia masih memblokir nomor itu, jadi ia membuka blokiran itu dan mencoba menghubunginya.


Sekali tidak di angkat, kedua juga tidak di angkat. Saat panggilan ke tiga tidak ada tanda-tanda di angkat Xena hampir menyerah, tapi tiba-tiba teleponnya di angkat.


"Xe..." ucap Vano seperti tidak percaya, ada nada senang terselip di suaranya.


"Kak apa aku mengganggumu?" tanya Xena gelisah.


Bukan karena ia masih menyimpan rasa cinta atau benci, tapi lebih ke gelisah mengatakan hal yang terjadi pada Olive. Xena sangat tahu jika Vano sangat menyayangi adik satu-satunya itu.


"Aku baru selesai meeting, ada apa Xe? kau ingin mengatakan sesuatu?" tanya Vano


Xena sangat jelas mendengar nada Vano yang sangat lembut padanya. Ia menghela nafas panjang sebelum melanjutkan bicara.


"Kak, bisakah ke rumah sakit umum pusat ibukota sekarang?" ucap Xena


"Rumah sakit? Kamu sakit Xe? Apa yang terjadi, kamu nggak apa-apa?" ucap Vano dengan nada cemas dan khawatir.


"Bukan aku kak, tapi Olive. Olive kecelakaan dan butuh wali untuk di ambil tindakan lebih lanjut. Tante dan Om tidak ada yang angkat teleponnya, jadi aku telepon kakak" ucap Xena.


"Ya Tuhan, Olive!" ucap Vano sangat terkejut mendengarnya.


"Kakak ke sana sekarang, tolong pantau keadaan Olive Xe" ucap Vano lagi dengan suara gemetar.


"Ya kak, hati-hati di jalan" ucap Xena


...•••••...