Xena

Xena
156. Kritik Ray



Zico melampiaskan semua kemarahannya kemarin, ia sungguh tidak menyangka jika wanita yang ia suka ternyata bukanlah wanita biasa. Mengenai kenyataan jika Xena tahu tentang Dark Fox, tentu saja ia terkejut.


Dark Fox merupakan organisasi ilegal yang ia dirikan tiga tahun yang lalu itu merupakan salah satu organisasi mafia terbesar di negara ini.


Bagaimana bisa Xena mengetahui itu semua? Bahkan identitas dirinya sangat di sembunyikan dari orang luar. Selama ini hanya dua orang yang tahu tentang identitasnya yang lain, yakni asisten pribadinya Dicky dan juga salah seorang kenalannya di masa lalu.


Dia adalah seorang wanita yang sangat Zico kagumi karena bakatnya yang luar biasa semasa kuliah dulu, tapi sayangnya wanita itu meninggal karena kecelakaan pesawat setahun yang lalu.


Sebelumnya beberapa kali Zico mencoba merekrutnya menjadi anggota mafia nya, namun dia selalu menolak dan menghindar.


Who is She? Yeah, that's right! Xavierra Rifaldi.


Sebenarnya itu adalah rahasia yang di pendam Xena, entah mengapa ingatan Vierra tentang Nico baru ia ketahui belakangan ini. Dan Xena baru tahu jika mendiang Kakak dari Galang itu ternyata pernah memiliki rasa pada Zico.


Hanya saja perasaan Vierra tidak sebesar itu, dan sudah pupus setahun sebelum dirinya meninggal. Kenyataan Zico seorang playboy dan memiliki trauma pada wanita dan selalu mempermainkan wanita, membuat dara cantik itu memutuskan untuk menyerah dengan perasaan yang selama ini ia pendam.


Terlebih saat ia tahu, Zico mendekatinya agar dia bersedia bergabung dengan organisasi mafia yang ia dirikan. Entah mengapa ia merasa ini sangat plot twist sekali.


Alasan lainnya ia melupakan Zico adalah karena Vierra lebih memilih untuk menjadi sukses dan membahagiakan keluarganya, baginya keluarga nomor satu dan masalah cinta ia tidak mau memikirkannya.


Ia percaya Tuhan sudah menentukan jodoh yang terbaik untuknya, sayangnya Tuhan lebih menyayanginya dan memanggilnya terlebih dulu.


"Pantas saja aku sulit membobol identitas yang ia miliki, ternyata ia adalah wanita yang hebat yang bahkan bisa mengetahui identitas ku yang aku sembunyikan.


Kucing kecil, mengetahui hal ini justru aku lebih sangat ingin memilikimu. Aku biarkan kamu tenang dan bebas lebih dulu, aku pastikan kamu akan jatuh dalam pesonaku. Saat itu terjadi, aku berjanji akan menjadikan kamu wanita ku satu-satunya" gumam Zico yang sudah mulai berpikir tenang, jadi hari ini ia sudah mulai berangkat ke kantor.


....


Di kantor Octavio Group, kedatangan Ray membuat semua staf geger. Siapa yang tidak tahu Ray, mantan aktor papan atas yang masih panas di perbincangkan khalayak ramai di media sosial karena pengunduran diri nya dari dunia entertainment.


Mereka bertanya-tanya, ada apa gerangan seorang Ray datang ke kantor mereka? Ada yang menduga jika Ray memiliki kerja sama dengan perusahaan, karena yang orang-orang tahu Ray saat ini memegang perusahaan milik keluarga nya.


Namun orang-orang di sana tidak menyadari jika perusahaan yang di maksud Ray adalah perusahaan yang saat ini mereka pijak dan tempat mereka menyambung hidup.


"Selamat pagi Tuan" ucap Andhini yang menyambutnya di depan ruangan kerja Ray, sedikit membungkukkan tubuhnya..


Ray sempat berhenti dan memperhatikan Andhini, Andhini yang di tatap oleh Ray mendadak merona malu dan tersenyum. Namun senyumannya luntur saat ia mendengar apa yang di ucapkan Ray tepat di depannya tanpa di saring lebih dulu.


"Apa pakaianmu kekecilan nona? Pakaianmu seperti anak TK membuat mataku sakit. Ganti! Gunakan Celana panjang! Kancing kemejamu sampai atas! Kau terlalu boros hingga menghabiskan make up dalam satu kali pakai, tebal sekali! Kau sedang kerja bukan sedang sedang pawai karnaval, atraksi sirkus apalagi ngelenong" ucap Ray dengan nada datar dan dinginnya, kemudian langsung masuk ke dalam.


Andhini mengerjapkan matanya masih syok karena di hari pertama atasan barunya kerja, ia sudah di kritik penampilannya yang menurut dirinya sudah sempurna itu.


Sedangkan Galang yang saat ini sudah menjadi asisten pribadi Ray, menahan tawanya agar tidak pecah.


"Ganti dulu sana! Ah ya perkenalkan saya Galang, asisten pribadi tuan Ray. Mohon kerjasama nya nona" ucap Galang lalu berlalu begitu saja menuju meja kerjanya yang berada di depan meja kerja Andhini.


Sembari menahan rasa kesal sekaligus malu, Andhini langsung pergi entah kemana. Galang hanya mengedikan bahunya tidak peduli. Toh jam kerja masih setengah jam lagi dan kakek Reksa akan datang sekitar jam 9, yang artinya masih ada satu jam setengah lagi untuk acara perkenalan CEO baru.


....


Satu jam kemudian Kakek Reksa sudah datang lebih awal, ia mengerutkan keningnya saat ia tidak mendapati Andhini di sana. Kakek Reksa tidak bertanya dan langsung masuk di temani seorang laki-laki paruh baya dan juga Galang yang ikut masuk.


"Hallo tuan muda, selamat sudah resmi memimpin perusahaan. Semoga perusahaan di tangan anda semakin maju" ucap Pak Gustav tersenyum sopan.


"Terimakasih Pak Gustav, mohon bantuannya seandainya saya masih ada yang kurang" ucap Ray


"Tentu Tuan" ucap Pak Gustav tidak keberatan.


"Di mana Andhini Ray?" tanya Kakek Reksa.


Ray tidak menjawab dia justru menoleh ke arah Galang.


"Mungkin sedang keluar mungkin untuk berganti pakaian tuan besar. Sebenarnya dia sudah keluar dari sejam yang lalu dan belum kembali" ucap Galang


"Berganti pakaian?" tanya Kakek Reksa mengeryitkan keningnya.


"Itu aku yang suruh kek" ucap Ray


"Memangnya kenapa pakaiannya? Kotor?" tanya Kakek Reksa heran.


"Huuuh, kotor sih nggak, tapi bisa saja membuat pikiran kotor semua karyawan laki-laki yang ada di kantor. Tentunya selain aku, karena aku justru jijik melihat yang seperti itu" ucap Ray mencibir.


"Kakek tidak mengerti maksud mu" ucap Kakek Reksa.


"Dia menggunakan pakaian kurang bahan yang mempertontonkan tubuhnya kek. Itu pakaian anak TK kok di pakai, dia sudah mirip jajan tradisional lepet aja. Mana tuh muka di dempulnya tebel. Astaga sakit mata aku di buatnya, bisa-bisa asam lambungku langsung naik karena mual terus melihat dia" ucap Ray bergidik.


Galang lagi-lagi menahan tawanya saat mendengar Ray begitu blak-blakan mengomentari sekretarisnya itu.


"Jangan mengada-ada Ray, kakek tahu kalau kamu nggak suka punya sekretaris perempuan. Tapi nggak gini juga, ucapanmu itu bisa membuat sakit hati orang" ucap Kakek Reksa menepuk keningnya saat mendengar ucapan cucunya itu.


"Nggak ngada-ngada kok, memang kenyataannya gitu. Masa iya aku melihat bawahan aku seperti itu nggak aku tegur? Apa kata orang-orang kalau tahu sekretaris CEO perusahaan besar berpakaian layaknya wanita yang mau pergi ke Club?


Terus kalau semisal tiba-tiba istriku datang dan melihat seperti itu bagaimana? Bisa perang dunia ke tiga aku kek. Ya walaupun aku sama sekali nggak ngelirik, tapi siapa yang tahu suara hati seorang istri? Sinetron ikan terbang?" ucap gemas Ray.


Kakek Reksa mengangguk, ia tidak bisa menyalahkan ucapan cucunya yang benar adanya. Meskipun ia tidak tahu pakaian seperti apa yang di pakai Andhini, tapi mendengar ucapan Ray tentang penggambaran pakaian Andhini membuatnya mengerti. Ia juga tidak ingin cucu menantunya menjadi salah paham.


Tok! Tok! Tok!


Tiba-tiba masuk seorang wanita yang tak lain adalah Andhini, ia sudah berganti pakaian, menggunakan Blouse panjang dan juga celana bahan panjang dan menghapus make up nya yang tebal dan menggantinya dengan make up tipis.


"Selamat pagi Tuan besar, Pak Gustav" Sapa Andhini sopan


"Pagi Dini..." balas pak Gustav.


"Nah kalau gini kan enak di lihat nggak bikin sepet nih mata. Ingat jangan pakai lagi itu baju kurang bahan" ucap Ray berdecih.


Andhini mengangguk dan menghela nafasnya, ia mencoba menahan diri untuk tidak sakit hati. Bagaimana pun ia sudah tahu sifat Ray, yang terkenal dingin, jadi ia berusaha bersikap biasa saja.


...•••••••...