
Xena menghela nafas lega saat tahu Vano segera datang, karena dengan begitu Olive akan segera di tangani.
Saat Xena hendak menelepon orang tuanya tiba-tiba ponselnya kehabisan daya karena semalam ia lupa mencharge dan dia juga tidak membawa charger di tasnya.
Awalnya selain menghubungi orang tuanya, ia ingin mencari tahu tentang apa yang terjadi pada sahabatnya dan kebenaran tentang berita yang ia lihat di restoran. Ia juga ingin mendengar penjelasan dari Ray, namun apa daya ponselnya tidak bisa di ajak kerja sama.
Terlebih ponsel Olive juga kehabisan daya, jadi ia hanya pasrah saja.
Setelah setengah jam kemudian, terlihat Vano datang bersama dengan Randi berjalan mendekat ke arah Xena.
"Bagaimana keadaan Olive, Xe? Ya Tuhan Olive, dek apa yang terjadi?" ucap Vano dengan raut wajah sedih hampir menangis melihat kondisi adiknya yang terbaring di brankar UGD.
Vano mengambil tangan adiknya itu dengan gemetar. Ia takut hal yang di mimpinya benar-benar terjadi dan kehilangan adik satu-satunya itu.
Meskipun di dalam mimpinya jelas kalau Olive meninggal karena pelecehan dan di bunuh, bukan karena kecelakaan.
"Olive belum sadar kak, Dokter bilang kemungkinan kaki kiri Olive patah. Sebaiknya kakak urus perizinan untuk tindakan lebih lanjut, untuk administrasi sudah Xena selesaikan tadi" ucap Xena
"Ya, maaf merepotkankan kamu Xe, dan terimakasih" ucap Vano menghapus air matanya.
"Tidak perlu berterima kasih, Olive adalah sahabatku. Aku pasti melakukan yang terbaik untuk membantunya, karena aku yakin ia akan melakukan hal yang sama saat aku berada di posisinya" ucap Xena Vano mengangguk, ia tahu jika Xena dan adiknya sangat dekat.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Vano
"Aku dengar kalau Olive korban tabrak lari, aku juga nggak tahu detailnya bagaimana. Orang yang mengirim Olive ke rumah sakit juga sudah pulang saat aku datang. Oh iya, ini ponsel dan tas Olive" ucap Xena.
Setelah mengucapkan terimakasih, Vano kemudian keluar untuk mengurus perizinan sebagai wali dari Olive agar segera di tindak lebih lanjut.
...
Tak terasa sudah malam, Vano, Xena dan Randi menunggu dengan cemas di depan ruang operasi. Karena Olive tengah menjalani operasi pemasangan pen di kaki kiri Olive, tepatnya di bagian paha.
Setelah melakukan pemeriksaan lanjutan, tidak ada yang serius selain kaki Olive yang patah dan geger otak ringan. Jadi Olive harus di rawat di rumah sakit pasca operasi untuk pemulihan.
Mengenai orang tua Olive dan Vano, Xena baru tahu jika keduanya tengah berada di luar kota untuk urusan bisnis. Vano sudah menghubunginya, dan kedua orang tuanya akan pulang besok pagi, karena penerbangan hari ini sudah penuh.
"Kak, boleh aku pinjam telepon? Aku ingin menghubungi mamah kalau aku akan nginap di sini malam ini" ucap Xena
"Memang ponsel kamu di mana Xe? Ini pakailah!" tanya Vano, meskipun begitu Vano tetap memberikan ponselnya.
"Baterainya abis, makasih kak" ucap Xena tidak enak.
"Tidak apa-apa pakai saja. Password nya ulang tahun kamu" ucap Vano tersenyum.
Mendengar itu Xena terkejut, namun sebisa mungkin ia biasa saja. Saat membuka ponsel itu, benar saja jika itu menggunakan tanggal lahirnya. Yang lebih membuat Xena terkejut, adalah wallpaper ponsel Vano menggunakan fotonya.
Xena merasa tidak nyaman, jadi ia segera melakukan panggilan telepon dan mengembalikan ponsel ke Vano setelahnya.
....
Ray kini duduk di ruang tamu apartemennya, di depannya ada Gilbert, Galang dan Reno.
"Jelaskan!" ucap Galang menatap tajam ke arah Ray
"Ya" ucap Ray meringis setelah mendapat Bogeman di perutnya oleh Galang.
"Aku berani bersumpah, aku tidak kenal dengan wanita itu. Kalian harusnya tahu aku bagaimana, aku sangat anti dengan wanita kecuali Xena" ucap Ray mencoba meyakinkan semuanya.
"Oh ya, lalu foto itu datang begitu saja, begitu? Aku sudah periksa foto itu dan itu asli Ray bukan editan! Kau tahu Xena sudah aku anggap saudariku sendiri, aku tidak rela jika dia di sakiti. Meskipun orang menyakitinya adalah kamu!" ucap Galang marah.
"Lang, tenang dulu. Biarkan Ray menjelaskannya lebih dulu" ucap Reno menengahi
"Sumpah Lang, aku nggak kenal wanita itu. Waktu itu aku keluar dari apartemen dan jalan ke arah tempat parkir mobil, karena aku sudah ada janji dengan Xena di restoran. Tapi tiba-tiba ada wanita yang jatuh dan persis ke arahku, aku reflek menangkapnya dan memang posisi jatuhnya terlihat seperti aku memeluknya. Kepalanya terbentur ke arahku, jadi seolah aku menciumnya. Aku ingin melepaskannya saat itu, tapi kakinya kekilir. Mau nggak mau aku bantu dia berdiri dengan benar dan mendudukannya di bangku. Aku tidak tinggal lama, aku langsung pergi setelah ia duduk" ucap Ray menjelaskan semua yang terjadi.
"Kau ingat wanita itu, Ray?" tanya Reno
"Aku ingat meskipun aku melihatnya sekilas, tapi aku nggak kenal siapa dia" ucap Ray
"Kau sudah memeriksa CCTV di area parkir?" tanya Reno lagi.
"Biar Gilbert yang jelaskan soal itu" ucap Ray menatap ke arah kaki tangannya itu.
"saya dan yang lain sudah mencari bukti tentang itu. Namun CCTV di area parkir mati, jadi saya sampai saat ini belum mendapatkan bukti apapun" ucap Gilbert.
"Haaahhh" Reno menghela nafas.
"Kalau begitu temukan wanita itu! Hanya dia satu-satunya kunci masalah ini. Kalau bisa malam ini sudah ketemu, sebab besok acara jumpa fans dan promosi Film. Ini pasti akan berdampak pada Film yang akan tayang" ucap Reno memijit pangkal hidungnya.
"Akan sulit menemukannya hari ini juga, karena kita tidak tahu persis wajahnya kecuali dari ciri-ciri yang di sebutkan tuan muda dan juga kita tidak tahu identitasnya jelasnya minimal nama" ucap Gilbert lagi, membuat semua orang menghela nafas tidak tahu harus berbuat apa.
"Gilbert, bagaimana dengan Xena? Apa kau menemukan keberadaannya?" tanya Ray, ia masih mengkhawatirkan tentang Xena.
"Hmm, saya menemukan Nona Xena, ia sekarang berada di rumah sakit umum pusat ibukota" ucap Gilbert.
"Rumah sakit? Apa yang terjadi? Apa Xena sakit, dia tidak apa-apa kan?" ucap Ray khawatir, ia sampai berdiri dari posisi duduknya.
"Aku harus ke sana sekarang!" ucap Ray kemudian
"Ray, tunggu. Kamu bisa tenang dulu tidak sih!" ucap Reno
"Aku nggak bisa tenang sebelum tahu kondisi pacarku Kak" ucap Ray khawatir dan panik mendengar kata rumah sakit.
"Iya tahu, tapi masalah kamu juga belum selesai dan menemukan jalan keluarnya. Belum tentu Xena kenapa-kenapa, kita cari tahu dulu. Kalau kamu panik gini, yang ada terjadi sesuatu padamu di jalan" ucap Reno
"Tapi Xena lebih penting dari itu semua kak. Aku khawatir karena Xena tidak bisa di hubungi" ucap Ray kesal dan khawatir.
"Tuan muda, anda tenang dulu. Nona Xena tidak kenapa-kenapa, meskipun saya belum tahu mengapa ia pergi ke rumah sakit, tapi saya pastikan nona Xena dalam keadaan sehat" ucap Gilbert membuat Ray tenang.
"Tuh denger? Jangan langsung impulsif dalam menyimpulkan berita yang masuk sebelum tahu keseluruhan ceritanya" ucap Reno menasehati.
"Maaf" ucap Ray, ia lega saat mendengar Xena tidak kenapa-kenapa.
Kalau sampai terjadi sesuatu pada kekasihnya itu, ia tidak akan memaafkan dirinya sendiri.
Entahlah jika berhubungan dengan Xena, ia tidak bisa berpikir tenang. Karena baginya, Xena adalah separuh hidupnya dan ia takut Xena meninggalkannya.
...•••••...