
Mereka berempat masih memikirkan solusi dari masalah yang menyangkut Ray di dalamnya. Jika biasanya Ray langsung mengklarifikasi berita yang membawa dirinya. Tapi kali ini berbeda, karena orang yang memposting berita itu melampirkan foto dirinya.
Bisa saja Ray mengklarifikasi berita itu, dan mengatakan jika berita itu tidak benar dan fitnah untuk dirinya. Namun apakah publik akan langsung percaya begitu saja?
Tentu saja jawabannya TIDAK!
Netizen yang terhormat, tidak mau tahu apakah berita yang di posting itu real atau hoax. Tapi selama itu booming, mereka pasti berkumpul dan ikut serta menunjukan jari yang setajam silet dan sepedas cabai saat mulai mengkritik, tanpa tahu kebenarannya.
Tapi itu akan mereda jika Ray memberikan klarifikasi berikut bukti Valid yang mendukung ucapan penyangkalan yang ia sebutkan.
"Kenapa tidak kamu posting dulu di akun media sosial kamu. Jika berita itu tidak benar?" tanya Galang.
"Itu tidak akan membantu justru membuat spekulasi publik meningkat. Terlebih kita tidak memiliki bukti untuk menyangkal berita itu" ucap Ray menghela nafasnya berat.
"Ray benar Lang, kita tidak bisa mengambil tindakan impulsif yang justru berbalik menyerang kita" ucap Reno membenarkan ucapan Ray.
"Lalu apa yang harus di lakukan?" tanya Galang tidak memiliki ide lain.
"Apa masih belum ketemu Gil?" tanya Ray menatap Gilbert.
"Belum, sepertinya ini skema yang sudah di rencanakan masak-masak. Tidak ada bukti yang tertinggal sama sekali, bahkan akun yang menyebar berita itu tidak bisa di tembus pertahanannya. Jika tebakan ku benar, mereka memiliki IT yang hebat di belakangnya" ucap Gilbert.
"Kalau begitu kalian pulanglah dulu, aku akan mencari tahunya nanti. Aku pergi ke rumah sakit menemui Xena dulu. Setidaknya aku harus menjelaskan padanya tentang kebenaran berita ini" ucap Ray
"Ya kau benar, kita butuh istirahat juga karena ini sudah malam. Biarkan anak buah Gilbert yang bergerak untuk mencari bukti lain, siapa tahu ada petunjuk" ucap Reno
"Kalau begitu aku juga pulang, jelaskan pada Xena semuanya. Aku tidak akan memaafkanmu kau berani menyakitinya setelah ini" ucap Galang menepuk bahu Ray.
"Tentu" ucap Ray mengangguk paham.
Setelah semua orang pulang, Ray bersiap mandi dan mengganti pakaiannya. Ia kemudian mengambil kunci mobilnya dan langsung bergegas menuju Rumah Sakit Umum Pusat Ibukota, di mana Xena berada.
....
Di kamar rawat inap Olive
Xena yang sudah mandi dan berganti pakaian yang ia beli di toko dekat rumah sakit, sekalian membeli makanan untuk makan malam beberapa saat lalu. Setelah makan malam, ia tidak sengaja tertidur di sofa saat menunggu Olive yang belum juga siuman.
Randi juga sudah pulang, sebelumnya ia juga sempat pulang sebentar untuk membawakan Vano pakaian ganti.
Melihat Xena tertidur, Vano mendekatinya dan menyelimutinya dengan Jas miliknya. Perlahan ia duduk di samping Xena, ia terus memandangi wajah cantik Xena yang tertidur pulas.
Mungkin karena kelelahan dan juga banyak pikiran, itu membuat Xena tertidur dengan nyenyak.
Vano tersenyum melihat betapa pedulinya Xena dengan adik perempuannya. Ia sama sekali tidak habis pikir dengan mimpi yang ia alami, yang mana dirinya menuduh Xena membunuh adiknya. Apakah dirinya bodoh atau apa saat itu?
Anak kecil pun tahu jika Xena sangat menyayangi Olive, jadi tidak mungkin dirinya membunuh Olive.
Yang jadi pertanyaan Vano, siapa yang sudah mencelakai adiknya? Apakah itu Yani? Tapi Vano tidak bisa langsung mengklaim hal itu, ia tidak memiliki bukti pelaku tabrak lari adiknya adalah Yani atau bukan.
Apalagi hasil penyelidikan polisi juga tidak menemukan bukti, karena memang tidak ada kamera pengawas di sepanjang jalan tempat Olive kecelakaan. Dan keterangan saksi di tempat juga hanya mengatakan jika yang menabraknya adalah sedan silver.
"Cantik..." ucap Vano sambil menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Xena
Melihat wajah cantik Xena jantungnya berdebar kencang. Terlebih saat menatap bibir chery milik Xena yang sangat menggoda.
Perlahan namun pasti Vano mendekatkan wajahnya, namun tiba-tiba kerahnya di tarik seseorang dari belakang. Setelah menoleh, Vano melihat tatapan tajam dari Ray mengarah padanya.
Ya, yang datang adalah Ray. Ia sangat marah karena Vano ingin mengambil keuntungan pada gadis-nya saat Xena tertidur. Untungnya dia datang tepat waktu dan menghalanginya.
"Bajingan!" ucap Ray marah namun ia tahan suaranya agar Xena tidak terbangun.
"Cih! Bajingan teriak bajingan! Kenapa kau datang kemari? Tidak ada yang menyambutmu di sini, Keluar!" balas Vano menahan suaranya juga, ia menatap dengan tatapan tajam ke arah Ray yang juga menatapnya tajam.
"Aku tidak butuh izin untuk menjemput pacarku, Minggir!" ucap Ray hendak membawa Xena.
"Jangan berani kau membawanya!" ucap Vano marah setengah berbisik dan menghalangi Ray membawa Xena.
"Aku pacarnya, kamu siapa melarangku? Aku akan tetap membawanya" ucap Ray marah karena Vano menghalanginya.
"Cih, pacar apaan... Kau urus saja wanita yang kau peluk dan kau cium itu..." ucap Vano mencibir.
"Itu bukan urusanmu!! Jangan ikut campur! Minggir atau aku tidak keberatan membuat keriburan di sini" ucap Ray mendorong Vano hingga Vano jatuh terduduk di sofa.
Ray beranjak mengambil jas milik Vano dan melemparkannya ke Vano. Ia kemudian menggendong Xena ala bridal style dan juga mengambil tas milik Xena lalu meninggalkan ruangan itu.
Melihat Ray pergi membawa Xena, Vano hanya diam sembari menggeram menahan amarahnya.
Ia ingin sekali ia memukul Ray saat ini juga, namun ia mengurungkannya. Karena saat ini mereka berada di rumah sakit, Olive belum sadar dan membutuhkan ketenangan.
Vano juga tidak ingin membuat Xena marah, sudah lebih baik Xena tidak lagi menghindar darinya sekarang. Ia tidak ingin Xena menjauh lagi, jadi ia mengalah untuk sementara.
...
Dengan hati-hati Ray membaringkan tubuh Xena di atas tempat tidurnya di apartemen miliknya. Ia tidak berani membawa Xena pulang ke rumahnya, karena ia yakin orang tua Xena sudah membaca berita dan pastinya sangat marah padanya.
Ia memandangi Xena dengan tatapan bersalah. ia mengingat rekaman ruangan pribadi di restoran, yang ia minta dari Citra. Ia melihat gadisnya menangis sembari melihat ke arah ponselnya.
Ray menebak jika saat itu Xena membaca berita tentangnya, lalu setelah itu Xena terlihat mengangkat telepon dan dengan tergesa-gesa keluar dari ruangan setelah mengambil tasnya.
Ray tahu mengapa Xena di rumah sakit dan ada Vano di sana. Ia tahu dari anak buah Gilbert kalau Xena tengah berada di rumah sakit, karena sahabatnya mengalami kecelakaan.
"Sayang maafkan aku, aku membuat kamu menagis dan menyakiti hati kamu. Aku akan menjelaskan semuanya, aku mohon percaya padaku dan jangan tinggalkan aku" ucap Ray membelai wajah Xena dan mencium keningnya.
Ia merasa sangat bersalah, dan ia juga merasa dirinya sangat bodoh karena masuk ke dalam jebakan, yang orang lain buat padanya.
Setelahnya, Ray ikut berbaring di samping Xena dan memeluknya lalu ikut terlelap beberapa saat kemudian.
...•••••...