
Berita di jagat Maya kembali heboh dengan foto Ray dan Xena yang tengah berpelukan. Menguatkan dugaan mereka tentang hubungan keduanya.
Jika media sosial tengah heboh berita itu, Justru Xena dan Ray yang tengah viral itu. Tengah melanjutkan aktivitas keduanya dengan berkeliling mall dan sesekali berbelanja jika ada sesuatu yang menarik minat keduanya.
Mereka membiarkan beberapa orang mengikuti mereka, orang-orang itu adalah paparazi dan di antara mereka tak lain adalah suruhan Yuri untuk mengikuti keduanya. Xena dan Ray hanya berpura-pura tidak mengetahuinya.
Sejujurnya Ray tidak setuju dengan rencana Xena, namun karena Xena yang percaya diri dan juga mereka sudah membicarakan hal itu di restoran. Membuat Ray hanya bisa pasrah dan mengikuti rencana Xena saja.
Saat hari sudah gelap, Xena dan Ray pun pulang. Mereka bisa melihat orang suruhan Yuri itu masih mengikutinya. Sedangkan paparazi sudah tidak ada lagi.
"Apa anak buah kamu sudah stand by dan sudah lakukan tugasnya?" tanya Xena di dalam mobil.
"Hmm, seperti yang kamu bilang. Mereka sudah stand by, tugas mereka juga di laksanakan" jawab Ray.
"Tapi sayang, kamu serius lakuin ini? Walaupun rencana itu bagus tapi resikonya bahaya, jika mereka menyadarinya dan membuat kamu terluka bagaimana?" ucap Ray lagi.
"Semua solusi pasti punya resiko, tapi aku tidak takut melakukannya. Bukannya aku adalah kekasihmu?" ucap Xena
"Tentu saja kamu kekasihku, apa hubungannya?" ucap Ray tidak mengerti.
"Sebagai kekasih seorang aktor papan atas, aku harus bisa berakting dong. Dan aku yakin jika kamu tidak akan membiarkan kekasihmu ini kenapa-napa bukan?" ucap Xena terkekeh.
"Baiklah kau menang, aku memang tidak akan membiarkan wanita yang aku cintai kenapa-napa. Selalu pastikan alat pelacaknya aktif" ucap Ray
"Ya" ucap Xena tersenyum.
....
Saat turun dari mobil Ray, Xena langsung berjalan menghampiri gerbang. Tiba-tiba ada dua orang berpakaian hitam-hitam membekap mulut nya dan memasukannya ke sebuah mobil jenis Van.
Penculik itu tidak membiusnya, mereka hanya menutup mulutnya menggunakan plester, menutup matanya dan mengikat tangannya.
"Cari ponselnya! Buang sekalian dengan tasnya!" ucap salah satu dari mereka.
Tas Xena pun di lempar keluar, penculik itu tidak ingin ada yang berhasil melacaknya. Setelah hampir sejam berkendara, mobil itu pun berhenti.
Tepatnya di sebuah rumah tua di ujung komplek pinggiran kota. Komplek itu sudah lama tidak lagi di tinggali, terlihat dari banyaknya rumput ilalang di sepanjang jalan itu, dan rumah yang tidak terurus.
Xena berakting pura-pura memberontak, dia di lempar ke sebuah tempat yang terasa sedikit empuk. Ia mengetahui jika ia sudah masuk kamar dan di jatuhkan di atas dipan atau kasur.
Matanya kemudian di buka dan plester di mulutnya juga di buka.
"*Si*l! sakit mulutku" gumam Xena dalam hati*.
Ia mengerjapkan matanya dan melihat sekeliling ruangan itu. ruangan itu cukup terang dan luas, meskipun ruangan itu sedikit kotor dan bau. Ada kamera juga yang di pasang di sudut ruangan.
Sedangkan orang-orang yang ada di ruangan itu ada sekitar 7 atau 8 orang.
"Ternyata si hama itu benar-benar ingin menyiksaku hingga banyak sekali yang datang. Oke, kita lihat saja nanti, siapa yang menyiksa siapa" ucap Xena dalam hati merasakan amarah yang memuncak.
Diam-diam Xena melepas tapi yang mengikatnya. Saat beberapa orang berdiskusi tentang siapa duluan yang menaiki Xena.
"Bukankah ini rezeki yang berlipat ganda?" ucap seseorang yang memiliki luka di pipinya.
"Benar bos! Aku yang melihatnya saja nggak tahan. Aku yakin di balik Dress itu sangat se*si dan menggoda" ucap salah satu orangnya.
"Aku benar-benar beruntung bisa ikut mencicipi si cantik ini. Tidak masalah aku tidak di bayar" ucap yang lain
"Apa tidak memakai obat agar ia tidak memberontak?" ucapa yang lain.
"Orang yang menyuruh kita, menginginkan dia tersiksa secara fisik dan psikis. Jadi tidak perlu memakai obat, bukankah lebih mengasyikan jika ia dalam kondisi sadar" ucap bosnya.
"Siap bos!" ucap yang lain.
"Biar aku duluan" ucap si bos yang melihat Xena dengan tatapan Cabulnya itu.
BUGH!!!
Saat orang itu sudah mendekatinya, Xena memutar tubuhnya dan menendang sekuat tenaga bos penculik itu tepat mengenai dadanya.
"Akkhhhh, j*lang si*lan, beraninya kau menendangku!! Kalian, tangkap j*Lang itu!" ucap Bos itu geram dan menahan sakit di dadanya.
BANG!!!
Tiba-tiba pintu terbuka dengan keras membuat semua orang di dalam ruangan menoleh ke arah pintu. Semuanya tercekat saat melihat ada begitu banyak orang datang lalu memukuli penculik itu secara membabi buta.
"Aaarrggghhh, ampuuuunnn tolong hentikan!" teriak gerombolan penculik itu.
"Sayang, apa kamu nggak apa-apa, nggak ada yang luka kan?" tanya Ray cemas mendekati Xena.
"Ih, kamu datangnya terlalu cepat. Aku baru aja mau senang-senang, aku baru melakukan tendangan sekali" ucap Xena cemberut.
Awalnya karena kejadian ini, ia juga ingin menguji coba kemampuan taekwondo miliknya sudah sejauh mana. Namun Ray datang terlalu cepat hingga ia tidak bisa bermain-main lebih lama.
"Aku mengkhawatirkan mu, jika kamu ingin uji coba kekuatan kamu. Kamu bisa berlatih tanding dengan anak buahku oke. Tapi tidak dengan cara seperti ini, aku terlalu takut jika terjadi sesuatu yang tidak di inginkan terjadi padamu, mengertilah" ucap Ray menghela nafas lega karena tidak menemukan luka di tubuh kekasihnya.
"Baiklah, bilang pada anak buahmu jangan memukuli orang-orang bodoh itu sampai mati. Aku tidak ingin pemeran utama pertunjukan ini mati dengan cepat" ucap Xena
Ray mengangguk dan memberi tahu anak buahnya untuk berhenti.
Kelompok penculik itu mendapat luka lebam di sekujur tubuhnya. Namun mereka masih bisa berdiri dan berjalan. Mereka di kumpulkan menjadi satu.
"Keluarkan hama itu!" ucap Xena dingin
Anak buah Ray menatap Ray dan Ray mengangguk. Salah satu anak buah itu datang membawa seorang wanita yang di tutup matanya dan dalam keadaan terikat.
"Akkhhhh si"lan sakit!" teriak Yuri yang di dorong dan terjatuh di lantai dengan keras.
"Buka penutup matanya!" ucap Xena lagi.
Anak buah Ray mengikutinya, ia berjalan dan membuka penutup mata Yuri. Yuri mengerjap menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya. Ia terkejut melihat Xena dan Ray berdiri di antara beberapa orang di sana.
"Ray, tolong aku, aku di culik oleh wanita J*Lang itu!" ucap Yuri menatap ke arah Ray dengan berbinar, ia tidak menyadari jika rencananya sudah tercium.
Ray yang mendengar itu jelas marah karena Yuri menghina Xena dan hendak menamparnya, namun Xena menahannya.
"Sayang kenapa kamu tahan? Dia berani menghina kamu di depanku!" ucap Ray mengetatkan rahangnya.
"Jangan biarkan tanganmu menyentuh hama itu, biar aku saja yang melakukannya" ucap Xena.
Ia menghampiri Yuri dan mendaratkan tamparannya yang begitu kencang dan kuat.
PLAK!!!!
"Aaaakkkhhh..." teriak Yuri
Saking kerasnya tamparan itu membuat wajah Yuri tertoreh, jari Xena mengecap indah di sana dan sudut bibir Yuri robek dan berdarah.
Bahkan anak buah Ray di buat terkejut dengan itu, mereka merinding dan saling menatap. Mereka sepakat jika Xena ternyata sama kejamnya dengan sang bos.
...•••••...