Xena

Xena
XENA @ BAB 12



Parang itu melayang tepat diatas pangeran Alaric dan menancap di tubuh seekor beruang besar yang saat itu hampir saja menerkamnya. Alaric benar-benar sangat terkejut, karena tadi dia sempat berpikir Xena melempar parang itu untuk melukainya, tapi ternyata dia justru menyelamatkannya dari maut.


Sorot mata indah Xena nyalang menatap tajam ke arahnya dan beruang itu. Begitupun dengan Alaric, bola matanya bergerak cepat menatap ke arah Xena dan beruang itu bergantian. Ditengah rasa terkejutnya, senyum Alaric mengembang tanpa dia sadari karena merasa kagum dengan sosok Xena yang telah menyelamatkan nyawanya dari beruang itu. Alaric memuji kecerdikan dan kewaspadaan Xena, yang bisa mengetahui keberadaan bahaya yang hampir saja mengancam nyawanya.


"Kenapa kau tersenyum seperti itu?. Apa kau tidak sadar kalau kau hampir saja jadi santapan beruang itu?.Dasar bodoh!! Umpat Xena tak suka melihat senyum Alaric. Dia lalu beranjak pergi dari sungai mengambil parang yang menancap di tubuh beruang lalu berniat pulang, dan Alaric bergegas melangkahkan kaki mengikutinya.


"Hei!! Tunggu!! Ujar Alaric sambil mengejar Xena yang berjalan cepat meninggalkannya.


"Kenapa kau sangat pintar?." Tanya Alaric, Xena menoleh tanpa menghentikan langkahnya dan tanpa menjawab pertanyaan yang dilontarkan Alaric.


"Kenapa kau....maksudku terimakasih karena kau sudah menyelamatkanku dari beruang itu. Kenapa kau bisa tahu kalau beruang tadi ada dibelakangku?." Tanya Alaric, tapi Xena tidak menjawabnya.


"Hei!! Aku bertanya padamu?. Kenapa kau tidak menjawabnya?." Tanya Alaric seraya mencekal tangan Xena.


"Beraninya kau.!! Hardik marah Xena seraya menepis kasar tangan Alaric.


"Maafkan aku!! Aku tidak bermaksud kurang ajar. Aku hanya kagum dengan apa yang kamu lakukan tadi. Kamu sungguh hebat, bisa mengetahui keberadaan beruang itu, padahal jarak kamu dan beruang itu cukup jauh, bahkan aku yang lebih dekat tidak mengetahuinya." Ujar Alaric.


"Aku memang pintar, tidak bodoh seperi kamu." Sahut Xena lalu kembali melangkahkan kakinya dengan cepat.


"Aku sangat berterima kasih Xena!! Kau sudah menyelamatkan nyawaku." Ujar Alaric, Xena tidak menyahuti. Alaric terus saja mengajak Xena bicara walau Xena tidak mempedulikannya. Dia terus berjalan sambil sesekali menoleh kebelakang, menatap tajam padanya, jengah mendengarnya terus saja berbicara.


"Sudah cukup!! Jangan bicara dan jangan mengikutiku." Ujar Xena kesal.


"Aku akan mengantarkanmu sampai ke rumah." Sahut Alaric.


"Tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri." Balas Xena.


"Aku hanya ingin memastikan kamu selamat sampai ke rumah." Kata Alaric.


"Apa kamu bilang?." Tanya Xena lalu dia tertawa seolah mengejeknya. "Yang harus kau pastikan adalah keselamatanmu sendiri, tidak perlu repot-repot memastikan keselamatanku. Menjaga diri sendiri saja kamu tidak bisa, apalagi menjaga orang lain." Ujar Xena dengan senyum miringnya, lalu kembali melangkahkan kakinya, dan kali ini Alaric tidak mengejarnya.


"Kau benar. Aku memang bodoh, jadi aku memang harus selalu berada dekat denganmu, agar aku bisa terhindar dari bahaya. Terima kasih sayang, karena kau sudah menyelamatkanku. Aku tahu kau memang sangat mencintaiku. Kau memang kekasihku yang paling aku cinta." Ujar Alaric sedikit teriak. Xena memutarkan kepala kearahnya. Matanya mendelik tajam menatap tidak suka mendengar apa yang diucapkan Pangeran Alaric barusan.


Pangeran Alaric sendiri mengulas senyum manisnya melihat wajah kesal Xena saat itu. Dia suka sekali menggoda wanita cantik bermata indah itu.


"Jangan panggil aku seperti itu, kalau kau tidak mau aku mencabut lidahmu." Ketus Xena dengan wajah kesalnya, lalu meninggalkan Alaric.


Pangeran Alaric tahu Conrad dan anak buahnya ada di dekat pepohonan, dan sepertinya mereka sedang menunggunya. Dia lalu menghampiri merekam


"Apa ada berita penting paman?." Tanyanya.


"Benar pangeran. Raja mengirim utusan dan memerintahkan kita untuk secepatnya kembali ke istana." Sahut Conrad.


"Tidak!! Aku tidak akan kembali ke istana sebelum aku bertemu dengan ksatria itu." Jawab Alaric.


"Tidak paman. Aku tidak mau. Kalau paman mau kembali, kembalilah. Aku tidak keberatan."


"Mana mungkin hamba meninggalkan pangeran."


"Kalau begitu, kita tidak akan kembali."


"Tapi raja pasti akan marah besar kalau kita tidak kembali secepatnya. Dua hari lagi keluarga besar kerajaan Mazzari akan datang mengunjungi kerajaan kita, dan raja menginginkan pangeran hadir untuk upacara penyambutan mereka." Ujar Conrad.


Pangeran Alaric terdiam. Dia tidak ingin meninggalkan desa itu sebelum bisa membuktikan kalau Xena benar-benar ksatria yang menolongnya. Melihat bagaimana Xena membunuh beruang tadi, membuat Alaric semakin yakin, Xena memang ksatria itu, dan itu membuatnya sangat senang. Alaric tak habis pikir kenapa dirinya bisa jadi lelaki bodoh yang tidak menyadari ada bahaya yang mengintainya, hanya karena seorang gadis.


Benar, karena terlalu fokus menatap Xena, dia tidak menyadari bahaya di sekitarnya. Apa aku jatuh cinta padanya. Tanya Alaric dalam hati. Alasan lain kenapa dia tidak mau meninggalkan desa itu, karena dirinya masih sangat penasaran, apa alasan Xena membenci dirinya juga kerjaan Zhepira.


Sepanjang malam pangeran Alaric terus memikirkan apa dia harus kembali atau tetap tinggal di desa itu. Ini sungguh pilihan yang sulit baginya. Yang dikatakan Conrad memang benar, dia bisa saja datang kembali ke desa itu, tapi dengan meninggalkan desa sekarang maka Xena akan menganggap hubungan diantara mereka telah berakhir. Walau selama ini Alaric tahu, Xena tidak benar-benar menganggapnya seperti seorang kekasih, dia tetap merasa senang karena mempunyai kesempatan untuk dekat dengannya. Tapi kalau dia tidak kembali, raja pasti marah besar dan dia takut raja tidak akan pernah mengijinkanya datang lagi ke desa ini.


"Baiklah paman, aku akan kembali." Ujar Alaric.


"Benarkah pangeran?." Tanya Alaric.


"Benar. Aku akan kembali jika malam ini juga paman bisa membuktikan kalau Xena adalah ksatria itu. Paman juga harus tahu alasan Xena membenciku dan kerajaan kita. Satu lagi. Apa paman sudah menyelidiki masalah pajak itu?." Tanya Alaric


" Masalah pajak itu, hamba sudah menyelidikinya pangeran." Jawab Conrad.


"Lalu apa yang paman ketahui?."


"Dimitri dan anak buahnya memang menyalah gunakan kekuasaan mereka, mengatasnamakan raja dan kerajaan untuk meminta pajak yang lebih besar dari yang sudah ditentukan. Dan hasil pajak tersebut mereka gunakan untuk kepentingan pribadi." Jelas Conrad.


"Apa lagi?." Tanya Alaric.


"Anak buah Dimitri tidak segan-segan menyiksa para petani yang tidak mau menuruti keinginan mereka. Petani-petani yang pernah melempari mereka saat nona Xena menolak memberikan pajak tiga kali lipat pun, tidak luput dari siksaan mereka. Hampir semua petani terpaksa menurut karena takut. Hanya keluarga kakek Abraham dan pamannya nona Xena yang tidak pernah menuruti dan tidak pernah mendapat siksaan dari mereka."


"Oh ya?. Kenapa?." Tanya Alaric penasaran.


"Keluarga kakek Abraham bukan orang sembarangan. Menurut petugas itu, nona Xena ternyata sangat pandai berkelahi. Dia hampir membunuh orang-orang Dimitri yang datang ke rumahnya untuk meminta mereka membayar pajak. Selain nona Xena, kakeknya juga tidak kalah hebat. Mereka ternyata menguasai ilmu bela diri. Sejak saat itu para petugas tidak berani meminta pajak yang tinggi pada penduduk, karena nona Xena dan kakeknya mengancam mereka." Jelas Conrad panjang lebar.


Alaric menatap ke arah Conrad, dan Conrad sepertinya mengerti apa arti tatapan pangerannya itu. "Hamba sudah menyelidikinya pangeran. Nona Xena sepertinya memang ksatria itu." Sambungnya


"Apa paman yakin?." Tanya Alaric dengan mata berbinar.


.


.


Bersambung🌹🌹🌹