Xena

Xena
152. menyelesaikan masalah



Ray masih menunggu Xena sadar, ia tidak sedetik pun melepaskan tangannya dari tangan istrinya itu. Tak lama kemudian ia merasakan pergerakan di tangannya, Xena pun mulai membuka matanya.


"Sayang kamu sadar?" ucap Ray senang saat merasa istrinya akan sadar, ia kemudian menekan tombol di samping ranjang untuk memanggil dokter.


"Ugghh..." Xena merasakan kepalanya sakit.


"Sayang, kenapa? Ada yang terasa sakit?" tanya Ray khawatir.


Xena mencoba menangkan diri dan rasa sakitnya perlahan hilang, ia menatap sejenak suaminya yang terlihat panik. Xena menghela nafasnya dan tidak ingin mengatakan apa-apa, ia coba menenangkan diri terlebih dulu.


"Sayang..." ucap Ray merasa sakit saat istrinya tidak mengatakan apa-apa dan tidak ingin menatapnya. Ia baru sadar jika di abaikan dan di diamkan sesakit itu. Ia sungguh merasa bersalah.


Ceklek!


"Permisi pak" ucap dokter masuk bersama perawat.


"Ah ya Dok" ucap Ray


"Biarkan saya periksa pasiennya dulu ya pak" ucap Dokter. Ray membiarkan Dokter memeriksa Xena.


"Kondisi Bu Xena sudah lebih baik, tapi kita menunggu hasil lab dulu ya Pak, Bu. Setengah jam lagi perawat datang bawa makanan dan juga obat" ucap Dokter


"Baik Dok terimakasih" ucap Ray.


"Terimakasih Dok" ucap Xena.


Sepeninggal Dokter, Ray kembali duduk di samping brankar Xena. Istrinya itu hanya diam saja dan sama sekali tidak menatapnya dan hanya menatap langit-langit.


"Sayang, maafin mas" ucap Ray dengan suara bergetar.


Xena yang mendengar suara suaminya bergetar tahu jika suaminya itu pasti menangis. Xena memejamkan matanya sejenak dan menghembuskan nafasnya pelan.


"Aku tahu, bisakah kita bicara nanti? Kepalaku masih sakit, aku ingin istirahat sebentar" ucap Xena yang masih tidak menatap Ray.


"Ah maafkan aku, Istirahat lah! Nanti aku bangunkan setengah jam lagi, kamu harus makan dan minum obat" ucap Ray lembut mengelus kepala Xena lembut.


"Hmm..." Xena berdeham dan kembali memejamkan matanya.


Ia hanya memejamkan mata namun tidak tidur, hanya saja ia memikirkan kenapa traumanya bisa kembali. Ia harap ia tidak akan terbayang lagi trauma masa lalu dan ini kali terakhir ia mengingatnya.


Masalah dengan Ray, jujur ia masih sakit karena merasa di abaikan. Namun ia juga tidak bisa menyalahkan Ray kerena hal ini juga salahnya. Apalagi ia tidak menyalahkan siapapun karena trauma yang ia alami dulu. Terlebih ia tahu jika suaminya itu benar-benar menyesal telah mengabaikan nya.


Jika saja mental Xena sama seperti di kehidupan nya dulu, sudah pasti ia tidak bisa berpikiran jernih atau kembali terpuruk saat trauma itu kembali.


.....


"Sayang, bangun... Makan dulu terus minum obat" ucap Ray, saat perawat datang mengantarkan makanan dan obat.


Xena membuka matanya mengerjapkan matanya beberapa kali. Mengetahui Xena ingin duduk, Ray pun sigap untuk membantunya.


Ia menggelengkan kepalanya saat Ray kembali menyuapinya untuk ke sekian kali. Dengan lembut Ray menyeka bekas makanan di bibir sang istri.


"Sekarang minum obatnya ya" ucap Ray, Xena hanya mengangguk dan meminum obatnya.


"Sayang, aku minta maaf sudah buat trauma kamu kembali. Aku memang laki-laki bodoh yang bersikap kekanakan karena cemburu dan juga marah, saat tahu istriku di dekati laki-laki lain dan adik sepupuku ingin di celakai orang. Tapi aku tidak tahu apa-apa.


Aku merasa seperti tidak di butuhkan dan juga tidak di anggap, maka dari itu aku menghindar sejenak untuk menenangkan diri. Namun aku tidak tahu jika sikapku yang demikian membuat kamu terluka, bahkan membuat trauma mu kembali.


Maaf, aku janji aku tidak akan mendiami kamu atau mengabaikan kamu lagi. Aku janji akan mendengarkan penjelasanmu lebih dulu, jika kita ada masalah" ucap Ray menggenggam tangan Xena erat.


"Kamu boleh marah padaku, memukul pun tidak apa. Asal jangan sakit seperti ini, karena aku juga akan merasakan sakit yang sama dan juga menyalahkan diri karena gagal menjadi suami" lanjut Ray lagi.


"Haaaahh...." Xena menghela nafasnya.


"Aku yang harusnya minta maaf karena belum sempat cerita padamu soal itu. Awalnya aku pikir orang itu hanya menyukaiku sekilas, namun aku tidak tahu kalau dia mulai terobsesi padaku. Dia adalah orang yang sama dengan orang aku hajar di tempat parkir kampus waktu itu. Bukankah aku sudah mengatakannya padamu tentang itu?


Masalah kejadian di kantin, aku memang sudah berniat mengatakannya padamu saat di rumah, karena tidak mungkin aku memberi tahumu lewat telepon. Aku tahu sifatmu yang mudah tersulut saat cemburu, jadi aku menahannya untuk tidak cerita sampai kita bertemu di tumah. Tapi karena kamu ikut untuk berkumpul, jadi aku membiarkan kamu tahu lebih dulu tentang hal ini dan menjelaskannya di rumah.


Tapi ternyata perkiraan aku meleset, kamu marah karena merasa aku tidak akan memberi tahu hal ini padamu, bukan? Aku tidak mempermasalahkannya jika kamu marah, itu adalah hal wajar. Jujur saja aku merasa sakit, di saat aku berusaha menjelaskan kamu malah bersikap abai dan tidak memberikan kesempatan untuk aku menjelaskan semuanya.


Masalah trauma ku kambuh, tidak perlu khawatir karena ini hanya kebetulan. Jadi jangan menyalahkan diri karena ini bukan salah kamu" ucap Xena menatap Ray yang tengah menundukkan kepalanya.


"Kita sudah menikah, Ray. Sebenarnya apa lagi yang kamu takutkan? Bukankah aku sudah memilihmu dan sudah menjadi milikmu seutuhnya? Lalu keraguan apa yang mengusikmu hingga tidak percaya padaku?" tanya Xena


Mendengar ucapan Istrinya yang menggunakan kata aku kamu dan tidak memanggilnya mas seperti biasa, membuat Ray merasa tercubit. Ia tahu istrinya masih marah atau hanya sekedar kesal padanya.


"Maaf, rasa cemburu dan rasa takut kehilanganmu membuatku tidak bisa berpikir jernih. Aku sangat mencintaimu, sayang" ucap Ray


"Aku tahu, dan bukankah kau juga tahu kalau perasaan ku sama seperti mu? Jika hanya aku yang percaya tapi kamu tidak, lalu buat apa kita bersama? Lalu apa artinya pernikahan?" ucap Xena


Xena mengatakan itu bukan karena ia marah, tapi ia ingin suaminya mengerti. Jika di dalam pernikahan, bukan hanya ada rasa saling mencintai. Tapi harus ada saling percaya dan menghargai satu sama lain.


Ia ingin Ray dan juga dirinya sama-sama belajar menata rumah tangga menjadi lebih baik. Bersikap dan berpikir lebih dewasa lagi, karena pernikahan adalah saling melengkapi, berbagi, menyayangi dan melindungi.


"Maafkan aku, tolong jangan seperti itu. Aku janji tidak akan melakukannya lagi di masa depan" ucap Ray


"Aku tidak memerlukan janji tapi bukti, aku harap baik itu aku atau kamu. Kita sama-sama belajar untuk lebih saling mempercayai dan menghargai satu sama lain. Aku ingin pernikahan sekali seumur hidup, memang dalam suatu hubungan baik itu pacaran ataupun menikah. Pasti ada saja yang namanya masalah dan ujian, tapi bisakah jika ada masalah kita selesaikan dengan kepala dingin?" ucap Xena


"Mas akan membuktikannya, kamu mau memberikan mas kesempatan dan memaafkan mas ?" tanya Ray menatap penuh harap.


"Ya, aku juga minta maaf. Karena setiap orang punya kesalahan. Jadi mari sama-sama memperbaiki diri, aku juga akan mengatakan semuanya padamu dan tidak akan ada yang di tutupi lagi" ucap Xena.


"Terimakasih sayang, aku tidak akan mengecewakanmu untuk yang kedua kalinya" ucap Ray merengkuh tubuh sang istri dan menciumi seluruh wajahnya.


...••••••...